Home / Historical / Akhir Yang Indah Untuk Duke / 05. Kunjungan Sang Ibu

Share

05. Kunjungan Sang Ibu

Author: Miss Kyo
last update Last Updated: 2025-02-25 16:44:47

Walau berita Elina yang mengakui perbuatannya sudah sampai ke telinga Sang Raja. Tapi nyatanya ia masih harus di penjara selama lima hari sebagai bentuk ketegasan Raja Verdentia dalam menangani masalah.

"Jika Nona ikut berperang, lalu bagaimana dengan saya?" tanya Mika lirih.

Elina sontak menoleh. Ia menepuk bahu Mika berulang kali sembari tersenyum.

"Tentu saja kamu pulang."

Mika nampak terkejut. Matanya berkaca-kaca hingga tanpa sadar sudah bersujud di depan Elina. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi.

"Hei, hei! Mengapa kamu menangis?" tanya Elina dengan panik.

"Ma-maafkan saya, Nona! Seharusnya Nona bilang saja semuanya pada Tua Duke."

"Hukumannya hanya ikut berperang. Mungkin saja ini garis takdir antara aku dan Duke Charless."

Mika langsung mengangkat kepalanya. Ia menatap Elina dengan wajah bingung. Namun ia sama sekali tidak mengatakan apa pun hingga membuat Elina merasa penasaran.

"Kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanya Elina.

"A-apakah Nona menyukai Tuan Duke?"

"Ah, itu—"

Brak!

Elina dan Mika langsung meringkuk di sudut sel, saat sebuah kursi dengan sengaja di lempar ke arah mereka. Lalu datanglah dua orang penjaga yang tersenyum miring.

"Waktunya makan, Nona penjahat."

Pintu penjara itu dibuka sedikit hanya seukuran dengan piring kaleng. Lalu piring itu sedikit di lempar hingga menimbulkan suara yang cukup berisik.

"Walau rasanya seperti sampah, Anda harus tetap memakannya, Nona!"

Setelah mereka pergi, Mika langsung merapikan semua makanan yang berserakan di lantai. Ia merasa kesal melihat Elina diperlakukan seperti itu. Namun tentunya semua ini karena ulahnya sendiri.

"Nona ... bagaimana ini? Makanannya kotor," gumam Mika sembari menangis.

Elina mengusap puncak kepala pelayannya tersebut. "Jangan dimakan. Kita bisa sakit perut kalau memakannya."

"Tapi kalau kita tidak makan ...."

"Kalau begitu, kamu boleh makan bagian yang masih terlihat bersih."

Mika semakin menangis mendengarnya. Namun ia tetap memakannya, sebab saat ini kondisi perut sudah mendominasi otaknya.

Tidak lama, datang dua penjaga yang sama. Mereka menatap dengan wajah merendahkan. Apalagi saat melihat Mika tengah makan seperti orang kelaparan.

"Hei, Nona Faelwen. Anda tidak makan?" tanya salah satu penjaga sembari berjongkok di depan pintu sel.

Elina hanya melirik sekilas pria tersebut. Lalu ia kembali memejamkan matanya.

Elina mendengar dengan jelas suara pintu yang dibuka. Namun tentu saja ia tidak peduli. Raja sudah memberikan informasi bahwa ia bisa keluar dari penjara esok hari.

"Awww!!" jerit Elina.

Rambutnya ditarik dengan kuat hingga tubuhnya terjatuh ke lantai. Elina bisa melihat Mika yang langsung berdiri. Namun Elina menggeleng berulang kali. Ia tidak mau Mika mendapat tambahan hukuman karena menolongnya.

Elina diseret hingga keluar dari sel. Perutnya ditendang cukup kuat. Salah satu penjaga juga mengayunkan tongkat kayunya ke punggung Elina.

"Walau akan segera dibebaskan, Anda pikir bisa lolos dari siksaan penjara?" tanya penjaga sembari mencengkram wajah Elina.

Plak!!

Elina memejamkan kedua matanya saat tamparan mendarat di pipinya. Namun karena didikan kedua orang tuanya baik di dunia nyata atau di tempat ini, ia menjadi terbiasa dengan rasa sakitnya.

"Berani sekali iblis sepertimu meracuni Putri Casia yang bagaikan malaikat!"

"Nona Ellisha bukan iblis!"

"Diam kau pelayan rendahan!"

Elina langsung menoleh ke arah Mika. Sembari tersenyum ia menempelkan telunjuk di bibirnya.

"Anda masih bisa bersikap sok berkuasa di depan pelayan Anda ya?" Penjaga penjara itu tersenyum sembari mengambil cambuk. "Apa Anda bisa menahan ini?"

Crak!

Elina merintih saat cambukan pertama mendarat di punggungnya. Namun ia masih bisa menahannya.

Penjaga itu kembali melayangkan cambukan kedua, ketiga, hingga suara langkah kaki langsung membuat mereka panik.

Akhirnya Elina kembali dibawa masuk ke dalam ruang penjaranya. Cambuk yang digunakan itu langsung disembunyikan di bawah meja jaga.

Nampak Charless yang membawa beberapa kertas di tangannya. Ia meminta agar pintu sel dibuka.

"Hanya 30 menit," ujar Charless sembari mengeluarkan jam sakunya.

"Apa ini atas perintah Yang Mulia Raja?"

"Tentu saja. Saya membawa surat perintahnya."

Akhirnya petugas itu membukakan pintu sel. Selain Elina, Mika juga diperbolehkan keluar sebentar.

"Biar saya bantu berdiri, Nona," ujar Mika.

Setibanya di luar, Elina menarik napas panjang-panjang. Sudah cukup lama ia tidak menghirup udara dunia luar. Selama di dalam penjara, aroma yang tercium hanyalah bangkai tikus dan makanan basi.

"Kita mau pergi ke mana, Charless?" tanya Elina.

Charless langsung menoleh dengan dahi yang berkerut. "Sepertinya Anda memang harus diberi pendidikan lagi, Nona Ellisha. Panggil saya Duke Frederick."

"Apa ada yang salah dari ucapan saya?"

"Anda hanya boleh bicara seperti itu pada saya."

Mata Elina langsung membulat. "Oh ... saya benar-benar minta maaf."

"Pernikahan akan dilaksanakan dua bulan setelah Anda dinyatakan bebas oleh Yang Mulia Raja."

Kedua sudut bibir Elina berkedut. Ia menutup wajah dengan kedua tangan untuk menyembunyikan senyumannya. Sama sekali tidak terbayangkan bisa menikah dengan karakter yang selama ini hanya bisa dilihat di komik.

"Lalu kertas apa yang Anda bawa, Duke Frederick?"

Charless seperti baru teringat tujuannya. Ia meyodorkan kertas itu pada Elina.

"Ini surat kontrak pernikahan kita. Anda tidak perlu membacanya, langsung tanda tangan saja."

~~~

Walau hanya sesaat, aku melihat batas waktu pernikahan kami hanya 5 bulan.

Elina memandang langit-langit sel tahanan. Kini rangkaian ceritanya sudah berbeda. Seharusnya ia dan Charless tidak menikah secepat ini. Melainkan 6 bulan setelah ia dibebaskan. Sebab di cerita aslinya, Ellisha tidak kunjung menyerah dan mengatakan tak bersalah.

"Oh, perangnya," gumam Elina sembari memijat keningnya.

Perang besar di wilayah utara terjadi saat Ellisha masih di penjara. Tapi saat ini, ia akan ikut berperang bukan berada di tahanan.

Saat itu Charless mendapat luka bakar dan tusukan di dadanya. Elina ingat membaca bagian itu sampai menangis.

Jika aku bisa melindungi Charless dengan perisai tahan api, lalu mendorongnya saat hampir tertusuk. Pasti dia akan selamat, batin Elina.

Elina mengepalkan kedua tangannya dengan penuh semangat. "Jika salah satunya tidak bisa dihindarkan, aku hanya perlu mengobatinya."

"Siapa yang ingin Anda obati, Nona?"

Elina sontak menoleh. Rupanya Mika terbangun. Mungkin karena ia terlalu berisik.

"Tidak ada. Aku hanya tertarik untuk belajar pengobatan."

"Pengobatan untuk penyakit seperti apa?"

Elina langsung membenarkan posisi duduknya. Ia menghadap Mika sembari tersenyum.

"Apa kamu tau teknik pengobatan herbal?"

Mika menggaruk tengkuknya. "Ya ... sedikit."

"Bagaimana cara mengobati luka bakar?"

"Cara paling ampuh saat ini menggunakan buah kenari."

Mata Elina berbinar. Ia Semakin mendekatkan tubuhnya dengan Mika. Ekspresinya terlihat sangat antusias.

"Lanjutkan."

Mika tersenyum kaku. "Anda harus memilih buah yang matang, Nona. Lalu cuci bersih dan tumbuk."

"Sampai halus?" tanya Elina dengan cepat.

"Semampu Anda saja, Nona."

Elina tersenyum puas. "Kalau luka tusuk, apa kamu tau cara mengobati luka tusukan pedang?"

Mendengar itu, Mika sangat terkejut. Ia langsung meletakkan kedua tangan di bahu Elina. Matanya seakan menyapu tubuh majikannya tersebut.

"Tidak, tidak. Bukan aku. Ini hanya—"

Brak!!

Pintu sel tempat mereka ditahan tiba-tiba saja terbuka. Nampak Roseria yang datang membawa tusuk sanggul kesayangannya. Walau baru saja terbangun di dunia ini, tapi Elina tahu jelas benda semacam apa itu.

"Keluar kau!" seru Roseria.

Mika hendak bangun, tapi Roseria langsung menarik rambut Elina dan menyeretnya keluar. Tubuh gadis itu dilempar hingga membentur meja pengawas.

"Waktu kunjunganku hanya sebentar. Tapi semoga saja ini bisa membuatmu sadar!"

"Nyo-Nyonya!" seru Mika.

Roseria menoleh ke arah pelayan itu, lalu menempelkan telunjuk di bibirnya. Isyarat yang tentunya bisa langsung dimengerti oleh siapa pun.

"Angkat bajumu!" perintah Roseria.

Elina mengangguk pelan. Ia mengangkat gaunnya hingga menampakkan betis yang tidak mulus lagi. Ada banyak luka di sana. Luka bakar, cambukan, dan sayatan.

"Anak pintar."

Crak!!

Elina membekap mulutnya agar tidak berteriak. Ia tidak menyangka hidup sebagai Ellisha harus memakan rasa sakit cambukan yang tidak bisa diterka kedatangannya.

Crak!!

Tangan Elina tiba-tiba saja ditarik ke belakang oleh Roseria. "Jangan menahan jeritanmu!"

Crak!!

"Aaakhh!!"

"Bagus. Menjeritlah sekeras mungkin, Ellisha!" seru Roseria.

Elina terus menjerit hingga cambukan ke dua puluh lima. Roseria menutup tongkatnya hingga ke bentuk semula. Sebelum pergi, ia memberikan sebuah pai pada Elina.

"Dari pada berperang, lebih baik kau mati, Ellisha. Makanlah pai buah beracun itu," bisik Roseria.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   27. Terjebak Di Hutan

    Elina merasa sangat takut saat Galiard datang membaca barang yang diminta oleh Charless. Tidak ada satu pun yang bicara. Apalagi saat Charless nampak sedang menempelkan besi di bara yang menyala."Maafkan saya, Nona. Tapi separuh perjalanan hidup, saya habiskan bersama pekerjaan ini," ujar Charless.Elina tidak menjawab. Matanya tidak bisa berpaling dari besi yang sebagiannya sudah berwarna merah."Baiklah. Saya akan mulai dengan pertanyaan yang mudah," ujar Zetrian sembari berjalan ke belakang Elina.Elina menelan ludahnya dengan kasar. Besi panas itu sudah digenggam oleh Charless. Hanya jawabannya yang bisa menentukan besi itu menempel di wajahnya atau tidak."Apa Nona tau rencana ayah Anda?" tanya Zetrian.Elina menggeleng pelan. Tatapannya bertemu dengan Charless. Zetrian mendeham beberapa kali, namun tidak ada pergerakan."Duke?" panggil Zetrian.Charless mengerjap, lalu menoleh ke arah Zetrian. "Ya?""Mengapa kau melamun? Dasar bodoh!"Zetrian langsung mengambil alih besi itu, n

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   26. Elina Diintrogasi

    Charless merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia mengusap wajah dengan kasar saat teringat ucapan Zetrian. Nampaknya pria itu benar-benar ingin membuat Ellisha membuka mulut terkait aktivitas ilegal yang dilakukan ayahnya."Bagaimana jika gadis itu tidak bicara, bahkan setelah besi panas menempel di wajahnya?"Charless mendesah gusar. Ia bergegas bangun dan mengenakan mantel hitam panjangnya. Begitu keluar kamar, ia langsung menemukan Ellisha tengah berdiri di balkon lantai dua.Entah mengapa Charless selalu merasa ada kesedihan yang menyelimuti gadis itu. Apalagi saat tengah berdiri sendirian di tengah malam seperti ini."Anda tidak tidur, Nona?" tanya Charless."Se-sebentar lagi."Kedua tangan Charless terkepal kuat. Bagaimana bisa gadis yang terlihat sangat rapuh itu terlibat dengan Torico. Salah satu kandidat yang dicurigai ingin melakukan pemberontakan.Charless berdiri di samping Ellisha yang hanya setinggi dadanya. Gadis itu nampak kedinginan karena tidak mengenakan mantel. Tanpa di

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   25. Kelicikan Zetrian

    Elina meronta saat Zetrian secara langsung turun tangan merantai kedua tangannya. Padahal ia yakin selama ini tidak pernah melakukan kesalahan yang melibatkan kerajaan."Tunggu sebentar, Yang Mulia Pangeran!" seru Elina sembari membungkuk. Ia masih harus menjaga sopan santunnya."Kebohongan apa lagi yang ingin Anda sebarkan, Nona Faelwen?" tanya Zetrian, senyum miring terpasang di wajahnya.Kedua tangan Elina terkepal kuat. Jika tidak dirantai, mungkin saja ia sudah memukul wajah tampan pria tersebut."Saya tidak tahu alasan Yang Mulia menangkap saya.""Tidak perlu alasan untuk menyeret keluarga Faelwen, termasuk Anda, Nona!"Dahi Elina mengkerut. "Tapi saya tidak melakukan kesalahan apa pun!""Bawa dia keluar!" seru Zetrian.Tubuh Elina yang belum terisi makanan apa pun itu nyaris terbang saat pengawal menarik rantai yang ada di tangannya. Ia bisa merasakan nyeri hebat di sekitar pergelangan tangan. Namun memohon seperti apa pun tidak akan mendapat belas kasihan dari Zetrian yang sud

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   24. Pangeran Zetrian Mencurigai Elina!

    Gosip mengenai Ellisha De Faelwen menyebar luas. Ada yang mengatakan bahwa sang antagonis itu bertobat karena usianya tidak lama lagi. Ada pula yang mengatakan kalau Ellisha sang pembuat onar mengalami gegar otak saat jatuh ke sungai beberapa bulan lalu.Mau bertobat atau pun gegar otak, keduanya sama-sama menarik perhatian Pangeran Zetrian. Pria yang selama ini tutup mata soal Ellisha De Faelwen, mulai mengirim mata-mata untuk mengawasi wanita tersebut."Apakah kabar itu benar?" tanya Zetrian.Charless menghela napas pelan. "Masih belum dipastikan kebenarannya, Pangeran."Zetrian memijat keningnya. "Jangan sampai ada yang terlewat. Bisa saja ini direncanakan untuk menutupi kebusukan Count Faelwen.""Apa maksud Anda, Pangeran?"Zetrian menatap sahabat lamanya itu dengan wajah bingung. Ia tertawa pelan penuh paksaan. Sedetik kemudian raut wajahnya kembali serius."Jangan hanya karena perubahan kecil, kau sampai melupakan semua kejahatan gadis itu!" kata Zetrian dengan tegas.Charless m

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   23. Dugaan Galiard Tentang Elina

    Elina memacu langkahnya lebih cepat, namun Charless tetap bisa mengikutinya. Bahkan pria itu sampai bisa menyamakan langkah dengannya. Elina langsung menoleh saat Charless berada tepat di sampingnya."Mengapa Duke mengikuti saya?" tanya Elina. Ia membuang pandangannya ke sembarang arah.Elina bisa merasakan Charless yang terus memandanginya. Ia mendeham pelan untuk meredakan gugupnya."Anda tidak dengar?""Ada apa dengan penampilan Anda?" tanya Charless.Elina menunduk sembari melihat pakaiannya saat ini. Ia menggaruk tengkuknya sembari tertawa kaku."Sa-saya hanya ingin mencoba pakaian ini," jawab Elina sekenanya.Charless mengangguk pelan. "Pakaian itu bukan untuk menghindariku 'kan?""Tidak!"Charless tersenyum, ia langsung menghadang jalan Elina dengan tubuh besarnya. Elina mendecak pelan melihat tingkah pria tersebut."Bukankah Duke seharusnya sedang makan malam?" tanya Elina.Charless mengangguk. "Tapi saya tidak melihat Nona di sana. Nafsu makan saya langsung hilang.""Berhenti

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   22. Elina menghindari Charless

    Setelah sadarkan diri, Elina tidak berani keluar dari kamar. Ia masih sangat terkejut dengan kejadian di taman. Walau ia sangat menyukai Charless, namun sama sekali tidak terlintas dipikirannya untuk berciuman dengan pria tersebut. Sama sekali tidak!Selama ini rasa suka Elina pada Charless tidak lebih dari seorang penggemar. Ia ingin memberikan kisah yang indah pada pria tersebut. Walau sesekali saat membaca komik, terlintas rasa ingin menggenggam tangan Charless."Nona, Tuan Duke akan makan malam bersama Count dan Countess. Apa Nona ingin ikut?" tanya Mika.Kepala Elina langsung menggeleng. "Tidak! Saya akan makan di kamar.""Bagaimana kalau Tuan Duke mencari Nona?""Tidak akan!" sanggah Elina dengan cepat."Tapi saat mengantar Nona yang pingsan tadi siang, Tuan Duke kelihatan sangat khawatir. Mungkin saja—""Mika, bisakah kau mengambilkan makanan sekarang?" potong Elina.Mika mengangguk cepat. Gadis itu langsung menghilang secepat kilat.Setelah kepergian Mika, ia bergegas mengganti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status