เข้าสู่ระบบ"Tuan Duke!" jerit Mika.
Charless sangat terkejut saat melihat Elina yang ada dipangkuan Mika. Darah mengalir dari mulut dan hidungnya. Secepat mungkin ia membuka pintu sel yang terkunci.
"Apa yang terjadi dengan Nona Faelwen?" tanya Charless dengan suara meninggi.
Mika menunduk takut sembari menggelengkan kepalanya. Charless mengambil alih posisinya memangku kepala Elina. Ia mendesis pelan begitu menyadari tubuh gadis itu mulai dingin.
"Siapa namamu?" tanya Charless tanpa mengalihkan pandangannya dari Elina yang tidak sadarkan diri.
"Na-nama saya Mika, Tuan Duke."
"Kau harus ikut ke wilayah Frederick sampai Nona Faelwen sadarkan diri."
Mika mengangguk patuh. Setelah itu, Charless membawa Elina keluar dari kawasan penjara. Begitu tiba di dekat kereta kuda, pengawal pribadinya nampak terkejut.
"Tuan Duke, a-apa yang terjadi?" tanya Galiard.
"Tolong bukakan pintunya," kata Charless.
Secepat mungkin Galiard membuka pintu kereta kuda. Charless dengan hati-hati meletakkan tubuh Elina.
"Kau!" seru Charless sembari menoleh ke arah Mika.
Mika sontak membungkuk. "Sa-saya, Tuan Duke."
"Kau ikut naik ke kereta. Sebisa mungkin buat Nona Faelwen aman di dalam sana," kata Charless.
Galiard menaikkan kedua alisnya. "Bagaimana dengan Anda, Tuan Duke?"
"Aku akan naik kuda bersamamu."
Setelah itu, mereka berangkat menuju kediaman Frederick. Selama di perjalanan, untuk pertama kalinya Charless terus memilih jalan pintas agar cepat sampai. Apalagi saat tahu kondisi Elina yang semakin melemah.
~~~
Charless merebahkan tubuhnya di sofa. Ia merasa waktu berjalan begitu lambat. Padahal baru lima menit lalu tabib kepercayaannya masuk ke ruangan tempat Elina terbaring.
"Saat Tuan datang, kondisi Nona Faelwen sudah seperti itu?" tanya Galiard.
Charless mengangguk samar dengan tangan yang tidak berhenti memijat hidungnya.
"Anda tidak perlu khawatir, Tuan Duke."
"Aku sama sekali tidak khawatir!"
Galiard menunjuk kaki tuannya. "Anda gemetar."
Secepat mungkin Charless berdiri. Untung saja setelah itu tabib keluar dari ruangan tersebut. Wajah pria tua itu nampak ketakutan.
"Apa yang terjadi dengan Nona Faelwen? Mengapa bisa ada darah keluar dari hidung dan mulutnya?" tanya Charless.
"Be-beliau ...."
Tanpa sadar Charless mencengkram bahu pria tua tersebut. "Katakan!"
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Nona sebelumnya?" tanya Alan, tabib yang wajahnya sudah sepucat mayat.
"Pernikahan ...," guman Charless.
Alan membungkukkan tubuhnya. "Maafkan saya, Tuan Duke. Tapi menurut saya, Nona mengonsumsi racun karena tidak menginginkan pernikahan ini."
Sontak kedua tangan Charless terkepal kuat. Sorot pandangnya berubah tajam menatap ke arah pintu ruangan yang tertutup. Amarahnya sudah memuncak mendengar penjelasan Alan.
"Pergi," kata Charless dengan suara pelan.
"Ya, Tuan Duke?" tanya Alan yang tidak mendengarnya dengan jelas.
"Pergi!" teriak Charless.
Secepat mungkin Alan pergi. Setelah itu Charless menjatuhkan kembali tubuhnya ke sofa panjang. Entah mengapa kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman miring.
"Kau kira aku menginginkan pernikahan ini?" kata Charless sembari menatap langit-langit ruangan.
Brak!
Galiard sampai terperanjat saat Charless memukul meja kaca di dekatnya sampai pecah.
"Galiard."
"Ya, Tuan Duke," jawab Galiard sembari menundukkan kepalanya.
"Panggil Mika ke ruanganku."
~~~
Mika memberanikan diri untuk melangkah masuk ke ruangan Charless walau tubuhnya gemetar hebat. Siapa yang tidak tahu kekejaman Duke Charles Von De Frederick? Bahkan hewan terkecil pasti tahu.
Aura di dalam ruangan itu sangat dingin, padahal perapian selalu dinyalakan. Mika dapat melihat Charless yang duduk di singgasananya dengan tangan menopang wajah.
"Saya akan berikan kemudahan jika kau mengatakan semua yang terjadi dengan jujur," ujar Charless.
Mika langsung bersujud. "Saya benar-benar tidak bersalah."
"Siapa pelakunya?"
Mika bungkam. Ia tidak mungkin mengatakan pada Charless kalau pelakunya adalah Roseria, Countess Faelwen.
"Kalau begitu, Nona Faelwen berencana bunuh diri?"
Mika sangat terkejut. Ia menggeleng cepat dengan wajah panik. Namun justru berujung dengan melayangnya gelas ke lantai.
"Lalu bagaimana bisa racun itu masuk ke tubuh Nona Anda?"
"Saya ... saya—"
"Keluar."
Mika mundur tanpa menegakkan tubuhnya. Ia tidak menyangka akan dipanggil secara pribadi oleh Duke. Begitu tiba di luar ruangan, tubuh Mika langsung jatuh ke lantai. Ia membekap mulutnya dengan air mata menetes.
Maafkan saya, Tuan Duke. Tapi saya pelayan keluarga Faelwen.
"Anda berbohong pada Duke?"
Mika sontak menoleh dan mendapati Galiard tengah bersandar di dinding. Mika langsung mengusap air matanya dan bergegas pergi. Namun ucapan Galiard mampu membuatnya membeku.
"Countess menjadi orang terakhir yang mengunjungi Nona Faelwen."
~~~
"Kamu gagal, Elina."
Elina menggeleng cepat. "Tolong berikan aku kesempatan sekali lagi."
"Ya, selajutnya kau pasti mati di tangan Charless. Orang yang kau cintai tanpa tahu apa pun."
Elina berusaha menggapai tubuh Ellisha, namun gadis itu semakin menjauh darinya.
"Lari Elina, bawa tubuhku sejauh mungkin. Tempat ini terlalu kejam untukmu," kata Ellisha sembari tersenyum.
Setelah itu tubuh Ellisha mulai menghilang. Lalu diikuti dengan ledakan yang sangat besar.
Elina langsung terbangun dari tidur panjang. Seluruh tubuhnya terasa panas, namun tidak meninggalkan luka bakar.
"Nona!" seru Mika sembari berlari ke arah ranjang.
Elina menoleh ke arah jendela. Cahaya matahari langsung menyambut kedua matanya. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah. Dahinya berkerut saat menyadari betapa asingnya tempat tersebut.
"Ini ... di mana?"
"Istana Tuan Duke Frederick."
Mata Elina langsung membulat. "Ba-bagaimana bisa?!"
"Racunnya berhasil masuk ke tubuh Anda, Nona."
Elina mendesis pelan sembari merebahkan kembali tubuhnya ke ranjang. Padahal saat Roseria memaksanya makan pai itu, sebisa mungkin ia tidak menelannya. Tapi ternyata racun dari remah-remah kue itu berhasil masuk ke tubuhnya.
"Sepertinya racun itu sangat kuat," gumam Elina.
Mika mengangguk. "Tapi biasanya racun itu tidak mampu menumbangkan Anda, Nona."
Elina langsung terdiam. Kata biasanya itu sangat mengerikan untuk didengar. Padahal ia mengira kalau Ellisha hanya tidak spesial, tapi ternyata dia juga menjadi korban uji coba racun oleh Roseria. Tanpa sada air mata mengalir ke pipinya.
"Kau pasti sangat menderita, Ellisha."
Pagi ini suasana kediaman Frederick sangat ricuh. Pelayan yang berlalu lalang di depan kamar Elina terdengar sibuk membicarakan sesuatu. Elina melirik ke arah Mika yang tengah menyisir rambutnya."Kamu tau sesuatu, Mika?"Mika menggeleng pelan. "Tidak, Nona. Saat mengambil sarapan, saya tidak mendengar apa pun.""Kalau begitu, kita harus keluar dan mencari tau!" kata Elina penuh semangat.Setelah penampilannya terlihat rapi, Elina langsung mengajak Mika keluar. Mereka sengaja berjalan mengikuti pelayan agar bisa mendapat informasi."Tuan Duke benar-benar berubah."Mereka membicarakan Charless? batin Elina."Bagaimana bisa Tuan Duke yang selama ini tidak pernah membuang siapa pun, tega memecat Agni.""Benar! Bahkan pencuri dan pembunuh bayaran selalu dibiarkan pergi. Sebenarnya apa yang dilakukan wanita ular itu pada Tuan Duke?!""Sepertinya Tuan Duke benar-benar menyukai Nona Faelwen.""Bagaimana kalau kita protes?""Kau mau kepalamu terlepas?""Tentu saja tidak!"Elina menghentikan l
Elina berjalan tertatih menuju ke arah kamarnya. Ia tidak peduli dengan darah yang terus keluar. Ia menghapus jejak air mata di pipinya sembari tersenyum."Sebenarnya ... apa yang aku harapkan saat berada di tubuh penjahat ini?"Saat melintasi danau, Elina tanpa sengaja melihat sosok yang tengah duduk di atas rerumputan. Sebisa mungkin ia tidak peduli. Sebab Charless melarangnya pergi ke area danau. Namun saat hendak pergi, namanya diserukan cukup keras."Hei, Nona Faelwen!"Elina sontak menoleh. Sosok di tengah kegelapan itu berlari ke arahnya sembari melambaikan tangan.Elina yang panik langsung memaksa kakinya untuk berlari. Namun akibat terluka, ia justru kembali terjatuh. Namun pinggangnya ditahan oleh seseorang."Saya bukan penjahat. Nona tidak perlu khawatir."Elina memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Nampak seorang pria berambut putih berkilau tengah tersenyum ke arahnya."Si-siapa?" tanya Elina dengan suara pelan.Pria itu melepaskan tangannya dari pinggang Elina, l
Elina tidak bisa berhenti menangis. Dadanya terasa sangat sesak setiap mengingat ucapan Charless. Pria itu sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasannya. Padahal ia ingin sekali memberitahukan sikap kurang ajar pelayan tersebut."Nona, apa sebaiknya kita pulang saja?" tanya Mika yang duduk di samping Elina.Elina langsung menggeleng. Ia masih tidak terbiasa dengan rasa sakit cambukan. Lebih baik menghadapi kata-kata kasar dari pelayan Frederick.Tiba-tiba saja gerbang belakang dekat tempat duduk mereka terbuka. Sosok berjubah cokelat datang membawa tas besar. Lalu dia menghampiri Elina."Nona, mengapa Anda menangis?" tanya sosok itu yang ternyata seorang wanita paruh baya. Ia menyodorkan sapu tangan pada Elina.Mika langsung menyambar sapu tangan tersebut. "Terima kasih. Tapi, siapa Anda?""Saya kepala koki di Frederick. Semua orang memanggil saya Madam.""Ayo kita kembali ke kamar, Mika," kata Elina sembari beranjak dari tempat duduk.Tangan Elina langsung ditahan oleh wanita ters
"Ulangi semua yang saya ucapkan tadi!"Elina menggaruk tengkuknya. Sejak sarapan bersama dengan Charless, kepalanya seperti tidak bisa mengingat apa pun. Hanya wajah tampan pria itu yang memenuhi isi kepalanya."Tidak boleh mendekati danau?" kata Elina dengan ragu.Charless mengangguk pelan. Ia menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Pandangannya tidak bisa lepas dari gadis tersebut."Apa lagi?" tanya Charless."Tidak boleh ke halaman belakang istana. Jangan memetik bunga di taman. Dilarang keras memasuki perpustakaan dan ruang kerja Tuan Duke."Charless mengerutkan dahinya. "Saya bertanya pada Nona Faelwen, bukan kau."Mika membungkuk. "Mohon maaf atas kelancangan saya, Tuan Duke."Baru saja Charless hendak bicara, pintu ruang tamu terbuka. Nampak Galiard datang dengan napas terengah-engah. Dia terlihat sangat terburu-buru."Yang Mulia Raja meminta Tuan untuk datang ke istana."Charless terdiam sejenak. Ia nampak seperti tengah memikirkan banyak hal. Lalu setelahnya ia langsung ber
"Duke, aku suka aroma gadis ini. Biarkan aku membawanya."Charless langsung memanggil pedang petirnya. Ia bergegas melompat ke danau sebelum ular itu benar-benar membawa Elina ke dunia lain.Begitu di dalam air, suasana langsung berubah. Nampak istana besar dengan banyak penjaga. Namun Charless masih bisa melihat Remio, ular besar yang membawa Elina sudah hampir memasuki istana."Iris, waktunya makan," bisik Charless pada pedangnya.Tiba-tiba saja pedang itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan. Charless langsung menerjang semua penjaga yang menghadangnya.Tidak butuh waktu lama, Charless sudah melewati gerbang. Namun Remio dan Elina sudah tidak terlihat. Charless berlari sekuat tenaga sebelum pintu istana tertutup.Pedang di tangan Charless melayang begitu cepat, lalu menahan pintu yang hampir tertutup."Terima kasih, Iris."Charless yang berhasil masuk ke istana itu langsung berjalan menyusuri lorong besar. Terakhir kali ia datang ke tempat ini untuk menyelamatkan Casia, ia hampir s
Kriet.Elina dan Mika menutup mulut mereka serapat mungkin saat pintu ruangan itu terbuka. Suara langkah kaki terdengar begitu mengerikan di telinga mereka."Tuan, Nona Faelwen tidak mungkin ada di ruangan ini.""Justru tempat yang jauh dari kata mungkin itu harus diperiksa."Elina mendecak begitu mendengar ucapan Charless. Akhirnya ia keluar dari tempat persembunyiannya. Ia bisa melihat Charless yang tersenyum miring ke arahnya."Tikus kecil pasti bersembunyi di ruangan kecil 'kan?""Duke, saya mohon biarkan kami tinggal di sini satu minggu lagi," kata Elina sembari menghampiri Charless."Pulang."Elina menoleh ke arah Galiard seolah meminta bantuan. Namun pria itu mengedikkan bahunya.Elina memegang kepalanya, lalu berjalan sempoyongan ke arah Mika."Kepalaku sangat sakit seperti mau pecah," kata Elina sembari memasang wajah sedih.Charless nampak tidak goyah. "Pulang sekarang juga.""Duke ... saya mohon."Elina langsung berlutut di depan kaki Charless. Entah mengapa air matanya mul







