LOGINWalau berita Elina yang mengakui perbuatannya sudah sampai ke telinga Sang Raja. Tapi nyatanya ia masih harus di penjara selama lima hari sebagai bentuk ketegasan Raja Verdentia dalam menangani masalah.
"Jika Nona ikut berperang, lalu bagaimana dengan saya?" tanya Mika lirih.
Elina sontak menoleh. Ia menepuk bahu Mika berulang kali sembari tersenyum.
"Tentu saja kamu pulang."
Mika nampak terkejut. Matanya berkaca-kaca hingga tanpa sadar sudah bersujud di depan Elina. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Hei, hei! Mengapa kamu menangis?" tanya Elina dengan panik.
"Ma-maafkan saya, Nona! Seharusnya Nona bilang saja semuanya pada Tua Duke."
"Hukumannya hanya ikut berperang. Mungkin saja ini garis takdir antara aku dan Duke Charless."
Mika langsung mengangkat kepalanya. Ia menatap Elina dengan wajah bingung. Namun ia sama sekali tidak mengatakan apa pun hingga membuat Elina merasa penasaran.
"Kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanya Elina.
"A-apakah Nona menyukai Tuan Duke?"
"Ah, itu—"
Brak!
Elina dan Mika langsung meringkuk di sudut sel, saat sebuah kursi dengan sengaja di lempar ke arah mereka. Lalu datanglah dua orang penjaga yang tersenyum miring.
"Waktunya makan, Nona penjahat."
Pintu penjara itu dibuka sedikit hanya seukuran dengan piring kaleng. Lalu piring itu sedikit di lempar hingga menimbulkan suara yang cukup berisik.
"Walau rasanya seperti sampah, Anda harus tetap memakannya, Nona!"
Setelah mereka pergi, Mika langsung merapikan semua makanan yang berserakan di lantai. Ia merasa kesal melihat Elina diperlakukan seperti itu. Namun tentunya semua ini karena ulahnya sendiri.
"Nona ... bagaimana ini? Makanannya kotor," gumam Mika sembari menangis.
Elina mengusap puncak kepala pelayannya tersebut. "Jangan dimakan. Kita bisa sakit perut kalau memakannya."
"Tapi kalau kita tidak makan ...."
"Kalau begitu, kamu boleh makan bagian yang masih terlihat bersih."
Mika semakin menangis mendengarnya. Namun ia tetap memakannya, sebab saat ini kondisi perut sudah mendominasi otaknya.
Tidak lama, datang dua penjaga yang sama. Mereka menatap dengan wajah merendahkan. Apalagi saat melihat Mika tengah makan seperti orang kelaparan.
"Hei, Nona Faelwen. Anda tidak makan?" tanya salah satu penjaga sembari berjongkok di depan pintu sel.
Elina hanya melirik sekilas pria tersebut. Lalu ia kembali memejamkan matanya.
Elina mendengar dengan jelas suara pintu yang dibuka. Namun tentu saja ia tidak peduli. Raja sudah memberikan informasi bahwa ia bisa keluar dari penjara esok hari.
"Awww!!" jerit Elina.
Rambutnya ditarik dengan kuat hingga tubuhnya terjatuh ke lantai. Elina bisa melihat Mika yang langsung berdiri. Namun Elina menggeleng berulang kali. Ia tidak mau Mika mendapat tambahan hukuman karena menolongnya.
Elina diseret hingga keluar dari sel. Perutnya ditendang cukup kuat. Salah satu penjaga juga mengayunkan tongkat kayunya ke punggung Elina.
"Walau akan segera dibebaskan, Anda pikir bisa lolos dari siksaan penjara?" tanya penjaga sembari mencengkram wajah Elina.
Plak!!
Elina memejamkan kedua matanya saat tamparan mendarat di pipinya. Namun karena didikan kedua orang tuanya baik di dunia nyata atau di tempat ini, ia menjadi terbiasa dengan rasa sakitnya.
"Berani sekali iblis sepertimu meracuni Putri Casia yang bagaikan malaikat!"
"Nona Ellisha bukan iblis!"
"Diam kau pelayan rendahan!"
Elina langsung menoleh ke arah Mika. Sembari tersenyum ia menempelkan telunjuk di bibirnya.
"Anda masih bisa bersikap sok berkuasa di depan pelayan Anda ya?" Penjaga penjara itu tersenyum sembari mengambil cambuk. "Apa Anda bisa menahan ini?"
Crak!
Elina merintih saat cambukan pertama mendarat di punggungnya. Namun ia masih bisa menahannya.
Penjaga itu kembali melayangkan cambukan kedua, ketiga, hingga suara langkah kaki langsung membuat mereka panik.
Akhirnya Elina kembali dibawa masuk ke dalam ruang penjaranya. Cambuk yang digunakan itu langsung disembunyikan di bawah meja jaga.
Nampak Charless yang membawa beberapa kertas di tangannya. Ia meminta agar pintu sel dibuka.
"Hanya 30 menit," ujar Charless sembari mengeluarkan jam sakunya.
"Apa ini atas perintah Yang Mulia Raja?"
"Tentu saja. Saya membawa surat perintahnya."
Akhirnya petugas itu membukakan pintu sel. Selain Elina, Mika juga diperbolehkan keluar sebentar.
"Biar saya bantu berdiri, Nona," ujar Mika.
Setibanya di luar, Elina menarik napas panjang-panjang. Sudah cukup lama ia tidak menghirup udara dunia luar. Selama di dalam penjara, aroma yang tercium hanyalah bangkai tikus dan makanan basi.
"Kita mau pergi ke mana, Charless?" tanya Elina.
Charless langsung menoleh dengan dahi yang berkerut. "Sepertinya Anda memang harus diberi pendidikan lagi, Nona Ellisha. Panggil saya Duke Frederick."
"Apa ada yang salah dari ucapan saya?"
"Anda hanya boleh bicara seperti itu pada saya."
Mata Elina langsung membulat. "Oh ... saya benar-benar minta maaf."
"Pernikahan akan dilaksanakan dua bulan setelah Anda dinyatakan bebas oleh Yang Mulia Raja."
Kedua sudut bibir Elina berkedut. Ia menutup wajah dengan kedua tangan untuk menyembunyikan senyumannya. Sama sekali tidak terbayangkan bisa menikah dengan karakter yang selama ini hanya bisa dilihat di komik.
"Lalu kertas apa yang Anda bawa, Duke Frederick?"
Charless seperti baru teringat tujuannya. Ia meyodorkan kertas itu pada Elina.
"Ini surat kontrak pernikahan kita. Anda tidak perlu membacanya, langsung tanda tangan saja."
~~~
Walau hanya sesaat, aku melihat batas waktu pernikahan kami hanya 5 bulan.
Elina memandang langit-langit sel tahanan. Kini rangkaian ceritanya sudah berbeda. Seharusnya ia dan Charless tidak menikah secepat ini. Melainkan 6 bulan setelah ia dibebaskan. Sebab di cerita aslinya, Ellisha tidak kunjung menyerah dan mengatakan tak bersalah.
"Oh, perangnya," gumam Elina sembari memijat keningnya.
Perang besar di wilayah utara terjadi saat Ellisha masih di penjara. Tapi saat ini, ia akan ikut berperang bukan berada di tahanan.
Saat itu Charless mendapat luka bakar dan tusukan di dadanya. Elina ingat membaca bagian itu sampai menangis.
Jika aku bisa melindungi Charless dengan perisai tahan api, lalu mendorongnya saat hampir tertusuk. Pasti dia akan selamat, batin Elina.
Elina mengepalkan kedua tangannya dengan penuh semangat. "Jika salah satunya tidak bisa dihindarkan, aku hanya perlu mengobatinya."
"Siapa yang ingin Anda obati, Nona?"
Elina sontak menoleh. Rupanya Mika terbangun. Mungkin karena ia terlalu berisik.
"Tidak ada. Aku hanya tertarik untuk belajar pengobatan."
"Pengobatan untuk penyakit seperti apa?"
Elina langsung membenarkan posisi duduknya. Ia menghadap Mika sembari tersenyum.
"Apa kamu tau teknik pengobatan herbal?"
Mika menggaruk tengkuknya. "Ya ... sedikit."
"Bagaimana cara mengobati luka bakar?"
"Cara paling ampuh saat ini menggunakan buah kenari."
Mata Elina berbinar. Ia Semakin mendekatkan tubuhnya dengan Mika. Ekspresinya terlihat sangat antusias.
"Lanjutkan."
Mika tersenyum kaku. "Anda harus memilih buah yang matang, Nona. Lalu cuci bersih dan tumbuk."
"Sampai halus?" tanya Elina dengan cepat.
"Semampu Anda saja, Nona."
Elina tersenyum puas. "Kalau luka tusuk, apa kamu tau cara mengobati luka tusukan pedang?"
Mendengar itu, Mika sangat terkejut. Ia langsung meletakkan kedua tangan di bahu Elina. Matanya seakan menyapu tubuh majikannya tersebut.
"Tidak, tidak. Bukan aku. Ini hanya—"
Brak!!
Pintu sel tempat mereka ditahan tiba-tiba saja terbuka. Nampak Roseria yang datang membawa tusuk sanggul kesayangannya. Walau baru saja terbangun di dunia ini, tapi Elina tahu jelas benda semacam apa itu.
"Keluar kau!" seru Roseria.
Mika hendak bangun, tapi Roseria langsung menarik rambut Elina dan menyeretnya keluar. Tubuh gadis itu dilempar hingga membentur meja pengawas.
"Waktu kunjunganku hanya sebentar. Tapi semoga saja ini bisa membuatmu sadar!"
"Nyo-Nyonya!" seru Mika.
Roseria menoleh ke arah pelayan itu, lalu menempelkan telunjuk di bibirnya. Isyarat yang tentunya bisa langsung dimengerti oleh siapa pun.
"Angkat bajumu!" perintah Roseria.
Elina mengangguk pelan. Ia mengangkat gaunnya hingga menampakkan betis yang tidak mulus lagi. Ada banyak luka di sana. Luka bakar, cambukan, dan sayatan.
"Anak pintar."
Crak!!
Elina membekap mulutnya agar tidak berteriak. Ia tidak menyangka hidup sebagai Ellisha harus memakan rasa sakit cambukan yang tidak bisa diterka kedatangannya.
Crak!!
Tangan Elina tiba-tiba saja ditarik ke belakang oleh Roseria. "Jangan menahan jeritanmu!"
Crak!!
"Aaakhh!!"
"Bagus. Menjeritlah sekeras mungkin, Ellisha!" seru Roseria.
Elina terus menjerit hingga cambukan ke dua puluh lima. Roseria menutup tongkatnya hingga ke bentuk semula. Sebelum pergi, ia memberikan sebuah pai pada Elina.
"Dari pada berperang, lebih baik kau mati, Ellisha. Makanlah pai buah beracun itu," bisik Roseria.
Pagi ini suasana kediaman Frederick sangat ricuh. Pelayan yang berlalu lalang di depan kamar Elina terdengar sibuk membicarakan sesuatu. Elina melirik ke arah Mika yang tengah menyisir rambutnya."Kamu tau sesuatu, Mika?"Mika menggeleng pelan. "Tidak, Nona. Saat mengambil sarapan, saya tidak mendengar apa pun.""Kalau begitu, kita harus keluar dan mencari tau!" kata Elina penuh semangat.Setelah penampilannya terlihat rapi, Elina langsung mengajak Mika keluar. Mereka sengaja berjalan mengikuti pelayan agar bisa mendapat informasi."Tuan Duke benar-benar berubah."Mereka membicarakan Charless? batin Elina."Bagaimana bisa Tuan Duke yang selama ini tidak pernah membuang siapa pun, tega memecat Agni.""Benar! Bahkan pencuri dan pembunuh bayaran selalu dibiarkan pergi. Sebenarnya apa yang dilakukan wanita ular itu pada Tuan Duke?!""Sepertinya Tuan Duke benar-benar menyukai Nona Faelwen.""Bagaimana kalau kita protes?""Kau mau kepalamu terlepas?""Tentu saja tidak!"Elina menghentikan l
Elina berjalan tertatih menuju ke arah kamarnya. Ia tidak peduli dengan darah yang terus keluar. Ia menghapus jejak air mata di pipinya sembari tersenyum."Sebenarnya ... apa yang aku harapkan saat berada di tubuh penjahat ini?"Saat melintasi danau, Elina tanpa sengaja melihat sosok yang tengah duduk di atas rerumputan. Sebisa mungkin ia tidak peduli. Sebab Charless melarangnya pergi ke area danau. Namun saat hendak pergi, namanya diserukan cukup keras."Hei, Nona Faelwen!"Elina sontak menoleh. Sosok di tengah kegelapan itu berlari ke arahnya sembari melambaikan tangan.Elina yang panik langsung memaksa kakinya untuk berlari. Namun akibat terluka, ia justru kembali terjatuh. Namun pinggangnya ditahan oleh seseorang."Saya bukan penjahat. Nona tidak perlu khawatir."Elina memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Nampak seorang pria berambut putih berkilau tengah tersenyum ke arahnya."Si-siapa?" tanya Elina dengan suara pelan.Pria itu melepaskan tangannya dari pinggang Elina, l
Elina tidak bisa berhenti menangis. Dadanya terasa sangat sesak setiap mengingat ucapan Charless. Pria itu sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasannya. Padahal ia ingin sekali memberitahukan sikap kurang ajar pelayan tersebut."Nona, apa sebaiknya kita pulang saja?" tanya Mika yang duduk di samping Elina.Elina langsung menggeleng. Ia masih tidak terbiasa dengan rasa sakit cambukan. Lebih baik menghadapi kata-kata kasar dari pelayan Frederick.Tiba-tiba saja gerbang belakang dekat tempat duduk mereka terbuka. Sosok berjubah cokelat datang membawa tas besar. Lalu dia menghampiri Elina."Nona, mengapa Anda menangis?" tanya sosok itu yang ternyata seorang wanita paruh baya. Ia menyodorkan sapu tangan pada Elina.Mika langsung menyambar sapu tangan tersebut. "Terima kasih. Tapi, siapa Anda?""Saya kepala koki di Frederick. Semua orang memanggil saya Madam.""Ayo kita kembali ke kamar, Mika," kata Elina sembari beranjak dari tempat duduk.Tangan Elina langsung ditahan oleh wanita ters
"Ulangi semua yang saya ucapkan tadi!"Elina menggaruk tengkuknya. Sejak sarapan bersama dengan Charless, kepalanya seperti tidak bisa mengingat apa pun. Hanya wajah tampan pria itu yang memenuhi isi kepalanya."Tidak boleh mendekati danau?" kata Elina dengan ragu.Charless mengangguk pelan. Ia menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Pandangannya tidak bisa lepas dari gadis tersebut."Apa lagi?" tanya Charless."Tidak boleh ke halaman belakang istana. Jangan memetik bunga di taman. Dilarang keras memasuki perpustakaan dan ruang kerja Tuan Duke."Charless mengerutkan dahinya. "Saya bertanya pada Nona Faelwen, bukan kau."Mika membungkuk. "Mohon maaf atas kelancangan saya, Tuan Duke."Baru saja Charless hendak bicara, pintu ruang tamu terbuka. Nampak Galiard datang dengan napas terengah-engah. Dia terlihat sangat terburu-buru."Yang Mulia Raja meminta Tuan untuk datang ke istana."Charless terdiam sejenak. Ia nampak seperti tengah memikirkan banyak hal. Lalu setelahnya ia langsung ber
"Duke, aku suka aroma gadis ini. Biarkan aku membawanya."Charless langsung memanggil pedang petirnya. Ia bergegas melompat ke danau sebelum ular itu benar-benar membawa Elina ke dunia lain.Begitu di dalam air, suasana langsung berubah. Nampak istana besar dengan banyak penjaga. Namun Charless masih bisa melihat Remio, ular besar yang membawa Elina sudah hampir memasuki istana."Iris, waktunya makan," bisik Charless pada pedangnya.Tiba-tiba saja pedang itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan. Charless langsung menerjang semua penjaga yang menghadangnya.Tidak butuh waktu lama, Charless sudah melewati gerbang. Namun Remio dan Elina sudah tidak terlihat. Charless berlari sekuat tenaga sebelum pintu istana tertutup.Pedang di tangan Charless melayang begitu cepat, lalu menahan pintu yang hampir tertutup."Terima kasih, Iris."Charless yang berhasil masuk ke istana itu langsung berjalan menyusuri lorong besar. Terakhir kali ia datang ke tempat ini untuk menyelamatkan Casia, ia hampir s
Kriet.Elina dan Mika menutup mulut mereka serapat mungkin saat pintu ruangan itu terbuka. Suara langkah kaki terdengar begitu mengerikan di telinga mereka."Tuan, Nona Faelwen tidak mungkin ada di ruangan ini.""Justru tempat yang jauh dari kata mungkin itu harus diperiksa."Elina mendecak begitu mendengar ucapan Charless. Akhirnya ia keluar dari tempat persembunyiannya. Ia bisa melihat Charless yang tersenyum miring ke arahnya."Tikus kecil pasti bersembunyi di ruangan kecil 'kan?""Duke, saya mohon biarkan kami tinggal di sini satu minggu lagi," kata Elina sembari menghampiri Charless."Pulang."Elina menoleh ke arah Galiard seolah meminta bantuan. Namun pria itu mengedikkan bahunya.Elina memegang kepalanya, lalu berjalan sempoyongan ke arah Mika."Kepalaku sangat sakit seperti mau pecah," kata Elina sembari memasang wajah sedih.Charless nampak tidak goyah. "Pulang sekarang juga.""Duke ... saya mohon."Elina langsung berlutut di depan kaki Charless. Entah mengapa air matanya mul







