Setelah antrean mereda, aku mendekat.“Raiya,” panggilku pelan.Ia mengangkat wajah, terkejut sesaat. Namun seketika raut itu tertutup oleh sikap sopan santun seorang pegawai.“Tuan… ada yang bisa saya bantu?”Aku menatapnya lama, terlalu lama, mungkin.Ada ribuan kata yang berputar di kepala, tetapi tidak satu pun yang berhasil melewati tenggorokanku.Akhirnya, dengan suara lirih, aku berkata,“Bolehkah kita berbicara setelah kamu selesai kerja?”Raiya menelan ludah, tampak ragu.“Maaf… tokonya tutup cukup malam. Aku pulang larut.”Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan,“Dan… aku sudah punya kekasih. Jadi, tolong… jangan dekati aku lagi.”Tubuhku membeku.Nada suaranya tenang, tapi ucapannya menembus langsung ke dada, tajam dan dingin.Belum sempat aku menanggapi, suara keras memecah udara.“Hey, Tuan! Mau menggoda perempuan? Jangan di sini! Ini tempat belanja, bukan tempat begituan!”Pria di belakang menatapku kesal.Aku, yang tidak pernah sekalipun diperlakukan seperti itu, hany
Last Updated : 2025-12-10 Read more