แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Charles
Saat keluar dari vila, aku sudah dipaksa mengenakan gaun pesta.

Namun atas keras kepalaku, aku tetap memilih gaun berwarna hitam.

Jefri memutar bola matanya ke arahku dan bergumam, “Dasar pembawa sial.”

Aku tak ingin mempermasalahkannya. Fokusku malam ini hanyalah agar acara cepat selesai, biar Jestine bisa masuk ke aula leluhur Keluarga Gunawan.

Saat hidup dia tak bisa ikut bermarga Gunawan, jadi setelah mati aku harus memastikan Keluarga Gunawan mengakuinya.

Di perjalanan menuju kediaman Keluarga Gunawan, aku tak berbicara sepatah kata pun. Aku memang tak pernah terbiasa duduk satu mobil dengan Harry dan Jefri.

Dulu, setiap kali ada pesta, mereka tidak pernah mengajak aku dan Jestine, apalagi ke pesta ulang tahun Fanny.

Justru saat mereka tidak ada di rumah, itulah waktu paling menyenangkan bagi aku dan Jestine.

Aku tak perlu melihat wajah mereka berdua dan Jestine tak perlu repot menjaga Jefri yang nakal.

Namun, Jestineku yang malang malah tak bisa menghindar dari mobil yang remnya blong itu.

Tanpa sadar emosiku meluap, aku pun menarik napas dalam.

Dengan kesal, Jefri berkata, “Nangis terus! Kalau menangis lagi, aku bakal mengusirmu turun dari mobil!”

Aku tidak membantahnya kali ini dan malah mengangguk.

“Iya.”

Tumben sekali, Harry menegur Jefri kali ini.

“Jangan asal bicara.”

Jefri memberikan raut kesal padaku dan tak berani bicara lagi.

Namun kemudian, Harry malah balik menegurku, “Kok kamu malah serius menanggapi ucapan anak kecil?”

Aku menundukkan pandanganku tanpa menjawab.

Tak lama kemudian, kami pun sampai di kediaman Keluarga Gunawan. Aku berjalan di belakang Harry dan Jefri saat memasuki rumah.

Para tamu undangan tahu hubunganku dengan Harry. Begitu melihatku, mereka semua menunjukkan ekspresi menghina.

“Kok dia masih punya muka datang ke sini?”

“Dulu saja waktu belum selesai masa nifas, dia berlutut sehari semalam, Nyonya Fanny bahkan nggak mengizinkan anak pembawa sial itu ikut bermarga Gunawan.”

“Tapi kudengar anak pembawa sial itu sudah mati. Kok dia sebagai ibu masih sempat-sempatnya datang ke pesta ulang tahun?”

Setiap kata menusuk tepat di hatiku, tapi aku tak berani membantah. Aku takut membuat Harry marah.

Aku mengekor di belakang Harry dan Jefri menuju hadapan Fanny.

Fanny langsung mendengus dingin, sama sekali tak memberiku wajah di depan banyak orang.

“Kamu pakai baju hitam di hari ulang tahunku? Kamu mau mengutukku biar cepat mati?!”

Aku menunduk dan tidak berani menyahut. Aku tahu betul Fanny sengaja mencari gara-gara denganku.

Padahal banyak tamu lain yang memakai warna hitam, bahkan Harry dan Jefri pun memakai jas hitam, tapi hanya diriku yang dipermasalahkan.

Demi menjaga perasaan Harry, aku tetap diam.

Suasana pesta yang tadinya meriah, seketika menjadi sunyi senyap karena ucapan Fanny tadi.

Semua tatapan tertuju padaku. Meski bukan salahku, mereka semua tetap menatapku dengan tatapan merendahkan.

Tongkat Fanny diketukkan ke lantai dengan keras.

Mata keruhnya menatapku tanpa berkedip, “Putrimu sudah mati, lalu kamu mau aku jadi tumbal untuk menemaninya?”

Aku tak ingin memikul tuduhan seberat itu, lalu menjelaskan dengan suara pelan, “Aku nggak bermaksud….”

Namun, Fanny langsung mengayunkan tongkatnya ke arahku, tepat mengenai luka di punggungku yang terkena serpihan kaca tadi.

Aku mengerutkan kening menahan sakit, tapi tetap tak berani bersuara.

Dari sudut mataku, aku sempat melihat kilatan rasa iba di mata Harry.

Aku sangat terkejut, tapi saat diriku mencoba memastikannya, tatapannya sudah kembali dingin seperti biasa.

Detik berikutnya, dia pun berbicara,

“Ibu, kamu sendiri yang menyuruhku mengajaknya ke sini.”

Meski nadanya dingin, aku tahu dia sedang membelaku.

Fanny melototinya dan membentak,

“Tapi aku nggak menyuruh dia pakai baju hitam!”

Detik berikutnya, pengawal membawaku pergi.

Aku menatap Harry dengan tatapan memohon bantuan, tapi dia tetap tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Aku kembali dikurung di sebuah ruangan gelap yang sempit.

Dulu aku sudah sering dikurung di sini oleh Fanny, jadi sudah terbiasa.

Namun aku tak menyangka, ternyata ada ular di dalam kamar gelap hari ini!

Aku pernah digigit ular waktu kecil, jadi meninggalkan trauma yang mendalam!

Aku berteriak meminta tolong, “Tolong keluarkan aku! Ada ular di sini!”

Namun, tak ada satu pun orang yang menyahutku.

Aku berusaha menghindar, tapi masih bisa merasakan sentuhan kulit ular yang licin dan berlendir itu.

Setiap detiknya terasa seperti siksaan bagiku.

Sampai pada satu titik, aku pingsan sangking ketakutannya.

Saat terbangun, aku sudah berada di ranjang rumah sakit.

Sebelum membuka mata, aku mendengar suara yang sangat kukenal.

“Jefri, kamu ini keterlaluan!”

“Aku memang nggak berniat mengizinkan Jestine masuk ke aula leluhur, tapi kok kamu harus sekejam itu padanya?”

Seketika, suara Harry menghilang.

Butuh waktu lama baginya untuk kembali berkata,

“Nenek yang menyuruhmu melakukannya?”

Pada akhirnya, Harry tak banyak tanya lagi dan hanya menghela napas.

Namun, begitu mendengar kalimatnya yang mengatakan bahwa dia tak pernah berniat mengizinkan Jestine masuk ke aula leluhur, aku sudah tak sanggup terus mendengarkannya lagi.

Ternyata semua ini hanyalah jebakan. Harry sedang mempermainkanku.

Jika begitu, tidak ada gunanya lagi aku bertahan di Keluarga Gunawan.

Harry tak tahu kalau aku sudah sadar. Aku mendengarnya berjalan ke sisi ranjang.

“Ada urusan mendadak di kantor, aku akan menjengukmu lagi nanti malam.”

Setelah dia pergi, aku pun membuka mata dan mencabut jarum infus di tanganku.

Begitu sampai di vila Keluarga Gunawan, Jefri menatapku dengan tatapan bersalah, tapi aku tak punya waktu untuk meladeninya.

Aku segera menuju kamar dan mengambil papan arwah Jestine.

Jefri berteriak ke arah punggungku saat diriku pergi, “Dasar Pelakor, akhirnya kamu pergi juga!”

Langkahku sempat terhenti sejenak, tapi aku terus berjalan pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Sebelum tidur, Jefri menelepon Harry.

“Ayah, akhirnya si pelakor itu sudah pergi!”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Akhir Tragis Suamiku Bersama Sahabatnya   Bab 9

    Kakek Stevan menatap Harry dengan pandangan seolah bisa menembus segalanya, “Pak Harry, kamu bicara begitu, emangnya kamu sudah resmi menikah dengan Sofia?”Harry terkejut, lalu menjawab, “Belum.”Saat ini, dia pasti merasa sangat menyesal karena dulu tak pernah mengajakku membuat surat nikah.“Kalau begitu, kamu nggak bisa sembarangan menuduh Sofia begitu saja.”Mendengar itu, aku paham maksud kakek Stevan. Dia sedang melindungiku.Setelah disindir habis-habisan oleh kakek Stevan, Harry pun pergi dengan perasaan malu.Setelah pesta uang tahun berakhir, kakek Stevan memanggilku sendiri ke ruang kerjanya.Awalnya Stevan tak setuju, tapi aku meyakinkan bahwa diriku bisa menghadapinya sendiri.Sebelum masuk, perasaanku sangat gelisah. Aku mengira kakek Stevan akan mempersulitku seperti yang dilakukan Fanny dulu.Namun, ternyata tidak. Dia memintaku duduk di hadapannya dan menyambutku dengan sangat baik.“Sofia, aku sudah paham kejadian hari ini. Hubunganmu dengan Harry itu memang cukup ru

  • Akhir Tragis Suamiku Bersama Sahabatnya   Bab 8

    Setelah memakamkan Jestine, aku mengikuti Stevan kembali ke rumahnya.Aku mengucapkan terima kasih dengan tulus, “Stevan, terima kasih.”“Kak, nggak perlu sungkan denganku. Kalau nggak ada kamu dulu, aku pasti masih terus dirundung.”Ucapannya membangkitkan kenangan lamaku.Saat kuliah dulu, ada seorang adik kelas yang gemuk.Kakak kelas tingkat atas sering merundungnya dan lama-kelamaan teman seangkatannya pun ikut-ikutan mengganggunya.Sebenarnya aku bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain, tapi benar-benar tak tahan melihatnya. Jadi, aku pun maju untuk membelanya.Saat itu, aku sudah berpacaran dengan Harry. Karena semua orang segan terhadap Keluarga Gunawan, mereka pun memberi muka padaku. Jika dipikir-pikir sekarang, sebenarnya Harry yang menyelamatkannya dulu.“Kak, tinggal di sini saja. Harry nggak akan berani datang ke sini.”Aku menghela napas, “Nggak merepotkanmu?”Stevan tersenyum dan menjawab, “Nggak.”Hingga menerima telepon dari Harry lagi, aku baru meng

  • Akhir Tragis Suamiku Bersama Sahabatnya   Bab 7

    Mungkin karena melihatku tak kunjung naik ke mobil, Stevan sendiri yang akhirnya menghampiriku.“Nona Sofia, lama nggak berjumpa.”Aku mengerutkan kening menatapnya, bertanya, “Ada apa kamu mencariku?”Dia mendengus pelan, “Tentu saja ingin mengajak Nona Sofia bekerja sama.”“Kamu yakin nggak mau ikut denganku? Melihat keadaanmu sekarang, sepertinya kamu baru saja melarikan diri dari Keluarga Gunawan?”“Dengan kemampuan Harry, sepertinya dalam waktu sekejap saja dia sudah bisa menemukanmu.”Tentu saja yang dikatakan Stevan itu benar, tapi aku tetap ingin mengajukan satu syarat padanya.“Kamu bisa bantu aku membelikan lahan pemakaman untuk Jestine?”Stevan melirik papan arwah di tanganku, “Tentu saja bisa.”“Nona Sofia, senang bekerja sama denganmu.”Aku pun mengikuti di belakang Stevan dan naik ke mobilnya.Sesampainya di rumah Stevan, aku masih sangat waspada, tak berani lengah sedikit pun.“Kamu membawaku pulang begitu saja, istrimu nggak marah?”Stevan tampak terdiam sebentar, lalu

  • Akhir Tragis Suamiku Bersama Sahabatnya   Bab 6

    Harry menatapnya lekat-lekat tanpa menjawab, malah balik bertanya, “Jefri, kasih tahu ayah, kok Sofia bisa pergi tiba-tiba?”Jefri pun menceritakan semua hal yang telah dia lakukan. Semakin bercerita, dia semakin bersemangat.Namun, kening Harry malah berkerut dalam.Lama-kelamaan, Jefri menyadari ada yang tak beres. Dia tak berani lagi menatap mata Harry.Dengan ragu, dia bertanya, “Ayah, kok kamu diam saja?”Harry menatapnya dengan senyuman sinis yang dipaksakan, “Nggak apa-apa, lanjutkan lagi ceritamu.”“Nggak ada lagi yang ingin kuceritakan. Intinya, si Sofia benalu itu akhirnya pergi juga. Sekarang ayah bisa mencarikan ibu baru untukku.”Setelah mendengar itu, Harry menatap Jefri dengan mata yang memerah.Harry bergumam pelan, “Cari ibu baru?”Jefri mengira sarannya membuahkan hasil, dia pun segera mengangguk.“Iya ayah, kamu bisa mencarikan ibu baru untukku.”Harry mendengus dingin, “Kamu baru saja mengusir ibumu sendiri, kamu nggak sadar?”Jefri yang masih kecil tak mengerti ma

  • Akhir Tragis Suamiku Bersama Sahabatnya   Bab 5

    Jefri dengan wajah penuh air mata mencengkeram erat tangan pengasuhnya, tak berani melepaskannya.Awalnya dia ingin pamer pada Harry bahwa akhirnya dia berhasil mengusirku, tapi tak menyangka reaksi Harry akan seperti ini.Harry langsung menarik Jefri dari balik punggung pengasuhnya dan membentak kasar, “Bicara!”Jefri yang tadi sempat berhenti menangis karena takut, kini tangisannya meledak lagi. Air mata dan ingusnya berlepotan di wajah.Sambil menangis, dia merengek, “Ayah, jangan begini! Aku takut!”Namun, saat ini Harry tak peduli lagi. Dia hanya ingin segera tahu apa yang terjadi denganku.Bukannya melepaskan, cengkeramannya pada tangan Jefri malah semakin kuat.“Ayah, sakit!”Harry tak memedulikannya, dia tetap menarik lengannya dengan kuat.Kening Jefri berkerut menahan nyeri, dia pun terburu-buru berkata, “Ayah, aku bilang.”Jefri pikir dengan bicara begitu, Harry akan melepaskannya, tapi nyatanya tidak. Harry masih mencengkeram lengannya dengan tenaga yang kuat.Jefri merasa

  • Akhir Tragis Suamiku Bersama Sahabatnya   Bab 4

    Harry yang masih memimpin rapat internasional langsung bangkit dari kursinya begitu mendengar ucapan Jefri.Para pemegang saham lain di ruang rapat menatapnya dengan heran. Mereka tidak tahu apa yang bisa membuat Harry yang biasanya tenang dan berwibawa bisa kehilangan kendali seperti ini.Tanpa memedulikan rapat yang masih berlangsung, suara Harry terdengar sangat menakutkan, “Coba ulangi sekali lagi!”Jefri menyadari ada yang salah dengan nada bicara ayahnya. Seketika, kegembiraan di wajahnya pun sirna dan dia menjawab dengan terbata-bata,“Ayah, si pelakor sudah pergi….”Suaranya terdengar jauh lebih pelan. Harry tak memberikan kesempatan bagi Jefri untuk menghela napas, dia langsung bertanya lagi, “Kapan?!”Jefri yang masih kecil itu sudah gemetar ketakutan karena gertakan Harry. Wajahnya terlihat pucat, benar-benar tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.Tiba-tiba, Jefri menangis kencang.“Ayah, Jefri takut!”Dia belum pernah melihat sosok Harry yang semengerikan ini. Saat ini,

  • Akhir Tragis Suamiku Bersama Sahabatnya   Bab 2

    Setelah merapikan serpihan papan arwah Jestine, aku berdiri terdiam, merenungi betapa tragisnya hidupku ini.Putriku adalah darah daging Keluarga Gunawan, tapi malah tak diakui.Putra kandungku sendiri juga tak mau mengakuiku sebagai ibunya.Pria yang seharusnya menjadi suamiku, malah berakhir menja

  • Akhir Tragis Suamiku Bersama Sahabatnya   Bab 1

    Aku menunduk menatap papan arwah yang hancur berkeping-keping di lantai, perasaanku campur aduk.Putriku yang malang bahkan saat mati pun tak bisa tenang.Baru saja aku membungkuk untuk memungut sisa-sisa papan arwah itu, tiba-tiba seseorang menendangnya hingga terpental.Aku mendongak, menatap Jefr

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status