Masuk"Yang, di mana? Kok keluar sih? Kan aku udah bilang tadi, aku minta dikelonin!"Kalimat pertanyaan yang hendak dilontarkan oleh Mira seketika terjeda. Wanita itu menoleh dan menatap ke arah pintu kamar yang terbuka lebar, di mana asal suara serak Arga berada.Wulan yang duduk di hadapan Mira seketika menjadi salah tingkah. Wajahnya memerah lantaran malu pada Mira yang mendengar perkataan Arga."Mbak Wulan....""Iya, Ga. Aku di depan!" sahut Wulan sembari bangkit dari duduknya. "Mbak, saya ke dalam dulu sebentar. Arga kebiasaan nyariin saya kalau bangun tidur!" katanya dengan wajah semakin memerah.Cepat-cepat, Wulan yang merasa malu pada Mira melangkah menuju kamar, menghampiri Arga yang bertingkah seperti bocah.Sepeninggalan Wulan, Mira mengusap pahanya sendiri. Mendengar suara Arga yang serak khas bangun tidur, Mira justru merasa jika suara pemuda itu terdengar begitu menggoda.Namun, panggilan 'Mbak Wulan' yang disebutkan Arga sebelumnya membuat Mira menjadi semakin yakin bahwa wa
Jam menunjukkan pukul sepuluh siang, Arga yang semalaman bekerja di klub, belum bangun dari tidurnya. Pemuda itu tampak begitu lelap di tengah-tengah kasur dengan bagian atas tubuhnya bertelanjang dada. Kipas angin di kamar tersebut menyala dalam mode full. Sedangkan Wulan baru saja selesai mandi setelah berkutat dengan rutinitas biasanya di pagi hari. Mulai dari beberes, mencuci pakaian, dan juga menyiapkan menu masakan untuk Arga makan saat bangun tidur nanti. Di saat Wulan baru saja selesai mengikat rambutnya, pintu kontrakan tersebut diketuk-ketuk dengan pelan dari luar. Meskipun pelan, tetapi terdengar jelas di telinga Wulan lantaran kontrakan tersebut begitu hening. Tuk, tuk! "Sebentar!" sahut Wulan sembari beranjak dari duduknya dan meletakkan sisir yang ada di tangannya ke lantai pinggiran kasur. Wanita bertubuh seksi dan berparas cantik itu keluar dari kamar. Ia berjalan menuju pintu dengan langkahnya yang lebar. Selanjutnya, memutar kunci lalu menarik gagang pin
"Munafik, perempuan murahan, lonte!"Plak!Tamparan keras telapak tangan Mira kembali melayang untuk kedua kalinya ke wajah Amelia. Emosinya sudah benar-benar tidak bisa ditahan, ia geram dikata-katai oleh Amelia.Selama ini Mira selalu menganggap Amelia sebagai teman sekaligus saudaranya. Tetapi apa yang dilakukan Amelia? Hanya karena obsesinya pada seorang pria yang sudah beristri, ia justru nekat melakukan apa saja dan memusuhi orang-orang yang ada di sekitarnya."Aku nggak segila dan senekat kamu, Mel. Aku juga bukan perempuan yang berani berbuat curang buat dapetin perhatian suami orang. Dari sini jelas, siapa yang lebih murahan!"Plak!Amelia membalas tamparan Mira tak kalah keras.Adu mulut kedua wanita itu kini berujung adu kekerasan. Di dalam ruangan tersebut, Amelia menjambak rambut Mira yang bertubuh sedikit lebih pendek darinya."Aku tahu semalam kamu dan Arga ngabisin waktu berduaan di kamar ini, kan?" kata Amelia dengan suara tertahan. Tangannya menjambak kuat rambut Mir
"Astaga, muka Mbak Mira kenapa?"Arga yang memasuki ruangan pribadi Mira, dibuat terkejut saat melihat wajah wanita pemilik klub Happy Fun tempatnya bekerja.Bagaimana tidak terkejut? Wajah mulus Mira kini terdapat tanda lima jari, bahkan sudut bibirnya mengalami lebam kebiruan."Siapa yang mukulin Mbak Mira? Kenapa sampai biru kayak gini? Ke mana petugas keamanan dan penjaga yang tugas? Bisa-bisanya biarin Mbak Mira dipukulin!" kata Arga sembari menyentuh bahu Mira dan memeriksa bagian tubuh wanita itu.Melihat kecemasan di wajah Arga, Mira tersenyum geli. Lalu, ia mendorong pelan tangan Arga yang memegang bahunya."Aku nggak apa-apa, Ga. Tadi siang abis ribut sama Amelia," kata Mira dengan santai.Beberapa jam sebelumnya, tepatnya pada pukul satu siang, Amelia mendatangi klub tersebut bersama Gatot dan kedua temannya.Penjaga klub sudah melarang Amelia untuk masuk, tetapi wanita yang menyandang status janda itu keukeuh ingin masuk dan menerobos."Saya mau ketemu Mira. Kalau kalian t
"Jadi gitu ceritanya, Sayang. Aku beneran nggak nyebarin video itu. Cuma Bu Erna yang aku kasih tahu!"Arga yang duduk di atas karpet itu menceritakan semuanya pada Wulan yang berdiri di hadapannya. Ekspresi wajahnya terlihat santai dan tenang, bahkan berbicara sambil mengunyah emping goreng di dalam mulutnya."Bukan aku yang nyebarin, tapi Bu Erna!" lanjut Arga seraya menyengir kuda.Mendengar cerita Arga, Wulan geleng-geleng kepala. Lalu, ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan."Kamu sengaja kan ngasih tahu Bu Erna, karena kamu tahu kalau dia biang gosip yang nggak bisa jaga rahasia. Huh ... kamu pikir aku nggak tahu apa isi otak kamu itu!"Arga yang semula hanya menyengir kuda kini terkekeh-kekeh. Membenarkan perkataan istrinya.Pemuda itu memang sengaja. Ia ingin membalas Bu Nur yang sudah berkali-kali menyakiti Wulan dan menjatuhkan mentalnya dengan kata-kata menyakitkan.Sekarang, wanita julid itu mendapatkan balasan, menuai karma atas apa yang pernah ia lakuk
"Argantara...."Wulan meneriaki Arga yang berlari memasuki rumah lantaran sengaja menjauhinya. Lalu, ia beranjak dari duduknya dan menyusul suaminya itu.Wanita itu ingin tahu, apa yang sudah dilakukan oleh Arga hingga kabar kehamilan putri Bu Nur menyebar dengan begitu cepat."Sayang!" panggil Wulan saat memasuki rumah. Memanggil suaminya yang entah berada di mana."Di dapur, bukan di kamar!" sahut Arga.Mendengar sahutan Arga, Wulan melangkah menuju dapur. Dilihatnya, Arga duduk santai di karpet yang terbentang di lantai. Tangannya memeluk toples plastik berisi emping goreng."Kamu yang nyebarin berita dan video anaknya Bu Nur?" tanya Wulan yang kini berdiri di hadapan Arga dengan kedua tangan terlipat di bawah dada.Mata wanita itu menatap dengan tatapan penuh selidik, hingga membuat Arga memajukan bibir dibuatnya."Iya, kamu yang nyebarin?" tanya Wulan lagi lantaran tak kunjung mendapatkan jawaban dari Arga.Ditanya secara berulang-ulang, Arga menggelengkan kepalanya. Lalu mencono







