Short
Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan

Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan

Oleh:  CarenaTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Bab
3Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Aku memiliki gangguan pendengaran ringan. Telinga kananku tidak bisa menangkap suara dengan jelas. Sejak kecil, Levi selalu suka berdiri di sebelah kananku. Dia berkata, "Dengan begitu, kalau ada yang jelek-jelekin kamu, aku akan dengar duluan." Kemudian, kami bertunangan. Undangan pernikahan kami juga sudah dicetak. Semua orang mengatakan aku beruntung karena memiliki kekasih masa kecil yang telah melindungiku selama belasan tahun. Semuanya berjalan lancar, sampai Lyra pindah ke perusahaan Levi. Dia cantik, bersinar, dan selalu tersenyum saat berbicara. Dalam pertemuan pertama kami, Lyra menatap alat bantu dengarku begitu lama. Kemudian, dia tersenyum dan bertanya pada Levi, "Dengan kondisi seperti ini, apa dia bisa dengar kata-kata manismu di malam hari?" Wajahku memucat, tetapi Levi hanya mengerutkan kening. "Lyra ngomongnya memang ceplas-ceplos, jangan diambil hati." Pada hari gladi resik pernikahan, aku berdiri di luar pintu dan mendengar Lyra membaca sumpahku sambil tertawa, "Levi, aku bersedia menjadi telingamu, tongkat penopangmu, dan kerepotanmu seumur hidup." Semua orang di dalam ruangan tertawa terbahak-bahak. Levi juga ikut tertawa. "Jangan asal ubah. Dia akan marah kalau mendengarnya." Lyra bertanya, "Jadi, kamu masih akan menikahinya?" Levi terdiam sesaat sebelum menjawab, "Undangannya sudah dikirim. Apa lagi yang bisa kulakukan?" Aku berdiri di ujung koridor. Payung yang diberikan Levi masih meneteskan air. Saat ini, aku tiba-tiba tidak ingin masuk lagi.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1 

Ketika Levi keluar, aku sedang menyeka air dari tanganku. Langkahnya terhenti sejenak.

"Kapan kamu sampai di sini?"

Aku menatapnya. "Baru saja."

Lyra mengikutinya sambil tersenyum alami. "Kak Eve, tadi kami cuma bercanda. Kamu nggak mendengarnya, 'kan?"

Lyra sengaja berdiri di sebelah kananku, tepat di sisi pendengaranku kurang bagus.

Levi mengerutkan kening dan meliriknya. "Jangan usil."

Lyra menjulurkan lidahnya. "Iya, iya, aku nggak usil lagi. Tapi, pendengaran Kak Eve kan memang kurang baik. Mulai sekarang, aku pasti akan berdiri di sebelah kirinya."

Ucapan Lyra terkesan seperti bentuk perhatian. Namun, para pengiring pengantin wanita dan pria di sekitarku tertawa.

Aku menatap Levi. Setiap kali ada yang bercanda tentang pendengaranku dulu, dia pasti akan langsung marah. Dia pernah berkata bahwa memiliki pendengaran yang kurang baik bukanlah salahku. Yang seharusnya merasa malu adalah orang yang bersikap tidak sopan.

Sekarang, dia hanya mengambil kertas berisi sumpah pernikahanku dari tangan Lyra, lalu memberikannya kepadaku. "Jangan terlalu dipikirkan. Dia ngomongnya memang ceplas-ceplos."

Aku mengambil kertas itu. Kata-kata di atasnya sudah dicoret hingga terlihat berantakan.

Awalnya, aku menulis "Terima kasih telah menjadi telinga kananku selama belasan tahun". Akan tetapi, Lyra mengubahnya menjadi "Terima kasih telah sabar menghadapi orang merepotkan sepertiku selama belasan tahun".

Aku menekan ujung jariku ke baris itu. Kertas itu sedikit basah karena tertetes air hujan.

Levi melihatnya dan hendak mengambilnya. "Aku akan minta orang untuk cetak ulang salinannya."

Aku mundur selangkah. "Nggak perlu."

Tangannya membeku di udara.

"Evelyn."

Dia memanggilku dengan nama lengkapku. Aku tahu dia tidak senang.

Lyra berdeham pelan dan berkata, "Levi, jangan begitu galak ke Kak Eve. Dia pasti berpikir aku sudah curi perhatian darinya."

Levi memijat pelipisnya.

"Memangnya yang kukatakan salah?" Lyra menatapku sambil tersenyum. "Gimanapun, ini gladi resik pernikahan kalian, tapi perhatian semua orang malah tertuju padaku. Wajar saja Kak Eve nggak senang."

Seseorang mencoba meredakan situasi dengan berkata, "Sudah, sudah. Ini cuma konflik kecil sebelum pernikahan. Evelyn, jangan marah. Levi sudah baik banget ke kamu."

Levi sepertinya sudah disadarkan oleh kata-kata itu. Dia berjalan mendekat dan menggenggam tanganku. "Ayo jalan, kuantar kamu pulang. Di luar hujan deras."

Telapak tangannya masih terasa hangat. Namun, aku tiba-tiba teringat apa yang dia katakan sebelumnya, "Undangannya sudah dikirim. Apa lagi yang bisa kulakukan?"

Ternyata, dia menikahiku bukan karena itu adalah keinginannya, melainkan karena membatalkannya akan merepotkan.

Aku menarik tanganku dengan pelan dan menjawab, "Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri."

Levi menatap telapak tangannya yang kosong. Ekspresinya berubah muram. "Ada apa lagi denganmu?"

Lagi. Begitu mendengar kata itu, telingaku berdengung sesaat.

Lyra melangkah maju. Suaranya melembut. "Kak Eve, aku benar-benar nggak bermaksud begitu. Kalau nggak, aku minta maaf deh."

Saat berbicara, Lyra hendak membungkuk, tetapi Levi menahannya.

Lyra bersandar di lengannya, lalu mengedipkan mata padaku. "Lihat, dia masih peduli padaku."

Suasana di pintu masuk hening sesaat.

Levi segera melepaskan Lyra dan terlihat agak canggung. "Evelyn, dia cuma asal ngomong."

Aku pun mengangguk.

Levi menatapku, seolah-olah menungguku melanjutkan amukanku. Namun, aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya melipat kertas berisi sumpah pernikahan itu dan memasukkannya ke dalam tas. "Aku pamit dulu."

Levi mengulurkan tangan untuk menghentikanku. "Pernikahan kita akan berlangsung seminggu lagi. Kamu malah mau merajuk sekarang?"

Aku melirik jam tangan di pergelangan tangan Levi. Itu adalah hadiah ulang tahun yang kuberikan padanya tahun lalu. Ada sebaris kalimat terukir di bagian dalam talinya.

[ Janji selamanya. ]

Saat menerimanya, Levi tertawa dan berkata kalimat itu terlalu sentimental. Namun, dia memakai jam tangan itu setiap hari. Sekarang, tangan yang menghalangi jalanku terasa seperti belenggu.

Aku berkata dengan pelan, "Levi, aku sedikit lelah."

Keningnya berkerut makin dalam. "Kalau lelah, tidurlah lagi. Jangan merajuk di saat-saat seperti ini."

Lyra menjulurkan kepala dari belakang Levi dan berujar, "Kak Eve, ada banyak hal yang harus diurus selama beberapa hari ke depan. Kalau kamu merasa nggak enak badan, aku bisa gantikan kamu naik ke panggung untuk gladi resik. Lagian, aku cukup lancar saat bacakan sumpahmu tadi."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
10 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status