Beranda / Historical / Akhir Yang Indah Untuk Duke / 01. Jiwa Elina Tersasar!

Share

Akhir Yang Indah Untuk Duke
Akhir Yang Indah Untuk Duke
Penulis: Miss Kyo

01. Jiwa Elina Tersasar!

Penulis: Miss Kyo
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-25 16:38:17

Gelap.

Elina menggapai udara berulang kali. Tidak ada satu pun cahaya di sana. Ia menoleh ke segala arah sembari berjala tanpa arah.

"Tolong selamatkan tubuhku!"

Elina dengan cepat menoleh ke belakang. "Siapa di sana?!"

"Kamu ... kamu pasti bisa menyelamatkan tubuhku!"

"Siapa kamu? Aku tidak bisa melihat apa-apa!" teriak Elina.

"Jalan lurus ke depan, jangan menoleh ke belakang. Kamu akan menemukan cahaya untuk pulang."

Tiba-tiba saja di belakang Elina seperti terdengar suara hewan buas. Secepat mungkin ia berlari, lurus tanpa menoleh seperti yang dikatakan sosok tak kasat mata tersebut.

Haaahhhh!!!"

Elina menarik napas dalam-dalam saat kedua matanya terbuka. Tubuhnya yang semula terbaring langsung dipaksa duduk.

"Nona sudah bangun!"

Elina menoleh ke arah suara tersebut. Ia sangat terkejut melihat banyak sekali orang berpakaian seperti pelayan. Ia mengerutkan dahinya begitu melihat ruangan yang begitu menyilaukan mata.

"I-ini ... di mana?"

Elina sontak menutup mulutnya saat ia mengucapkan bahasa asing. Padahal selama ini ia tidak pernah belajar bahasa tersebut.

"Apa ada bagian tubuh Nona yang sakit?"

Elina langsung melompat dari kasurnya saat seorang pelayan mencoba menyentuhnya. Ia melempar bantal ke arah orang-orang tersebut.

"Jangan berani mendekat!" seru Elina.

"Mika, lebih baik kita keluar saja. Seperti kata nyonya, dia sudah tidak waras."

Perlahan orang-orang yang ada di ruangan itu keluar. Elina langsung berkeliling ruangan mencari cermin. Seingatnya ia sudah mati saat kecelakaan lift. Tapi mengapa saat ini ia ada di tempat aneh ini.

Setibanya di depan cermin besar, Elina langsung mematung. Ia tidak melihat dirinya di cermin, hanya ada pantulan sosok yang begitu menawan. Namun wajahnya seperti tidak asing. Ia pernah melihat wajah ini di suatu tempat.

Brak!!

"Ellisha De Faelwen!"

Mata Elina langsung membulat saat mendengar nama itu disebut. Sebab nama itu milik karakter antagonis di novel favoritnya. Ia semakin terkejut saat melihat sosok wanita berpakaian mewah yang baru saja membanting pintu.

"Si-siapa Anda?" tanya Elina.

Wanita itu langsung melotot. "Setelah percobaan bunuh diri, sekarang kamu berpura-pura hilang ingatan hanya karena tidak mau menghadiri pesta di istana?"

Elina mengerutkan dahinya sembari mengerjap berulang kali. Apa ini mimpi karena terlalu sering membaca novel itu?

Elina menggeleng pelan. "Ti-tidak, saya benar-benar tidak mengenal Anda."

"Nyonya, kereta kuda sudah siap."

Ucapan penjaga gerbang utama itu langsung membuat wanita bernama Roseria semakin membulatkan matanya. Ia menunjuk ke arah Elina yang sangat ketakutan.

"Cepat rapikan anak ini!"

Elina semakin mundur saat beberapa pelayan yang dibawa Roseria mendekat. Secepat mungkin ia menyambar vas bunga yang ada di dekatnya, lalu melemparnya ke lantai agar tidak ada yang bisa mendekat.

Semua pelayan sontak mundur, kecuali Roseria. Ia justru semakin mendekat dengan wajah garangnya.

"Sudah cukup, Ellisha! Hari masih sangat pagi, tapi kamu memancing amarahku!"

Roseria mengambil tongkat kayu dari salah satu pelayannya. Lalu ia berjalan cepat ke arah Elina. Ia tersenyum miring sembari mengangkat tongkat tersebut.

"Sepertinya kamu belum bangun ya? Kalau begitu 10 pukulan pasti bisa membangunkanmu!"

~~~

"Tolong pelan-pelan," ujar Elina sembari menahan sakit di sekujur tubuhnya.

Bukan sepuluh, tapi dua puluh cambukan karena Elina sempat melakukan perlawanan. Kini ia yakin kalau keberadaannya di tempat asing ini bukan mimpi.

"Nona, saya akan mengoleskan salep yang diberikan Yang Mulia Putri."

Elina sontak menoleh. Ia merampas salep dan memeriksa semua tulisan di tempat bulat tersebut. Ia mengenal jelas nama yang tertulis di sana. Nama yang selalu dipuja dan dibanggakan oleh pembaca karena kebaikan hati dan kecantikan parasnya.

Casia Von Ande Abraham.

Pemeran utama wanita sekaligus penyebab utama kematian Ellisha De Faelwen.

Kalau aku menghindari Putri Casia, Charless tidak mungkin membunuhku 'kan?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   14. Mengapa Duke Membenci Saya?

    Baru saja kereta kuda Elina, Mika dan Galiard tiba di gerbang, kereta kuda keluarga Frederick sudah terlihat dari kejauhan. Akhirnya mereka mengurungkan niat untuk pergi dan langsung turun.Tidak lama, Charless juga turun dari kereta kuda. Padahal biasanya ia tidak mau diturunkan di gerbang utama.Pria itu setengah berlari menghampiri Elina. Jika menonton di tv, karakter pria pasti berlari ke arah karakter wanita sembari tersenyum cerah. Tapi Charless justru terlihat dingin dan ada sedikit ekspresi marah di wajahnya."Kau ...." Charless menatap lurus ke arah Elina. Ia tidak melanjutkan ucapannya karena sibuk mengatur nafasnya."Apa yang terjadi, Tuan Duke?" tanya Galiard yang sudah ada di samping pria itu."Tolong siapkan kereta kuda!" kata Charless penuh penekanan.Galiard tidak bertanya dan langsung berlari mengikuti perintah yang diberikan. Sementara Elina diam dengan wajah bingung.Charless menunduk sembari melipat sebelah tangannya di dada dengan sopan. Elina pernah melihat gestu

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   13. Undangan Rahasia Dari Istana

    Pagi ini suasana kediaman Frederick sangat ricuh. Pelayan yang berlalu lalang di depan kamar Elina terdengar sibuk membicarakan sesuatu. Elina melirik ke arah Mika yang tengah menyisir rambutnya."Kamu tau sesuatu, Mika?"Mika menggeleng pelan. "Tidak, Nona. Saat mengambil sarapan, saya tidak mendengar apa pun.""Kalau begitu, kita harus keluar dan mencari tau!" kata Elina penuh semangat.Setelah penampilannya terlihat rapi, Elina langsung mengajak Mika keluar. Mereka sengaja berjalan mengikuti pelayan agar bisa mendapat informasi."Tuan Duke benar-benar berubah."Mereka membicarakan Charless? batin Elina."Bagaimana bisa Tuan Duke yang selama ini tidak pernah membuang siapa pun, tega memecat Agni.""Benar! Bahkan pencuri dan pembunuh bayaran selalu dibiarkan pergi. Sebenarnya apa yang dilakukan wanita ular itu pada Tuan Duke?!""Sepertinya Tuan Duke benar-benar menyukai Nona Faelwen.""Bagaimana kalau kita protes?""Kau mau kepalamu terlepas?""Tentu saja tidak!"Elina menghentikan l

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   12. Sosok Di Tepi Danau

    Elina berjalan tertatih menuju ke arah kamarnya. Ia tidak peduli dengan darah yang terus keluar. Ia menghapus jejak air mata di pipinya sembari tersenyum."Sebenarnya ... apa yang aku harapkan saat berada di tubuh penjahat ini?"Saat melintasi danau, Elina tanpa sengaja melihat sosok yang tengah duduk di atas rerumputan. Sebisa mungkin ia tidak peduli. Sebab Charless melarangnya pergi ke area danau. Namun saat hendak pergi, namanya diserukan cukup keras."Hei, Nona Faelwen!"Elina sontak menoleh. Sosok di tengah kegelapan itu berlari ke arahnya sembari melambaikan tangan.Elina yang panik langsung memaksa kakinya untuk berlari. Namun akibat terluka, ia justru kembali terjatuh. Namun pinggangnya ditahan oleh seseorang."Saya bukan penjahat. Nona tidak perlu khawatir."Elina memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Nampak seorang pria berambut putih berkilau tengah tersenyum ke arahnya."Si-siapa?" tanya Elina dengan suara pelan.Pria itu melepaskan tangannya dari pinggang Elina, l

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   11. Pilihan Yang Menyakitkan

    Elina tidak bisa berhenti menangis. Dadanya terasa sangat sesak setiap mengingat ucapan Charless. Pria itu sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasannya. Padahal ia ingin sekali memberitahukan sikap kurang ajar pelayan tersebut."Nona, apa sebaiknya kita pulang saja?" tanya Mika yang duduk di samping Elina.Elina langsung menggeleng. Ia masih tidak terbiasa dengan rasa sakit cambukan. Lebih baik menghadapi kata-kata kasar dari pelayan Frederick.Tiba-tiba saja gerbang belakang dekat tempat duduk mereka terbuka. Sosok berjubah cokelat datang membawa tas besar. Lalu dia menghampiri Elina."Nona, mengapa Anda menangis?" tanya sosok itu yang ternyata seorang wanita paruh baya. Ia menyodorkan sapu tangan pada Elina.Mika langsung menyambar sapu tangan tersebut. "Terima kasih. Tapi, siapa Anda?""Saya kepala koki di Frederick. Semua orang memanggil saya Madam.""Ayo kita kembali ke kamar, Mika," kata Elina sembari beranjak dari tempat duduk.Tangan Elina langsung ditahan oleh wanita ters

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   10. Bertengkar Dengan Pelayan

    "Ulangi semua yang saya ucapkan tadi!"Elina menggaruk tengkuknya. Sejak sarapan bersama dengan Charless, kepalanya seperti tidak bisa mengingat apa pun. Hanya wajah tampan pria itu yang memenuhi isi kepalanya."Tidak boleh mendekati danau?" kata Elina dengan ragu.Charless mengangguk pelan. Ia menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Pandangannya tidak bisa lepas dari gadis tersebut."Apa lagi?" tanya Charless."Tidak boleh ke halaman belakang istana. Jangan memetik bunga di taman. Dilarang keras memasuki perpustakaan dan ruang kerja Tuan Duke."Charless mengerutkan dahinya. "Saya bertanya pada Nona Faelwen, bukan kau."Mika membungkuk. "Mohon maaf atas kelancangan saya, Tuan Duke."Baru saja Charless hendak bicara, pintu ruang tamu terbuka. Nampak Galiard datang dengan napas terengah-engah. Dia terlihat sangat terburu-buru."Yang Mulia Raja meminta Tuan untuk datang ke istana."Charless terdiam sejenak. Ia nampak seperti tengah memikirkan banyak hal. Lalu setelahnya ia langsung ber

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   09. Aku Yang Paling Membencimu

    "Duke, aku suka aroma gadis ini. Biarkan aku membawanya."Charless langsung memanggil pedang petirnya. Ia bergegas melompat ke danau sebelum ular itu benar-benar membawa Elina ke dunia lain.Begitu di dalam air, suasana langsung berubah. Nampak istana besar dengan banyak penjaga. Namun Charless masih bisa melihat Remio, ular besar yang membawa Elina sudah hampir memasuki istana."Iris, waktunya makan," bisik Charless pada pedangnya.Tiba-tiba saja pedang itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan. Charless langsung menerjang semua penjaga yang menghadangnya.Tidak butuh waktu lama, Charless sudah melewati gerbang. Namun Remio dan Elina sudah tidak terlihat. Charless berlari sekuat tenaga sebelum pintu istana tertutup.Pedang di tangan Charless melayang begitu cepat, lalu menahan pintu yang hampir tertutup."Terima kasih, Iris."Charless yang berhasil masuk ke istana itu langsung berjalan menyusuri lorong besar. Terakhir kali ia datang ke tempat ini untuk menyelamatkan Casia, ia hampir s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status