Chapter: 7. Ajari Aku, Mbak Ipar!Arga yang menggenggam jemari Wulan mengerutkan kening keheranan. Tak paham dengan maksud kakak iparnya yang mengatakan jika cincin kawinnya tertinggal di dalam."Maksudnya apa, Mbak? Ketinggalan di dalam mana?" tanya Arga sambil melepaskan genggaman tangannya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Wajah Wulan memerah bak tomat matang yang hampir busuk. Ia meneguk ludahnya dengan susah payah.Di hadapan Arga, wanita berwajah ayu itu menggigit bibir. Ia memejamkan matanya sesaat, sekali lagi meyakinkan dirinya sendiri untuk memberitahu Arga jika cincin kawinnya tertinggal di dalam lubang sensitifnya saat bermain solo kemarin sore.Sebelum menjawab dan menjelaskan semuanya pada Arga, Wulan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan."Cincin kawinnya ketinggalan di dalam sini, Ga. Di lubang apemku," kata Wulan pelan sembari menyentuh area sensitifnya dari balik daster tipis penutupnya."Apa?!" pekik Arga dengan suara melengking.Mata pemuda tanggung itu seketika melotot leb
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: 6. Ajari aku, Mbak!"Mulai hari ini kamu dipecat!" Kalimat singkat yang dilontarkan pria paruh baya bertubuh gempal dan agak pendek itu membuat dada Arga berdegup kencang. Benar dugaannya, hari ini dia akan kehilangan pekerjaannya karena terlambat. "Bos, to—" "Setiap hari selalu datang telat, kamu pikir kafe ini punya nenek moyangmu. Dasar gak tahu diri!" tukas bos kafe itu, memaki Arga yang berdiri di hadapannya. Selanjutnya, pria paruh baya itu merogoh saku celananya dan melemparkan sebuah amplop tipis berwarna cokelat ke hadapan Arga. Swos! Secepat kilat, Arga menyambar amplop tersebut agar tidak jatuh ke lantai. Jika jatuh ke lantai, otomatis ia harus memungutnya dan membuat harga dirinya sebagai pemuda miskin semakin jatuh dan rendah. "Itu gaji kamu bulan ini. Ingat, jangan pernah pijakan kaki kamu lagi di tempat ini! Muak saya lihat muka gembel kamu!" Degh! Dikatakan bermuka gembel oleh bosnya, hati Arga berdenyut nyeri. Meskipun miskin, ia bukan gembel peminta-minta. Bukan, pria jelek i
Last Updated: 2026-07-06
Chapter: 5. Ajari aku, Mbak!"Mbak, terong goreng ini bukan terong kemarin sore yang dipakai buat anu, kan?"Degh!Pertanyaan konyol yang keluar dari mulut bocor Arga spontan membuat sepasang mata Wulan mendelik lebar. Wajahnya kini memerah, lebih merah daripada wajah Arga sehabis tersedak dan terbatuk-batuk sebelumnya."Kamu, kamu—" tunjuk Wulan ke wajah Arga sambil menjeda kalimatnya.Wanita berwajah ayu itu merasa kesal bercampur malu. Bisa-bisanya Arga menanyakan hal seperti itu setelah apa yang terjadi."Aku seriusan, Mbak. Kemaren sore aku sempet lihat terong di pinggir kasur Mbak Wulan. Terongnya bukan terong ini, kan?" tanya Arga dengan tampang polosnya dan juga seenaknya.Serius bertanya atau hanya ingin membuat kakak iparnya merasa malu? Entahlah, hanya Arga sendiri dan Tuhan yang tahu!Yang jelas, Wulan benar-benar sangat malu saat ini. Bahkan, hampir menangis karena pertanyaan gila adik iparnya yang tidak kira-kira."Huaaa, Arga. Kamu sengaja bikin aku malu, ya?!" jerit Wulan dengan sepasang mata yang
Last Updated: 2026-07-06
Chapter: 4. Ajari aku, Mbak!Kejadian memalukan di pagi hari antara Wulan dan Arga membuat posisi keduanya semakin canggung.Arga yang keluar dari kamarnya dengan seragam kerja terlihat melangkah terburu-buru melewati ruang makan, tempat kakak iparnya sedang menyiapkan sarapan."Arga!"Waduh!Arga menepuk jidat. Sudah buru-buru agar tidak berpapasan dengan Wulan, tetapi kakak iparnya itu justru memanggilnya, membuatnya mau tak mau menghentikan langkah dan menoleh ke arah sumber suara.Pemuda itu menyengir kuda dan menatap kakak iparnya dengan wajah memerah seperti tomat matang yang hampir busuk."Hee....""Kamu masih demam, Ga. Gak usah kerja dulu. Istirahat aja di rumah," kata Wulan. Ia meletakkan piring berisi lauk di tangannya ke atas meja, lalu mendekati Arga yang mematung di tempatnya.Didekati oleh Wulan, Arga spontan melangkah mundur. Kejadian menegangkan kemarin dan pagi tadi membuatnya merasa sangat gugup setiap melihat wajah ayu nan cantik kakak iparnya yang ternyata sangat menggoda.Sebagai kaum batang
Last Updated: 2026-07-06
Chapter: 3. Ajari aku, Mbak!Brak!Wulan yang mendorong pintu kamar Arga dan menatap ke arah kasur seketika melotot lebar saat mendapati adik iparnya menggigil dengan posisi meringkuk tanpa selimut."Astaga, Arga!"Buru-buru wanita cantik itu mendekati adik iparnya yang menggigil kedinginan. Lalu mendaratkan bokongnya yang cukup berisi di pinggiran kasur. Tangannya pun bergerak, menarik selimut dan menutupi tubuh Arga yang terasa sangat panas."Astaga, Ga, kamu demam," kata Wulan. Suaranya pelan, sedangkan guratan cemas terlihat jelas di wajahnya yang ayu nan cantik."Huhu... dingin banget. Rasanya seluruh badanku kayak ditempeli es batu," lirih Arga yang benar-benar menggigil hebat.Suara Arga yang bergetar dan sepasang matanya yang terkatup membuat Wulan semakin cemas. Sudah dua tahun tinggal berdua bersama Arga, ini adalah kali pertama adik iparnya itu mengalami sakit dan demam tinggi."Tunggu di sini sebentar, aku ambilin obat." Takut demam Arga semakin parah, Wulan pun beranjak dari duduknya dan hendak melan
Last Updated: 2026-07-06
Chapter: 2. Ajari aku, Mbak!"Emphhh... ah, enaknya!"Suara yang berasal dari dalam kamar kakak iparnya, membuat Arga tersedak air yang baru sampai di tenggorokannya. "Uhuk, uhuk!" Pemuda itu mengusap kasar bibirnya yang lembab. Sepasang matanya melotot tajam, sedangkan wajahnya merah padam.Jelas, jika suara tersebut adalah suara desah keenakan yang keluar dari bibir kakak iparnya. Dada Arga bergemuruh hebat, dan darahnya serasa mendidih. Kedua tangannya yang berada di sisi tubuh terkepal erat. Rahangnya mengeras, membuat gigi-giginya beradu dan menimbulkan bunyi gemeretak. "Cewek sialan! Di luaran sana abangku kerja banting tulang cari duit, dia malah enak-enakan bawa selingkuhannya ke rumah ini. Lihat aja, aku gak bakalan tinggal diam," kata Arga dengan suara tertahan dan terdengar amat geram. Selanjutnya, Arga yang emosinya naik ke ubun-ubun dan nyaris meledak, melangkah lebar menuju kamar kakak iparnya yang tertutup rapat. "Eum, ah, ah...." Dari balik pintu kamar tersebut, desahan nikmat terus terdeng
Last Updated: 2026-07-06