MasukKalau begitu…” ia menarik napas perlahan, “kasih nomor WeChat-mu saja. Nanti jika aku punya uang, akan aku transfer ke sana.”
Permintaan itu terdengar biasa, tapi cara ia mengatakannya membuat udara di antara kami berubah. Nada suaranya datar, rapi, dingin, namun justru karena itu terasa lebih memikat. Seolah ia menjaga jarak, tapi diam-diam membuka sedikit ruang. Sebenarnya sejak tadi aku ingin meminta kontaknya. Aku hanya tidak tahu bagaimana memulainya tanpa terlihat terlalu agresif, atau terlalu jelas bahwa aku menginginkannya. Jadi ketika justru dia yang meminta, ada sesuatu di dadaku yang menegang dan mengendur bersamaan. Bukan senang, lebih seperti… kemenangan kecil yang tidak boleh terlihat. Aku menundukkan kepala sedikit, mencoba menyembunyikan senyum yang muncul begitu saja. “Baik. Tunggu sebentar,” kataku, menjaga nada suaraku tetap stabil. Tanganku bergerak mengambil ponsel dari saku. Layar hitam itu memantulkan sebagian wajahku, dingin, terkontrol, seperti biasa. Tapi mata itu… tidak bisa berbohong. Kupencet aplikasi WeChat, menyusun kalimat dan angka dengan ketelitian hampir berlebihan, memastikan tak ada kesalahan. Saat aku menyerahkan layar itu padanya, ujung jarinya menyentuh ponsel di dekat tanganku. Hanya sepersekian detik. Singkat. Ringan. Tapi cukup untuk membuat detak jantungku berubah ritme. Raiya mengecek nomor itu tanpa ekspresi, lalu mengangguk kecil. Gerakannya sederhana, hanya anggukan singkat, tetapi cara ia melakukannya… tenang, rapi, terjaga, seperti seseorang yang tidak mudah membuka pintu kepercayaannya pada siapa pun. Tapi justru karena itulah, isyarat kecil itu terasa jauh lebih berarti. “Akan kutransfer jika sudah ada uang,” katanya. “Nggak perlu terburu-buru,” jawabku. Sederhana, tapi suaraku terdengar lebih rendah dari biasanya, dan aku tahu ia menyadarinya. Ia tak membalas. Hanya menatapku sejenak, mata gelapnya tajam namun bukan mengusir. Lebih seperti… memastikan bahwa aku tidak berlebihan, dan bahwa ia masih memegang kendali. Untuk sesaat, dunia terasa menyempit hanya pada dua orang, seorang pria yang terlalu terkontrol, dan seorang gadis yang tidak sadar betapa mudahnya ia membuat kendaliku retak. Setelah itu, ia melangkah pergi duluan. Tenang. Rapi. Seakan obrolan tadi hanyalah hal kecil. Tapi langkah terakhirnya melambat sedikit, tidak cukup untuk disebut menoleh, hanya cukup untuk membuatku tahu bahwa ia sadar aku masih memperhatikannya. Dan entah kenapa, itu lebih dari cukup. Ia tak menyadari bahwa setelah itu aku kembali menyusuri jalan yang sama, menuju rumah kecil tempat ia tinggal. Rumah itu sederhana, mungkin hanya tiga atau empat ruangan. Dari luar, aku bisa melihat lampu kamar Raiya masih menyala. Bayangannya tampak duduk di meja belajar, fokus membaca. Menurut informasi dari Erwin, Raiya tinggal hanya bersama ayahnya. Ibunya meninggalkan mereka ketika Raiya masih kecil. Ayahnya, yang tak kuat menanggung tekanan, jatuh sakit dan akhirnya tak mampu bekerja. Sejak usia sepuluh tahun, Raiya sudah menjadi tulang punggung keluarga. Mengetahui apa saja yang harus ia tanggung membuat dadaku terasa berat, tapi wajahku tetap datar. Perasaan hanya memperlambat langkah, dan aku tidak punya waktu untuk itu. Aku mengambil ponsel dan menghubungi Erwin yang masih menunggu di mobil. “Pasang beberapa pengawal untuk Raiya,” ucapku tanpa nada. “Pilih yang tidak pernah gagal dalam tugas. Mereka harus melindungi Raiya dan ayahnya tanpa terlihat. Dan segera temukan markas orang-orang yang menghadangnya tadi.” “Baik, Tuan,” jawab Erwin cepat. Sementara Erwin mengatur pengawal, aku menatap jendela kamar Raiya dari jauh. Lampunya sudah padam. Di kehidupan sebelumnya, dia selalu takut gelap. Tidur pun harus ditemani cahaya. Sekarang? Dia berdiam dalam kegelapan seolah itu adalah hal paling wajar baginya. Keadaan telah memaksanya untuk berubah terlalu cepat. Aku hampir melangkah menuju pintu rumah itu, hampir, namun memilih menahan diri. Ada keinginan untuk membawanya pulang paksa, namun aku tau bahwa itu hanya akan membuat hidupnya semakin kacau. Kupaksa perasaan itu tenggelam, lalu kembali berjalan menyusuri gang yang tadi kulewati. Orang-orang yang sempat kuhajar sudah hilang tanpa jejak. Gang itu kini tampak bersih, terlalu bersih, seperti adegan yang telah disapu rapi sebelum siapa pun sempat menyadarinya. Tidak ada sisa suara. Tidak ada bayangan yang tersisa. Hanya keheningan yang mengambang, dingin dan steril. Efisiensi seperti ini hanya dimiliki satu orang. Bawahanku, Erwin. Aku terus berjalan hingga tiba di sedan hitam di ujung gang. Erwin segera membukakan pintu dan menyerahkan laporan yang ia dapatkan. “Ke markas mereka,” kataku pendek. “Baik, Tuan.” Lima belas menit berlalu tanpa percakapan. Erwin mengemudi seperti biasa, cepat, terukur, dan nyaris tanpa suara. Tidak perlu aku ingatkan, ini hasil didikanku selama dua tahun belakang. Sesampainya di lokasi, sepuluh bawahanku sudah berdiri menunggu. Mereka tidak bergerak, tidak berbicara, hanya berdiri tegap dalam formasi yang rapi. Tapi udara di sekitar mereka terasa mengeras, tajam, seolah setiap napas yang aku keluarkan dapat berubah menjadi perintah serangan bagi mereka. Beberapa orang menyeret keluar para pengecut yang tadi kuhajar. Tubuh mereka terhuyung, setengah diseret, setengah terjengkang, wajah mereka lebam, pakaian mereka sobek di sana-sini. Luka-luka itu bukan hasil amarah, itu hasil presisi. Hasil dari seseorang yang tidak menyia-nyiakan tenaga ketika sedang murka. Mereka dijatuhkan di depan pintu markas lawan, keras, hingga suara benturan tubuh mereka menggema di malam yang lembab. Tidak ada belas kasihan. Tidak ada jeda. Hanya eksekusi prosedural. Pintu markas terbuka keras. Sekelompok pria berbadan besar keluar, langkah mereka kasar namun penuh percaya diri. Lampu jalan yang redup memotong bayangan mereka di aspal, menciptakan kontras tajam seperti adegan noir. Aku berdiri diam di tengah jalan gang yang basah, membiarkan mereka melihatku terlebih dahulu sebelum aku berbicara apa pun. Seorang pria bertubuh paling besar maju. Kepala botaknya berkilat di bawah lampu, dan tatapan matanya penuh amarah. “Siapa kalian?” suaranya menggema. “Berani-berani bikin keributan di tempat kami. Mau mati, hah?” Aku tidak membalas. Tidak perlu. Erwin melangkah maju dan menyerahkan kartu nama grup kami. Gerakannya rapi dan ringan, kontras dengan aura tegang yang menebal di sekitar kami. Orang-orang itu menatap kartu itu seakan mencoba membaca sesuatu yang tidak mereka mengerti. Dua di antara mereka, mungkin yang paling bodoh atau paling nekat, langsung maju dengan gerakan berantakan. Erwin mundur satu langkah, tubuhnya miring halus saat menangkis pukulan pertama. Ia bergerak sedikit, sekali elak, kemudian kembali berdiri di sisiku tanpa satu pun goresan. Mereka terkejut. Aku tidak. Cukup. Aku maju satu langkah. Suara sepatu menyentuh genangan air terdengar pelan tapi jelas, dan itu saja sudah membuat lima dari mereka mundur setengah langkah tanpa sadar. Pimpinannya mengeluarkan belati. Gerakannya lambat, tangannya gemetar sedikit. Ia ingin terlihat berbahaya, tapi hanya menunjukkan ketidakpastian.“Jalankan semuanya sesuai perintahku semalam,” ucap Andri dingin.“Baik, Tuan.”Kurang dari sepuluh menit kemudian, berita besar langsung memenuhi media sosial. Beberapa perusahaan milik keluarga siswa elit di sekolah itu mendadak diperiksa aparat pajak secara bersamaan. Nama-nama besar yang selama ini dikenal bersih mulai muncul dalam berita investigasi keuangan.Satu per satu pelanggaran pajak mereka dibongkar. Jumlah uang yang disembunyikan bahkan mencapai miliaran rupiah.Mereka adalah keluarga Shani dan beberapa siswa lain yang semalam ikut mengunci Raiya di kamar mandi sekolah.Saat bel masuk berbunyi, suasana kelas terasa aneh.Beberapa siswa duduk dengan wajah pucat sambil terus menatap ponsel. Ada yang menerima telepon berkali-kali dari rumah, ada pula yang langsung dipanggil wali kelas menuju ruang kepala sekolah bahkan sebelum ujian dimulai.Shani berdiri di dekat mejanya dengan tangan gemetar.“Ayah aku bilang perusahaan lagi diperiksa kantor pajak...” bisik salah satu tem
Saat jarum jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Raiya keluar dengan rambut yang masih sedikit lembap dan seragam sekolah yang sudah rapi menempel di tubuhnya. Langkahnya melambat ketika aroma makanan memenuhi rumah yang sejak tadi terasa sunyi.Andri berdiri di dapur sambil mematikan kompor. Tangannya bergerak mengambil mangkuk dan piring dengan gerakan terbiasa, seperti rumah itu memang tempat tinggalnya sendiri sejak lama. Di atas meja makan sudah tersedia bubur jagung hangat, roti panggang, dan segelas susu yang masih mengepulkan uap tipis.Tadi pagi, setelah menjelaskan secara singkat tentang kejadian dirinya dan Raiya kepada ayah Raiya, Andri akhirnya mendapat izin untuk memasak di rumah itu. Setelah meminta sekretarisnya mengirim bahan makanan, Andri langsung masuk ke dapur tanpa menunggu bantuan siapa pun.Gerakannya berhenti saat melihat Raiya berdiri di depan pintu kamar mandi.“Raiya, sudah selesai?”Raiya mengangguk pelan.“Apa peru
Ayah Raiya sudah menunggu di depan pintu rumah. Begitu melihat mobil Andri berhenti, ia langsung menggerakkan kursi rodanya mendekat dengan tergesa.Andri yang melihatnya segera membuka pintu mobil dengan hati-hati agar tidak membangunkan Raiya.“Paman...”“Andri, di mana Raiya? Bagaimana keadaannya?” tanya ayah Raiya tanpa menahan kekhawatirannya.Kaca mobil Andri yang gelap membuat bagian dalam tidak terlihat sama sekali dari luar. Ayah Raiya tidak bisa memastikan apa pun, selain berharap apa yang ia dengar nanti bukan kabar buruk.Andri mendekat. “Paman, Raiya ada di dalam. Dia sedang tidur. Aku akan menjelaskan semuanya nanti, tapi yang pasti dia aman. Paman bisa tenang.”Ayah Raiya masih mencoba melihat ke dalam mobil, memastikan dengan matanya sendiri. Setelah beberapa detik, ia kembali menatap Andri dan mengangguk pelan."Aku akan membawanya masuk ke kamarnya, apa boleh? Dia sepertinya tidak tidur sejak sore hari, aku khawatir dia akan tidak nyaman jika dibangunkan sekarang."“
Usai mengucapkan kalimat itu, Andri keluar dari ruang pemantauan CCTV. Ia bergerak menyusuri ruangan yang tidak masuk ke dalam pemantauan. Bawahannya segera mengikuti dan membantu Andri mencari.Gudang sekolah, kantin, dapur, tempat istirahat, halaman, tempat apa pun, Andri terus memanggil nama Raiya.“Raiya...” “Raiya...” “Kamu di mana...”SMA Kota Soro memiliki area yang sangat luas. Itu adalah SMA negeri yang menampung banyak anak keluarga bangsawan. Banyak sumbangan dari keluarga-keluarga besar, sehingga hampir setiap tahun selalu ada perluasan wilayah dan pembangunan gedung baru.Karena itu, untuk menemukan keberadaan Raiya, Andri dan orang-orangnya merasa cukup kesulitan.Saat jam menunjukkan pukul dua pagi, Andri selesai menyusuri semua tempat yang tidak masuk kedalam pemantauan CCTV. Namun, ia masih belum menemukan keberadaan Raiya.“Raiya...” panggilnya lagi.Tetap tidak ada jawaban.Setelah beberapa saat, Andri kembali melangkah menuju halaman terpencil di sekolah. Halaman i
Tanpa bersantai, Andri langsung bergerak membuka laptopnya. Ia menyalin kode id ponsel Raiya yang baru. Di masa lalu ia sudah mencuri kode id ponselnya saat Raiya tak sadar.Layar menampilkan rangkaian proses yang berjalan cepat, baris demi baris data muncul dan berganti tanpa henti, sementara pandangannya tetap tertuju pada satu titik yang ia tunggu. Tidak ada keraguan dalam gerakannya, karena sejak awal ia sudah tahu apa yang harus dilakukan dan ke mana arah yang harus ia tuju. Dalam hitungan menit, hasil yang ia cari akhirnya muncul, sebuah titik lokasi yang seharusnya memberi jawaban, tetapi justru membuat keningnya mengeras.Ponsel itu terakhir aktif tujuh jam yang lalu.Andri tidak mengatakan apa pun, ia langsung meraih ponselnya dan menghubungi bawahan miliknya yang pasti akan bergerak tanpa banyak bertanya.“Kirim orang ke sekolah. Cari Raiya. Sekarang.”“Baik, Tuan.”Di sisi lain di seberang telepon, Erwin yang baru saja terbangun langsung duduk tegak, matanya bahkan belum se
Tengah malam tidak pernah terasa sepanjang ini sebelumnya.Di depan rumah kecil yang lampunya masih menyala redup, seorang pria paruh baya duduk di atas kursi rodanya, menghadap ke jalanan yang sudah lama sepi. Angin malam berhembus pelan, membawa udara dingin yang menusuk, tapi ia tidak bergeser sedikit pun dari posisinya. Tatapannya terus tertuju ke arah jalan, seolah setiap bayangan yang bergerak di kejauhan bisa berubah menjadi sosok yang ia tunggu.Wajahnya tidak lagi menyimpan ketenangan, kekhawatiran itu terpampang jelas di sana, tidak tersisa sedikit pun usaha untuk menyembunyikannya. Garis-garis di wajahnya terlihat lebih dalam malam ini.Ia sudah mencari, juga sudah mencoba semua cara yang dapat ia pikirkan. Toko tempat mereka bekerja sudah ia datangi lebih dulu, berharap Raiya masih ada di sana, mungkin tertahan pekerjaan atau sekadar lupa waktu. Namun yang ia temukan hanya pintu yang sudah terkunci dan lampu yang padam.Pria itu tidak menyerah, ia tidak berhenti bergerak
Hari-hari berlalu dalam pola yang sama. Menjemput Maxwel… lalu sekalian melihat Raiya.Atau melihat Raiya… lalu sekalian menjemput Maxwel.Pada akhirnya, keduanya sama bagiku.Cuti kuliahku hampir berakhir. Sebentar lagi aku harus kembali ke Kota Adel untuk menyelesaikan proses pemindahan perusaha
Aku bergerak lebih cepat daripada niatnya untuk menyerang.Tinju pertamaku menghantam rahangnya dengan suara berat, membuat kepala pria itu terpuntir kasar. Tubuhnya terhuyung, hampir jatuh, namun ia masih mencoba menebasku dengan belati. Gerakan refleks yang lebih didorong panik daripada teknik.A
Setelah antrean mereda, aku mendekat.“Raiya,” panggilku pelan.Ia mengangkat wajah, terkejut sesaat. Namun seketika raut itu tertutup oleh sikap sopan santun seorang pegawai.“Tuan… ada yang bisa saya bantu?”Aku menatapnya lama, terlalu lama, mungkin.Ada ribuan kata yang berputar di kepala, teta
Raiya berjalan santai di jalur pejalan kaki ketika tiba-tiba seseorang muncul dari belakang dan menangkap lengannya. Gerakannya begitu cepat sampai Raiya tidak sempat mengeluarkan napas. Dalam sekejap, tubuhnya sudah tertarik masuk ke dalam pelukan seseorang, erat, kuat, dan penuh ketakutan sepert







