LOGIN"Sekarang kamu mau ke mana? Urusanku sudah selesai. Sekarang waktunya untukmu. Pilihlah, kemana pun yang kamu mau, selagi bisa dijangkau, akan kuturuti," ucapnya penuh percaya diri. "Kemana ya, Pak. Saya nggak punya tujuan," ucapku jujur. Aku sudah lama sekali tidak pernahh mendatangi pusat perbelanjaan. Dulu, saat menjadi istrinya Doni, aku tidak diizinkan belanja baju di mall. Doni selalu mengingatkanku; "Semua baju yang kita beli nanti harus dipertanggung jawabkan di akhirat, An. Jadi janganlah kamu menumpuk pakaian di almari. Secukupnya saja. Jika ada yang tak layak, baru beli, dengan jumlah yang sama seperti yang tak layak pakai."Namun, jika kupikir-pikir lagi, hampir setiap minggu Doni selalu pulang dengan baju baru. Entah itu kemeja kerja, atau kaos untuk sehari-hari. "Ah, masa kegelapan itu, memang tak layak untuk diingat lagi," batinku.Mahardika sepertinya menyadari keheningan diriku. Pria itu menghentikan langkah, menoleh ke arahku dengan tatapan yang lembut. "Kalau begi
"Halo, Dik? di mana? ada kabar baru ini dari anak-anak. Bajingan itu berulah lagi. Rumah ibunya Rinjani diiklankan di market place, tapi nomor yang terpasang sebagai nara hubung nomornya si bajingan itu!" cicit Pak Surya dari ujung panggilan. "Kamu jual rumah ibumu, Rin?" tanya Mahardika, meminggirkan mobilnya ke salah satu minimarket yang sepertinya buka dua puluh empat jam. "Kamu sama Rinjani, Dik?" sahur Pak Surya dari ujung panggilan. "Malam, Pak," sapaku. "Kamu memang berniat menjual rumah ibumu, Rin?" tanya Pak Surya. "Enggak, Pak. Terakhir kali datang ke desa juga saya nggak ada ngomong apa-apa kok. Lagian, rumah ibuku itu dekat dengan sawah, di belakang rumah orang, kalau dijual paling harganya dibawah sepuluh juta, Pak," jawabku tegas. "Jadi sudah pasti kalau ini scam yang coba dilakukan oleh Doni itu ya? kamu mengizinkan aku untuk mengambil tindakan atau gimana?" tanya Pak Surya. Saat aku melihat ke arah ke Mahardika, laki-laki itu juga nampak sedang menungguku memberi
"Silakan. Waktu itu saya mungkin sudah pensiun jadi juragan warung.""Ya pasti. Kan nanti kamu jadi juragan travel! Iya, kan?""Kok bisa? siapa tahu saya malah sudah punya gelar almarhumah.""Hush! Bicaranya. No no ya. Tidak boleh begitu," ucap Mahardika. Jari telunjuknya digoyangkan ke kiri-kanan, seolah sedang mendidik balita. Obrolan-obrolan ringan, konyol, dan sesekali menggelitik semacam itu menjadi rutinitas baru yang mengisi hari-hariku. Mahardika tidak pernah menuntut lebih. Dia datang, duduk di kursi plastik sederhana, menemani dan melemparkan celetukan-celetukan khas bapak-bapak yang sukses membuat benteng pertahananku perlahan runtuh tanpa sisa.Dua hari kemudian, suasananya sedikit berbeda. Warung sedang ramai-ramainya didatangi pelanggan jam makan siang. Dua pekerja baru yang lolos seleksi berkat bantuan Mahardika tampak cekatan mengantar pesanan ke meja-meja.Aku sendiri sibuk mengetik pesanan di tablet kasir ketika Mahardika datang bersama dua orang pekerjanya—aku tahu
"Pak Dika? kok malam-malam ke sini? Ada barang yang ketinggalan?" tanyaku terkejut seraya berdiri dari kursi kayu. Mahardika melipat payungnya, menyandarkannya di sudut dinding teras. Pria itu mengenakan celana kain santai dan kaos berkerah warna abu-abu. Wajahnya tampak sedikit lelah, bisa jadi karena seharian bekerja, tetapi matanya memancarkan kehangatan."Kamu kan yang ketinggalan," jawabnya santai. "Bahaya perempuan cantik begini jalan sendirian di tengah hujan, malam-malam lagi.""Bahaya apa sih, Pak? lagian saya belum ingin pulang. Nunggu hujannya reda sedikit. Lagipula kontrakan saya dekat, tinggal jalan kaki lima belas menit. Kalau nggak memungkinkan, saya juga bisa menginap di warung, kan. Ada kamar di belakang."Mahardika mengernyitkan alisnya. "Terus kenapa sekarang malah duduk di teras begini? Nanti kalau masuk angin bagaimana? Otot pinggang saya saja yang tua ini langsung protes kalau kena gerimis sedikit, apalagi kamu."Aku tertawa kecil. "Saya masih dua puluh lima tah
"Kenapa tidak enak?" potong Mahardika. "Saya menawarkan ini bukan karena ingin membuatmu berutang budi, Rin. Saya menawarkan ini karena saya punya kapabilitas untuk melakukannya, dan saya ingin melihat beban kerjamu berkurang."Aku terdiam, reflek menggigir bibir bawahku dalam-dalam. "Tapi nanti staf IT bapak repot, apalagi sekarang kan lagi uji coba aplikasi travel on-line.""Ya pasti ada hitungannya sendiri lah, Rin. Masalah teknik itu nanti urusanku dengan anak-anak IT, yang penting kamu oke, aku bisa langsung bahas ini dengan mereka," jawab Mahardika dengan senyum tipis. Pertahanan hatiku yang berlapis itu sepertinya mulai terkikis. Aku tidak bisa lagi menolak tawarannya dengan tegas seperti sebelumnya. "Baiklah... kalau begitu, saya terima bantuannya, Pak. Itungannya jadi lembur kan? nanti biayanya berapa, tolong tagihkan ke saya ya, Pak. Saya tidak bisa terima kalau bantuan ini gratis!"Mahardika tertawa kecil, "Baik nyonya Rinjani. Untuk pembayarannya sistemnya sesuai dengan
Aku menoleh ke arahnya, sedikit mengulas senyum. "Bapak lupa? posisi saya dulu apa waktu kerja di kantor, Pak Dika? lagipula Bapak ini pengusaha atau konsultan UMKM sih? Semua-semua ditawari bantuan."Mahardika tertawa pelan—suara beratnya terdengar begitu hangat di dalam mobil. "Saya cuma tidak mau kamu kelelahan fisik dan pikiran, Rin. Kamu itu tipe orang yang kalau ada masalah suka dipendam sendiri sampai kelihatan pucat.""Saya sudah biasa mandiri, Pak," bisikku pelan. "Dari dulu, tidak ada tempat untuk bersandar."Mahardika menghentikan tawa kecilnya. Dia melirikku dengan tatapan dalam dan tenang. "Sekarang beda, Rin. Kamu tidak harus menanggung semuanya sendirian lagi kalau memang terasa berat. Ada orang-orang di sekitarmu yang peduli, termasuk saya."Kalimat itu disampaikan tanpa nada menggurui. Pria ini hanya menyatakan fakta dengan cara yang sangat dewasa.Sesampainya di gedung resepsi pernikahan, suasana terasa riuh oleh alunan musik gamelan dan jejeran papan bunga segar. Be







