Partager

Bab 6

Auteur: Ellow_dikata
last update Date de publication: 2026-03-28 09:06:18

Aku bergerak lebih cepat daripada niatnya untuk menyerang.

Tinju pertamaku menghantam rahangnya dengan suara berat, membuat kepala pria itu terpuntir kasar. Tubuhnya terhuyung, hampir jatuh, namun ia masih mencoba menebasku dengan belati. Gerakan refleks yang lebih didorong panik daripada teknik.

Aku menangkap pergelangan tangannya. Satu putaran kecil. Tekanan ringan di titik saraf. Belati itu terlepas, jatuh ke tanah dengan denting logam yang terdengar dingin di udara malam.

Ia menatapku, matanya melebar dan gelisah. Tatapan seseorang yang baru menyadari bahwa ia bukan predator di sini.

“Kesalahan besar,” ucapku pelan.

Satu tendangan terukur menghantam sisi tubuhnya. Tidak keras, tidak dramatis, tapi cukup untuk merobohkan fondasi keberaniannya.

Ia jatuh ke tanah, mengerang, mencoba bangkit namun lututnya gemetar.

Tidak perlu pukulan berlebihan. Tidak perlu kekerasan yang membabi buta. Serangan tepat selalu lebih efektif menghancurkan ego daripada pukulan bertubi-tubi.

Sisanya? Aku serahkan pada bawahanku.

Mereka bergerak serempak, seperti bayangan yang memisahkan diri dari gelap. Efisien. Senyap. Tidak membutuhkan teriakan atau perintah kedua.

Teriakan singkat. Benturan logam dan tulang, terputus sekilas. Dan kemudian… sunyi.

Pertarungan selesai jauh sebelum siapa pun sempat memahami bahwa itu telah dimulai. Bukan karena mereka lemah, tapi karena kami tidak memberi ruang bagi pertarungan untuk menjadi panjang.

Saat tanah dipenuhi tubuh mereka yang merintih dan memaksakan napas, aku berdiri di tengah, menatap pemimpin mereka yang kini berlutut, tak berdaya.

Aku mencondongkan tubuh sedikit, hanya cukup agar ia bisa menangkap mataku.

“Dengarkan baik-baik,” ucapku datar. “Jika kalian menyentuh gadis bernama Raiya lagi… kalian tidak akan punya kesempatan kedua.”

Tidak ada ancaman tambahan. Tidak ada intimidasi yang berlebihan. Hanya kebenaran yang disampaikan dengan tenang.

Hening menggantung beberapa detik sebelum aku berbalik dan berjalan pergi. Tidak menoleh. Tidak mengubah kecepatan langkah.

Erwin dan bawahanku mengikutiku tanpa suara, kembali kepada formasi semula seperti bayangan yang kembali menyatu.

Aku masuk ke mobil. Erwin segera mengambil posisi di kursi pengemudi dan menjalankan mobil keluar dari area markas.

Udara malam kembali terasa biasa, seolah kekerasan tadi hanya gangguan kecil yang bisa dilupakan dalam sekejap.

---

Ponselku bergetar.

Livia.

“Andri! Ke mana saja kamu? Ini sudah jam tiga pagi! Kamu belum pulang!”

Nadanya panik, hampir pecah. “Sopir keluarga mencarimu sejak siang. Ponselmu mati… kamu membuat Ibu khawatir setengah mati!”

Aku menahan helaan napas. Kekhawatirannya tidak salah, hanya… berlebihan. Seperti biasa.

Tanpa memberi jawaban, aku memutus panggilan itu. Ponsel itu kuletakkan di kursi sebelah, gerakan pendek, tenang, dan tanpa makna apa pun. Tidak ada alasan untuk menjelaskan.

“Ke kediaman Tanoshi,” kataku.

Erwin hanya mengangguk. Ia paham bahwa kata-katanya tidak dibutuhkan.

Mobil melaju perlahan. Jalanan kosong, lampu-lampu kota lewat begitu saja, memantul di kaca tanpa meninggalkan kesan.

Hening menyelimuti kabin, hening yang tidak mengganggu, hanya… ada.

Aku tiba pukul empat pagi.

Kepala pelayan berdiri di ambang pintu, wajahnya memadukan lega dan ketakutan yang tidak ia sembunyikan dengan baik.

“Tuan muda, Anda akhirnya pulang. Nyonya sangat khawatir sejak..”

Aku memberi anggukan kecil, cukup untuk membuatnya berhenti bicara.

“Sampaikan bahwa aku sudah kembali. Dan hari ini… jangan biarkan siapa pun menggangguku.”

“Baik, Tuan.” Ia membungkuk dalam, hampir menyentuh lantai.

Aku melangkah melewatinya tanpa menoleh. Masuk ke kamar, menanggalkan pakaian, lalu berdiri di bawah pancuran air dingin, membiarkan suhu menusuk kulit, tidak menawarkan apa pun selain keheningan.

Setelahnya, aku berbaring di ranjang, membiarkan tubuh tenggelam tanpa perlawanan ke dalam dingin yang menguasai ruangan.

Langit-langit tampak seperti bidang hitam yang tak memberi apa pun, hanya kehampaan yang diam dan stabil.

Beberapa detik lewat sebelum sudut bibirku bergerak tipis, hampir tidak nyata. Gerakan yang lebih seperti reaksi insting daripada perasaan.

Raiya.

Akhirnya… aku menemukanmu.

Ada sesuatu yang berubah sejak menemukan keberadaannya. Rasa hangat yang tak pernah kumiliki dalam kehidupan ini. Aneh, mengusik, tapi entah kenapa… tepat.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak reinkarnasi, tidurku datang tanpa pertarungan dalam kepala.

---

Aku bangun pukul sepuluh. Begitu melangkah keluar kamar, Livia langsung berdiri dari sofa, gerakannya cepat, matanya penuh rasa ingin tahu yang sulit disembunyikan.

“Sayang, duduklah. Ibu ingin bicara.”

Aku menuruti tanpa komentar, menjaga ekspresi tetap netral.

“Ibu dengar kamu bertemu seorang gadis.” Senyumnya merekah, antusias, seperti seseorang yang akhirnya mendapatkan potongan cerita yang hilang. “Siapa dia? Kenalkan pada Ibu, ya?”

“Itu urusanku,” jawabku tenang. “Tolong jangan cari tahu tentang dia. Dan jangan mengganggunya.”

Livia mengembungkan pipi, pura-pura merajuk, lalu menepuk bahuku ringan. “Ibu tidak akan ikut campur. Selama kamu yakin… Ibu akan mendukung.”

Aku hanya mengangguk tipis.

“Kapan Maxwel pulang?”

Keningnya berkerut. “Biasanya kamu bahkan tidak mau mendengar namanya. Kenapa sekarang?”

Aku tidak menjawab. Hanya mengambil sebuah jeruk dari meja dan mulai mengupasnya perlahan. Kulitnya terbuka rapi, aroma segarnya menyebar pelan ke seluruh ruangan. Diamku menjadi jawaban itu sendiri.

Livia akhirnya tersenyum kecil, pasrah. “Jam dua siang.”

Aku mengangguk sekali lagi, tenang, datar.

Aku kembali ke kamar setelah berbincang singkat dengan Livia, atau lebih tepatnya, membiarkannya berbicara sementara aku mendengarkan.

Di dalam kamar, aku membuka laptop dan langsung bekerja. Deretan rencana bisnis muncul satu per satu. Pola ekspansi. Pemetaan pengaruh. Kerangka kekuatan yang harus dibentuk dari awal.

Jika para taipan Kota Soro melihat dokumen-dokumen ini, mereka akan berlomba menawarkan nama keluarga mereka untuk kuwarisi.

Namun itu semua sekadar konsekuensi, bukan tujuan. Kekuasaan, bisnis, kekayaan, semuanya hanya instrumen. Dan sejak semalam, instrumen itu memiliki pusat gravitasi baru.

Raiya berada di kota ini. Maka pusat kekuatanku pun harus ditanam di sini.

Pukul setengah dua, aku bersiap. Mengenakan pakaian ringan tanpa detail yang berlebihan, lalu mengambil kunci BMW G70, salah satu koleksi keluarga Tanoshi yang selalu kupilih ketika ingin bergerak cepat tanpa menarik perhatian.

Sopir keluarga sudah menerima instruksiku sejak pagi, 'jangan menjemput Maxwel. Tugas itu akan kutangani sendiri.'

---

SMA 1 Kota Soro.

Bel berbunyi.

Kerumunan siswa keluar, berisik, hidup, memenuhi halaman. Dan di tengah riuh itu… dia muncul.

Raiya.

Seragam olahraga, rambut dikuncir sederhana, sedikit rona merah di kulitnya akibat panas matahari. Namun matanya, jernih, terfokus, hangat, membuat seluruh keramaian di sekitar seolah meredup dengan sendirinya.

Ada ketenangan yang hanya muncul ketika melihatnya. Tenang… namun tajam. Seperti dunia tahu kapan harus diam.

Keinginan untuk turun, melangkah mendekat, menyapa, sempat menarik tubuhku ke depan.

Sangat tipis. Hampir saja.

Tapi aku menahan diri.

Belum waktunya.

Aku mengamatinya dari jauh, memastikan tidak ada celah ancaman. Lima orang terbaikku sudah tersebar di sekitar sekolah, tak terlihat, tapi selalu dalam jangkauan.

“Raiya…”

Namanya keluar begitu saja, pelan, seperti bisikan yang tidak sengaja lolos dari tempat paling sunyi dalam kepalaku.

Beberapa menit kemudian, kaca mobil diketuk keras.

Maxwel.

Aku menoleh, masih setengah terganggu karena perhatianku teralihkan dari Raiya.

Wajahnya masam, seolah menuntut jawaban yang jelas-jelas tidak akan ia dapat. Ia mencoba membuka pintu dengan kasar, gagangnya bergetar, seperti hampir lepas.

Saat itu, ingatanku kembali jatuh ke tempatnya.

Benar.

Aku memang datang untuk menjemputnya.

Aku membuka kunci pintu. Maxwel masuk dengan dengusan pendek, dan tanpa komentar apa pun, aku menjalankan mobil kembali menuju kediaman Tanoshi.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 48

    “Jalankan semuanya sesuai perintahku semalam,” ucap Andri dingin.“Baik, Tuan.”Kurang dari sepuluh menit kemudian, berita besar langsung memenuhi media sosial. Beberapa perusahaan milik keluarga siswa elit di sekolah itu mendadak diperiksa aparat pajak secara bersamaan. Nama-nama besar yang selama ini dikenal bersih mulai muncul dalam berita investigasi keuangan.Satu per satu pelanggaran pajak mereka dibongkar. Jumlah uang yang disembunyikan bahkan mencapai miliaran rupiah.Mereka adalah keluarga Shani dan beberapa siswa lain yang semalam ikut mengunci Raiya di kamar mandi sekolah.Saat bel masuk berbunyi, suasana kelas terasa aneh.Beberapa siswa duduk dengan wajah pucat sambil terus menatap ponsel. Ada yang menerima telepon berkali-kali dari rumah, ada pula yang langsung dipanggil wali kelas menuju ruang kepala sekolah bahkan sebelum ujian dimulai.Shani berdiri di dekat mejanya dengan tangan gemetar.“Ayah aku bilang perusahaan lagi diperiksa kantor pajak...” bisik salah satu tem

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 47

    Saat jarum jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Raiya keluar dengan rambut yang masih sedikit lembap dan seragam sekolah yang sudah rapi menempel di tubuhnya. Langkahnya melambat ketika aroma makanan memenuhi rumah yang sejak tadi terasa sunyi.Andri berdiri di dapur sambil mematikan kompor. Tangannya bergerak mengambil mangkuk dan piring dengan gerakan terbiasa, seperti rumah itu memang tempat tinggalnya sendiri sejak lama. Di atas meja makan sudah tersedia bubur jagung hangat, roti panggang, dan segelas susu yang masih mengepulkan uap tipis.Tadi pagi, setelah menjelaskan secara singkat tentang kejadian dirinya dan Raiya kepada ayah Raiya, Andri akhirnya mendapat izin untuk memasak di rumah itu. Setelah meminta sekretarisnya mengirim bahan makanan, Andri langsung masuk ke dapur tanpa menunggu bantuan siapa pun.Gerakannya berhenti saat melihat Raiya berdiri di depan pintu kamar mandi.“Raiya, sudah selesai?”Raiya mengangguk pelan.“Apa peru

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 46

    Ayah Raiya sudah menunggu di depan pintu rumah. Begitu melihat mobil Andri berhenti, ia langsung menggerakkan kursi rodanya mendekat dengan tergesa.Andri yang melihatnya segera membuka pintu mobil dengan hati-hati agar tidak membangunkan Raiya.“Paman...”“Andri, di mana Raiya? Bagaimana keadaannya?” tanya ayah Raiya tanpa menahan kekhawatirannya.Kaca mobil Andri yang gelap membuat bagian dalam tidak terlihat sama sekali dari luar. Ayah Raiya tidak bisa memastikan apa pun, selain berharap apa yang ia dengar nanti bukan kabar buruk.Andri mendekat. “Paman, Raiya ada di dalam. Dia sedang tidur. Aku akan menjelaskan semuanya nanti, tapi yang pasti dia aman. Paman bisa tenang.”Ayah Raiya masih mencoba melihat ke dalam mobil, memastikan dengan matanya sendiri. Setelah beberapa detik, ia kembali menatap Andri dan mengangguk pelan."Aku akan membawanya masuk ke kamarnya, apa boleh? Dia sepertinya tidak tidur sejak sore hari, aku khawatir dia akan tidak nyaman jika dibangunkan sekarang."“

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 45

    Usai mengucapkan kalimat itu, Andri keluar dari ruang pemantauan CCTV. Ia bergerak menyusuri ruangan yang tidak masuk ke dalam pemantauan. Bawahannya segera mengikuti dan membantu Andri mencari.Gudang sekolah, kantin, dapur, tempat istirahat, halaman, tempat apa pun, Andri terus memanggil nama Raiya.“Raiya...” “Raiya...” “Kamu di mana...”SMA Kota Soro memiliki area yang sangat luas. Itu adalah SMA negeri yang menampung banyak anak keluarga bangsawan. Banyak sumbangan dari keluarga-keluarga besar, sehingga hampir setiap tahun selalu ada perluasan wilayah dan pembangunan gedung baru.Karena itu, untuk menemukan keberadaan Raiya, Andri dan orang-orangnya merasa cukup kesulitan.Saat jam menunjukkan pukul dua pagi, Andri selesai menyusuri semua tempat yang tidak masuk kedalam pemantauan CCTV. Namun, ia masih belum menemukan keberadaan Raiya.“Raiya...” panggilnya lagi.Tetap tidak ada jawaban.Setelah beberapa saat, Andri kembali melangkah menuju halaman terpencil di sekolah. Halaman i

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 44

    Tanpa bersantai, Andri langsung bergerak membuka laptopnya. Ia menyalin kode id ponsel Raiya yang baru. Di masa lalu ia sudah mencuri kode id ponselnya saat Raiya tak sadar.Layar menampilkan rangkaian proses yang berjalan cepat, baris demi baris data muncul dan berganti tanpa henti, sementara pandangannya tetap tertuju pada satu titik yang ia tunggu. Tidak ada keraguan dalam gerakannya, karena sejak awal ia sudah tahu apa yang harus dilakukan dan ke mana arah yang harus ia tuju. Dalam hitungan menit, hasil yang ia cari akhirnya muncul, sebuah titik lokasi yang seharusnya memberi jawaban, tetapi justru membuat keningnya mengeras.Ponsel itu terakhir aktif tujuh jam yang lalu.Andri tidak mengatakan apa pun, ia langsung meraih ponselnya dan menghubungi bawahan miliknya yang pasti akan bergerak tanpa banyak bertanya.“Kirim orang ke sekolah. Cari Raiya. Sekarang.”“Baik, Tuan.”Di sisi lain di seberang telepon, Erwin yang baru saja terbangun langsung duduk tegak, matanya bahkan belum se

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 43

    Tengah malam tidak pernah terasa sepanjang ini sebelumnya.Di depan rumah kecil yang lampunya masih menyala redup, seorang pria paruh baya duduk di atas kursi rodanya, menghadap ke jalanan yang sudah lama sepi. Angin malam berhembus pelan, membawa udara dingin yang menusuk, tapi ia tidak bergeser sedikit pun dari posisinya. Tatapannya terus tertuju ke arah jalan, seolah setiap bayangan yang bergerak di kejauhan bisa berubah menjadi sosok yang ia tunggu.Wajahnya tidak lagi menyimpan ketenangan, kekhawatiran itu terpampang jelas di sana, tidak tersisa sedikit pun usaha untuk menyembunyikannya. Garis-garis di wajahnya terlihat lebih dalam malam ini.Ia sudah mencari, juga sudah mencoba semua cara yang dapat ia pikirkan. Toko tempat mereka bekerja sudah ia datangi lebih dulu, berharap Raiya masih ada di sana, mungkin tertahan pekerjaan atau sekadar lupa waktu. Namun yang ia temukan hanya pintu yang sudah terkunci dan lampu yang padam.Pria itu tidak menyerah, ia tidak berhenti bergerak

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 7

    Hari-hari berlalu dalam pola yang sama. Menjemput Maxwel… lalu sekalian melihat Raiya.Atau melihat Raiya… lalu sekalian menjemput Maxwel.Pada akhirnya, keduanya sama bagiku.Cuti kuliahku hampir berakhir. Sebentar lagi aku harus kembali ke Kota Adel untuk menyelesaikan proses pemindahan perusaha

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 5

    Kalau begitu…” ia menarik napas perlahan, “kasih nomor WeChat-mu saja. Nanti jika aku punya uang, akan aku transfer ke sana.”Permintaan itu terdengar biasa, tapi cara ia mengatakannya membuat udara di antara kami berubah. Nada suaranya datar, rapi, dingin, namun justru karena itu terasa lebih mem

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 4

    Setelah antrean mereda, aku mendekat.“Raiya,” panggilku pelan.Ia mengangkat wajah, terkejut sesaat. Namun seketika raut itu tertutup oleh sikap sopan santun seorang pegawai.“Tuan… ada yang bisa saya bantu?”Aku menatapnya lama, terlalu lama, mungkin.Ada ribuan kata yang berputar di kepala, teta

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 3

    Raiya berjalan santai di jalur pejalan kaki ketika tiba-tiba seseorang muncul dari belakang dan menangkap lengannya. Gerakannya begitu cepat sampai Raiya tidak sempat mengeluarkan napas. Dalam sekejap, tubuhnya sudah tertarik masuk ke dalam pelukan seseorang, erat, kuat, dan penuh ketakutan sepert

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status