เข้าสู่ระบบKakek Stevan menatap Harry dengan pandangan seolah bisa menembus segalanya, “Pak Harry, kamu bicara begitu, emangnya kamu sudah resmi menikah dengan Sofia?”Harry terkejut, lalu menjawab, “Belum.”Saat ini, dia pasti merasa sangat menyesal karena dulu tak pernah mengajakku membuat surat nikah.“Kalau begitu, kamu nggak bisa sembarangan menuduh Sofia begitu saja.”Mendengar itu, aku paham maksud kakek Stevan. Dia sedang melindungiku.Setelah disindir habis-habisan oleh kakek Stevan, Harry pun pergi dengan perasaan malu.Setelah pesta uang tahun berakhir, kakek Stevan memanggilku sendiri ke ruang kerjanya.Awalnya Stevan tak setuju, tapi aku meyakinkan bahwa diriku bisa menghadapinya sendiri.Sebelum masuk, perasaanku sangat gelisah. Aku mengira kakek Stevan akan mempersulitku seperti yang dilakukan Fanny dulu.Namun, ternyata tidak. Dia memintaku duduk di hadapannya dan menyambutku dengan sangat baik.“Sofia, aku sudah paham kejadian hari ini. Hubunganmu dengan Harry itu memang cukup ru
Setelah memakamkan Jestine, aku mengikuti Stevan kembali ke rumahnya.Aku mengucapkan terima kasih dengan tulus, “Stevan, terima kasih.”“Kak, nggak perlu sungkan denganku. Kalau nggak ada kamu dulu, aku pasti masih terus dirundung.”Ucapannya membangkitkan kenangan lamaku.Saat kuliah dulu, ada seorang adik kelas yang gemuk.Kakak kelas tingkat atas sering merundungnya dan lama-kelamaan teman seangkatannya pun ikut-ikutan mengganggunya.Sebenarnya aku bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain, tapi benar-benar tak tahan melihatnya. Jadi, aku pun maju untuk membelanya.Saat itu, aku sudah berpacaran dengan Harry. Karena semua orang segan terhadap Keluarga Gunawan, mereka pun memberi muka padaku. Jika dipikir-pikir sekarang, sebenarnya Harry yang menyelamatkannya dulu.“Kak, tinggal di sini saja. Harry nggak akan berani datang ke sini.”Aku menghela napas, “Nggak merepotkanmu?”Stevan tersenyum dan menjawab, “Nggak.”Hingga menerima telepon dari Harry lagi, aku baru meng
Mungkin karena melihatku tak kunjung naik ke mobil, Stevan sendiri yang akhirnya menghampiriku.“Nona Sofia, lama nggak berjumpa.”Aku mengerutkan kening menatapnya, bertanya, “Ada apa kamu mencariku?”Dia mendengus pelan, “Tentu saja ingin mengajak Nona Sofia bekerja sama.”“Kamu yakin nggak mau ikut denganku? Melihat keadaanmu sekarang, sepertinya kamu baru saja melarikan diri dari Keluarga Gunawan?”“Dengan kemampuan Harry, sepertinya dalam waktu sekejap saja dia sudah bisa menemukanmu.”Tentu saja yang dikatakan Stevan itu benar, tapi aku tetap ingin mengajukan satu syarat padanya.“Kamu bisa bantu aku membelikan lahan pemakaman untuk Jestine?”Stevan melirik papan arwah di tanganku, “Tentu saja bisa.”“Nona Sofia, senang bekerja sama denganmu.”Aku pun mengikuti di belakang Stevan dan naik ke mobilnya.Sesampainya di rumah Stevan, aku masih sangat waspada, tak berani lengah sedikit pun.“Kamu membawaku pulang begitu saja, istrimu nggak marah?”Stevan tampak terdiam sebentar, lalu
Harry menatapnya lekat-lekat tanpa menjawab, malah balik bertanya, “Jefri, kasih tahu ayah, kok Sofia bisa pergi tiba-tiba?”Jefri pun menceritakan semua hal yang telah dia lakukan. Semakin bercerita, dia semakin bersemangat.Namun, kening Harry malah berkerut dalam.Lama-kelamaan, Jefri menyadari ada yang tak beres. Dia tak berani lagi menatap mata Harry.Dengan ragu, dia bertanya, “Ayah, kok kamu diam saja?”Harry menatapnya dengan senyuman sinis yang dipaksakan, “Nggak apa-apa, lanjutkan lagi ceritamu.”“Nggak ada lagi yang ingin kuceritakan. Intinya, si Sofia benalu itu akhirnya pergi juga. Sekarang ayah bisa mencarikan ibu baru untukku.”Setelah mendengar itu, Harry menatap Jefri dengan mata yang memerah.Harry bergumam pelan, “Cari ibu baru?”Jefri mengira sarannya membuahkan hasil, dia pun segera mengangguk.“Iya ayah, kamu bisa mencarikan ibu baru untukku.”Harry mendengus dingin, “Kamu baru saja mengusir ibumu sendiri, kamu nggak sadar?”Jefri yang masih kecil tak mengerti ma
Jefri dengan wajah penuh air mata mencengkeram erat tangan pengasuhnya, tak berani melepaskannya.Awalnya dia ingin pamer pada Harry bahwa akhirnya dia berhasil mengusirku, tapi tak menyangka reaksi Harry akan seperti ini.Harry langsung menarik Jefri dari balik punggung pengasuhnya dan membentak kasar, “Bicara!”Jefri yang tadi sempat berhenti menangis karena takut, kini tangisannya meledak lagi. Air mata dan ingusnya berlepotan di wajah.Sambil menangis, dia merengek, “Ayah, jangan begini! Aku takut!”Namun, saat ini Harry tak peduli lagi. Dia hanya ingin segera tahu apa yang terjadi denganku.Bukannya melepaskan, cengkeramannya pada tangan Jefri malah semakin kuat.“Ayah, sakit!”Harry tak memedulikannya, dia tetap menarik lengannya dengan kuat.Kening Jefri berkerut menahan nyeri, dia pun terburu-buru berkata, “Ayah, aku bilang.”Jefri pikir dengan bicara begitu, Harry akan melepaskannya, tapi nyatanya tidak. Harry masih mencengkeram lengannya dengan tenaga yang kuat.Jefri merasa
Harry yang masih memimpin rapat internasional langsung bangkit dari kursinya begitu mendengar ucapan Jefri.Para pemegang saham lain di ruang rapat menatapnya dengan heran. Mereka tidak tahu apa yang bisa membuat Harry yang biasanya tenang dan berwibawa bisa kehilangan kendali seperti ini.Tanpa memedulikan rapat yang masih berlangsung, suara Harry terdengar sangat menakutkan, “Coba ulangi sekali lagi!”Jefri menyadari ada yang salah dengan nada bicara ayahnya. Seketika, kegembiraan di wajahnya pun sirna dan dia menjawab dengan terbata-bata,“Ayah, si pelakor sudah pergi….”Suaranya terdengar jauh lebih pelan. Harry tak memberikan kesempatan bagi Jefri untuk menghela napas, dia langsung bertanya lagi, “Kapan?!”Jefri yang masih kecil itu sudah gemetar ketakutan karena gertakan Harry. Wajahnya terlihat pucat, benar-benar tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.Tiba-tiba, Jefri menangis kencang.“Ayah, Jefri takut!”Dia belum pernah melihat sosok Harry yang semengerikan ini. Saat ini,
Setelah merapikan serpihan papan arwah Jestine, aku berdiri terdiam, merenungi betapa tragisnya hidupku ini.Putriku adalah darah daging Keluarga Gunawan, tapi malah tak diakui.Putra kandungku sendiri juga tak mau mengakuiku sebagai ibunya.Pria yang seharusnya menjadi suamiku, malah berakhir menja
Aku menunduk menatap papan arwah yang hancur berkeping-keping di lantai, perasaanku campur aduk.Putriku yang malang bahkan saat mati pun tak bisa tenang.Baru saja aku membungkuk untuk memungut sisa-sisa papan arwah itu, tiba-tiba seseorang menendangnya hingga terpental.Aku mendongak, menatap Jefr







