LOGINLangit Jakarta masih berwarna pucat ketika rumah keluarga Salsa sudah dipenuhi orang. Suara langkah kaki, sapaan, dan arahan dari panitia keluarga bercampur menjadi satu. Aroma bunga melati dan mawar putih memenuhi ruangan, menguar lembut dari rangkaian dekorasi yang tersusun rapi di setiap sudut. Acara akad diselenggarakan di rumah dengan tamu terbatas, sementara puncak acara resepsi akan diadakan di hotel berbintang nanti. Semua tampak sempurna. Tapi tidak dengan hati seseorang yang berdiri di depan cermin. Salsa menatap pantulan dirinya. Gaun pengantin syar’i berwarna putih membalut tubuhnya dengan anggun. Renda-renda halus menjuntai dari lengan hingga ke ujung rok. Kerudung panjangnya terpasang rapi, dihiasi mahkota kecil yang sederhana namun elegan. Wajahnya dipoles tipis, cukup untuk mempertegas kecantikannya tanpa menghilangkan kesan lembut yang selama ini melekat. Dia tampak seperti pengantin yang sempurna. Tapi matanya ... tidak bisa berbohong. Ada gelisah yang bersemb
Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir sebelum hidupnya berubah.Di dalam kamar hotel yang cukup luas, lampu kuning redup menyinari satu set jas pengantin yang sudah tergelar rapi di atas kasur. Warna hitamnya terlihat elegan, lengkap dengan kemeja putih dan dasi yang sudah disiapkan dengan presisi. Sepatu mengilap tersusun di bawahnya, menunggu untuk dipakai. Semua tampak sempurna. Tapi lelaki yang berdiri di hadapannya justru tidak bergerak sedikit pun. Furqon berdiri dengan kedua tangan di saku celana. Pandangannya tertuju pada jas itu, tapi matanya seperti tidak benar-benar melihat. Kosong. "Saya sudah siapkan semuanya, Mas," ucap seorang pria di belakangnya dengan nada hati-hati. "Kalau mau dicoba dulu .…" Furqon tidak menjawab. Dia hanya menghela napas pelan. Lalu menggeleng. "Nanti aja, Ren." Jawabannya singkat. Asistennya itu terdiam sejenak, tidak berani memaksa. Dia tahu, hari ini bukan hari yang mudah bagi lelaki di depannya. Di luar sana, orang-orang mungki
Siang itu terasa panjang. Terlalu panjang untuk ditanggung oleh seseorang yang sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini adalah pilihan yang benar. Rumah keluarga Salsa dipenuhi kesibukan. Di ruang tengah, beberapa wanita sibuk menghitung souvenir satu per satu. Plastik transparan berisi gantungan kunci, kotak kecil berlapis pita, dan kartu ucapan tersebar di meja besar. Di sudut lain, ada yang sedang mencatat daftar kebutuhan, mencocokkan jumlah dengan pesanan. Suara mereka saling bertumpuk, sesekali diselingi tawa ringan yang terdengar wajar. Tapi bagi Salsa, semua itu terasa jauh. Dia duduk di kursi dekat jendela, tubuhnya sedikit menyandar, tangan bertumpu di pangkuan. Pandangannya kosong, menatap ke arah orang-orang yang bergerak tanpa benar-benar melihat. Pikirannya tidak di sana. Sejak kembali ke Jakarta, sejak kata "percepat" itu keluar dari mulutnya sendiri, sejak semua orang mulai bergerak lebih cepat dari biasanya, ada sesuatu di dalam dirinya yang jus
Pintu rumah terbuka cukup keras. Langkah Salsa terdengar cepat memasuki ruang tengah. Wajahnya tegang, napasnya sedikit tersengal seolah dia baru saja menahan sesuatu yang berat sepanjang perjalanan. Bobby yang sedang duduk santai langsung menoleh. "Percepat pernikahannya!" Kalimat itu meluncur tanpa basa-basi dari mulut gadis itu. Bobby mengangkat alis. Sedikit terkejut, tapi lebih penasaran. "Wah, wah, wah. Ada apa nih tiba-tiba?" Salsa berdiri di hadapannya. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. "Nggak usah banyak tanya, Pa. Percepatan aja. Furqon juga pasti bersedia." Nada suaranya tegas. Hampir seperti perintah. Bobby menghela napas. Dia bersandar di sofa, menatap putrinya lebih dalam. "Bukan masalah itunya, anak muda, tapi .…" Salsa memotong cepat. "Selama dua puluh lima tahun ini Salsa nggak pernah minta apa-apa ...." Matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia tahan. "Please." Satu kata itu terdengar lirih. Tapi cukup membuat suasana berubah. Bobby terdiam. Dia me
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah yang sedikit lembap. Lampu kuning di teras rumah menyala temaram, menciptakan bayangan samar di lantai. Fariz duduk santai di kursi kayu, satu tangannya memegang gelas teh hangat. Uapnya masih mengepul tipis. Suci duduk di sampingnya, membawa sepiring gorengan yang baru saja diangkat dari dapur. "Cape juga ngadepin anak yang telat puber, ya, Bu," celetuk Fariz sambil meniup tehnya pelan. "Udah seminggu, irit banget ngomongnya. Mana keluar cuma buat beol, salat sama mandi. Suram banget keliatannya." Suci tersenyum tipis. Dia menggigit gorengan, lalu mengunyah perlahan sebelum menjawab. "Nggak apa-apa, Pak. Lama-lama juga berlalu. Setiap orang butuh waktu," ucapnya lembut. "Mudah-mudahan aja patah hatinya nggak berlarut-larut." Fariz menoleh, alisnya sedikit terangkat. "Menurutmu Faqih beneran nggak punya kesempatan?" Suci mengernyit. "Maksudnya?" "Ya itu. Bukannya sebelum janur melengku
Ketukan pintu terdengar pelan, tapi cukup untuk memaksa Salsa membuka mata. Cahaya matahari sore menembus tirai tipis, jatuh tepat di wajahnya. Hangat, tapi tidak nyaman. Dia terbangun dalam keadaan masih mengenakan mukena. Tubuhnya bersandar di lantai, beralaskan sajadah yang sedikit kusut. Entah sejak kapan dia tertidur di situ. Yang jelas, air mata yang sempat mengalir semalam masih meninggalkan jejak di pipinya. Tok. Tok. Ketukan itu terdengar lagi. Salsa menghela napas pelan, lalu bangkit. Kepalanya terasa berat. Matanya sembab. Tapi dia tetap berjalan menuju pintu. Begitu pintu terbuka, dia langsung membeku. "Mama?" Di hadapannya berdiri Sherly. Dengan penampilan rapi, wajah yang tenang, tapi sorot mata yang penuh perhatian. Salsa sedikit tertegun, lalu menyingkir memberi jalan. "Masuk, Ma." Sherly melangkah masuk. Pandangannya menyapu ruangan kecil itu. Rapi, tapi terasa dingin. Dia berhenti sejenak, lalu menoleh pada putrinya. Salsa berdiri kaku. Senyumn
Fariz, Sherly, dan Bobby membawa Suci ke rumah sakit menggunakan mobil Sherly. Ketiga sahabat dekat itu terlihat tengah adu mulut di depan ruang rawat Suci. "Tolong jelasin sama gue, apa yang sebenarnya terjadi?" Fariz menuntut jawaban dari kedua orang yang duduk di hadapannya saat ini. "Semuanya sa
"Nggak usah diliatin mulu, sampai kapan pun dia nggak akan bisa jadi milik lu!" cetus Bobby saat melihat Sherly tengah memerhatikan Fariz yang membantu Bohim mencuci mobilnya. "Gue tahu," sahut Sherly. "apa salahnya mengagumi?""Mengagumi, kalau ada niat ingin memiliki sama aja boong, Mon.""Apa kuran
Sudah satu kali dua puluh empat jam sejak kejadian ikan dan tanaman. Namun, Fariz masih terbayang-bayang dan mulai kehilangan selera makan. Denok, Ikan Arwana yang dia beli tiga bulan lalu seharga DP mobil itu sekarang sudah dicerna perutnya bahkan mungkin sudah berubah menjadi kotoran. Tak percaya
Suci menumpukan dagunya di atas sandaran sofa. Menatap keluar jendela, memerhatikan deretan tanaman yang dia tanam tiga bulan lalu, kini hanya tersisa dua buah. Dia menghela napas berkali-kali sembari mengelus perutnya yang mulai membuncit setelah melewati fase three semester pertama. Beberapa saat







