Share

Stalking

Author: Pena Chr
last update publish date: 2026-10-15 23:27:56

"Menurut Bapak, aku harus bagaimana? Bapak kan seorang pria. Sedikit banyak pasti bisa menebak dengan lebih benar langkah-langkah apa yang mungkin akan diambil oleh Doni," desakku, meminta kepastian dari sudut pandang seorang laki-laki.

"Dengar, Rinjani," sahut Mahardika tegas. "Seorang pria pengecut seperti Doni itu hanya berani bertindak sewenang-wenang kalau dia merasa korbannya lemah dan pasrah. Tapi kamu? Kamu sudah membuktikan pada dunia bahwa kamu sanggup menyeretnya ke jalur hukum dan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ajari Aku, Mas Duda   Diantar Pulang Dengan Selamat

    "Bapak tidak munum alkohol seperti yang lain?" tanyaku pelan di sela dentuman musik.Mahardika terkekeh pelan—sebuah suara rendah yang hampir tenggelam di antara dentuman musik DJ. Dia menggeleng halus seraya melipat kedua tangannya di atas dada. "Aku tidak pernah menyentuh alkohol ataupun rokok, Rinjani," sahut Mahardika seraya mendekatkan tubuhnya sedikit agar suaranya terdengar di tengah keriuhan. "Daripada membakar uang untuk hal-hal seperti itu, aku lebih suka mengisi perutku dengan aneka makanan enak. Jauh lebih bermanfaat dan bikin kenyang."Aku tertawa kecil mendengar alasannya yang begitu logis dan praktis. Di sudut ruangan after party yang remang itu, kami menghabiskan waktu dengan mengobrol santai. Dari yang tadinya merasa canggung, perlahan-lahan aku mulai menikmati obrolan kami. Mahardiak menceritakan berbagai pengalaman menarik selama mengelola agen travel-nya, sementara aku sesekali menganggapi dengan cerita konyol seputar dapur kateringku. Obrolan kami begitu hangat

  • Ajari Aku, Mas Duda   Pesona Dibalik Kesederhanaan

    "Kamu mau saya temani?" tanya Mahardika datar. Tentu saja aku buru-buru menggeleng keras. Kerjaan MUA pilihan Azura sungguh luar biasa. Selama hampir dua jam jemarinya menari di jawahku, memoles tata rias yang tidak tebal tetapi sanggup menutupi garis-garis lelah di mataku, membiarkan rambutku disanggul modern dengan aksen simpel nan elegan. Begitu gaun malam berwarna navy itu membalut tubuhku, aku menatap pantulan diriku di cermin besar kamar hotel. Aku hampir tidak mengenali sosok perempuan di sana—wajah tanpa riasan dan pakaian kusam yang biasa kupakai sehari-hari seolah luntur tanpa sisa, tergantikan oleh sosok wanita yang anggun dan berkelas. Ketukan pintu kamar berbunyi pelan. MUA yang membukakan pintu, dan Mahardika melangkah masuk. Laki-laki berbalut setelan jas hitam elegan itu seketika menghentikan langkahnya di ambang pintu. Dia berdiri mematung. Manik matanya yang biasanya menatap dingin kini membelalak tipis, melihatku tanpa berkedip—menelisik dari arah sanggu rambut,

  • Ajari Aku, Mas Duda   Pernikahan Azura

    "Meskipun saya bukan pasangan Bapak yang sebenarnya, tapi ketika saya datang ke acara itu nanti, bukankah saya harus mengenal Bapak sedikit lebih banyak? Bagaimana jika ada orang yang bertanya terkait hubungan kita? Bagaimana kalau ada bertanya keberlanjutan hubungan palsu ini? Atau kapan kita bertemu? Bagaimana latar belakangku dan pertanyaan lain? Bibit, bebet, bobotku jelas tidak akan selaras dengan kehidupan keluarga Bapak, kan?"Mahardika terdiam, menatapku lurus-lurus. "Dengar, Pak," lanjutku dengan nada suara lebih mantap. "Kalau memang saya akhirnya bersedia membantu Bapak menjadi pasangan palsu, saya punya satu syarat yang tidak bisa ditawar, Pak. Saya tidak bersedia menutupi atau merekayasa latar belakang diri saya."Mahardika menaikkan sebelah alis tipisnya, "Maksudmu?""Saya tidak akan berpura-pura menjadi wanita dari keluarga terpandang, wanita karir sukses, atau apa pun penyamaran konyol lainnya," tegasku seraya menunjuk diri sendiri. "Saya akan tetap memperkenalkan dir

  • Ajari Aku, Mas Duda   Tawaran Kerjasama Lagi?

    'Rinjani! Tujuanmu datang ke sini tadi untuk apa? bukankah untuk menemuiku? kenapa kamu malah pulang lagi?'Aku baru membaca balasan pesan dari Mahardika itu ketika sudah memarkirkan motor dan melangkah masuk ke dalam kontrakan. "Ya Tuhan. Kok bisa aku lupa tujuan awalku datang ke sana?" omelku pada diri sendiri seraya menepuk dahi pelan. Karena tubuh dan pikiranku sudah tidak punya cukup tenaga setelah, aku mencoba bernegosiasi dengan Mahardika untuk kembali ke kantornya di lain waktu saja atau membahasnya lewat pesan. 'Pak, saya sudah sampai kontrakan. Bagaimana kalau dibahas lewat pesan saja?''Nggak bisa. Ini rahasia. Tidak boleh ada yang mendengar!''Haduh. Gimana ya, Pak? kalau besok saja bagaimana? saya capek, Pak.''Cari saja cafe atau apa pun yang di dekat kontrakanmu. Kita bisa bertemu di sana. Cari yang ada ruang VIP-nya.''Saya nggak tahu, Pak. Coba bapak cari saja di sekitar Jalan Arjuna.''Oh, kamu tinggal di sekitar Arjuna. Tunggu, aku ke sana sebentar lagi!'"Aduh

  • Ajari Aku, Mas Duda   Cinta Yang Dibangun Di Atas Bangkai

    Dahiku berkerut tipis, "Untuk apa, Pak?" tanyaku keheranan. "Saya sendiri juga kurang tahu, Mbak. Siapa tahu untuk ambil bonus pertambahan pesanan," jawabnya terkekeh asal. Pak sopir menarik pintu mobil hingga tertutup rapat, melambaikan tangan singkat padaku, lalu perlahan melajukan kendaraannya meninggalkan lorong gang. Aku merogoh saku, mengeluarkan ponsel dengan niat awal ingin menanyakan langsung alasan Mahardika memanggilku ke kantor. Namun, jemariku mengambang di atas layar. Aku mengurungkan niat itu. Pikirku, tidak ada salahnya berkunjung sekedar menyapa Linda di bagian resepsionis dan beberapa kenalan lainnya yang sudah agak lama tak kujumpai. Dengan mengendarai sepeda motor, aku membelah jalanan kota yang cukup lenggang—karena hari ini adalah hari Minggu.Begitu memarkirkan sepeda motor, aku mengulas senyum dan mengangguk ramah pada beberapa karyawan yang berselisih jalan denganku dari area parkiran menuju ruangan Mahardika di lantai satu. Namun, begitu derap langkahku me

  • Ajari Aku, Mas Duda   Stalking

    "Menurut Bapak, aku harus bagaimana? Bapak kan seorang pria. Sedikit banyak pasti bisa menebak dengan lebih benar langkah-langkah apa yang mungkin akan diambil oleh Doni," desakku, meminta kepastian dari sudut pandang seorang laki-laki. "Dengar, Rinjani," sahut Mahardika tegas. "Seorang pria pengecut seperti Doni itu hanya berani bertindak sewenang-wenang kalau dia merasa korbannya lemah dan pasrah. Tapi kamu? Kamu sudah membuktikan pada dunia bahwa kamu sanggup menyeretnya ke jalur hukum dan memenjarakannya tanpa ragu. Langkah hukummu dulu itu adalah bukti nyata kekuatanmu. Doni itu tahu. Dia tahu kamu bukan lagi Rinjani yang dulu, bukan lagi Rinjani iyang bisa diintimidasi dengan gampang. Secara psikologis, dia justru yang akan berpikir seribu kali kalau mau menyentuhmu lagi, karena dia tahu taruhannya adalah masuk ke balik jeruji besi untuk kedua kalinya."Aku tertegun mendengar penjelasan runtut dari Mahardika. Kalimat-kalimatnya terdengar amat masuk akal dan penuh pertimbangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status