Beranda / Romansa / Akibat Sumpah Sebelum Menikah / Tak Sesempurna yang Dipikir

Share

Tak Sesempurna yang Dipikir

Penulis: Dwrite
last update Terakhir Diperbarui: 2023-01-20 09:36:53

"Laper nggak?" Mas Fariz menoleh padaku yang sejak tadi memeluk diri, sembari memerhatikan lalu-lalang orang dan kendaraan yang hilir-mudik di hadapan.

Saat ini kami tengah menunggu jemputan sambil duduk di salah satu bangku terminal. Kata Mas Fariz, sopir yang hendak menjemput kami terjebak macet di jalan.

"Dikit," jawabku sekenanya.

"Kalau laper bilang aja laper. Dikit atau banyak intinya sama-sama pengen makan," tukasnya menekankan.

Aku menoleh, menatapnya tajam, lalu balik bertanya. "Jadi, saya salah kalau bilang cuma laper dikit? Salah kalau kenyataannya emang nggak terlalu lapar? Mas bisa bedain, kan mana lapar pengen makan, sama laper cuma pengen camilan?"

"Oke, gue yang salah. Fine!" Mas Fariz mengacak rambut gondrongnya, kemudian mengusap wajah kasar, sebelum memaksakan seulas senyuman. "Gorengan mau?" Dia menunjuk tukang gorengan yang kebetulan gerobaknya hanya berjarak dua meter dari tempat duduk kami.

"Boleh." Aku mengangguk mengiyakan.

"Ya, udah, tunggu bentar."

Dia beranjak bangkit. Kutatap punggung lebarnya yang berjalan menuju Tukang Gorengan yang mangkal di dekat pintu masuk terminal. Tanpa sadar senyumku tersungging saat melihat tubuh besar Mas Fariz yang nyaris menutupi badan gerobak, hingga pedagangnya nyaris tak terlihat.

"Lah, gue mau bayar bukan minta, Mang!"

Kupicingkan mata saat menyadari mulai ada emosi dari ucapan yang Mas Fariz lontarkan pada pedagang gorengan.

"Nggak apa-apa ambil aja. Tapi jangan balik lagi, ya, Bang. Tuh, anak sama ibu-ibu tadi yang mau beli jadi takut karena ngeliat Abang."

"Anjir, emangnya gue setan?"

"Bukan gitu, Bang. Cuma--"

Aku memutuskan untuk berjalan menghampiri saat mendengar keributan mulai terjadi. Takut-takut Mas Fariz berulah lagi.

"Ada apa ini?" Dua orang yang memiliki perbedaan tinggi badan yang mencolok itu menoleh bersamaan.

"Anu, Neng, Si Bapak ini ...." Tukang Gorengan yang bisa kutaksir berusia akhir empat puluhan itu mulai menjelaskan, tapi kembali dipotong Mas Fariz.

"Bapak? Sejak kapan gue punya anak tukang gorengan!"

"Mas!" Kutatap matanya yang semula berkilat tajam, sampai kembali menyorot lembut.

"Dia yang mulai, Ci. Masa gue dibilang mau malak, padahal, kan gue mau beli. Nih, bawa duit ceban." Dia menyodorkan selembar uang pecahan 10ribu itu ke hadapan. Bibirnya mengerucut bak anak kecil yang meminta perlindungan karena kalah debat dengan sesama teman.

"Iya, iya, saya percaya." Aku menenangkan sembari sesekali mengusap lengan atasnya agar emosi Mas Fariz berangsur tenang. Kemudian beralih pada Tukang Gorengan.

"Dia suami saya, Pak," tuturku sembari meraih kantong plastik berisi gorengan yang hampir Mas Fariz lempar ke muka Si Pedagang.

"Suami." Pedagang gorengan itu menggumam. "Apa nggak nembus sampe jantung."

Brak!

Kami terlonjak saat Mas Fariz tiba-tiba meninju atap gerobak, sampai alas seng-nya terdapat bekas pukulan.

"Yang ada ucapan lu yang nembus jantung. Nyeletuk kagak pake bismillah-an, lama-lama gue obrak-obrik juga nih dagangan!"

"Udah, Mas." Mati-matian aku kembali menenangkan, meskipun hal itu tak cukup mampu membuat emosi Mas Fariz teredam. Tampak beberapa orang yang tak sengaja berpapasan, menjaga jarak karena tak mau jadi pelampiasan kekesalan. "Nih, uangnya, Pak. Makasih, ya!"

"Sa-sama-sama, Ne-ng." Suaranya tampak gemetar saat mengambil alih uang yang kusodorkan.

Setelahnya kugandeng Mas Fariz untuk kembali ke bangku yang semula kami dudukki.

"Sabar! Kalau ada ucapan yang nggak ngenakin jangan diambil hati. Istigfar, nggak semua masalah bisa diselesain pake otot." Kugenggam sebelah tangannya yang terkepal.

Sejauh ini satu sifat buruknya yang paling melekat adalah temperamental dan mudah tersinggung.

Mas Fariz menoleh, tatapannya yang semula berkilat tajam, kembali melunak. Dia menghela napas panjang, sebelum mencomot pisang goreng yang sudah kugigit sedikit, lalu menyantapnya hanya dengan satu suapan.

"Gwue umah bewusaha, Chi. Chuma mewekanya aja wang--"

"Abisin dulu, baru lanjut jelasin!" tegurku saat melihatnya berbicara dengan keadaan mulut penuh makanan.

Dia menurut, selesai menelan, dilanjutkan menegak air kemudian menyeka mulut.

"Lu yang sempurna dari lahir tahu apa, sih, Ci? Gimana rasanya saban hari di-body shaming, bahkan sama keluarga sendiri. Nggak jarang juga dibanding-bandingkan sama menantu yang katanya kebanggaan. Cih, mentang-mentang ilmu agamanya tinggi, lulusan Pesantren, suka ngisi kajian. Menghasilkan buntut yang menggemaskan. Cih, sialan. Ternyata sejauh ini kehadiran Si Alibaba emang bawa pengaruh besar buat kehidupan gue sekarang." Pandangan Mas Fariz menerawang, dia mengeluarkan bungkus rokok dan pematik dari dalam saku jaketnya.

Sepuntung rokok dia selipkan di sela bibir. Bara api menyala di ujungnya, sebelum sempat Mas Faris menghisapnya--kurebut paksa benda bernikotin itu dari mulutnya, lalu menyesapnya lebih dulu.

"Astagfirullah, lu ngapain, sih, Ci?!" Mas Fariz mengambil alih puntung rokok itu lagi. Terkejut bukan main melihat aksi nekad yang baru saja kulakukan.

"Saya nggak sesempurna yang Mas pikir." Kuembuskan asap rokok yang sempat kusesap tadi. "Kita cuma berbeda cara dalam memilih dosa."

Dia tertegun.

"Lu gila, ya?"

Aku tertawa menanggapi ucapannya.

"Mau adu nasib? Tapi sebungkus rokok itu mungkin nggak akan cukup buat menceritakan pahit dan manisnya perjalanan hidup saya sebelum hijrah."

.

.

.

Bersambung.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
makQuEl
sumpah,absurd bgt kakk,ngakak poll gw..suka ma cerita2nya kakak nih
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Rumah yang Kehilangan

    Hujan turun tipis di pemakaman. Tidak deras, tidak pula benar-benar reda. Seperti duka yang menggantung di dada semua orang. Payung-payung hitam berjejer, langkah kaki tertahan lumpur, dan doa-doa mengalir pelan dari bibir para pelayat. Pak Ahmad dimakamkan dengan cara paling sederhana, tapi dihadiri begitu banyak orang. Tetangga. Jamaah. Santri lama. Warga yang pernah ditolongnya diam-diam. Semua datang, sebagian dengan mata sembap, sebagian dengan cerita baik tentang almarhum yang mereka simpan rapat-rapat. Suci berdiri kaku di sisi liang lahat. Wajahnya pucat, matanya sembab, tapi air matanya seperti sudah habis. Fariz menggenggam tangannya erat, seolah itu satu-satunya cara agar istrinya tetap berdiri. “Bapak orang baik,” bisik seorang ibu pada Suci. Suci hanya mengangguk, bibirnya bergetar. Tanah ditimbun. Doa ditutup. Dan untuk pertama kalinya, Suci benar-benar menyadari, rumah orang tuanya tak lagi utuh. *** Malam harinya, rumah orang tua Suci ramai. Keluarga Fariz

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Touring berakhir Pusing

    “Meidei, meidei!”Suara Fariz menggema di HT kecil yang ia jepit di jaket riding-nya. Angin pegunungan menusuk sampai ke tulang, tapi gaya sok gagahnya tetap dipertahankan. Motor sewaan yang ia pakai meraung-raung kecil, seolah ikut protes kenapa harus dipaksa nanjak.Di ujung sana, suara Bobby terdengar santai. Terlalu santai untuk ukuran orang yang barusan diteriaki meidei.“Situasi aman terkendali,” jawab Bobby. “Lu kenapa, Riz? Baru jalan dua jam udah drama.”Fariz mendecih. “Gue cuma ngetes HT. Jangan parno.”Padahal tengkuknya sudah dingin, kepala mulai berat. Tapi gengsi lelaki beristri itu lebih besar daripada sinyal tubuhnya sendiri.Rombongan touring mereka akhirnya berkumpul di sebuah rest area kecil. Bobby, Sherly, dan dua teman lain tampak menikmati kopi panas sambil tertawa-tawa. Fariz ikut tertawa—tertawa yang dipaksakan.Awalnya semua terasa menyenangkan.Mereka singgah di spot-spot indah, sawah bertingkat, jalanan berliku dengan kabut tipis. Fariz bahkan sempat minta

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Doa yang Menyertai

    "Assalamualaikum.""Waalaikumsallam."Faqih menyambut kedua sepupunya yang baru saja datang berkunjung. Dengan kaki yang tak lagi pincang, dia menuntun Akmal dan Hafiz masuk, lalu menjamu mereka seadanya karena kebetulan Suci memang ada jadwal mengisi materi akhir pekan ini."Om Fariz ke mana, Qih?" tanya Hafiz. Pandangannya menyapu sekeliling rumah sederhana milik orang tua Suci yang hampir sebulan keluarga Omnya tempati."Ada, tuh di kamar. Nggak tahu dah si Bapak ngapain? Begitu Ibuk pergi dia nggak keluar-keluar, padahal toko udah seharusnya buka dari tadi.""Bapak bisa denger, Faqih ...!" Terdengar suara teriakan Fariz dari dalam kamar. "Bapaknya lagi sibuk bukannya dibantuin, malah lu omelin."Faqih nyengir, lalu mengusap tengkuk. "Faqih tahu Bapak lagi ngapain juga enggak," elaknya."Bapak lagi packing. Dahlah, lu kasih orson atau teh manis aja dulu tuh anak berdua. Bentar lagi bapak kelar," titahnya kemudian."Iya, ini juga lagi." Faqih berlalu ke dapur dan kembali dengan nam

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Pensiun Dini

    DiaperDynamo : Bangke! Ngetik begitu doang ampe setengah jam.SleepyRingleader : Sebenernya gue nggak sanggup melakukan ini (emot nangis)Winni Tiny Bunny : Dah, bubar-bubar! Susah kalau berhubungan sama Bavak-bavak bucin dan laperanSleepyRingleader : Diem lu, Terong! Makanya kawin, biar tahu enaknya. Bukan nyevongin mesin tato mulu. Madesu, lu!Fariz melempar ponselnya ke samping kursi yang diduduki dengan perasaan dongkol. Bukannya mendapat solusi dari permasalahan yang terjadi, mereka justru saling adu argumen dan saling menyalahkan siapa yang salah di sini.Tak lama ponselnya berbunyi. Panggilan video dari Bobby tampak di layar."Halu.""Gud morning, Brother!" Wajah Bobby memenuhi layar ponsel Fariz saat sambungan video call tersambung. Terlihat, lelaki di seberang sana tengah asik menyeruput kopi dengan baground Sherly yang sibuk momong adik Salsa yang tahun ini baru masuk TK."Gue mau ngobrol tentang hal penting, bisa pindah dari sono? Backgroundnya kurang sedep di pandang mat

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Sebuah Rencana

    Suci dan Fariz saling melempar pandang. Sesekali mereka memerhatikan Ainun yang tampak canggung. Perempuan 22 tahun itu memilin-milin ujung kerudungnya yang lebar setelah menyaksikan kejadian melorotnya sarung yang Faqih kenakan, hingga berakhir dengan mengurung dirinya dia kamar."Ekhem, uhuk, hatchi!""Mas!" Suci menyikut perut buncit suaminya saat Fariz mencoba mencairkan suasana dengan cara yang cukup berlebihan."Jadi, Ainu--""Ini ada titipan--"Suci dan Ainun membuka percakapan secara bersamaan. Mereka terkekeh setelahnya. Begitulah perempuan."Maaf kalau saya datang nggak kasih kabar dulu, ya, Bu, Pak. Jadi, nggak enak." Ainun tersenyum kikuk, entah kenapa dia merasa tak enak dengan apa yang baru saja terjadi. Faqih pasti malu sekali."Nggak apa-apa, Nun. Kalau tentang si Faqih-- dia mah udah biasa mempermalukan diri kali!" Enteng sekali Fariz mengatakan."Mas!" Sekali lagi Suci menegur sang suami. Matanya menyipit mengingatkan.Ainun tertunduk, kulit wajahnya yang kuning lang

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Melorot

    Sepulangnya check up. Suci langsung mempersiapkan makan siang untuk keluarga kecilnya. Sementara kedua orang tuanya langsung pamit pulang setelah berbincang-bincang sebentar tentang kondisi kesehatan Pak Ahmad. Di sela menyiapkan makan, Suci langsung menceritakan tentang keresahannya setelah mendapati kondisi kedua orang tuanya yang tak lagi bugar. Perempuan itu juga mengatakan tentang undangan H. Sulton yang jatuh pada lusa. Setelah membaca situasi, Suci merasa tak yakin bisa kembali ke Jakarta untuk waktu yang cukup lama.Mendengar penjelasan istrinya, Fariz mulai memutar otak. Di satu sisi dia tak sanggup Ldr dengan anak dan istrinya, tapi di sisi lain ada pekerjaan yang tak sepenuhnya bisa dia tinggalkan. Setelah cukup lama memikirkan di sela makan siang. Dia memutuskan untuk mendiskusikannya dengan Bobby."Bapak beneran nggak makan lagi Ikan setelah tragedi Denok dipepes Ibuk?" Pertanyaan Faqih memecah lamunan Fariz dan Suci yang masih bergelut dengan pikiran masing-masing. "Me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status