MasukDi hari putriku meninggal, aku berniat meletakkan papan arwahnya di aula leluhur Keluarga Gunawan. Namun, Jefri Gunawan yang berusia lima tahun malah melempar papan itu ke lantai dan menginjak-injaknya sampai hancur berantakan. “Dia bukan anak Keluarga Gunawan, apa haknya diletakkan di sini? Bahkan kalau kamu mati pun, aku nggak akan sudi menaruh papan namamu di sini!” Aku melirik ke arah papan arwah seorang wanita yang terpajang di aula itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Begitu melihat arah pandanganku, Jefri langsung berdiri menghalangi penglihatanku. “Kamu pikir kamu siapa?! Emangnya kamu pantas dibandingkan dengan ibuku?!” “Pelakor selamanya akan jadi pelakor! Selamanya nggak akan pernah punya harga diri!” Aku tak menyangka anak yang kubesarkan dengan tanganku sendiri, ternyata bisa begitu mirip dengan ayahnya. Menatap putra kandungku yang berdiri di hadapanku, aku pun jatuh ke dalam keputusasaan yang tak berdasar. “Jangan kira karena sudah mengurusku beberapa tahun, kamu bisa jadi ibu kandungku. Ibuku hanya satu selamanya!” “Kalau hebat, pergilah dari rumahku!” Dia tak tahu kalau papan arwah yang dia hancurkan itu adalah milik kakak kandungnya sendiri. Namun semuanya sudah tak penting lagi. Putriku sudah tiada dan tak ada gunanya lagi aku bertahan di sini. “Nggak perlu mengusirku, aku akan pergi hari ini juga.”
Lihat lebih banyakKakek Stevan menatap Harry dengan pandangan seolah bisa menembus segalanya, “Pak Harry, kamu bicara begitu, emangnya kamu sudah resmi menikah dengan Sofia?”Harry terkejut, lalu menjawab, “Belum.”Saat ini, dia pasti merasa sangat menyesal karena dulu tak pernah mengajakku membuat surat nikah.“Kalau begitu, kamu nggak bisa sembarangan menuduh Sofia begitu saja.”Mendengar itu, aku paham maksud kakek Stevan. Dia sedang melindungiku.Setelah disindir habis-habisan oleh kakek Stevan, Harry pun pergi dengan perasaan malu.Setelah pesta uang tahun berakhir, kakek Stevan memanggilku sendiri ke ruang kerjanya.Awalnya Stevan tak setuju, tapi aku meyakinkan bahwa diriku bisa menghadapinya sendiri.Sebelum masuk, perasaanku sangat gelisah. Aku mengira kakek Stevan akan mempersulitku seperti yang dilakukan Fanny dulu.Namun, ternyata tidak. Dia memintaku duduk di hadapannya dan menyambutku dengan sangat baik.“Sofia, aku sudah paham kejadian hari ini. Hubunganmu dengan Harry itu memang cukup ru
Setelah memakamkan Jestine, aku mengikuti Stevan kembali ke rumahnya.Aku mengucapkan terima kasih dengan tulus, “Stevan, terima kasih.”“Kak, nggak perlu sungkan denganku. Kalau nggak ada kamu dulu, aku pasti masih terus dirundung.”Ucapannya membangkitkan kenangan lamaku.Saat kuliah dulu, ada seorang adik kelas yang gemuk.Kakak kelas tingkat atas sering merundungnya dan lama-kelamaan teman seangkatannya pun ikut-ikutan mengganggunya.Sebenarnya aku bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain, tapi benar-benar tak tahan melihatnya. Jadi, aku pun maju untuk membelanya.Saat itu, aku sudah berpacaran dengan Harry. Karena semua orang segan terhadap Keluarga Gunawan, mereka pun memberi muka padaku. Jika dipikir-pikir sekarang, sebenarnya Harry yang menyelamatkannya dulu.“Kak, tinggal di sini saja. Harry nggak akan berani datang ke sini.”Aku menghela napas, “Nggak merepotkanmu?”Stevan tersenyum dan menjawab, “Nggak.”Hingga menerima telepon dari Harry lagi, aku baru meng
Mungkin karena melihatku tak kunjung naik ke mobil, Stevan sendiri yang akhirnya menghampiriku.“Nona Sofia, lama nggak berjumpa.”Aku mengerutkan kening menatapnya, bertanya, “Ada apa kamu mencariku?”Dia mendengus pelan, “Tentu saja ingin mengajak Nona Sofia bekerja sama.”“Kamu yakin nggak mau ikut denganku? Melihat keadaanmu sekarang, sepertinya kamu baru saja melarikan diri dari Keluarga Gunawan?”“Dengan kemampuan Harry, sepertinya dalam waktu sekejap saja dia sudah bisa menemukanmu.”Tentu saja yang dikatakan Stevan itu benar, tapi aku tetap ingin mengajukan satu syarat padanya.“Kamu bisa bantu aku membelikan lahan pemakaman untuk Jestine?”Stevan melirik papan arwah di tanganku, “Tentu saja bisa.”“Nona Sofia, senang bekerja sama denganmu.”Aku pun mengikuti di belakang Stevan dan naik ke mobilnya.Sesampainya di rumah Stevan, aku masih sangat waspada, tak berani lengah sedikit pun.“Kamu membawaku pulang begitu saja, istrimu nggak marah?”Stevan tampak terdiam sebentar, lalu
Harry menatapnya lekat-lekat tanpa menjawab, malah balik bertanya, “Jefri, kasih tahu ayah, kok Sofia bisa pergi tiba-tiba?”Jefri pun menceritakan semua hal yang telah dia lakukan. Semakin bercerita, dia semakin bersemangat.Namun, kening Harry malah berkerut dalam.Lama-kelamaan, Jefri menyadari ada yang tak beres. Dia tak berani lagi menatap mata Harry.Dengan ragu, dia bertanya, “Ayah, kok kamu diam saja?”Harry menatapnya dengan senyuman sinis yang dipaksakan, “Nggak apa-apa, lanjutkan lagi ceritamu.”“Nggak ada lagi yang ingin kuceritakan. Intinya, si Sofia benalu itu akhirnya pergi juga. Sekarang ayah bisa mencarikan ibu baru untukku.”Setelah mendengar itu, Harry menatap Jefri dengan mata yang memerah.Harry bergumam pelan, “Cari ibu baru?”Jefri mengira sarannya membuahkan hasil, dia pun segera mengangguk.“Iya ayah, kamu bisa mencarikan ibu baru untukku.”Harry mendengus dingin, “Kamu baru saja mengusir ibumu sendiri, kamu nggak sadar?”Jefri yang masih kecil tak mengerti ma






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.