LOGIN“200 juta. Hamili istriku,” perintah Bima dingin. Demi mendapatkan ahli waris, Bima rela menyerahkan istrinya, Rania, ke tangan Elang. Yang tak lain adalah supir kepercayaan. Awalnya ini hanya tentang uang dan kewajiban. Namun, ketika Rania mulai menggantungkan hatinya dan Elang tak lagi bisa menahan perasaannya, aturan permainan berubah total.
View More"Dua ratus juta. Hamili istriku."
Kalimat itu meluncur santai dari bibir Bima, diiringi kepulan asap cerutu mahal yang membumbung tebal di ruang kerjanya. Elang, pria bertubuh tegap dengan seragam supir hitam yang membalut tubuh kekarnya, berdiri kaku di depan meja. "Apa Pak Bima sedang bercanda? Ini bukan lelucon yang pantas anda ucapkan sebagai seorang suami, Pak!" protes Elang dengan suara berat, menahan rasa tak percaya yang mendadak menghantam dadanya. Bima terkekeh pelan. Ia membuka laci meja dan mengeluarkan selembar cek yang sudah dibubuhi tanda tangan. Lalu menggeser kertas berharga itu ke tepi meja, tepat di depan Elang. "Apakah wajahku ini terlihat seperti orang yang sedang bercanda, Elang?" ucap Bima seraya mengambil gelas berisi wiski, memutarnya perlahan hingga es batu di dalamnya berdenting. "Kamu sudah bekerja padaku selama enam tahun. Kamu tahu betul posisi keluarga Adhitama seperti apa. Kakek memberi tenggang waktu sampai akhir tahun ini. Jika Rania tidak hamil dan memberikan aku seorang pewaris, seluruh saham dan kekuasaan yang aku miliki akan dialihkan pada sepupuku." Elang menelan ludah dengan susah payah. Masih berusaha mempertahankan akal sehatnya. "Anda bisa berobat ke luar negeri. Dokter terbaik di sana pasti bisa membantu menyembuhkan–" "Tidak semudah itu Elang! Pemeriksaan medis terakhir mengkonfirmasi spermaku benar-benar mati. Aku tidak akan pernah bisa membuahi sel telur siapapun. Berita ini tidak boleh bocor. Kalau media atau keluarga besar tahu aku mandul, posisiku hancur seketika!" seru Bima memotong ucapan sang sopir. "Lalu kenapa tidak bayi tabung dengan pendonor rahasia, Pak? Kenapa harus saya? Menyuruh saya menyentuh ibu Rania, itu sebuah pengkhianatan. Selama ini, beliau selalu memperlakukan kita semua dengan sangat baik," ucap Elang, menolak setuju pada kegilaan majikannya. "Donor dari bank sperma meninggalkan jejak rekam medis yang bisa dengan mudah dilacak oleh musuh bisnisku. Sementara aku butuh seseorang yang berada di bawah kendaliku. Seseorang yang terikat dan tidak punya kekuatan untuk menuntut apapun di masa depan. Lagipula, kamu punya fisik yang bagus. Anak yang lahir dari darahmu tidak akan terlihat memalukan untuk menyandang nama besar Adhitama," ucap Bima, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Saya tidak bisa, Pak. Ini gila!" tegas Elang, bersiap memutar tubuh untuk keluar dari ruangan. Bima tak langsung panik. Ia justru berdiri perlahan dan berjalan mendekati Elang. "Jangan berlagak sok suci. Kamu pikir aku tidak tahu dari mana asal uang ratusan juta yang membiayai operasi jantung adik perempuanmu bulan lalu?" ucap Bima tepat di belakang pria itu. Langkah Elang terhenti seketika. Darahnya berdesir hebat. "Rentenir darat yang memburu mu itu bekerja di bawah perusahaan ku, Elang. Dalam satu panggilan telepon besok pagi, aku bisa memastikan adikmu yang sedang masa pemulihan itu kehilangan tempat bernaung dan kamu membusuk di penjara karena hutang fiktif yang bisa aku ciptakan," lanjut Bima dengan nada sinis. Rahang Elang mengeras. Apa Bima baru saja menyentuh garis merah kehidupannya bahkan keluarganya? "Ambil uangnya," perintah Bima seraya menyelipkan cek itu dengan kasar ke saku dada seragam Elang. "Uang dua ratus juta ini baru uang muka. Setelah Rania positif hamil, kamu akan mendapat tiga kali lipat dan surat lunas hutangmu. Jumat malam ini di Puncak, aku sudah mengatur segalanya." Napas Elang memburu cepat, dadanya sesak menahan amarah yang tidak bisa ia luapkan. "Kamu mengerti Lang?!" Elang mengepalkan tangannya kuat-kuat. Lalu menjawab, "Saya mengerti, Pak Bima." "Bagus. Keputusan yang cerdas. Sekarang keluar dan panggil istriku kemari." Elang menundukkan kepala dan keluar. Rasa muak pun seketika memenuhi kerongkongannya. Di luar, ia berpapasan dengan Rania. Wanita anggun bergaun tidur putih itu sedang berjalan mendekat sambil membawa nampan berisi cangkir teh chamomile. "Loh Elang? Belum pulang? Kok malam-malam begini masih di dalam?" tanya Rania dengan senyum tulus terukir di bibirnya. "Kebetulan bertemu di sini, pak Bima sudah menunggu anda, Bu Rania," jawab Elang. "Ah, begitu. Beliau pasti sedang stress memikirkan pekerjaan," ujar Rania, tanpa tahu rencana busuk suaminya. "Tolong maklumi suamiku ya, Elang. Terima kasih sudah menemaninya sampai larut. Kamu lekaslah pulang dan istirahat." "Sama-sama, Bu Rania." Sepeninggalan wanita itu, harum lembut parfum vanilla dari tubuh Rania seketika menguar di udara. Elang menatap punggung rapuh itu dengan dada sesak. Permainan gila ini benar-benar dimulai dan ia baru saja dipaksa menjadi gigolo yang akan menghancurkan wanita tersebut. **** Rania mengetuk pintu pelan lalu melangkah masuk. Bima langsung menyambutnya dengan senyuman hangat, sebuah senyuman manis yang sudah sangat jarang Rania dapatkan beberapa bulan terakhir. "Ada apa, Mas? Tumben, kamu kok belum tidur?" tanya Rania sembari mendekat. Bima meraih tangan Rania, menggenggamnya erat, lalu menuntun istrinya untuk duduk di sofa. Raut wajah Bima mendadak berubah menjadi sangat sendu dan seolah penuh penderitaan. "Sayang aku butuh bantuanmu. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan aku dan masa depan kita," ucap Bima dengan memasang wajah memelas. Rania mengerutkan keningnya, cemas melihat perubahan sikap suaminya. "Bantuan apa, Mas? Ada masalah di perusahaan?" Bima menghela nafas panjang, menundukkan kepala seolah menanggung beban yang amat berat. "Hasil pemeriksaannya sudah keluar, Rania. Aku tidak akan pernah bisa memberimu keturunan." Rania terperanjat. "Mas, bagaimana bisa? Tapi kita masih bisa berobat, kan? Kita coba program bayi tabung—" "Tidak bisa, Rania!" potong Bima. "Dokter sudah menegaskan spermaku sama sekali tidak berkembang. Dan kamu tahu konsekuensinya, kan? Kakek memberikan syarat hingga akhir tahun ini. Jika kamu tidak hamil, seluruh aset, posisi CEO dan warisan keluarga Adhitama akan dicabut. Kita akan jatuh miskin, Rania. Aku akan hancur!" Airmata Rania mulai menetes melihat suaminya yang tampak begitu rapuh. "Mas, aku tidak peduli soal harta atau posisi itu. Kita bisa hidup sederhana." "Tapi aku peduli!" Bima memegang bahu Rania cukup keras, menatap tepat ke dalam manik mata istrinya. "Aku tidak bisa hidup hancur dan jadi bahan tertawaan keluarga besarku! Aku mencintaimu, Rania. Tapi aku butuh seorang anak untuk menyelamatkan posisiku." "Lalu kita harus bagaimana?" bisik Rania dengan suara bergetar. Bima mengusap air mata di pipi Rania dengan ibu jarinya, lalu menatapnya dengan tatapan tajam yang manipulatif. "Aku sudah menyiapkan solusinya. Hanya ada satu cara. Kamu harus hamil dengan pria lain." Bagaikan disambar petir di siang bolong, tubuh Rania membeku seketika. Ia menarik tangannya dari genggaman Bima dengan wajah pucat pasi.Suara deru mesin mobil yang memasuki pekarangan rumah. Hujan deras di luar membuat suasana semakin dingin dan mencekam. Pintu utama terbuka, Bima yang melangkah masuk dengan setelan jas kusut, dasi yang sudah tidak beraturan dan rambut sedikit basah terkena tempias air hujan. "Loh, kok pulang ke sini, Bim?" tegur Ningsih dengan dahi berkerut. Ia menghentikan langkahnya dari dapur sambil membawa nampan teh. "Bukannya kamu bilang mau menyusul istrimu ke Puncak? Kasihan Rania sendirian di sana malam-malam begini, apalagi cuacanya sedang buruk sekali." Bima menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tengah dengan kasar, lalu melonggarkan dasinya dengan wajah masam tak peduli. Bima tak menyangka jika kepulangannya ke rumah orangtuanya, membuat merrka malah bertanya-tanya. "Ada Elang kok, Ma," jawab Bima sekenanya, lalu merogoh ponsel dari sakunya tanpa menatap ibunya. "Besok pagi saja Bima nyusulnya. Badan Bima rasanya capek semua habis meeting maraton dari siang di kantor. Ditambah
"Bu Rania, sebentar. Saya mau—" "Mau apa, Lang? Bantu aku, rasanya panas sekali. Di bawah sana kok gatal gimana gitu ya?" potong Rania dengan suara parau. Wanita itu menggeliat gelisah di atas ranjang. Tangannya tanpa sadar mengusap daerah intinya sendiri dari balik gaun tidur yang tipis. Wajah Rania merah padam, efek dari obat perangsang berdosis sedang yang diam-diam dicampurkan ke dalam teh chamomile yang Rania minum tadi sebelum tidur. Elang mematung di sisi ranjang. Matanya membelalak lebar, otaknya mendadak konslet mendengar ucapan blak-blakan majikannya. "Ya mana saya tahu, Bu. Masa iya mau saya garuk?!" seru Elang panik. Bukannya sadar, Rania malah menatap Elang dengan mata sayu. Bibirnya pun ikut mengerucut manja. "Nah, boleh, Lang. Bantu aku, please. Nggak tahan banget rasanya, sumpah..." Elang mengusap wajahny. Ia berusaha bersikap gentleman dengan mengalihkan pandangannya ke arah jendela asalkan bukan ke tubuh Rania yang mengundang selera. Sialnya, niat suci Ela
"Sial! Kenapa aku mendadak gugup begini ya?" keluh Elang menahan frustasi yang memuncak.Elang mondar-mandir bak setrikaan rusak di dalam kamar sempit di lantai bawah villa. Sesekali ia menengadah menatap langit-langit, lalu menatap telapak tangannya sendiri dengan ekspresi horor. Sementara itu, di kamar utama lantai atas, Rania mungkin sedang menunggunya dalam ketakutan. Tepat jam satu malam nanti, Elang harus naik ke atas sana demi menjalankan misi gila dari Bima, suami majikannya.Cuaca malam ini pun seakan mendukung. Hujan di luar bukannya mereda, malah semakin mengguyur deras. Membuat dada Elang berdebar tak karuan."Pertama-tama apa yang harus kulakukan kalau sudah masuk ke dalam sana? Langsung buka baju? Langsung tarik selimut? Atau ketuk pintu lalu bilang permisi bu, sesuai jadwal begitu?" gumam Elang, berbicara pada bayangannya sendiri di cermin. Pria tegap berdada bidang yang biasanya berwajah sangar bak preman pensiun itu kini mengusap wajahnya kasar."Astaga, aku kan bel
"Hujannya makin deras ya, Lang?""Iya, Bu. Tapi tenang saja, kita sudah sampai di halaman villa."Elang mematikan mesin mobil. Di luar, hujan mengguyur deras villa keluarga Adhitama yang berlokasi di kawasan Puncak. Suasananya cukup sepi dan hanya diterangi lampu yang remang-remang. Tanpa membuang waktu, Elang membuka pintu kemudi, mengembangkan payung lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Rania."Awas licin, Bu," kata Elang pelan sambil mengulurkan sebelah tangannya."Terima kasih ya, Elang," ucap Rania seraya menyambut uluran tangan itu. Ia menatap kemeja supir pribadinya yang mulai basah terkena tempias. "Harusnya kamu pakai jaket, Lang. Baju kamu jadi basah lagi.""Sudah biasa, Bu. Yang penting Ibu tidak kehujanan," jawab Elang santai, meski rahangnya sedikit mengeras menahan hawa dingin malam.Saat mereka melangkah masuk ke teras, Mang Ujang, penjaga villa yang sudah bekerja belasan tahun di sana, langsung menyambut dengan senyum ramah."Eh, Bu Rania! Mari masuk, Bu. D






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.