Short
Jendela Senja dan Tahun-Tahun yang Berlalu

Jendela Senja dan Tahun-Tahun yang Berlalu

By:  LollyCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
20Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dalam paruh pertama kehidupannya, Valeska Raharja adalah sebuah kisah sukses yang nyaris tanpa cela. Dia adalah putri keluarga terpandang, lulusan universitas ternama, dan berhasil mengambil alih perusahaan keluarga pada usia 23 tahun. Hanya dalam waktu setahun, dia berhasil melipatgandakan keuntungan perusahaan. Dia cerdas dan cantik. Dalam kamus hidupnya, tidak pernah ada sesuatu yang tidak bisa didapatkannya. Sampai akhirnya, dia bertemu Jovian Adhira. Valeska mencoba berbagai cara untuk mengejarnya, tetapi selalu ditolak berkali-kali. Dia menyewa layar iklan raksasa untuk menyatakan cinta hingga menghebohkan seluruh kota, tetapi Jovian sama sekali tidak bereaksi. Dia mengendarai supercar edisi terbatas untuk menjemput Jovian sepulang kerja, tetapi pria itu malah berjalan menuju halte bus. Dia bahkan rela melepas tender bernilai ratusan triliun hanya demi mengajak Jovian minum kopi. Namun, Jovian menolak dengan kening berkerut dan berkata bahwa bisnis bukanlah permainan. Semua penolakan itu justru semakin membangkitkan ketertarikan Valeska. Akhirnya, untuk pertama kali dalam hidupnya, dia menemukan sesuatu yang benar-benar layak untuk ditaklukkan.

View More

Chapter 1

Bab 1

Setelah Valeska mendonorkan sumsum tulangnya dan menyelamatkan ibu Jovian, pria itu menerima lamaran pernikahannya.

Pada hari pernikahan mereka, Valeska baru mengetahui dari para tamu bahwa Jovian pernah memiliki cinta pertama yang meninggal di usia muda. Jari-jarinya mengencang, sementara senyumnya justru semakin memesona.

Apa yang bisa dilakukan orang yang sudah mati untuk merebut Jovian darinya? Apa pun yang diinginkan Valeska, tidak pernah ada yang gagal dia dapatkan.

Namun, kemudian Samara muncul.

Pemilik kedai bakpao itu memiliki wajah yang nyaris sama persis dengan cinta pertama Jovian.

Sejak saat itu, Jovian berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda.

Dia rela mengantre selama setengah jam untuk membeli bakpao dari kedai Samara. Saat hujan, dia rela memutar jalan untuk menjemput Samara sepulang kerja. Bahkan hanya karena Samara batuk sedikit saja, Jovian langsung menghubungi dokter pribadinya.

Valeska menyaksikan semua itu dengan sikap dingin. Harga diri yang terpatri dalam dirinya seolah diinjak-injak tanpa ampun. Karena itu, dia pun mulai bertindak, dan tindakannya semakin lama semakin terang-terangan.

Dia melaporkan kedai bakpao Samara karena masalah keselamatan kebakaran. Sore itu juga, Jovian datang membawa seluruh dokumen yang membuktikan kedai tersebut telah memenuhi peraturan dan segera menyelesaikan masalahnya.

Valeska menyuruh orang menyiramkan cat merah di depan kedai. Keesokan harinya, Jovian membawa tim kebersihan dan ikut membersihkannya sendiri.

Valeska menekan pemilik bangunan agar mengusir Samara. Sehari kemudian, Jovian langsung menyewakan tempat baru dengan lokasi yang jauh lebih strategis untuk Samara.

Pertarungan itu berlangsung cukup lama, hingga Jovian pulang dari perjalanan bisnis.

Hari itu, Valeska mengemudi sendiri ke bandara untuk menjemputnya. Baru saja mobil mereka memasuki jalan tol, Jovian menerima kabar bahwa Samara dirawat di rumah sakit.

Jovian akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Dia menoleh kepada Valeska dan menuduhnya, "Kamu nyuruh orang ganggu Samara lagi?"

"Kalau iya, memangnya kenapa?" Valeska sedikit mengangkat dagu dan suaranya sarat ejekan. "Dia cuma penjual bakpao. Memangnya pantas sampai kamu ...."

"Cukup." Jovian memotong ucapannya. Kelelahan yang mendalam terdengar dalam suaranya, "Apa yang harus kulakukan supaya kamu mau berhenti mengganggunya?"

Valeska tertawa, tetapi sorot matanya sedingin es.

"Nggak mungkin. Selama dia masih ada, aku nggak akan pernah tenang."

"Kalau kamu marah, lampiaskan saja padaku." Jovian menatapnya dan berkata perlahan, "Aku yang mendekatinya lebih dulu. Samara sama sekali nggak tahu apa-apa."

Jari-jari Valeska mengepal erat. Saking marahnya, dia malah tertawa.

"Baiklah. Kalau begitu, mati saja demi dia. Kalau kamu mati, aku akan melepaskannya."

Begitu kata-kata itu terlontar, Jovian benar-benar membuka pintu mobil dan melompat keluar tanpa ragu sedikit pun.

"Jovian!"

Valeska menjerit dan langsung menginjak rem sekuat tenaga.

Ketika dia berlari menghampirinya, Jovian sudah tergeletak beberapa meter dari sana dengan genangan darah yang terus melebar di bawah tubuhnya.

"Kamu sudah gila?!"

Dengan tangan gemetar, Valeska ingin menyentuhnya, tetapi dia bahkan tidak tahu bagian mana yang aman untuk disentuh.

Bulu mata Jovian bergetar beberapa kali. Di luar dugaan, dia masih memaksakan diri untuk membuka mata. Dia menatap Valeska dan berkata dengan suara yang nyaris tak terdengar, "Sekarang ... sudah cukup?"

Setelah berkata demikian, dia benar-benar kehilangan kesadaran.

"Ambulans! Cepat panggil ambulans!"

Di rumah sakit, lampu merah di atas ruang operasi sudah menyala selama tiga jam.

Valeska duduk terpaku. Tubuhnya dipenuhi noda darah yang sudah mengering. Dia tidak membersihkannya sedikit pun. Tatapannya hanya tertuju pada pintu ruang operasi, sementara adegan Jovian melompat keluar dari mobil terus terulang di benaknya.

Demi Samara, Jovian bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.

Suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar. Ibu Jovian datang. Begitu melihat Valeska, dia langsung berlutut di hadapan wanita itu.

Valeska terkejut dan buru-buru berdiri.

"Bu, kenapa Ibu ...."

"Valeska." Ibu Jovian mendongak menatapnya dengan air mata yang membasahi wajahnya. "Aku akan menukar nyawaku demi kebebasan putraku. Apa itu cukup?"

"Tolong lepaskan dia. Kamu hampir membuatnya mati."

Valeska mematung di tempat.

Dengan tangan gemetar, Ibu Jovian mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya dan menyerahkannya. Itu adalah laporan diagnosis psikologis.

Jovian mengidap penyakit depresi berat dan kondisi itu sudah berlangsung selama tiga tahun. Selain itu, penyakit itu mulai muncul tepat pada hari pernikahan mereka.

"Setelah setuju menikahimu, dia mulai nggak bisa tidur setiap malam," ujar Ibu Jovian sambil terisak-isak.

"Dia merasa bersalah pada cinta pertamanya. Dia merasa telah mengkhianatinya. Baru setelah bertemu Samara, dia akhirnya bisa sedikit bernapas lega."

Valeska menggenggam laporan itu. Tepi kertasnya menggores telapak tangannya hingga terasa sakit.

Ternyata menikah dengannya adalah sesuatu yang begitu menyakitkan bagi Jovian.

Padahal dulu, Jovian pernah mengatakan sendiri kepadanya, "Aku merasa sangat nyaman saat bersamamu."

Selama tiga tahun pernikahan mereka, Jovian selalu menjadi suami yang nyaris tak bercela. Dia ingat Valeska suka melukis, jadi dia membangunkan studio lukis terbaik untuk Valeska. Namun, dia tidak pernah sekali pun masuk ke ruangan itu untuk melihat hasil lukisan Valeska.

Jovian mengingat setiap hari jadi mereka. Hadiahnya selalu produk terbaru dari merek mewah, tetapi tidak pernah sekali pun dia menyerahkannya langsung kepada Valeska.

Namun, Valeska tidak pernah merasa gagal.

Dalam prinsip hidupnya, tidak ada sesuatu yang tidak bisa dia dapatkan.

Di matanya, sikap Jovian yang selalu menjaga jarak ini hanyalah tantangan paling sulit sekaligus paling menarik yang harus dia taklukkan.

Sampai kemunculan Samara menghancurkan seluruh keyakinannya.

Jovian ingat Samara tidak boleh makan pedas saat sedang menstruasi. Dia bahkan rela turun tangan sendiri untuk memasakkan mi dengan rasa yang lebih hambar untuk Samara.

Di mobilnya juga selalu tersedia teh melati kesukaan Samara.

Perhatian dan kelembutan sedetail itu tidak pernah Valeska dapatkan sekali pun.

Itulah sebabnya dia terus menyerang Samara seperti sudah kehilangan akal sehat, seakan-akan jika wanita itu menghilang, semuanya akan kembali seperti semula.

Baru pada saat itulah Valeska akhirnya mengerti bahwa sesuatu yang didapatkan dengan paksaan, sejak awal memang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Valeska memejamkan mata. Ketika membukanya kembali, sorot membara di matanya telah padam. Dia membungkuk dan membantu ibu Jovian berdiri. Suaranya sangat pelan, tetapi terdengar jelas.

"Ibu, berdirilah. Aku janji akan memberinya kebebasan."

Valeska tidak menunggu Jovian keluar dari ruang operasi. Dia berbalik dan meninggalkan rumah sakit. Dia tidak memanggil sopir, hanya berjalan seorang diri menyusuri jalan tanpa tujuan.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan multimedia masuk dari nomor tak dikenal. Valeska membukanya dan sebuah laporan pemeriksaan kehamilan langsung terpampang di layar.

[ Nama pasien: Samara. ]

Di bawahnya terdapat sebuah pesan.

[ Bu Valeska, aku hamil. Anak ini adalah anak Jovian. Demi anak ini, kumohon lepaskan kami. ]

Valeska menatap foto itu, lalu tiba-tiba tertawa.

Namun di tengah tawanya, air mata mendadak mengalir dan jatuh membasahi layar ponsel, membuat foto laporan pemeriksaan kehamilan itu menjadi buram.

Selama tiga tahun menikah, Valeska berkali-kali mengatakan bahwa dia ingin memiliki anak.

Saat bulan madu, dia pernah bersandar di bahu Jovian dan berkata penuh harap, "Kita punya anak, yuk."

Jovian menatap lautan di kejauhan dan menjawab dengan datar, "Nggak usah buru-buru."

Setelah itu, setiap kali Valeska membicarakannya, Jovian selalu mencari berbagai alasan untuk menghindar. Kariernya sedang menanjak, dia belum siap, atau dia masih ingin menikmati kehidupan berdua.

Sekarang Valeska akhirnya mengerti. Semua itu bukan karena Jovian tidak menginginkan anak. Dia hanya tidak menginginkan anak bersama Valeska.

Valeska mendongakkan kepala dan menghapus air matanya dengan tegas, lalu menelepon Jerry.

"Jerry," katanya dengan suara yang sudah kembali tenang. "Siapkan surat perjanjian cerai untukku."

"Selain itu, kirimkan hadiah untuk menyambut kelahiran anak Jovian atas namaku."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
20 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status