LOGINHari-hari berlalu dalam pola yang sama.
Menjemput Maxwel… lalu sekalian melihat Raiya. Atau melihat Raiya… lalu sekalian menjemput Maxwel. Pada akhirnya, keduanya sama bagiku. Cuti kuliahku hampir berakhir. Sebentar lagi aku harus kembali ke Kota Adel untuk menyelesaikan proses pemindahan perusahaanku ke Kota Soro. Namun ada satu hal yang tidak bisa kutinggalkan, sesuatu yang selalu menahan langkahku setiap kali aku berusaha pergi. Dirinya. Hari ini aku kembali menunggunya. Begitu gerbang sekolah terbuka, Raiya keluar lebih awal dari biasanya. Seragam putih biru yang ia kenakan tampak bersih dan sederhana, namun kontras indah dengan rambut hitamnya yang tergerai dan menari pelan tertiup angin. Mobilku bergerak pelan, sejajar dengan langkahnya. “Raiya.” Suaraku terdengar lebih rendah dari yang kuduga, nyaris seperti bisikan yang terlepas tanpa sengaja. Langkahnya terhenti. Tatapannya sempat menegang, waspada… sebelum perlahan melunak saat ia mengenaliku. Di matanya, aku melihat pantulan diriku sendiri. Pria asing yang pernah memeluknya sambil menangis tanpa alasan yang ia mengerti. Pria yang menghajar para preman tanpa ragu. Pria yang entah bagaimana terus muncul di hidupnya, seperti bayangan yang sulit dihindari. “Tuan…?” panggilnya lirih, suaranya hati-hati seolah takut salah bicara. “Bisakah kita bicara sebentar?” Keraguan melintas di wajahnya, tapi hanya sesaat. Ia akhirnya mengangguk pelan. “Baik… apa ada yang ingin Tuan sampaikan?” Aku membuka pintu mobil dan turun. Langkahku tenang, gerakanku terukur. Suaraku tetap dingin, terkontrol, tapi ada getaran halus di baliknya, sesuatu yang bahkan aku sendiri sulit kendalikan. “Bukankah kamu bilang akan membayar utangmu?” Reaksi itu muncul seketika, ketegangan menjalar ke wajahnya, membuat bahunya menegang halus. Entah mengapa, melihatnya seperti itu menimbulkan sesak yang tidak seharusnya ada di dadaku. “Apakah kamu sudah menyiapkan uangnya?” tanyaku dengan nada datar. Raiya menunduk. Jemarinya meremas tali tasnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. “Gajiku bulan ini habis untuk biaya berobat ayahku,” ucapnya lirih. “Bisa… beri aku waktu? Mungkin 5 bulan lagi, saat aku dapat bonus nilai kenaikan kelas tiga. Aku bisa buat surat pernyataan, kalau Tuan membutuhkannya.” Aku tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia, lebih seperti senyum pahit yang muncul ketika kenyataan terlalu menyedihkan untuk diterima tanpa ekspresi. Betapa ironis. Di kehidupanku sebelumnya, dialah gadis yang kubiayai tanpa batas, yang kulindungi dari dunia, yang kuberi lebih dari apa pun yang pantas kutawarkan. Dan kini… di kehidupan ini, ia bekerja mati-matian hanya untuk melunasi sesuatu yang bahkan tidak berarti bagiku. Takdir benar-benar gemar bercanda. “Kalau begitu… temani aku makan siang saja. Setelah itu, anggap utangmu selesai.” Raiya terdiam. Ada kegelisahan kecil di matanya, seperti sedang menimbang sesuatu yang tidak ingin ia pilih. “Aku harus bekerja sampai malam,” akhirnya ia berkata pelan. “Jadi… tidak bisa. Aku bayar saja, Tuan. Aku hanya perlu waktu.” Aku tidak bereaksi. Hanya sedikit mengalihkan pandangan ke trotoar yang lengang sebelum kembali menatapnya. “Kalau begitu, aku antar kamu bekerja,” ucapku datar, seolah itu keputusan sederhana. Ia tersentak sedikit. “Tidak perlu, Tuan. Aku bisa sendiri” “Tapi,” potongku tenang, “kudengar ada keributan di sekitar minimarket. Semua toko tutup. Kalau tempat kerjamu tutup… maka kamu harus temani aku makan.” Nada suaraku kubuat serasional mungkin. Seperti fakta yang kebetulan kusampaikan, padahal aku tahu itu tidak sepenuhnya benar. Raiya menggigit bibirnya pelan. Gelisah. Mencari celah untuk menolak tanpa membuat situasinya memburuk. Akhirnya, setelah hening beberapa detik, ia mengangguk. Ragu, tapi menyerah. Aku membukakan pintu mobil untuknya. Raiya masuk dengan hati-hati, kedua tangannya menggenggam tasnya erat seolah itu satu-satunya pegangan yang membuatnya merasa aman. Begitu ia duduk, aku menutup pintu dengan lembut. Terlalu lembut untuk sesuatu yang niatnya tidak sepenuhnya bersih, lalu berjalan mengitari mobil menuju sisi pengemudi. Sebelum masuk, aku mengeluarkan ponsel dan menghubungi Erwin. “Buat keributan kecil di area minimarket tempat Raiya bekerja,” kataku pelan, seolah hanya membahas masalah biasa. “Tutup semua toko dalam tiga menit. Jangan sampai ada yang terluka.” Di seberang sana, Erwin langsung menjawab tanpa ragu, “Baik, Tuan.” Sambungan itu kututup. Aku menyimpan ponsel ke saku, napasku tetap stabil. Tidak ada perasaan bersalah, tidak ada gelombang emosi, hanya ketenangan yang terukur, seperti seseorang yang baru saja mengatur cuaca untuk memastikan rencananya berjalan mulus. Lalu aku masuk ke dalam mobil. Seolah tidak ada apa pun yang baru saja terjadi. --- Tak lama setelahnya, kami tiba di area minimarket. Raiya baru membuka mulut, mungkin hendak mengucapkan terima kasih, ketika tiba-tiba terdengar teriakan pecah dari arah luar. Puluhan anak sekolah terlihat saling mendorong dan memukul di tengah jalan. Orang-orang menyingkir panik, beberapa pedagang buru-buru menutup lapak mereka. Keributan itu tampak liar… tetapi aku mengenali pola kerja Erwin bahkan tanpa mencarinya. Kacau, namun tetap dalam batas aman. Tidak ada kendaraan dirusak. Tidak ada warga yang benar-benar terancam. Hanya riuh kecil yang cukup meyakinkan untuk membuat area itu ditutup. Raiya terperanjat. Refleks, ia menggenggam gagang pintu dan condong ke depan, berniat turun. Aku menahan lengannya dengan sentuhan ringan, sekilas saja. Tidak memaksa, tidak menekan, namun cukup untuk menghentikannya. “Jangan keluar,” ucapku. Suaraku rendah, tenang, namun mengandung sesuatu yang membuatnya membeku. “Di luar berbahaya.” Raiya menoleh, matanya besar, gugup… dan, entah bagaimana, percaya. Pandangan Raiya beralih ke luar jendela. Barisan toko sudah menutup pintu. Lampu minimarket tempatnya bekerja ikut padam, gelap total, seperti tak ada seorang pun di dalam. “Aku sudah bilang,” ujarku pelan sambil menatapnya dari samping. “Kalau tempat kerjamu tutup… kamu harus temani aku makan.” Nada suaraku tetap datar dan dingin. Namun tatapan yang mengarah padanya, jauh dari itu. Raiya belum sempat menjawab ketika ponselnya tiba-tiba bergetar. Ia terkejut kecil, kemudian secara refleks menarik tangannya dari genggamanku sebelum mengangkat panggilan itu. Dari sorot matanya yang menegang, aku sudah tahu siapa yang menelepon, bosnya. Aku memilih tetap diam. Hanya menatapnya. Seolah aku tidak peduli sama sekali. Padahal, justru saat itulah aku menunggu, kalimat yang sejak semalam terus mengganggu pikiranku. Suara Raiya terdengar singkat, gugup, penuh kesopanan. Setelah beberapa detik, panggilan itu berakhir. Ia menurunkan ponsel perlahan dan untuk sesaat, gerakannya terasa seperti adegan yang diperlambat. Dia menatapku. Aku menatapnya kembali. Di antara kami, waktu seperti berhenti, hening, rapat, nyaris tidak nyata. “Aku libur hari ini,” ucap Raiya akhirnya, suaranya pelan namun jelas. “Bosku bilang… karena ada kericuhan di sekitar toko, aku baru bisa masuk lagi besok pagi.” Itu jawaban yang kutunggu. Jawaban yang tanpa ia sadari, sudah kuatur terjadi. Aku mengangguk pelan, seolah semuanya wajar. “Kalau begitu… kamu bisa temani aku makan hari ini.” Tak ada penolakan. Tak ada keraguan. Hanya anggukan kecil darinya, tulus, sederhana… dan anehnya, justru membuat dadaku terasa berat oleh sesuatu yang sulit kujelaskan.“Jalankan semuanya sesuai perintahku semalam,” ucap Andri dingin.“Baik, Tuan.”Kurang dari sepuluh menit kemudian, berita besar langsung memenuhi media sosial. Beberapa perusahaan milik keluarga siswa elit di sekolah itu mendadak diperiksa aparat pajak secara bersamaan. Nama-nama besar yang selama ini dikenal bersih mulai muncul dalam berita investigasi keuangan.Satu per satu pelanggaran pajak mereka dibongkar. Jumlah uang yang disembunyikan bahkan mencapai miliaran rupiah.Mereka adalah keluarga Shani dan beberapa siswa lain yang semalam ikut mengunci Raiya di kamar mandi sekolah.Saat bel masuk berbunyi, suasana kelas terasa aneh.Beberapa siswa duduk dengan wajah pucat sambil terus menatap ponsel. Ada yang menerima telepon berkali-kali dari rumah, ada pula yang langsung dipanggil wali kelas menuju ruang kepala sekolah bahkan sebelum ujian dimulai.Shani berdiri di dekat mejanya dengan tangan gemetar.“Ayah aku bilang perusahaan lagi diperiksa kantor pajak...” bisik salah satu tem
Saat jarum jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Raiya keluar dengan rambut yang masih sedikit lembap dan seragam sekolah yang sudah rapi menempel di tubuhnya. Langkahnya melambat ketika aroma makanan memenuhi rumah yang sejak tadi terasa sunyi.Andri berdiri di dapur sambil mematikan kompor. Tangannya bergerak mengambil mangkuk dan piring dengan gerakan terbiasa, seperti rumah itu memang tempat tinggalnya sendiri sejak lama. Di atas meja makan sudah tersedia bubur jagung hangat, roti panggang, dan segelas susu yang masih mengepulkan uap tipis.Tadi pagi, setelah menjelaskan secara singkat tentang kejadian dirinya dan Raiya kepada ayah Raiya, Andri akhirnya mendapat izin untuk memasak di rumah itu. Setelah meminta sekretarisnya mengirim bahan makanan, Andri langsung masuk ke dapur tanpa menunggu bantuan siapa pun.Gerakannya berhenti saat melihat Raiya berdiri di depan pintu kamar mandi.“Raiya, sudah selesai?”Raiya mengangguk pelan.“Apa peru
Ayah Raiya sudah menunggu di depan pintu rumah. Begitu melihat mobil Andri berhenti, ia langsung menggerakkan kursi rodanya mendekat dengan tergesa.Andri yang melihatnya segera membuka pintu mobil dengan hati-hati agar tidak membangunkan Raiya.“Paman...”“Andri, di mana Raiya? Bagaimana keadaannya?” tanya ayah Raiya tanpa menahan kekhawatirannya.Kaca mobil Andri yang gelap membuat bagian dalam tidak terlihat sama sekali dari luar. Ayah Raiya tidak bisa memastikan apa pun, selain berharap apa yang ia dengar nanti bukan kabar buruk.Andri mendekat. “Paman, Raiya ada di dalam. Dia sedang tidur. Aku akan menjelaskan semuanya nanti, tapi yang pasti dia aman. Paman bisa tenang.”Ayah Raiya masih mencoba melihat ke dalam mobil, memastikan dengan matanya sendiri. Setelah beberapa detik, ia kembali menatap Andri dan mengangguk pelan."Aku akan membawanya masuk ke kamarnya, apa boleh? Dia sepertinya tidak tidur sejak sore hari, aku khawatir dia akan tidak nyaman jika dibangunkan sekarang."“
Usai mengucapkan kalimat itu, Andri keluar dari ruang pemantauan CCTV. Ia bergerak menyusuri ruangan yang tidak masuk ke dalam pemantauan. Bawahannya segera mengikuti dan membantu Andri mencari.Gudang sekolah, kantin, dapur, tempat istirahat, halaman, tempat apa pun, Andri terus memanggil nama Raiya.“Raiya...” “Raiya...” “Kamu di mana...”SMA Kota Soro memiliki area yang sangat luas. Itu adalah SMA negeri yang menampung banyak anak keluarga bangsawan. Banyak sumbangan dari keluarga-keluarga besar, sehingga hampir setiap tahun selalu ada perluasan wilayah dan pembangunan gedung baru.Karena itu, untuk menemukan keberadaan Raiya, Andri dan orang-orangnya merasa cukup kesulitan.Saat jam menunjukkan pukul dua pagi, Andri selesai menyusuri semua tempat yang tidak masuk kedalam pemantauan CCTV. Namun, ia masih belum menemukan keberadaan Raiya.“Raiya...” panggilnya lagi.Tetap tidak ada jawaban.Setelah beberapa saat, Andri kembali melangkah menuju halaman terpencil di sekolah. Halaman i
Tanpa bersantai, Andri langsung bergerak membuka laptopnya. Ia menyalin kode id ponsel Raiya yang baru. Di masa lalu ia sudah mencuri kode id ponselnya saat Raiya tak sadar.Layar menampilkan rangkaian proses yang berjalan cepat, baris demi baris data muncul dan berganti tanpa henti, sementara pandangannya tetap tertuju pada satu titik yang ia tunggu. Tidak ada keraguan dalam gerakannya, karena sejak awal ia sudah tahu apa yang harus dilakukan dan ke mana arah yang harus ia tuju. Dalam hitungan menit, hasil yang ia cari akhirnya muncul, sebuah titik lokasi yang seharusnya memberi jawaban, tetapi justru membuat keningnya mengeras.Ponsel itu terakhir aktif tujuh jam yang lalu.Andri tidak mengatakan apa pun, ia langsung meraih ponselnya dan menghubungi bawahan miliknya yang pasti akan bergerak tanpa banyak bertanya.“Kirim orang ke sekolah. Cari Raiya. Sekarang.”“Baik, Tuan.”Di sisi lain di seberang telepon, Erwin yang baru saja terbangun langsung duduk tegak, matanya bahkan belum se
Tengah malam tidak pernah terasa sepanjang ini sebelumnya.Di depan rumah kecil yang lampunya masih menyala redup, seorang pria paruh baya duduk di atas kursi rodanya, menghadap ke jalanan yang sudah lama sepi. Angin malam berhembus pelan, membawa udara dingin yang menusuk, tapi ia tidak bergeser sedikit pun dari posisinya. Tatapannya terus tertuju ke arah jalan, seolah setiap bayangan yang bergerak di kejauhan bisa berubah menjadi sosok yang ia tunggu.Wajahnya tidak lagi menyimpan ketenangan, kekhawatiran itu terpampang jelas di sana, tidak tersisa sedikit pun usaha untuk menyembunyikannya. Garis-garis di wajahnya terlihat lebih dalam malam ini.Ia sudah mencari, juga sudah mencoba semua cara yang dapat ia pikirkan. Toko tempat mereka bekerja sudah ia datangi lebih dulu, berharap Raiya masih ada di sana, mungkin tertahan pekerjaan atau sekadar lupa waktu. Namun yang ia temukan hanya pintu yang sudah terkunci dan lampu yang padam.Pria itu tidak menyerah, ia tidak berhenti bergerak
Aku bergerak lebih cepat daripada niatnya untuk menyerang.Tinju pertamaku menghantam rahangnya dengan suara berat, membuat kepala pria itu terpuntir kasar. Tubuhnya terhuyung, hampir jatuh, namun ia masih mencoba menebasku dengan belati. Gerakan refleks yang lebih didorong panik daripada teknik.A
Kalau begitu…” ia menarik napas perlahan, “kasih nomor WeChat-mu saja. Nanti jika aku punya uang, akan aku transfer ke sana.”Permintaan itu terdengar biasa, tapi cara ia mengatakannya membuat udara di antara kami berubah. Nada suaranya datar, rapi, dingin, namun justru karena itu terasa lebih mem
Setelah antrean mereda, aku mendekat.“Raiya,” panggilku pelan.Ia mengangkat wajah, terkejut sesaat. Namun seketika raut itu tertutup oleh sikap sopan santun seorang pegawai.“Tuan… ada yang bisa saya bantu?”Aku menatapnya lama, terlalu lama, mungkin.Ada ribuan kata yang berputar di kepala, teta
Raiya berjalan santai di jalur pejalan kaki ketika tiba-tiba seseorang muncul dari belakang dan menangkap lengannya. Gerakannya begitu cepat sampai Raiya tidak sempat mengeluarkan napas. Dalam sekejap, tubuhnya sudah tertarik masuk ke dalam pelukan seseorang, erat, kuat, dan penuh ketakutan sepert







