LOGINRaiya berjalan santai di jalur pejalan kaki ketika tiba-tiba seseorang muncul dari belakang dan menangkap lengannya. Gerakannya begitu cepat sampai Raiya tidak sempat mengeluarkan napas.
Dalam sekejap, tubuhnya sudah tertarik masuk ke dalam pelukan seseorang, erat, kuat, dan penuh ketakutan seperti seseorang yang tenggelam dan baru menemukan udara. “A-apa?!” Raiya langsung berusaha melepaskan diri. “Lepasin! Siapa kamu?! Dasar pria mesum!” Namun Andri justru memeluknya semakin erat. Bukan pelukan seorang penguntit, bukan pula pelukan orang asing yang nekat, melainkan pelukan seseorang yang benar-benar ketakutan kehilangan sesuatu yang sangat penting. Tubuhnya bergetar. Napasnya berat, putus-putus. Ada suara kecil, hampir tak terdengar, yang seperti tangisan terpendam. Jalanan itu tetap sepi, hanya ditemani angin yang sesekali menggeser dedaunan kering. Siswa lain belum keluar, dan jalur ini memang jarang dilewati. “Kamu siapa?! Lepasin! Aku bilang lepas!” Raiya semakin panik. Ia mendorong dada pria itu, tapi pelukan tetap tak bergeming. “Kamu memelukku terlalu kuat… aku susah napas! Kamu mau membunuhku?!” Ucapan itu menghantam Andri seperti pukulan yang tak terlihat. Pelukannya melemah dalam sekejap. Lalu ia melepaskan Raiya sepenuhnya dan jatuh berlutut di hadapannya. Benar-benar berlutut. Kepalanya menunduk rendah, bahunya bergetar hebat menahan isak yang tidak lagi bisa ia sembunyikan. Tangannya mengepal di sisi lutut, seolah ia menahan perasaan yang jauh lebih besar dari tubuhnya. “Raiya… maaf. Paman nggak bermaksud menyakitimu…” suaranya patah, pecah, rusak. Ia menunduk semakin dalam. “…tolong jangan tinggalin paman lagi.” Raiya mundur selangkah, napasnya tersengal. Ia tidak langsung membalas. Tangannya sibuk merapikan seragamnya yang kusut akibat pelukan itu. Baru setelah ia sedikit stabil, ia menatap pria di hadapannya Dan terdiam. Pria itu tampan. Tampan dengan cara yang sulit dijelaskan, tegas, matang, namun sekarang tampak rapuh. Rapuh sampai membuat dada Raiya terasa terhimpit, meski ia tak mengerti kenapa. Matanya merah, pipinya basah, garis wajahnya bergetar menahan emosi yang nyaris meledak. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang membuat Raiya bingung, takut, marah, dan entah kenapa sedikit… iba. Andri akhirnya mendongak. Tatapannya langsung bertemu dengan mata Raiya. Mata itu, mata yang sama persis dengan milik istrinya di kehidupan sebelumnya. Mata yang dulu penuh cinta dan hangat… kini menatapnya dengan ketakutan seorang gadis yang tidak mengenalinya sama sekali. Tanpa sadar, Andri meraih tangan Raiya. Ia menggenggamnya erat-erat seolah sentuhan itu adalah satu-satunya bukti bahwa gadis ini nyata, bukan halusinasi yang diciptakan luka lamanya. “Raiya… maafin paman. Paman cuma… nggak mau kamu hilang lagi.” Raiya terdiam lama. Gerakan dadanya naik turun tidak stabil. Tatapannya kosong, bukan karena tidak peduli, tapi karena benar-benar tidak tahu harus merasa apa. Laki-laki ini jelas tidak waras, tetapi kesedihannya… terlalu nyata untuk diabaikan. Dalam hati ia bergumam, Kenapa akhir-akhir ini banyak sekali laki-laki aneh di sekitarku? Raiya menelan ludah, mencoba memulihkan kendali dirinya. “Ka-kamu siapa? Kenapa memelukku? Apa aku mengenalmu?” suaranya bergetar, namun ekspresinya tetap tegas. Andri terdiam. Bibirnya sedikit terbuka, seolah pertanyaan itu adalah tamparan keras yang tak pernah ia bayangkan akan ia dengar. “Raiya… kamu Raiya, kan?” suaranya pecah. “Raiyaku… apa kamu melupakanku? Kamu benar-benar tidak ingat paman?” Raiya mengernyit bingung. “Aku memang Raiya. Tapi aku bukan ‘Raiya-mu’. Aku bahkan tidak kenal kamu. Kamu ini siapa? Dan kenapa kamu bersikap seperti ini? Tidak sopan sekali!” Andri berdiri. Perlahan. Seperti seseorang yang kehilangan keseimbangannya. Tangannya terangkat, hampir gemetar saat menyentuh pipi Raiya. Sentuhannya lembut, terlalu lembut untuk ukuran pria dewasa. Lembut seperti seseorang yang takut merusak sesuatu yang sangat ia sayangi. Raiya mencoba mundur, tapi Andri tetap menahan sisi wajahnya. Tidak kasar, justru sebaliknya, terlalu penuh perasaan. “Raiya…” suaranya merintih. “Apa kamu sebenci itu sama paman? Kenapa kamu berpura-pura tidak mengenal paman…?” Raiya membelalak. Kini rasa takutnya jauh lebih besar daripada rasa iba. “Kamu itu siapa sih? Lepasin! Aku bilang aku nggak kenal kamu! Tolong… jangan sentuh aku!” Andri tidak langsung melepaskan. Tatapannya tidak gila, tidak liar, justru penuh keputusasaan yang dalam. Bahaya yang bukan lahir dari niat jahat, melainkan dari cinta yang tidak tersampaikan. “Raiya… paman mohon,” bisiknya. “Kalau kamu mau marah, mau bunuh paman pun tidak apa. Tapi jangan… jangan bilang kamu tidak mengenal paman…” Air matanya jatuh lagi. Beberapa tetes mengenai pipi Raiya. Untuk sesaat, dunia terasa berhenti. Raiya perlahan menyentuh wajahnya sendiri, seakan memastikan bahwa air mata itu benar-benar jatuh ke kulitnya. “Kamu… kenapa menangis seperti ini? Aku benar-benar tidak mengenalmu. Apa kamu salah orang?” Andri menatapnya lama. Sangat lama. Seolah ia berusaha menahan dunia yang hancur di depan matanya. Namun wajah Raiya… polos, bingung, ketakutan. Tanpa kepura-puraan. Itu yang paling menghancurkan. Dia benar-benar tidak mengingatku. Tapi tubuhku… tubuhku mengenalinya. Setiap sel darahku berteriak bahwa dia adalah Raiya. Raiyaku. Satu-satunya pasangan veromonku di kehidupanku sebelumnya. Satu-satunya yang pernah kusayangi hingga aku rela mati karenanya. Ada satu kemungkinan yang terlintas di benak Andri. Sesuatu yang masuk akal bagi nya. Raiya terlahir kembali. Tanpa ingatan masalalu. Namun sebelum dia mengatakan apapun, Raiya sudah bergerak lebih dulu. “Saudara… maaf, aku sedang buru-buru. Sampai jumpa.” Ia berlari pergi, bukan karena ingin, tapi karena takut. Andri tidak mengejar. Tubuhnya seakan disangkutkan pada tanah. Hatinya kosong, tetapi keyakinannya tidak goyah. Itu Raiya. Aku menemukannya. --- Beberapa menit kemudian, mobil keluarga Tanoshi berhenti di hadapan nya. Aryo turun tergesa. “Tuan muda… kenapa Anda berlari? Apa ada sesuatu” Ia berhenti bicara ketika melihat mata Andri. Merah. Basah. Terlalu familiar. Terlalu mirip dengan dua tahun lalu, hari ketika Andri hampir mengakhiri hidupnya untuk terakhir kalinya. “Tuan muda…” Aryo berbisik, suaranya penuh ketakutan. “Kembalilah. Antarkan Maxwell pulang. Aku masih ada urusan.” Aryo ingin menolak, tapi tatapan Andri membuat dia tidak berani melakukannya. “Baik, Tuan muda.” --- Begitu mobil pergi, Andri mengeluarkan ponsel. “Ke SMA 1 Sora,” katanya tanpa ekspresi. “Cari gadis bernama Raiya. Gadis yang sudah berkali-kali kusuruh kalian lacak. Dapatkan semua informasinya. Dan kalian punya lima menit.” Lima menit kemudian, sebuah sedan hitam tiba. Erwin keluar, menyerahkan map hitam. “Tuan, ini data lengkap tentang Nona Raiya.” Andri membuka setiap halaman perlahan. Setiap baris terasa seperti menelusuri luka lama. “Pergi ke tempatnya,” katanya singkat. --- Minimarket kecil itu terang dengan cahaya putih. Raiya berdiri di kasir, bekerja seperti biasa. Senyumnya profesional, tapi tangannya sedikit gemetar. Ia masih terpengaruh kejadian tadi. Andri berdiri di pintu. Diam. Menatapnya lama. Melihat lelaki-lelaki yang mengantre membuat dadanya panas. Nafasnya berubah. Ada naluri primitif yang ingin menyeret Raiya keluar dari sana. Tapi ia menahan diri. Ia sudah membuatnya takut sekali. Ia tidak akan membuatnya takut lagi hari ini.“Jalankan semuanya sesuai perintahku semalam,” ucap Andri dingin.“Baik, Tuan.”Kurang dari sepuluh menit kemudian, berita besar langsung memenuhi media sosial. Beberapa perusahaan milik keluarga siswa elit di sekolah itu mendadak diperiksa aparat pajak secara bersamaan. Nama-nama besar yang selama ini dikenal bersih mulai muncul dalam berita investigasi keuangan.Satu per satu pelanggaran pajak mereka dibongkar. Jumlah uang yang disembunyikan bahkan mencapai miliaran rupiah.Mereka adalah keluarga Shani dan beberapa siswa lain yang semalam ikut mengunci Raiya di kamar mandi sekolah.Saat bel masuk berbunyi, suasana kelas terasa aneh.Beberapa siswa duduk dengan wajah pucat sambil terus menatap ponsel. Ada yang menerima telepon berkali-kali dari rumah, ada pula yang langsung dipanggil wali kelas menuju ruang kepala sekolah bahkan sebelum ujian dimulai.Shani berdiri di dekat mejanya dengan tangan gemetar.“Ayah aku bilang perusahaan lagi diperiksa kantor pajak...” bisik salah satu tem
Saat jarum jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Raiya keluar dengan rambut yang masih sedikit lembap dan seragam sekolah yang sudah rapi menempel di tubuhnya. Langkahnya melambat ketika aroma makanan memenuhi rumah yang sejak tadi terasa sunyi.Andri berdiri di dapur sambil mematikan kompor. Tangannya bergerak mengambil mangkuk dan piring dengan gerakan terbiasa, seperti rumah itu memang tempat tinggalnya sendiri sejak lama. Di atas meja makan sudah tersedia bubur jagung hangat, roti panggang, dan segelas susu yang masih mengepulkan uap tipis.Tadi pagi, setelah menjelaskan secara singkat tentang kejadian dirinya dan Raiya kepada ayah Raiya, Andri akhirnya mendapat izin untuk memasak di rumah itu. Setelah meminta sekretarisnya mengirim bahan makanan, Andri langsung masuk ke dapur tanpa menunggu bantuan siapa pun.Gerakannya berhenti saat melihat Raiya berdiri di depan pintu kamar mandi.“Raiya, sudah selesai?”Raiya mengangguk pelan.“Apa peru
Ayah Raiya sudah menunggu di depan pintu rumah. Begitu melihat mobil Andri berhenti, ia langsung menggerakkan kursi rodanya mendekat dengan tergesa.Andri yang melihatnya segera membuka pintu mobil dengan hati-hati agar tidak membangunkan Raiya.“Paman...”“Andri, di mana Raiya? Bagaimana keadaannya?” tanya ayah Raiya tanpa menahan kekhawatirannya.Kaca mobil Andri yang gelap membuat bagian dalam tidak terlihat sama sekali dari luar. Ayah Raiya tidak bisa memastikan apa pun, selain berharap apa yang ia dengar nanti bukan kabar buruk.Andri mendekat. “Paman, Raiya ada di dalam. Dia sedang tidur. Aku akan menjelaskan semuanya nanti, tapi yang pasti dia aman. Paman bisa tenang.”Ayah Raiya masih mencoba melihat ke dalam mobil, memastikan dengan matanya sendiri. Setelah beberapa detik, ia kembali menatap Andri dan mengangguk pelan."Aku akan membawanya masuk ke kamarnya, apa boleh? Dia sepertinya tidak tidur sejak sore hari, aku khawatir dia akan tidak nyaman jika dibangunkan sekarang."“
Usai mengucapkan kalimat itu, Andri keluar dari ruang pemantauan CCTV. Ia bergerak menyusuri ruangan yang tidak masuk ke dalam pemantauan. Bawahannya segera mengikuti dan membantu Andri mencari.Gudang sekolah, kantin, dapur, tempat istirahat, halaman, tempat apa pun, Andri terus memanggil nama Raiya.“Raiya...” “Raiya...” “Kamu di mana...”SMA Kota Soro memiliki area yang sangat luas. Itu adalah SMA negeri yang menampung banyak anak keluarga bangsawan. Banyak sumbangan dari keluarga-keluarga besar, sehingga hampir setiap tahun selalu ada perluasan wilayah dan pembangunan gedung baru.Karena itu, untuk menemukan keberadaan Raiya, Andri dan orang-orangnya merasa cukup kesulitan.Saat jam menunjukkan pukul dua pagi, Andri selesai menyusuri semua tempat yang tidak masuk kedalam pemantauan CCTV. Namun, ia masih belum menemukan keberadaan Raiya.“Raiya...” panggilnya lagi.Tetap tidak ada jawaban.Setelah beberapa saat, Andri kembali melangkah menuju halaman terpencil di sekolah. Halaman i
Tanpa bersantai, Andri langsung bergerak membuka laptopnya. Ia menyalin kode id ponsel Raiya yang baru. Di masa lalu ia sudah mencuri kode id ponselnya saat Raiya tak sadar.Layar menampilkan rangkaian proses yang berjalan cepat, baris demi baris data muncul dan berganti tanpa henti, sementara pandangannya tetap tertuju pada satu titik yang ia tunggu. Tidak ada keraguan dalam gerakannya, karena sejak awal ia sudah tahu apa yang harus dilakukan dan ke mana arah yang harus ia tuju. Dalam hitungan menit, hasil yang ia cari akhirnya muncul, sebuah titik lokasi yang seharusnya memberi jawaban, tetapi justru membuat keningnya mengeras.Ponsel itu terakhir aktif tujuh jam yang lalu.Andri tidak mengatakan apa pun, ia langsung meraih ponselnya dan menghubungi bawahan miliknya yang pasti akan bergerak tanpa banyak bertanya.“Kirim orang ke sekolah. Cari Raiya. Sekarang.”“Baik, Tuan.”Di sisi lain di seberang telepon, Erwin yang baru saja terbangun langsung duduk tegak, matanya bahkan belum se
Tengah malam tidak pernah terasa sepanjang ini sebelumnya.Di depan rumah kecil yang lampunya masih menyala redup, seorang pria paruh baya duduk di atas kursi rodanya, menghadap ke jalanan yang sudah lama sepi. Angin malam berhembus pelan, membawa udara dingin yang menusuk, tapi ia tidak bergeser sedikit pun dari posisinya. Tatapannya terus tertuju ke arah jalan, seolah setiap bayangan yang bergerak di kejauhan bisa berubah menjadi sosok yang ia tunggu.Wajahnya tidak lagi menyimpan ketenangan, kekhawatiran itu terpampang jelas di sana, tidak tersisa sedikit pun usaha untuk menyembunyikannya. Garis-garis di wajahnya terlihat lebih dalam malam ini.Ia sudah mencari, juga sudah mencoba semua cara yang dapat ia pikirkan. Toko tempat mereka bekerja sudah ia datangi lebih dulu, berharap Raiya masih ada di sana, mungkin tertahan pekerjaan atau sekadar lupa waktu. Namun yang ia temukan hanya pintu yang sudah terkunci dan lampu yang padam.Pria itu tidak menyerah, ia tidak berhenti bergerak
Sepulang sekolah, Kevin menahan langkah Raiya tepat sebelum gerbang.“Raiya,” panggilnya, sedikit terengah, “ambil juga cokelatku. Kamu bisa makan di rumah. Katanya… mood perempuan bisa jadi lebih baik kalau makan cokelat.”Raiya hendak menolak. Namun Kevin sudah lebih dulu menggenggam tangannya da
Raiya yang menyadari perubahan suasana di sekitarnya terbatuk pelan, berusaha memecah ketegangan yang mulai menekan.“Guru… kita sudah sampai di kelas. Silakan masuk.”Andri mengangkat kepalanya. Tatapannya jatuh pada Raiya, dan dalam sekejap, kegelapan yang tadi sempat mengendap menghilang begitu
"Minta Erwin untuk segera menemuiku." Ucap Andri dengan wajah yang menggelap."Baik tuan."Andri mengerutkan kening saat melihat Wamen tak kunjung pergi, lalu berkata, "Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?"Wamen mengangguk, “Tuan, proses pemindahan kendali perusahaan ke Kota Soro telah selesai.
Hari-hari berlalu dalam pola yang sama. Menjemput Maxwel… lalu sekalian melihat Raiya.Atau melihat Raiya… lalu sekalian menjemput Maxwel.Pada akhirnya, keduanya sama bagiku.Cuti kuliahku hampir berakhir. Sebentar lagi aku harus kembali ke Kota Adel untuk menyelesaikan proses pemindahan perusaha







