Masuk"Nona Faelwen sudah sadar?" tanya Charless tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan dokumen.
Galiard yang berdiri di sampingnya mengangguk. "Benar, Tuan."
Charless meletakkan penanya di atas meja, lalu ia berdiri. Ia menatap Galiard cukup lama. Kemudian keluar dari ruangannya tanpa mengatakan apa pun.
Rupanya langkah Charless mengarah ke kamar yang ditempati Elina. Semua penjaga langsung menunduk begitu melihat kedatangannya.
"Tuan Duke akan masuk ke kamar Anda, Nona Faelwen!" seru salah satu penjaga.
"Tunggu sebentar. Saya harus mengganti pakaian."
Charless mengerutkan dahinya. Penjaga yang merasa takut hendak membukakan pintu, namun Charless menggeleng. Ia memilih menunggu di luar sembari menatap ke luar jendela.
Tidak lama, pintu kamar terbuka. Nampak sosok Elina yang sudah dibalut dengan gaun yang tertutup. Charless menaikkan sebelah alisnya sembari tersenyum.
"Sepertinya memang ada yang salah dengan Anda, Nona Faelwen," ujar Charless.
Elina tersenyum kikuk. "M-mungkin?"
Charless menatap ke dalam kamar lewat celah pintu yang sedikit terbuka. Pakaian berserakan di kasur dan lantai. Tidak mungkin ia masuk ke tempat berantakan seperti itu.
"Bagaimana kalau kita berbincang di taman?"
Elina mengangguk pelan. "Baik, Duke."
~~~
Gugup menjadi satu-satunya kata yang cocok untuk menggambarkan kondisi Elina saat ini. Sebisa mungkin ia berjalan agak jauh dari Charless. Bahkan Elina sampai mundur saat tangan mereka tidak sengaja bersentuhan.
"Bahkan matahari pasti terkejut dengan sikapmu, Nona."
"A-apa maksud Duke?" tanya Elina.
"Rumornya Anda berkencan dengan lima pria dalam satu hari. Tapi mengapa Anda begitu menjaga jarak dengan saya?"
Elina langsun menghentikan langkahnya. "I-itu karena ... karena—"
"Karena saya bukan tipe Anda?"
"Duke yang paling saya suka!"
Uhuk!
Charless dan Elina langsung menoleh. Rupanya Galiard yang sedari tadi mengikuti mereka sangat terkejut sampai tersedak.
"Kau baik-baik saja, Galiard?"
Galiard membungkukkan tubuhnya dengan sopan. "Maaf karena saya mengganggu Anda, Tuan. Tapi saya baik-baik saja."
Setelah tiba di kursi taman, pelayan langsung menyuguhkan makanan dan minuman. Charless tidak langsung membicarakan apa pun.
"Duke ingin membicarakan apa dengan saya?" tanya Elina.
Gelas yang hampir menyentuh bibir Duke terpaksa harus kembali ke atas meja. Duke melipat kedua tangannya di dada dengan pandangan lurus ke arah Elina.
"Pulanglah."
Elina mengerjapkan matanya beberapa kali. "Ya?"
"Anda harus kembali ke rumah, Nona. Count Faelwen mengirimkan surat pada saya. Sepertinya Count tau kalau Anda berada di sini," ujar Charless.
Elina hendak membuka mulutnya. Namun Charless menempelkan telunjuk di bibirnya sembari menggeleng.
"Tidak ada bantahan. Galiard akan menyiapkan kereta kuda sore ini."
~~~
Sesampainya di kamar, Elina langsung melompat ke kasur. Mika yang tengah menyapu sampai terkejut.
"Nona, Anda bisa terluka," kata Mika sembari menghambur ke arah Elina.
"Mika!"
Mika menunduk. "Ya, Nona."
"Kita harus bersembunyi!"
"Apa yang terjadi sampai kita harus bersembunyi?"
Elina memukuli bantal dengan kedua tangannya. "Aku tidak mau pulang ke rumah."
Mika terdiam. Ia tahu jelas apa yang membuat tuannya itu tidak mau pulang ke rumah. Siksaan dan perlakuan tidak baik di kediaman Faelwen pasti membuat siapa pun enggan berada di sana, termasuk Mika.
"Saya juga, Nona."
Wajah Elina nampak berubah ceria. "Kau juga setuju 'kan? Kita harus cari tempat persembunyian!"
Mika mengangguk semangat. "Baik, Nona!"
~~~
"Nona, kereta kuda sudah siap."
Galiard mengerutkan dahinya saat tidak ada jawaban dari dalam. Ia juga tidak mendengar ada suara dari ruangan tersebut.
"Apa Nona Faelwen pergi keluar?" tanya Galiard pada penjaga yang bertugas di depan kamar tersebut.
"Bahkan pintu ini belum terbuka sejak terakhir kali Tuan Duke memanggil Nona."
"Tapi ... mengapa hening sekali?"
Di lain tempat, Elina dan Mika berhasil masuk ke sebuah ruangan yang ada di bawah kamarnya. Suasananya sangat gelap tanpa penerangan hingga mereka tidak bisa melihat apa pun.
"Sepertinya ruangan ini sudah tidak pernah digunakan," gumam Mika.
"Bagus sekali!"
Mika sampai membulatkan matanya mendengar ucapan tersebut. Ia kembali dikejutkan dengan kegiatan Elina.
"A-apa yang Anda lakukan, Nona?! Berikan itu pada saya!" seru Mika sembari merampas kain berdebu yang ada di tangan Elina.
"Memangnya kenapa? Kita bisa bersihkan berdua."
"Tidak, Nona. Saya sendiri saja bisa membersihkan tempat ini."
Elina hanya mengangguk agar Mika tidak lagi bersuara. Sebab ia mendengar langkah kaki yang melintas di depan pintu. Elina menempelkan telunjuk di bibirnya untuk mengisyaratkan Mika agar tidak bersuara.
"Kau yakin sudah memeriksa kamarnya lagi?"
Ini suara Charless! batin Elina.
"Ini sudah yang keenam kalinya, Tuan."
Elina tidak bisa menahan senyumnya. Galiard pasti lelah menghadapi Charless.
"Bagaimana dengan ruangan ini?"
Elina dan Mika beradu pandang. Mereka terlihat sangat panik. Untung saja Galiard bisa membuat mereka bernapas lega.
"Nona Faelwen orang yang sangat teliti. Beliau tidak mungkin masuk ke ruangan kotor ini."
"Benar sekali. Apa dia pulang tanpa diantar?"
Suara percakapan di luar perlahan menjauh lalu menghilang. Elina dan Mika sampai jatuh terduduk saking leganya. Sedari tadi menarik napas saja harus berhati-hati agar tidak ketahuan.
"Apa kita aman di sini, Nona?" tanya Mika.
Elina mengangguk mantap. "Kau dengar sendiri 'kan? Mereka tidak akan percaya kalau aku bersembunyi di sini."
Elina tersenyum lebar sembari memegang kedua bahu Mika.
"Kita tidak akan pulang ke rumah sialan itu!"
Mika sampai ternganga mendengar kata kasar yang terlontar dari mulut bangsawan seperti Ellisha De Faelwen. Namun ia juga merasa sangat senang. Mika tidak bisa menahan tawanya lagi.
"Nona benar-benar aneh—"
"Aku jelas mendengar suara dari tempat ini. Tidak mungkin Galiard tuli 'kan?"
Itu suara Charless!!
Pagi ini suasana kediaman Frederick sangat ricuh. Pelayan yang berlalu lalang di depan kamar Elina terdengar sibuk membicarakan sesuatu. Elina melirik ke arah Mika yang tengah menyisir rambutnya."Kamu tau sesuatu, Mika?"Mika menggeleng pelan. "Tidak, Nona. Saat mengambil sarapan, saya tidak mendengar apa pun.""Kalau begitu, kita harus keluar dan mencari tau!" kata Elina penuh semangat.Setelah penampilannya terlihat rapi, Elina langsung mengajak Mika keluar. Mereka sengaja berjalan mengikuti pelayan agar bisa mendapat informasi."Tuan Duke benar-benar berubah."Mereka membicarakan Charless? batin Elina."Bagaimana bisa Tuan Duke yang selama ini tidak pernah membuang siapa pun, tega memecat Agni.""Benar! Bahkan pencuri dan pembunuh bayaran selalu dibiarkan pergi. Sebenarnya apa yang dilakukan wanita ular itu pada Tuan Duke?!""Sepertinya Tuan Duke benar-benar menyukai Nona Faelwen.""Bagaimana kalau kita protes?""Kau mau kepalamu terlepas?""Tentu saja tidak!"Elina menghentikan l
Elina berjalan tertatih menuju ke arah kamarnya. Ia tidak peduli dengan darah yang terus keluar. Ia menghapus jejak air mata di pipinya sembari tersenyum."Sebenarnya ... apa yang aku harapkan saat berada di tubuh penjahat ini?"Saat melintasi danau, Elina tanpa sengaja melihat sosok yang tengah duduk di atas rerumputan. Sebisa mungkin ia tidak peduli. Sebab Charless melarangnya pergi ke area danau. Namun saat hendak pergi, namanya diserukan cukup keras."Hei, Nona Faelwen!"Elina sontak menoleh. Sosok di tengah kegelapan itu berlari ke arahnya sembari melambaikan tangan.Elina yang panik langsung memaksa kakinya untuk berlari. Namun akibat terluka, ia justru kembali terjatuh. Namun pinggangnya ditahan oleh seseorang."Saya bukan penjahat. Nona tidak perlu khawatir."Elina memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Nampak seorang pria berambut putih berkilau tengah tersenyum ke arahnya."Si-siapa?" tanya Elina dengan suara pelan.Pria itu melepaskan tangannya dari pinggang Elina, l
Elina tidak bisa berhenti menangis. Dadanya terasa sangat sesak setiap mengingat ucapan Charless. Pria itu sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasannya. Padahal ia ingin sekali memberitahukan sikap kurang ajar pelayan tersebut."Nona, apa sebaiknya kita pulang saja?" tanya Mika yang duduk di samping Elina.Elina langsung menggeleng. Ia masih tidak terbiasa dengan rasa sakit cambukan. Lebih baik menghadapi kata-kata kasar dari pelayan Frederick.Tiba-tiba saja gerbang belakang dekat tempat duduk mereka terbuka. Sosok berjubah cokelat datang membawa tas besar. Lalu dia menghampiri Elina."Nona, mengapa Anda menangis?" tanya sosok itu yang ternyata seorang wanita paruh baya. Ia menyodorkan sapu tangan pada Elina.Mika langsung menyambar sapu tangan tersebut. "Terima kasih. Tapi, siapa Anda?""Saya kepala koki di Frederick. Semua orang memanggil saya Madam.""Ayo kita kembali ke kamar, Mika," kata Elina sembari beranjak dari tempat duduk.Tangan Elina langsung ditahan oleh wanita ters
"Ulangi semua yang saya ucapkan tadi!"Elina menggaruk tengkuknya. Sejak sarapan bersama dengan Charless, kepalanya seperti tidak bisa mengingat apa pun. Hanya wajah tampan pria itu yang memenuhi isi kepalanya."Tidak boleh mendekati danau?" kata Elina dengan ragu.Charless mengangguk pelan. Ia menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Pandangannya tidak bisa lepas dari gadis tersebut."Apa lagi?" tanya Charless."Tidak boleh ke halaman belakang istana. Jangan memetik bunga di taman. Dilarang keras memasuki perpustakaan dan ruang kerja Tuan Duke."Charless mengerutkan dahinya. "Saya bertanya pada Nona Faelwen, bukan kau."Mika membungkuk. "Mohon maaf atas kelancangan saya, Tuan Duke."Baru saja Charless hendak bicara, pintu ruang tamu terbuka. Nampak Galiard datang dengan napas terengah-engah. Dia terlihat sangat terburu-buru."Yang Mulia Raja meminta Tuan untuk datang ke istana."Charless terdiam sejenak. Ia nampak seperti tengah memikirkan banyak hal. Lalu setelahnya ia langsung ber
"Duke, aku suka aroma gadis ini. Biarkan aku membawanya."Charless langsung memanggil pedang petirnya. Ia bergegas melompat ke danau sebelum ular itu benar-benar membawa Elina ke dunia lain.Begitu di dalam air, suasana langsung berubah. Nampak istana besar dengan banyak penjaga. Namun Charless masih bisa melihat Remio, ular besar yang membawa Elina sudah hampir memasuki istana."Iris, waktunya makan," bisik Charless pada pedangnya.Tiba-tiba saja pedang itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan. Charless langsung menerjang semua penjaga yang menghadangnya.Tidak butuh waktu lama, Charless sudah melewati gerbang. Namun Remio dan Elina sudah tidak terlihat. Charless berlari sekuat tenaga sebelum pintu istana tertutup.Pedang di tangan Charless melayang begitu cepat, lalu menahan pintu yang hampir tertutup."Terima kasih, Iris."Charless yang berhasil masuk ke istana itu langsung berjalan menyusuri lorong besar. Terakhir kali ia datang ke tempat ini untuk menyelamatkan Casia, ia hampir s
Kriet.Elina dan Mika menutup mulut mereka serapat mungkin saat pintu ruangan itu terbuka. Suara langkah kaki terdengar begitu mengerikan di telinga mereka."Tuan, Nona Faelwen tidak mungkin ada di ruangan ini.""Justru tempat yang jauh dari kata mungkin itu harus diperiksa."Elina mendecak begitu mendengar ucapan Charless. Akhirnya ia keluar dari tempat persembunyiannya. Ia bisa melihat Charless yang tersenyum miring ke arahnya."Tikus kecil pasti bersembunyi di ruangan kecil 'kan?""Duke, saya mohon biarkan kami tinggal di sini satu minggu lagi," kata Elina sembari menghampiri Charless."Pulang."Elina menoleh ke arah Galiard seolah meminta bantuan. Namun pria itu mengedikkan bahunya.Elina memegang kepalanya, lalu berjalan sempoyongan ke arah Mika."Kepalaku sangat sakit seperti mau pecah," kata Elina sembari memasang wajah sedih.Charless nampak tidak goyah. "Pulang sekarang juga.""Duke ... saya mohon."Elina langsung berlutut di depan kaki Charless. Entah mengapa air matanya mul







