Share

Bab 3

Penulis: Crispy Coco
Terkena peluru?

Jantungku seakan berhenti berdetak.

"Kapan?" Aku bergegas menghampiri Vicky. "Kau terluka?"

Tanganku menyentuh bajunya, mencoba memeriksa lukanya.

Vicky tersentak, mencoba mendorongku menjauh, tetapi gerakannya kaku. Dia jelas mengalami cedera.

"Tiga hari yang lalu," kata Vicky sambil memalingkan wajah. Suaranya dingin. "Ada situasi darurat di dermaga."

"Orang Romanov itu ternyata lebih gila dari yang kita duga," kata Andrea. Dia berpegangan erat di sisi Vicky, suaranya dipenuhi rasa takut yang terlatih. "Mereka tiba-tiba mulai menembak. Vicky, untuk melindungiku .…"

Dia menelusuri dada Vicky dengan jarinya.

"Peluru itu hampir mengenai jantungku. Tapi Vicky melompat di depanku, melindungiku dengan tubuhnya sendiri. Dia memang pahlawanku."

Aku menatap Vicky, menunggu dia menyangkal, dan menjelaskan semuanya.

Namun, dia tidak mengatakan apa-apa. Seolah-olah terkena peluru demi Andrea adalah hal yang wajar dia lakukan.

Rasa sakit yang tajam menusuk dadaku.

Aku teringat kejadian di Kota Makasga, tiga tahun lalu. Sebuah kesepakatan yang berbahaya.

Pihak lawan adalah kartel terkenal, tetapi mereka mengendalikan pasar ilegal seni di Amarila Tengah.

Sebelum pergi, aku sempat menemui Vicky untuk meminta tambahan pasukan.

"Ini terlalu berbahaya," kataku. "Aku butuh lebih banyak orang."

"Ini ujianmu, Irene," kata Vicky saat itu dengan wajah gelisah. "Keluarga nggak bisa membuat pengecualian untukmu. Kalau kau nggak bisa menangani ini, bagaimana kau bisa menjadi Nyonya Besar nanti?"

"Tapi Vicky .…"

"Aturan tetaplah aturan," potongnya. "Kau bisa mundur dari kesepakatan itu, tapi kau nggak bisa meminta keluarga untuk melanggar aturan."

Aku pun tertembak dalam negosiasi itu untuk menyelesaikan kesepakatan.

Ketika aku terbangun, Vicky berada di samping tempat tidurku, terlihat sangat kelelahan. Para perawat mengatakan dia sudah berada di sana selama beberapa hari.

Kupikir dia khawatir. Kupikir dia mencintaiku.

Kupikir dia menjauh sebelumnya karena tuntutan keluarga.

Jadi, aku memaafkannya.

Lalu, apa ini sebenarnya?

"Ingat Kota Makasga?" tanyaku, suaraku bergetar karena amarah. "Kau membiarkanku tertembak di sana dan menyebutnya sebagai ujian. Tapi kau mempertaruhkan nyawamu untuk dia, dan itu kau sebut hanya urusan bisnis biasa?"

Wajah Vicky memerah. "Itu berbeda."

"Bagaimana bisa berbeda?" Akhirnya aku berteriak, "Karena dia adalah penyelamatmu?!"

"Apa lagi?" Jawaban Vicky dingin. "Irene, aku berutang nyawa pada Andrea. Tiga belas tahun yang lalu, di rumah keluargamu, kalau dia nggak menarikku keluar dari kolam itu, aku pasti sudah mati. Aku akan menghabiskan seluruh hidupku untuk melunasi utang itu. Aku menghargai apa yang kau lakukan untuk keluarga ini, tapi itu nggak sebanding dengan menyelamatkan nyawaku."

Duniaku hancur berantakan.

Lucu sekali.

Itu benar-benar sangat lucu!

Tiga belas tahun yang lalu, pada suatu sore, gadis yang melompat ke kolam renang, yang menyeret tubuhnya yang tenggelam ke tepian, yang menangis sambil memberinya bantuan pernapasan … itu aku.

Andrea hanya berdiri di sana, berteriak histeris.

Setelah itu, dialah yang berlari ke semua orang, menangis dan membual tentang betapa beraninya dia, bagaimana dia telah menyelamatkan Vicky.

Aku sangat trauma sampai menderita demam tinggi dan pingsan selama tiga hari, akhirnya kehilangan kesempatan untuk meluruskan fakta yang sebenarnya.

Jadi, itulah akar dari lelucon sepuluh tahun ini.

Semua tindakan pilih kasihnya, semua perlindungannya, semua itu untuk momen kepahlawanan yang dicuri.

"Vicky, orang yang menyelamatkanmu hari itu ...." kataku dengan suara sangat pelan. "Bukan dia."

"Itu aku."

Sorot mata Vicky berubah menjadi dingin dan kecewa, seolah-olah dia sedang menatap orang gila. "Irene, aku tahu kau cemburu. Tapi kau nggak berhak menulis ulang sejarah dan memfitnah seorang pahlawan."

"Aku nggak fitnah!" kataku putus asa. "Hari itu, dia pakai gaun merah, dan aku ...."

"Cukup!" bentak Vicky, sorot matanya dipenuhi rasa jijik. "Aku nggak mau dengar kau mengarang kebohongan lagi untuk menyakiti Andrea. Sejak kapan kau menjadi wanita seperti ini, yang rela melakukan apa saja hanya untuk menang?"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Adalah Nyonya Bos Mafia Sejati   Bab 9

    Helikopter itu terbang di atas laut berwarna biru kehijauan yang jernih.Di bawah kami, tampak sebuah pulau pribadi yang belum pernah kulihat sebelumnya."Kita di mana?" tanyaku pada Jeremy.Dia duduk di sampingku, tangannya yang besar menggenggam tanganku, suaranya terdengar lembut."Rumah kita."Aku menatap sosoknya, ada seribu pertanyaan berputar-putar di benakku."Jeremy, kenapa sekarang?" Aku menoleh padanya. "Kenapa kau baru muncul sekarang?"Dia terdiam cukup lama, lalu mulai berbicara."Irene, aku harus menceritakan sebuah kisah padamu." Sorot matanya menyimpan kesedihan yang mendalam. "Sebuah kisah tentang menunggu."Helikopter mendarat di halaman rumput yang luas. Kelopak mawar melayang-layang di udara."Apa kau masih ingat malam ketika kau diculik?" katanya sambil kami berjalan. "Terperangkap di gudang terbengkalai itu."Pikiranku kembali ke malam yang mengerikan itu.Ibuku baru saja meninggal. Ayahku sibuk dengan selingkuhannya, dan sama sekali tidak memperhatikanku.Sebuah

  • Aku Adalah Nyonya Bos Mafia Sejati   Bab 8

    Jeremy memberi isyarat.Sebuah proyektor besar digulirkan dan diarahkan ke dinding luar katedral.Sebuah gambar berkedip-kedip di batu putih itu.Itu adalah rekaman kamera pengawas dari kolam renang, tiga belas tahun yang lalu.Di layar, Vicky yang berusia lima belas tahun sedang berjuang di kolam dalam.Andrea yang berusia dua belas tahun berdiri di tepian dengan mengenakan gaun merah, memegang pelampung.Tapi, dia tidak melemparkannya.Sebaliknya, saat Vicky mengulurkan tangan putus asa ke arahnya, dia justru mundur dengan panik. Karena takut mendapat masalah, dia bahkan menendang pelampung itu lebih jauh dari tepi.Vicky tenggelam, perjuangannya semakin lemah.Tepat saat itu, ada sosok kecil bergegas masuk dari sisi kanan layar.Itu adalah aku yang berusia dua belas tahun.Aku terjun ke kolam tanpa ragu sedetik pun, menggunakan seluruh kekuatanku untuk menarik tubuh Vicky yang jauh lebih berat dariku.Namun, aku terlalu kecil. Saat berhasil mendorongnya sampai ke tepi, aku kehabisan

  • Aku Adalah Nyonya Bos Mafia Sejati   Bab 7

    Dunia seolah menjadi sunyi, gema tembakan itu masih menggantung di udara.Vicky mencengkeram tangannya yang mati rasa, menatap tak percaya pada serpihan senjatanya di tanah."Siapa itu?!" teriaknya sambil melihat sekeliling dengan panik. "Siapa yang menembak?!"Satu-satunya jawaban adalah suara langkah kaki serempak.Ratusan pria berjas hitam keluar dari mobil-mobil lapis baja.Mereka bersenjata lengkap, membawa senjata dengan standar militer, wajah mereka tersembunyi di balik topeng, hanya memperlihatkan mata yang dingin dan keras.Di tengah kekuatan yang mengerikan seperti itu, sebuah mobil mewah Royal Sein meluncur pelan dan berhenti.Pintu pun terbuka.Seorang pria melangkah keluar.Dia tinggi dan kurus, mengenakan jas hitam edisi khusus. Dia bergerak dengan keanggunan mematikan yang memancarkan otoritas mutlak. Kacamata hitam menutupi bagian atas wajahnya, tetapi bibir tipis dan garis rahangnya yang kuat memancarkan kekuatan yang mencekik.Saat Vicky melihatnya, wajahnya langsung

  • Aku Adalah Nyonya Bos Mafia Sejati   Bab 6

    Pintu katedral yang berat itu tak mau bergerak.Lalu, sebuah suara memecah keheningan di belakangku."Irene."Aku menoleh. Matahari pagi menyinari berlian di gaunku, membuatnya tampak seperti ribuan matahari kecil yang berkilauan.Saat Vicky melihatku, dia membeku, rahangnya ternganga.Matanya menatapku lekat-lekat, menelusuri garis gaunku hingga ke berlian yang menyilaukan itu."Ya Tuhan," gumamnya. "Irene ... kau terlihat ....""Kami mencarimu ke mana-mana, Irene." Suara Andrea yang manis namun mengandung kepalsuan, menusuk telinga. "Kami sudah mengirimkan ultimatum. Kau bukannya membalas, justru tiba-tiba muncul di sini dengan gaun pengantin? Apa kau mencoba memaksa Vicky untuk menikahimu?"Aku menatapnya dengan wajah sedingin es. "Kau terlalu banyak berpikir, Andrea. Aku memang akan menikah. Hanya saja bukan dengannya."Vicky akhirnya tersadar. Dia menarik napas dalam-dalam, tatapan arogan itu kembali ke wajahnya."Karena kita semua sudah di sini, ini menghemat waktu. Pulanglah, Ir

  • Aku Adalah Nyonya Bos Mafia Sejati   Bab 5

    Aku kembali ke apartemenku. Hal pertama yang kulakukan adalah berjalan menuju meja rias.Sebuah cincin berlian biru dua belas karat tergeletak di sana.Itu cincin pertunangan dari Vicky sepuluh tahun yang lalu.Aku mengambilnya dan ... tanpa ragu, melemparkannya ke perapian.Api menjilati lingkaran platinumnya, tetapi berlian itu tetap terdiam di sana, berkilauan.Sebuah simbol sempurna untuk cintaku. Dingin, keras, dan mati rasa."Nona, Anda sudah kembali."Pelayanku yang bernama Aris masuk. Dia melihat wajahku dan langsung mengerti."Adakan pertemuan semua tetua keluarga," kataku sambil menoleh kepadanya. "Malam ini, jam delapan. Darurat.""Baik, Nona. Oh iya, Nona ...." Dia sempat ragu-ragu. "Pihak dari Kota Sirkola menelepon lagi. Tentang lamaran pernikahan itu. Ini sudah ketiga kalinya tahun ini."Keluarga misterius di Kota Sirkola.Selama dua tahun, mereka terus meminta aliansi. Aku selalu menolak karena sudah dibutakan oleh Vicky."Katakan pada mereka, aku menerimanya."Mata Ari

  • Aku Adalah Nyonya Bos Mafia Sejati   Bab 4

    Rasa muak di sorot mata Vicky terasa lebih menyakitkan daripada senjata apa pun.Tepat saat itu, Andrea yang sedari tadi "gemetar" dalam pelukan Vicky, menatapku dengan matanya yang basah oleh air mata."Irene, kakakku, kumohon berhenti .…" katanya dengan suara lemah dan mulai terisak. "Aku tahu kau membenciku, tapi kau nggak bisa menyangkal kebenaran …. Aku yang menyelamatkan nyawa Vicky. Sepanjang hidup kita, aku sudah membiarkanmu memiliki segalanya, pakaian, pujian, perhiasan. Tapi, bukan dia. Aku nggak akan menyerahkan Vicky."Saat berbicara, dia melepaskan diri dari Vicky dan berjalan ke arahku, meraih tanganku seolah hendak memohon."Kalau kau pikir ini salahku, pukul saja aku! Silakan!"Saat dia mendekat, sorot matanya berubah, menjadi dingin dan kejam.Di tempat yang tidak bisa dilihat Vicky, jari-jarinya mencengkeram lenganku dengan kuat.Rasa sakit menusukku. Aku mencoba menarik diri, tetapi dia tiba-tiba melemparkan tubuhnya ke belakang, membenturkan tubuhnya dengan keras k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status