Share

Bab 4

Penulis: Ellow_dikata
last update Tanggal publikasi: 2025-12-10 11:54:19

Setelah antrean mereda, aku mendekat.

“Raiya,” panggilku pelan.

Ia mengangkat wajah, terkejut sesaat. Namun seketika raut itu tertutup oleh sikap sopan santun seorang pegawai.

“Tuan… ada yang bisa saya bantu?”

Aku menatapnya lama, terlalu lama, mungkin.

Ada ribuan kata yang berputar di kepala, tetapi tidak satu pun yang berhasil melewati tenggorokanku.

Akhirnya, dengan suara lirih, aku berkata,

“Bolehkah kita berbicara setelah kamu selesai kerja?”

Raiya menelan ludah, tampak ragu.

“Maaf… tokonya tutup cukup malam. Aku pulang larut.”

Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan,

“Dan… aku sudah punya kekasih. Jadi, tolong… jangan dekati aku lagi.”

Tubuhku membeku.

Nada suaranya tenang, tapi ucapannya menembus langsung ke dada, tajam dan dingin.

Belum sempat aku menanggapi, suara keras memecah udara.

“Hey, Tuan! Mau menggoda perempuan? Jangan di sini! Ini tempat belanja, bukan tempat begituan!”

Pria di belakang menatapku kesal.

Aku, yang tidak pernah sekalipun diperlakukan seperti itu, hanya memandangnya sebentar sebelum memilih mundur.

Aku tidak ingin membuat keributan.

Bukan di depan Raiya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, aku keluar dari minimarket dan kembali ke mobil.

Aku tetap menunggu.

Jarum jam merayap pelan melewati angka sembilan, lalu sepuluh.

Angin malam menusuk kulit, tapi aku tak menghiraukannya.

Akhirnya, pukul sepuluh lewat sedikit, Raiya keluar.

Ia mengangkat tangan, memutar bahu dan lehernya yang kaku, gerakan sederhana yang menampilkan jelas betapa lelahnya ia bekerja sepanjang hari.

Melihatnya seperti itu membuat dadaku mengencang.

Ingin rasanya aku membawanya pulang, memberi tempat aman, memastikan ia tidak perlu bekerja keras seperti ini lagi.

Ingin memperlakukannya… seperti di kehidupanku yang sebelumnya.

Namun aku diingatkan oleh kenyataan pahit.

Ia tidak mengenalku lagi.

Aku hanyalah orang asing, bahkan mungkin ancaman.

Aku menarik napas panjang, menahan impuls yang terus memukul-mukul pikiranku.

Setelah beberapa saat, aku berkata kepada Erwin,

“Beli toko ini. Tapi biarkan seolah pemilik lamanya masih mengelolanya. Atur jam kerja karyawan. Dan tambahkan gaji mereka sepuluh kali lipat.”

Erwin menoleh cepat, hampir tersedak napasnya.

“B-baik, Tuan… tapi bukankah itu terlalu besar? Nona Raiya mungkin akan curiga.”

Aku mengerutkan kening.

“Begitu kah? Kalau begitu, sesuaikan. Yang penting… dia tidak kesulitan menjalani hidup.”

“Baik, Tuan.”

Ketika Raiya mulai berjalan pulang, aku keluar dari mobil dan menghampirinya.

“R-Raiya…” panggilku pelan.

Ia berhenti dan menoleh. Ada keraguan di matanya.

“Tuan… bukankah saya sudah bilang”

“Aku cuma ingin memberikan ini.”

Aku menyodorkan kantong makanan.

“Aku membeli terlalu banyak. Ini… makanan kesukaanmu, ayam suwir pedas dengan topping keju. Makanlah saat sampai rumah.”

Dari dalam mobil, Erwin memijat pelipisnya dengan pasrah.

Serius… sejak kapan Bos-nya yang dingin seperti lemari pendingin bisa berubah selembek puding di depan seorang gadis?

Dan lagi, dengan cara mendekati seperti itu?

Siapa juga gadis waras yang mau menerima makanan dari orang asing?

Kalau Raiya sampai menerimanya tanpa curiga, Erwin yakin dunia sudah mau kiamat.

Raiya menatap kantong itu lama sebelum berkata,

“Maaf… saya tidak mengenal Anda. Saya tidak bisa menerima makanan seperti ini. Permisi.”

Aku tertegun.

Panik naik tanpa izin, dan tanpa sadar aku menarik lengannya pelan.

“Aku tidak berniat jahat,” ujarku cepat. “Makanannya tersegel. Aku tidak menaruh apa pun. Kau tidak perlu takut.”

Raiya menatapku, lebih tepatnya, menatap mataku yang mungkin masih merah setelah hari panjang ini.

Entah karena iba atau takut, ia akhirnya mengambil kantong itu.

“Baiklah. Kalau begitu, aku terima. Terima kasih. Aku pulang dulu.”

Ia berbalik dan mempercepat langkahnya.

Dalam kepalanya, aku tahu ia sedang mengulang tiga hal tentangku:

Pertama, aku memanggil diriku paman, padahal aku tidak setua itu.

Kedua, aku memeluknya sambil menangis seperti orang yang kehilangan dunia.

Ketiga, aku bertingkah tak berbeda dari pria mesum yang agak tidak waras.

Di ujung gang, saat yakin aku tidak mengikutinya lagi, ia membuang kantong makanan itu ke tong sampah.

Aku melihatnya dengan jelas dari kegelapan.

Ada sedikit rasa sakit, ya... tapi hanya sebentar.

Karena itu…

itu adalah kebiasaannya juga di kehidupan lamanya.

Ia tidak pernah menerima apa pun dari orang asing.

Dan sekarang, aku tidak lebih dari itu baginya, hanya orang asing.

Raiya melanjutkan perjalanan.

Gang-gang sempit itu sunyi, dan aku mengikutinya dari kejauhan, cukup jauh agar tak terlihat namun cukup dekat untuk melindungi.

Namun saat sampai di ujung gang, beberapa preman menghadangnya.

Cara mereka berdiri membuatku yakin bahwa mereka sudah menunggu.

Ketika salah satu dari mereka menyentuh rambut Raiya dan yang lain mendorongnya ke dinding, amarahku meledak begitu saja.

Dalam hitungan detik, aku berlari ke arahnya dan menghajar mereka satu per satu tanpa belas kasihan, sampai semuanya tumbang.

Aku memeluknya, mencoba menenangkannya.

“Raiya… kamu nggak apa-apa, kan? Jangan takut. Paman ada di sini.”

Raiya menangis, entah itu tangis karena apa.

Ketakutan? Syok?

Atau mungkin karena caraku saat menghabisi mereka yang terlalu brutal?

Setelah tangisnya mereda, ia perlahan menarik diri dari dekapanku.

Dan saat kehangatannya hilang dari pelukanku, sebuah ruang kosong langsung terbuka di dadaku, sunyi, dingin, dan menyakitkan.

Namun tetap saja… aku membiarkannya pergi.

“Kamu mengikutiku?” tanyanya datar.

Aku mengangguk.

“Benar. Tapi aku nggak berniat apa-apa. Aku hanya khawatir kamu pulang sendirian. Kamu bisa percaya padaku. Aku bersumpah.”

Raiya menatapku lama sebelum akhirnya berkata,

“Kenapa kamu menghabisi mereka seperti itu? Mereka punya backing besar di Kota Soro. Kalau salah satu dari mereka jatuh, mereka pasti akan membalas.”

Ucapannya sederhana, tapi ada sesuatu yang hangat menyentuh dadaku, ia mengkhawatirkanku.

Meski sedikit… namun cukup membuatku kehilangan akal.

“Aku nggak apa-apa,” jawabku pelan. “Mereka nggak akan berani menyentuhku. Tapi… kenapa kamu nggak minta bantuan?”

Raiya menghembuskan napas tipis. “Karena aku belum dewasa,” ujarnya tenang. “Mereka nggak akan berbuat terlalu jauh. Selama aku nggak melawan, mereka akan berhenti.”

Aku mengerutkan kening.

“Bagaimana kamu bisa yakin?”

“Aku sudah tinggal di sini enam bulan,” jawabnya pelan. “Aku tahu pola mereka. Selama aku diam, mereka nggak akan memaksaku lebih jauh.”

“Raiya…” hanya itu yang sanggup keluar dari mulutku. Ada terlalu banyak hal yang ingin kukatakan, tapi tidak satu pun yang tepat untuk situasi ini.

“Kamu tahu namaku dari mana? Apa kita pernah kenal sebelumnya?” ucapnya padaku.

Pertanyaan itu terdengar datar, tapi jelas ia sengaja mengarahkannya ke topik lain.

Dan aku… mengikutinya, tanpa protes.

“Aku Andri,” jawabku perlahan. “Aku tahu namamu dari foto yang sempat viral di internet. Dari situ… aku mulai mencari informasi tentangmu.”

Raiya terdiam sejenak, menatapku lama seolah mencoba membaca maksud di balik kalimatku. Lalu ia mengembuskan napas pelan.

“Jadi kamu sama saja seperti mereka,” ucapnya datar. “Orang-orang bodoh itu, yang cuma tahu lihat tampang orang dari layar, terus bertingkah seolah mengenal.”

Ia memalingkan wajah sesaat, lalu kembali menatapku.

“Sekarang kamu sudah melihat aku langsung. Jadi… bisakah kamu berhenti menemuiku?”

Nadanya tenang. Tidak kasar, tapi jelas dan itu jauh lebih menyakitkan.

Ia kemudian menarik napas panjang, seolah mencoba meredakan sesuatu di dadanya sendiri.

“Aku berutang budi untuk hari ini,” lanjutnya. “Kalau suatu hari aku punya uang, aku akan bayar semuanya. Bisa kasih nomor bank-mu?”

Aku segera menggeleng.

“Kamu nggak perlu bayar apa pun. Aku cuma ingin membantu.”

Raiya menatapku lama, bukan curiga, bukan takut, tapi menimbang. Seakan ia sedang menguji apakah niatku tulus atau hanya basa-basi yang dibungkus sopan santun.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 48

    “Jalankan semuanya sesuai perintahku semalam,” ucap Andri dingin.“Baik, Tuan.”Kurang dari sepuluh menit kemudian, berita besar langsung memenuhi media sosial. Beberapa perusahaan milik keluarga siswa elit di sekolah itu mendadak diperiksa aparat pajak secara bersamaan. Nama-nama besar yang selama ini dikenal bersih mulai muncul dalam berita investigasi keuangan.Satu per satu pelanggaran pajak mereka dibongkar. Jumlah uang yang disembunyikan bahkan mencapai miliaran rupiah.Mereka adalah keluarga Shani dan beberapa siswa lain yang semalam ikut mengunci Raiya di kamar mandi sekolah.Saat bel masuk berbunyi, suasana kelas terasa aneh.Beberapa siswa duduk dengan wajah pucat sambil terus menatap ponsel. Ada yang menerima telepon berkali-kali dari rumah, ada pula yang langsung dipanggil wali kelas menuju ruang kepala sekolah bahkan sebelum ujian dimulai.Shani berdiri di dekat mejanya dengan tangan gemetar.“Ayah aku bilang perusahaan lagi diperiksa kantor pajak...” bisik salah satu tem

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 47

    Saat jarum jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Raiya keluar dengan rambut yang masih sedikit lembap dan seragam sekolah yang sudah rapi menempel di tubuhnya. Langkahnya melambat ketika aroma makanan memenuhi rumah yang sejak tadi terasa sunyi.Andri berdiri di dapur sambil mematikan kompor. Tangannya bergerak mengambil mangkuk dan piring dengan gerakan terbiasa, seperti rumah itu memang tempat tinggalnya sendiri sejak lama. Di atas meja makan sudah tersedia bubur jagung hangat, roti panggang, dan segelas susu yang masih mengepulkan uap tipis.Tadi pagi, setelah menjelaskan secara singkat tentang kejadian dirinya dan Raiya kepada ayah Raiya, Andri akhirnya mendapat izin untuk memasak di rumah itu. Setelah meminta sekretarisnya mengirim bahan makanan, Andri langsung masuk ke dapur tanpa menunggu bantuan siapa pun.Gerakannya berhenti saat melihat Raiya berdiri di depan pintu kamar mandi.“Raiya, sudah selesai?”Raiya mengangguk pelan.“Apa peru

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 46

    Ayah Raiya sudah menunggu di depan pintu rumah. Begitu melihat mobil Andri berhenti, ia langsung menggerakkan kursi rodanya mendekat dengan tergesa.Andri yang melihatnya segera membuka pintu mobil dengan hati-hati agar tidak membangunkan Raiya.“Paman...”“Andri, di mana Raiya? Bagaimana keadaannya?” tanya ayah Raiya tanpa menahan kekhawatirannya.Kaca mobil Andri yang gelap membuat bagian dalam tidak terlihat sama sekali dari luar. Ayah Raiya tidak bisa memastikan apa pun, selain berharap apa yang ia dengar nanti bukan kabar buruk.Andri mendekat. “Paman, Raiya ada di dalam. Dia sedang tidur. Aku akan menjelaskan semuanya nanti, tapi yang pasti dia aman. Paman bisa tenang.”Ayah Raiya masih mencoba melihat ke dalam mobil, memastikan dengan matanya sendiri. Setelah beberapa detik, ia kembali menatap Andri dan mengangguk pelan."Aku akan membawanya masuk ke kamarnya, apa boleh? Dia sepertinya tidak tidur sejak sore hari, aku khawatir dia akan tidak nyaman jika dibangunkan sekarang."“

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 45

    Usai mengucapkan kalimat itu, Andri keluar dari ruang pemantauan CCTV. Ia bergerak menyusuri ruangan yang tidak masuk ke dalam pemantauan. Bawahannya segera mengikuti dan membantu Andri mencari.Gudang sekolah, kantin, dapur, tempat istirahat, halaman, tempat apa pun, Andri terus memanggil nama Raiya.“Raiya...” “Raiya...” “Kamu di mana...”SMA Kota Soro memiliki area yang sangat luas. Itu adalah SMA negeri yang menampung banyak anak keluarga bangsawan. Banyak sumbangan dari keluarga-keluarga besar, sehingga hampir setiap tahun selalu ada perluasan wilayah dan pembangunan gedung baru.Karena itu, untuk menemukan keberadaan Raiya, Andri dan orang-orangnya merasa cukup kesulitan.Saat jam menunjukkan pukul dua pagi, Andri selesai menyusuri semua tempat yang tidak masuk kedalam pemantauan CCTV. Namun, ia masih belum menemukan keberadaan Raiya.“Raiya...” panggilnya lagi.Tetap tidak ada jawaban.Setelah beberapa saat, Andri kembali melangkah menuju halaman terpencil di sekolah. Halaman i

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 44

    Tanpa bersantai, Andri langsung bergerak membuka laptopnya. Ia menyalin kode id ponsel Raiya yang baru. Di masa lalu ia sudah mencuri kode id ponselnya saat Raiya tak sadar.Layar menampilkan rangkaian proses yang berjalan cepat, baris demi baris data muncul dan berganti tanpa henti, sementara pandangannya tetap tertuju pada satu titik yang ia tunggu. Tidak ada keraguan dalam gerakannya, karena sejak awal ia sudah tahu apa yang harus dilakukan dan ke mana arah yang harus ia tuju. Dalam hitungan menit, hasil yang ia cari akhirnya muncul, sebuah titik lokasi yang seharusnya memberi jawaban, tetapi justru membuat keningnya mengeras.Ponsel itu terakhir aktif tujuh jam yang lalu.Andri tidak mengatakan apa pun, ia langsung meraih ponselnya dan menghubungi bawahan miliknya yang pasti akan bergerak tanpa banyak bertanya.“Kirim orang ke sekolah. Cari Raiya. Sekarang.”“Baik, Tuan.”Di sisi lain di seberang telepon, Erwin yang baru saja terbangun langsung duduk tegak, matanya bahkan belum se

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 43

    Tengah malam tidak pernah terasa sepanjang ini sebelumnya.Di depan rumah kecil yang lampunya masih menyala redup, seorang pria paruh baya duduk di atas kursi rodanya, menghadap ke jalanan yang sudah lama sepi. Angin malam berhembus pelan, membawa udara dingin yang menusuk, tapi ia tidak bergeser sedikit pun dari posisinya. Tatapannya terus tertuju ke arah jalan, seolah setiap bayangan yang bergerak di kejauhan bisa berubah menjadi sosok yang ia tunggu.Wajahnya tidak lagi menyimpan ketenangan, kekhawatiran itu terpampang jelas di sana, tidak tersisa sedikit pun usaha untuk menyembunyikannya. Garis-garis di wajahnya terlihat lebih dalam malam ini.Ia sudah mencari, juga sudah mencoba semua cara yang dapat ia pikirkan. Toko tempat mereka bekerja sudah ia datangi lebih dulu, berharap Raiya masih ada di sana, mungkin tertahan pekerjaan atau sekadar lupa waktu. Namun yang ia temukan hanya pintu yang sudah terkunci dan lampu yang padam.Pria itu tidak menyerah, ia tidak berhenti bergerak

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 7

    Hari-hari berlalu dalam pola yang sama. Menjemput Maxwel… lalu sekalian melihat Raiya.Atau melihat Raiya… lalu sekalian menjemput Maxwel.Pada akhirnya, keduanya sama bagiku.Cuti kuliahku hampir berakhir. Sebentar lagi aku harus kembali ke Kota Adel untuk menyelesaikan proses pemindahan perusaha

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 6

    Aku bergerak lebih cepat daripada niatnya untuk menyerang.Tinju pertamaku menghantam rahangnya dengan suara berat, membuat kepala pria itu terpuntir kasar. Tubuhnya terhuyung, hampir jatuh, namun ia masih mencoba menebasku dengan belati. Gerakan refleks yang lebih didorong panik daripada teknik.A

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 5

    Kalau begitu…” ia menarik napas perlahan, “kasih nomor WeChat-mu saja. Nanti jika aku punya uang, akan aku transfer ke sana.”Permintaan itu terdengar biasa, tapi cara ia mengatakannya membuat udara di antara kami berubah. Nada suaranya datar, rapi, dingin, namun justru karena itu terasa lebih mem

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 3

    Raiya berjalan santai di jalur pejalan kaki ketika tiba-tiba seseorang muncul dari belakang dan menangkap lengannya. Gerakannya begitu cepat sampai Raiya tidak sempat mengeluarkan napas. Dalam sekejap, tubuhnya sudah tertarik masuk ke dalam pelukan seseorang, erat, kuat, dan penuh ketakutan sepert

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status