Home / Historical / Akhir Yang Indah Untuk Duke / 07. Pulang? Tidak Akan!

Share

07. Pulang? Tidak Akan!

Author: Miss Kyo
last update Last Updated: 2025-09-16 23:13:11

"Nona Faelwen sudah sadar?" tanya Charless tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan dokumen.

Galiard yang berdiri di sampingnya mengangguk. "Benar, Tuan."

Charless meletakkan penanya di atas meja, lalu ia berdiri. Ia menatap Galiard cukup lama. Kemudian keluar dari ruangannya tanpa mengatakan apa pun.

Rupanya langkah Charless mengarah ke kamar yang ditempati Elina. Semua penjaga langsung menunduk begitu melihat kedatangannya.

"Tuan Duke akan masuk ke kamar Anda, Nona Faelwen!" seru salah satu penjaga.

"Tunggu sebentar. Saya harus mengganti pakaian."

Charless mengerutkan dahinya. Penjaga yang merasa takut hendak membukakan pintu, namun Charless menggeleng. Ia memilih menunggu di luar sembari menatap ke luar jendela.

Tidak lama, pintu kamar terbuka. Nampak sosok Elina yang sudah dibalut dengan gaun yang tertutup. Charless menaikkan sebelah alisnya sembari tersenyum.

"Sepertinya memang ada yang salah dengan Anda, Nona Faelwen," ujar Charless.

Elina tersenyum kikuk. "M-mungkin?"

Charless menatap ke dalam kamar lewat celah pintu yang sedikit terbuka. Pakaian berserakan di kasur dan lantai. Tidak mungkin ia masuk ke tempat berantakan seperti itu.

"Bagaimana kalau kita berbincang di taman?"

Elina mengangguk pelan. "Baik, Duke."

~~~

Gugup menjadi satu-satunya kata yang cocok untuk menggambarkan kondisi Elina saat ini. Sebisa mungkin ia berjalan agak jauh dari Charless. Bahkan Elina sampai mundur saat tangan mereka tidak sengaja bersentuhan.

"Bahkan matahari pasti terkejut dengan sikapmu, Nona."

"A-apa maksud Duke?" tanya Elina.

"Rumornya Anda berkencan dengan lima pria dalam satu hari. Tapi mengapa Anda begitu menjaga jarak dengan saya?"

Elina langsung menghentikan langkahnya. "I-itu karena ... karena—"

"Karena saya bukan tipe Anda?"

"Duke yang paling saya suka!"

Uhuk!

Charless dan Elina langsung menoleh. Rupanya Galiard yang sedari tadi mengikuti mereka sangat terkejut sampai tersedak.

"Kau baik-baik saja, Galiard?"

Galiard membungkukkan tubuhnya dengan sopan. "Maaf karena saya mengganggu Anda, Tuan. Tapi saya baik-baik saja."

Setelah tiba di kursi taman, pelayan langsung menyuguhkan makanan dan minuman. Charless tidak langsung membicarakan apa pun.

"Duke ingin membicarakan apa dengan saya?" tanya Elina.

Gelas yang hampir menyentuh bibir Duke terpaksa harus kembali ke atas meja. Duke melipat kedua tangannya di dada dengan pandangan lurus ke arah Elina.

"Pulanglah."

Elina mengerjapkan matanya beberapa kali. "Ya?"

"Anda harus kembali ke rumah, Nona. Count Faelwen mengirimkan surat pada saya. Sepertinya Count tau kalau Anda berada di sini," ujar Charless.

Elina hendak membuka mulutnya. Namun Charless menempelkan telunjuk di bibirnya sembari menggeleng.

"Tidak ada bantahan. Galiard akan menyiapkan kereta kuda sore ini."

~~~

Sesampainya di kamar, Elina langsung melompat ke kasur. Mika yang tengah menyapu sampai terkejut.

"Nona, Anda bisa terluka," kata Mika sembari menghambur ke arah Elina.

"Mika!"

Mika menunduk. "Ya, Nona."

"Kita harus bersembunyi!"

"Apa yang terjadi sampai kita harus bersembunyi?"

Elina memukuli bantal dengan kedua tangannya. "Aku tidak mau pulang ke rumah."

Mika terdiam. Ia tahu jelas apa yang membuat tuannya itu tidak mau pulang ke rumah. Siksaan dan perlakuan tidak baik di kediaman Faelwen pasti membuat siapa pun enggan berada di sana, termasuk Mika.

"Saya juga, Nona."

Wajah Elina nampak berubah ceria. "Kau juga setuju 'kan? Kita harus cari tempat persembunyian!"

Mika mengangguk semangat. "Baik, Nona!"

~~~

"Nona, kereta kuda sudah siap."

Galiard mengerutkan dahinya saat tidak ada jawaban dari dalam. Ia juga tidak mendengar ada suara dari ruangan tersebut.

"Apa Nona Faelwen pergi keluar?" tanya Galiard pada penjaga yang bertugas di depan kamar tersebut.

"Bahkan pintu ini belum terbuka sejak terakhir kali Tuan Duke memanggil Nona."

"Tapi ... mengapa hening sekali?"

Di lain tempat, Elina dan Mika berhasil masuk ke sebuah ruangan yang ada di bawah kamarnya. Suasananya sangat gelap tanpa penerangan hingga mereka tidak bisa melihat apa pun.

"Sepertinya ruangan ini sudah tidak pernah digunakan," gumam Mika.

"Bagus sekali!"

Mika sampai membulatkan matanya mendengar ucapan tersebut. Ia kembali dikejutkan dengan kegiatan Elina.

"A-apa yang Anda lakukan, Nona?! Berikan itu pada saya!" seru Mika sembari merampas kain berdebu yang ada di tangan Elina.

"Memangnya kenapa? Kita bisa bersihkan berdua."

"Tidak, Nona. Saya sendiri saja bisa membersihkan tempat ini."

Elina hanya mengangguk agar Mika tidak lagi bersuara. Sebab ia mendengar langkah kaki yang melintas di depan pintu. Elina menempelkan telunjuk di bibirnya untuk mengisyaratkan Mika agar tidak bersuara.

"Kau yakin sudah memeriksa kamarnya lagi?"

Ini suara Charless! batin Elina.

"Ini sudah yang keenam kalinya, Tuan."

Elina tidak bisa menahan senyumnya. Galiard pasti lelah menghadapi Charless.

"Bagaimana dengan ruangan ini?"

Elina dan Mika beradu pandang. Mereka terlihat sangat panik. Untung saja Galiard bisa membuat mereka bernapas lega.

"Nona Faelwen orang yang sangat teliti. Beliau tidak mungkin masuk ke ruangan kotor ini."

"Benar sekali. Apa dia pulang tanpa diantar?"

Suara percakapan di luar perlahan menjauh lalu menghilang. Elina dan Mika sampai jatuh terduduk saking leganya. Sedari tadi menarik napas saja harus berhati-hati agar tidak ketahuan.

"Apa kita aman di sini, Nona?" tanya Mika.

Elina mengangguk mantap. "Kau dengar sendiri 'kan? Mereka tidak akan percaya kalau aku bersembunyi di sini."

Elina tersenyum lebar sembari memegang kedua bahu Mika.

"Kita tidak akan pulang ke rumah sialan itu!"

Mika sampai ternganga mendengar kata kasar yang terlontar dari mulut bangsawan seperti Ellisha De Faelwen. Namun ia juga merasa sangat senang. Mika tidak bisa menahan tawanya lagi.

"Nona benar-benar aneh—"

"Aku jelas mendengar suara dari tempat ini. Tidak mungkin Galiard tuli 'kan?"

Itu suara Charless!!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   27. Terjebak Di Hutan

    Elina merasa sangat takut saat Galiard datang membaca barang yang diminta oleh Charless. Tidak ada satu pun yang bicara. Apalagi saat Charless nampak sedang menempelkan besi di bara yang menyala."Maafkan saya, Nona. Tapi separuh perjalanan hidup, saya habiskan bersama pekerjaan ini," ujar Charless.Elina tidak menjawab. Matanya tidak bisa berpaling dari besi yang sebagiannya sudah berwarna merah."Baiklah. Saya akan mulai dengan pertanyaan yang mudah," ujar Zetrian sembari berjalan ke belakang Elina.Elina menelan ludahnya dengan kasar. Besi panas itu sudah digenggam oleh Charless. Hanya jawabannya yang bisa menentukan besi itu menempel di wajahnya atau tidak."Apa Nona tau rencana ayah Anda?" tanya Zetrian.Elina menggeleng pelan. Tatapannya bertemu dengan Charless. Zetrian mendeham beberapa kali, namun tidak ada pergerakan."Duke?" panggil Zetrian.Charless mengerjap, lalu menoleh ke arah Zetrian. "Ya?""Mengapa kau melamun? Dasar bodoh!"Zetrian langsung mengambil alih besi itu, n

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   26. Elina Diintrogasi

    Charless merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia mengusap wajah dengan kasar saat teringat ucapan Zetrian. Nampaknya pria itu benar-benar ingin membuat Ellisha membuka mulut terkait aktivitas ilegal yang dilakukan ayahnya."Bagaimana jika gadis itu tidak bicara, bahkan setelah besi panas menempel di wajahnya?"Charless mendesah gusar. Ia bergegas bangun dan mengenakan mantel hitam panjangnya. Begitu keluar kamar, ia langsung menemukan Ellisha tengah berdiri di balkon lantai dua.Entah mengapa Charless selalu merasa ada kesedihan yang menyelimuti gadis itu. Apalagi saat tengah berdiri sendirian di tengah malam seperti ini."Anda tidak tidur, Nona?" tanya Charless."Se-sebentar lagi."Kedua tangan Charless terkepal kuat. Bagaimana bisa gadis yang terlihat sangat rapuh itu terlibat dengan Torico. Salah satu kandidat yang dicurigai ingin melakukan pemberontakan.Charless berdiri di samping Ellisha yang hanya setinggi dadanya. Gadis itu nampak kedinginan karena tidak mengenakan mantel. Tanpa di

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   25. Kelicikan Zetrian

    Elina meronta saat Zetrian secara langsung turun tangan merantai kedua tangannya. Padahal ia yakin selama ini tidak pernah melakukan kesalahan yang melibatkan kerajaan."Tunggu sebentar, Yang Mulia Pangeran!" seru Elina sembari membungkuk. Ia masih harus menjaga sopan santunnya."Kebohongan apa lagi yang ingin Anda sebarkan, Nona Faelwen?" tanya Zetrian, senyum miring terpasang di wajahnya.Kedua tangan Elina terkepal kuat. Jika tidak dirantai, mungkin saja ia sudah memukul wajah tampan pria tersebut."Saya tidak tahu alasan Yang Mulia menangkap saya.""Tidak perlu alasan untuk menyeret keluarga Faelwen, termasuk Anda, Nona!"Dahi Elina mengkerut. "Tapi saya tidak melakukan kesalahan apa pun!""Bawa dia keluar!" seru Zetrian.Tubuh Elina yang belum terisi makanan apa pun itu nyaris terbang saat pengawal menarik rantai yang ada di tangannya. Ia bisa merasakan nyeri hebat di sekitar pergelangan tangan. Namun memohon seperti apa pun tidak akan mendapat belas kasihan dari Zetrian yang sud

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   24. Pangeran Zetrian Mencurigai Elina!

    Gosip mengenai Ellisha De Faelwen menyebar luas. Ada yang mengatakan bahwa sang antagonis itu bertobat karena usianya tidak lama lagi. Ada pula yang mengatakan kalau Ellisha sang pembuat onar mengalami gegar otak saat jatuh ke sungai beberapa bulan lalu.Mau bertobat atau pun gegar otak, keduanya sama-sama menarik perhatian Pangeran Zetrian. Pria yang selama ini tutup mata soal Ellisha De Faelwen, mulai mengirim mata-mata untuk mengawasi wanita tersebut."Apakah kabar itu benar?" tanya Zetrian.Charless menghela napas pelan. "Masih belum dipastikan kebenarannya, Pangeran."Zetrian memijat keningnya. "Jangan sampai ada yang terlewat. Bisa saja ini direncanakan untuk menutupi kebusukan Count Faelwen.""Apa maksud Anda, Pangeran?"Zetrian menatap sahabat lamanya itu dengan wajah bingung. Ia tertawa pelan penuh paksaan. Sedetik kemudian raut wajahnya kembali serius."Jangan hanya karena perubahan kecil, kau sampai melupakan semua kejahatan gadis itu!" kata Zetrian dengan tegas.Charless m

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   23. Dugaan Galiard Tentang Elina

    Elina memacu langkahnya lebih cepat, namun Charless tetap bisa mengikutinya. Bahkan pria itu sampai bisa menyamakan langkah dengannya. Elina langsung menoleh saat Charless berada tepat di sampingnya."Mengapa Duke mengikuti saya?" tanya Elina. Ia membuang pandangannya ke sembarang arah.Elina bisa merasakan Charless yang terus memandanginya. Ia mendeham pelan untuk meredakan gugupnya."Anda tidak dengar?""Ada apa dengan penampilan Anda?" tanya Charless.Elina menunduk sembari melihat pakaiannya saat ini. Ia menggaruk tengkuknya sembari tertawa kaku."Sa-saya hanya ingin mencoba pakaian ini," jawab Elina sekenanya.Charless mengangguk pelan. "Pakaian itu bukan untuk menghindariku 'kan?""Tidak!"Charless tersenyum, ia langsung menghadang jalan Elina dengan tubuh besarnya. Elina mendecak pelan melihat tingkah pria tersebut."Bukankah Duke seharusnya sedang makan malam?" tanya Elina.Charless mengangguk. "Tapi saya tidak melihat Nona di sana. Nafsu makan saya langsung hilang.""Berhenti

  • Akhir Yang Indah Untuk Duke   22. Elina menghindari Charless

    Setelah sadarkan diri, Elina tidak berani keluar dari kamar. Ia masih sangat terkejut dengan kejadian di taman. Walau ia sangat menyukai Charless, namun sama sekali tidak terlintas dipikirannya untuk berciuman dengan pria tersebut. Sama sekali tidak!Selama ini rasa suka Elina pada Charless tidak lebih dari seorang penggemar. Ia ingin memberikan kisah yang indah pada pria tersebut. Walau sesekali saat membaca komik, terlintas rasa ingin menggenggam tangan Charless."Nona, Tuan Duke akan makan malam bersama Count dan Countess. Apa Nona ingin ikut?" tanya Mika.Kepala Elina langsung menggeleng. "Tidak! Saya akan makan di kamar.""Bagaimana kalau Tuan Duke mencari Nona?""Tidak akan!" sanggah Elina dengan cepat."Tapi saat mengantar Nona yang pingsan tadi siang, Tuan Duke kelihatan sangat khawatir. Mungkin saja—""Mika, bisakah kau mengambilkan makanan sekarang?" potong Elina.Mika mengangguk cepat. Gadis itu langsung menghilang secepat kilat.Setelah kepergian Mika, ia bergegas mengganti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status