MasukIsvara menunduk. Matanya kini tertuju pada cangkir kopi yang mulai kehilangan hangatnya.
Kemudian, Isvara diam sebentar. Namun, ada sesuatu yang masih mengganjal di dadanya, dan akhirnya dia putuskan untuk mengatakannya juga.
“Aku tahu kamu nggak minta apa-apa,” ucap wanita itu pelan. “Tapi, aku juga nggak bisa duduk diam begitu saja. Kamu sudah menolongku. Aku nggak mau kelihatan seperti orang yang cuma numpang hidup.”
Tatapannya masih mengarah ke cangkir, tapi suaranya mantap. “Aku tetap akan bantu urus rumah. Masak, beresin ruang kerja, apa pun yang bisa aku lakukan. Itu bukan soal uang, cuma ... aku butuh merasa aku juga berkontribusi.”
Alvano tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap wanita di hadapannya beberapa detik sebelum kembali pada sarapannya.
Isvara mengerti. Itu bukan persetujuan, tapi juga bukan penolakan.
Setelah selesai sarapan dan membereskan piring di depannya, Isvara berdiri sambil merapikan tas kerjanya.
“Aku berangkat kerja dulu,” ucap wanita itu sambil meraih tas kerja yang dia letakkan di dekat meja.
Alvano yang masih duduk sambil menyeruput kopi Tarakhirnya, hanya mengangguk pelan. “Kamu nggak perlu lapor atau minta izin, Isvara. Jalani aja seperti biasa. Aku nggak akan ikut campur urusan kamu, dan kamu juga nggak perlu perlu ikut campur urusanku.”
Isvara menoleh sejenak, mengamati wajah pria itu. Kalimatnya terdengar datar, tapi tak ada kesan dingin. Hanya penegasan akan jarak yang sejak awal memang mereka sepakati.
Bukankah di kontrak sudah jelas? Mereka setuju untuk menjalani hidup masing-masing, tanpa campur tangan satu sama lain.
Namun tetap saja, menurut Isvara, memberi tahu keberangkatannya ke kantor bukan soal izin. Lebih kepada bentuk kesopanan.
“Aku tahu. Walaupun kita menikah bukan karena cinta, aku tetap mau menghargai kamu sebagai suami.” Kata-kata itu keluar tanpa ragu dari bibir Isvara.
Alvano tidak langsung membalas. Hanya menatap punggung Isvara yang perlahan menjauh.
Setelah keluar dari rumah, Isvara berjalan kaki menuju halte terdekat. Udara pagi masih sejuk, menyapu pelan wajahnya. Hari ini, dia memutuskan pergi ke kantor naik bus. Seperti yang biasa dia lakukan ketika masih tinggal di rumah orang tuanya.
--
Siang itu, Isvara tengah berjalan menuju ruang meeting. Namun, langkahnya terhenti ketika melewati studio pemotretan produk untuk pemasaran. Dari dalam ruangan itu, terdengar suara keributan. Perdebatan sengit antara seorang pria dan seorang wanita.
Tanpa berniat menguping, Isvara berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka. Saat mengintip ke dalam, matanya sontak membelalak.
Tara. Dan ... Livia? Bukankah dia adik dari bosnya?
"Aku nggak akan biarkan kamu menggugurkan anak kita, Liv!" suara Tara meninggi, napasnya memburu. "Kamu bisa marah, tapi ini anak kita. Kamu tidak bisa ambil keputusan sepihak."
Livia berdiri dengan rahang mengeras dan tangan terkepal. Wajahnya penuh kemarahan.
Isvara tercekat. Jadi, wanita yang dihamili Tara dan alasan dia meninggalkannya di hari pernikahan adalah Livia? Adik dari bosnya?
Tanpa sadar, map yang sedari tadi digenggam jatuh ke lantai. Suaranya cukup keras untuk menarik perhatian keduanya.
Tara langsung menoleh.
“Isvara, kamu …” kata Tara cepat, panik.
Isvara langsung memungut beberapa map yang jatuh dan bersiap untuk meninggalkan kedua orang itu. Namun, Tara lebih dulu menghalanginya.
“Telingaku masih cukup waras untuk dengar obrolan kalian,” jawab Isvara tanpa menatap Tara.
Tiba-tiba, Tara berubah ekspresi, kali ini jauh lebih tenang. Dan bahkan, ada senyuman sinis di wajahnya. “Bagus kalau kamu sadar diri. Toh, aku nggak akan mau hidup sama manusia kolot seperti kamu.”
Mendengar itu, Isvara menggertakkan giginya, tetapi berusaha untuk tetap tenang. Suaranya tenang, tapi dingin. “Terserah kamu, Tara. Aku nggak peduli lagi.”
Pandangan Isvara beralih ke arah Livia yang sedang berdiri di belakang Tara. Entah kenapa, dia seolah baru saja mendapat keberanian ekstra untuk berhadapan dengan adik bosnya sendiri.
“Jangan sampai anakmu tumbuh tanpa sosok orang tua yang lengkap, terlebih itu anak hasil hubungan gelap di luar pernikahan.” Sejenak Isvara menatap Tara kembali dengan senyum sinisnya.
Livia yang sejak tadi diam, akhirnya melangkah maju. Wajahnya merah karena amarah. “Kamu bilang apa tadi?”
Plak!
Atau … seharusnya begitu.
Sebelum tangan Livia mendarat di wajah Isvara, sebuah tangan lain muncul dan menangkapnya lebih dulu. Tegas. Menahan gerakan itu tanpa ragu.
Alvano.
Livia sontak terdiam. Matanya membulat, tubuhnya membeku saat menyadari siapa yang kini berdiri di depannya.
Alvano menatap Livia dalam diam. Matanya tajam, ekspresinya datar. Beberapa detik berlalu, sebelum akhirnya pria itu bicara dengan pelan, tapi dingin.
“Sepertinya, keputusanku untuk membatalkan pernikahan kita memang tepat.”
Mendengar itu, Isvara membeku. Jadi, Livia adik dari bosnya ini sebenarnya adalah calon istri Alvano?
Livia yang mendengar itu langsung terkejut. “Al, maksud kamu apa? Kita akan tetap menikah, ‘kan?”
“Kamu pikir aku mau menikahi perempuan yang sudah hamil anak orang lain?” Alvano menatap Livia dengan dingin.
“Ini cuma salah paham, Al. Aku nggak hamil, nggak ada yang hamil di sini!” Livia masih bersikeras.
“Liv, kamu …”
“Al, aku benar-benar nggak hamil. Dia cuma bohong supaya aku nggak jadi menikah sama kamu,” potong Livia sambil terus memohon pada Alvano. Dia tidak akan membiarkan Tara bicara banyak hal di hadapan Alvano.
Alvano masih menatap Livia dengan sorot mata gelap. Tak ada sedikit pun perubahan emosi di wajahnya, seolah permohonan Livia hanya angin lalu.
Tara membuka mulut, hendak bicara, tapi Alvano mengangkat tangan, menghentikannya.
"Aku nggak peduli." Suara Alvano tenang, tapi justru ketenangan itulah yang membuat suasana terasa menakutkan. "Aku hanya nggak mau berurusan dengan orang yang bahkan nggak bisa menjaga komitmen."
Livia menggigit bibir bawahnya, wajahnya memucat.
“Al, dengarkan aku dulu—”
“Cukup, Livia,” potong Alvano. Nadanya tak mengeras, namun cukup untuk memotong napas siapa pun yang mendengarnya. “Kamu sudah membuat pilihanmu. Sekarang, aku membuat pilihanku.”
Mendengar ucapan Alvano, Isvara tanpa sadar meremas map di tangannya.
Apakah semua ini akan menyeretnya juga?
Akhirnya, ya … kata ‘tamat’ benar-benar sampai juga di kisah Alvano dan Isvara.Nggak nyangka perjalanan mereka sejauh ini, dari rasa asing, pernikahan mendadak, luka, sampai akhirnya mereka belajar lagi tentang arti pulang dan cinta yang nggak selalu manis tapi tetap nyata.Aku nulis kisah ini sambil ikut jatuh cinta, ikut marah, ikut nangis bareng mereka.Dan jujur, nggak akan sampai di titik ini tanpa kalian yang sabar ngikutin tiap babnya, yang ngasih semangat, lempar teori-teori seru, bahkan yang ikut gemas kalau Alvano kebablasan atau kesel sama keras kepalanya Isvara.Kalian bukan cuma pembaca, tapi juga bagian dari perjalanan mereka.Maaf kalau selama nulis masih banyak kekurangan. Entah di alur, di penulisan, atau hal-hal kecil yang mungkin terlewat. Aku masih belajar, dan setiap komentar, tawa, dan emosi kalian jadi bahan belajar paling berharga buat aku.Semoga setelah ini, setiap kali kalian dengar nama Isvara dan Alvano, yang kalian ingat bukan cuma kisah cinta dua orang d
Dua puluh lima tahun yang lalu.Lorong rumah sakit yang dingin. Lampu putih menyilaukan di atas kepala, suara roda ranjang dorong bergesekan di lantai, bercampur dengan bau antiseptik yang tajam.Di sudut lorong itu, seorang anak perempuan kecil duduk memeluk lututnya. Rok sekolahnya sobek, lututnya berdarah, tangannya gemetar.Isvara kecil menunduk, menahan isak. Dia baru saja jatuh ketika berlari menuju kantin, ingin membelikan teh untuk sang kakek yang sedang dirawat. Namun sekarang, tak ada yang tahu dia di sini. Sampai sepasang sepatu menghadapnya.Anak laki-laki sedikit lebih tua, rambutnya rapi, kemeja putihnya disetrika sempurna. Wajahnya bersih, tapi tatapannya tegas seperti orang dewasa kecil.“Ini buat nutup lukanya,” ucapnya pelan, sambil berjongkok dan mengeluarkan saputangan biru muda dari saku.Isvara tidak menjawab. Namun, anak itu tidak menyerah, dia menunduk, mengikatkan saputangan itu di lututnya, gerakannya hati-hati seperti takut menyakiti.“Udah, gini dulu. Nanti
Hari ini ulang tahun si kembar yang kedelapan. Namun, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, rumah mereka tidak lagi dipenuhi balon, kue bertingkat, atau tawa tamu undangan. Tidak ada pesta besar, tidak ada dekorasi megah. Hanya pagi yang hangat, aroma roti panggang dari dapur, dan rencana kecil yang terasa jauh lebih bermakna.Isvara dan Alvano sepakat merayakannya dengan cara sederhana, yaitu mengunjungi panti asuhan yang selama ini rutin mereka bantu.Bukan untuk pamer kebahagiaan, bukan pula pamer kebaikan. Alvano hanya ingin anak-anaknya belajar satu hal yang tak bisa diajarkan di ruang kelas: rasa syukur.Di kursi belakang mobil, Avanil dan Avanira saling bersahutan menyanyikan lagu ulang tahun dengan versi mereka sendiri, sementara seorang bayi kecil berusia setahun duduk di pangkuan Isvara, yaitu Devantara, dengan pipi bulat dan rambut hitam tebal yang selalu berdiri di ubun-ubun.Sesekali Devantara menepuk-nepuk kursi depannya sambil berseru riang, “Daa-ddy!” membuat seluruh mob
Devantara Lakshvara Narendra. Pemimpin agung yang berhati luhur, unggul dalam mencapai tujuan, dan membawa kejayaan bagi banyak orang.Nama itu sudah dipilih jauh sebelum hari ini, tapi baru terasa bermakna ketika tangisan pertama bayi itu pecah memenuhi ruang bersalin.Bayi laki-laki itu akhirnya lahir ke dunia pada pukul tiga dini hari, dalam pelukan hangat para perawat dan tatapan mata yang basah oleh air mata bahagia.Isvara masih terkulai lemah di ranjang rawat. Prosesnya memang melalui operasi sesar, tapi rasa sakit itu kalah jauh dibanding perasaan lega yang menggenang di dadanya saat mendengar tangisan anaknya sendiri untuk pertama kali.Di sisi lain ruangan, Alvano berdiri di dekat inkubator, ditemani si kembar yang masih memakai piyama. Keduanya tampak terpukau, menatap makhluk kecil yang baru beberapa jam hadir ke dunia mereka.“Lucu banget,” puji Avanira sambil menatap adiknya dari balik kaca. Tangannya sudah terangkat, ingin menyentuh.“Hei, jangan sembarangan pegang,” teg
Jam hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Rumah sudah sunyi. Hanya satu lampu kamar yang masih menyala redup di sudut, menebar cahaya hangat di dinding.Isvara belum tidur. Dia menggeliat gelisah di tempat tidur, lalu duduk sambil memegangi perutnya yang kini memasuki minggu ke-lima belas.“Mas …,” panggilnya pelan.“Hm?” Dari sisi tempat tidur, terdengar suara bergumam setengah sadar. “Mas, aku mau mangga muda.”“Mangga?” Alvano masih separuh bermimpi. “Besok pagi aja, ya?”Isvara menggeleng, pelan tapi tegas. “Nggak mau. Maunya sekarang. Yang dari rumah Ibu. Yang masih di pohon belakang.”Mata Alvano langsung terbuka penuh. Dia menatap jam di nakas, lalu menatap istrinya yang duduk dengan ekspresi serius, terlalu serius untuk urusan mangga.“Sekarang? Tengah malam gini?” tanya Alvano memastikan.“Iya,” jawab Isvara ringan, seolah hal itu masuk akal sepenuhnya.“Ra, rumah Ibu itu tiga puluh menit dari sini.”“Tapi mangga yang di rumah Ibu rasanya beda, Mas,” rengek Isvara pelan s
“Pak Alvano, saya bawa–”Suara Fajar langsung terputus. Wajahnya menegang, matanya membulat, dan tangannya masih menggenggam obat semprot serta perban. Untuk beberapa detik, tak ada yang bergerak, kecuali kelopak mata Fajar yang tampak ingin menutup sendiri.Isvara yang lebih dulu sadar langsung panik, menepuk-nepuk punggung Alvano. “Mas! Mas, cukup!”Alvano yang masih separuh menunduk, hanya bergumam pelan. “Kenapa, Cantik?”“Mas …” Isvara hampir tak bersuara. “Ada Fajar.”“Pak Al …,” suara Fajar kini serak, antara kaget dan berusaha tetap profesional. “Saya … ini obatnya …”Barulah Alvano menoleh. Seketika wajahnya memucat sebelum beralih menjadi senyum paling canggung yang bisa dia keluarkan.“Taruh aja di meja,” kata Alvano santai, seolah tidak terjadi apa-apa barusan.“Baik, Pak,” sahut Fajar cepat. Dia menaruh obat di meja kerja, menunduk dalam-dalam, lalu melangkah mundur dengan kecepatan nyaris lari.Dan sebelum pintu menutup, sempat terdengar desis pelan dari luar, “Astaga, ma







