Share

Bab 2

Penulis: Crispy Coco
Vicky tampak lebih rileks.

Dia duduk kembali di kursinya, kembali memasang sikap meremehkan.

Seolah-olah bukan dia yang panik semenit yang lalu. Seolah-olah, itu semua hanya bayanganku saja.

"Irene, kau mengecewakanku."

Aku berkedip. Apa?

"Tradisi tetaplah tradisi," katanya, nadanya berubah serius. "Syarat-syarat dalam kontrak pernikahan harus dipenuhi. Itu aturan yang diturunkan secara turun-temurun. Kau terlalu emosional, Irene. Kau nggak memiliki ketenangan seorang Nyonya Besar."

Aku hampir tertawa terbahak-bahak.

Emosional?

Aku telah bekerja keras untuknya selama sepuluh tahun!

Selama sepuluh tahun, aku menyingkirkan kuas lukisku, meninggalkan hasratku dalam dunia seni, menolak kesempatan untuk belajar di Universitas Seni Lumieru.

Aku mengubur sosok seniman di dalam diriku dan menjadi seorang yang kejam di ruang rapat. Semua itu karena dia mengatakan istrinya membutuhkan pikiran yang tajam, bukan wanita yang hanya mengandalkan perasaan dan mudah dibodohi.

Dan sekarang dia menyebutku emosional?

"Vicky, aku hanya merasa .…"

"Merasa apa?" Dia memotong perkataanku sambil berdiri. Nada suaranya sedikit melunak. "Ya sudahlah. Irene, aku tahu kau ingin menikah denganku. Aku tahu orang tua kita telah mengatur semua ini bertahun-tahun yang lalu. Tapi, aturan tetaplah aturan .…"

"Peringatan kematian ibuku sangat penting buatku," kataku, berusaha menjaga suaraku tetap tenang. "Kalau aku bisa menjadi istrimu di hari itu, itu akan sangat berarti bagiku."

"Cukup." Vicky berjalan ke jendela, membelakangiku. "Yang mati, biarlah mati. Yang hidup, punya urusan yang harus diselesaikan. Kau seharusnya fokus pada bagaimana menyelesaikan tugasmu."

Aku menatap punggungnya, merasakan sesuatu membakar dadaku.

"Tugas?"

"Tentu saja, pekerjaanmu." Dia berbalik, menatapku seolah itu sudah jelas. "Kau pikir pernikahan itu permainan? Posisi Nyonya Besar membutuhkan kekuatan dan kecerdasan yang nyata. Dan saat ini, kau belum memenuhi syarat itu."

Belum memenuhi syarat?

Aku teringat apa yang dikatakan Mario, mereka telah mempersiapkan Andrea untuk menjadi pesaing.

Jadi, di mata Vicky, pertunangan mereka selama sepuluh tahun ini bukanlah tentang cinta. Melainkan, hanyalah audisi?

Dan, aku bahkan bukan satu-satunya yang sedang diuji.

"Vicky, kau .…"

"Oh, Vicky!"

Sebuah suara manja memotong ucapanku.

Pintu ruang kerja terbuka dan seorang gadis dengan gaun tidur sutra hitam berlari masuk.

Rambut panjangnya terurai di bahu, wajahnya terlihat mengantuk dan lembut. Dia hanya mengenakan sandal.

Itu Andrea.

Dia melompat ke pelukan Vicky, melingkarkan lengannya di leher pria itu.

"Aku mencarimu ke mana-mana," katanya lembut, lalu menyandarkan wajah di dada Vicky. "Aku bangun, tapi kau sudah nggak ada. Kenapa kau nggak tidur?"

Wajah Vicky melembut seketika. Tangannya meraih pinggang Andrea, sebuah gerakan yang tampak luwes.

"Aku sedang mengurus sesuatu," bisiknya, suaranya penuh kelembutan yang belum pernah kudengar sebelumnya. "Kenapa kau nggak tidur lebih lama?"

"Aku nggak bisa tidur kalau kau nggak ada," kata Andrea sambil menengadahkan kepala untuk mencium dagu Vicky.

Aku hanya berdiri di sana. Seperti pengganggu, orang asing.

Itulah Vicky Aristanto. Pria yang sama, yang baru saja mengguruiku tentang tradisi keluarga.

Dia memeluk putri dari wanita yang menyebabkan ibuku meninggal, bertingkah seperti itu tepat di depanku. Dan, aku hanya berdiri di sana menonton?

"Vicky." Suaraku lebih dingin dari yang kuduga. "Kita masih bicara."

Andrea akhirnya menyadari keberadaanku. Dia menoleh dengan senyum sempurna di wajahnya.

"Oh, ada Irene," katanya. Suaranya manis sekali. "Maaf, aku nggak tahu kau juga ada di sini."

Tiba-tiba aku teringat pada sengketa wilayah tiga bulan lalu.

Pihak Romanov mencoba merebut dermaga kami di Brostino. Perundingan gagal, dan akhirnya senjata dikeluarkan.

Andrea juga ada di sana. Setelah itu, dia berlari ke pelukan Vicky dengan wajah berlumuran darah, terisak-isak mengatakan bahwa anak buahku tidak becus melindunginya sehingga dia terluka oleh pecahan kaca.

Kepala keamananku hampir dipenggal kepalanya oleh Vicky, dia juga memaksaku untuk meminta maaf pada Andrea. Sambil berlutut!

Namun, melihatnya sekarang, kulitnya mulus tanpa cela. Sempurna. Tidak ada satu pun bekas luka.

Di mana bekas lukanya?

Jika itu benar-benar pecahan kaca, bagaimana mungkin luka-lukanya bisa sembuh dengan sempurna, tanpa bekas sedikit pun?

Kecuali luka-luka itu disebabkan oleh dirinya sendiri. Sebuah pertunjukan kecil yang sempurna untuk pahlawannya yang sempurna.

"Andrea, wajahmu sudah sembuh dengan baik," kataku sambil menatapnya tajam. "Bahkan, nggak terlihat seperti pernah terluka."

Senyumnya membeku sesaat, lalu kembali menjadi wajah polos.

"Iya, Vicky mencarikan dokter terbaik untukku," katanya, sembari memeluk lengan Vicky lebih erat. "Dia merawatku dengan sangat baik."

Vicky menatapku dengan tatapan sombong, seolah-olah dia sedang memamerkan sebuah piala.

Aku tidak tahan lagi.

Aku menunduk dan mengambil potongan-potongan laporan audit yang robek, bersiap untuk menunjukkan kebenaran kepada mereka.

Untuk membiarkan Vicky melihat bagaimana "kecelakaan" kecilnya itu telah gagal.

Untuk memberi tahu dia bahwa aku telah menang, dan dia harus menikahiku.

"Vicky, sebenarnya, aku hanya .…"

"Jangan." Andrea tiba-tiba bergegas mendekat, meraih tanganku, matanya berkaca-kaca. "Irene, kumohon, jangan berdebat lagi dengan Vicky."

"Apa?"

Matanya penuh air mata, tampak menyedihkan dan lemah.

"Vicky sudah tertembak," bisiknya, suaranya bergetar. "Dia terkena peluru demi melindungiku. Dokter bilang stres berat apa pun bisa membuka kembali lukanya. Dia bisa kehabisan darah."
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Adalah Nyonya Bos Mafia Sejati   Bab 9

    Helikopter itu terbang di atas laut berwarna biru kehijauan yang jernih.Di bawah kami, tampak sebuah pulau pribadi yang belum pernah kulihat sebelumnya."Kita di mana?" tanyaku pada Jeremy.Dia duduk di sampingku, tangannya yang besar menggenggam tanganku, suaranya terdengar lembut."Rumah kita."Aku menatap sosoknya, ada seribu pertanyaan berputar-putar di benakku."Jeremy, kenapa sekarang?" Aku menoleh padanya. "Kenapa kau baru muncul sekarang?"Dia terdiam cukup lama, lalu mulai berbicara."Irene, aku harus menceritakan sebuah kisah padamu." Sorot matanya menyimpan kesedihan yang mendalam. "Sebuah kisah tentang menunggu."Helikopter mendarat di halaman rumput yang luas. Kelopak mawar melayang-layang di udara."Apa kau masih ingat malam ketika kau diculik?" katanya sambil kami berjalan. "Terperangkap di gudang terbengkalai itu."Pikiranku kembali ke malam yang mengerikan itu.Ibuku baru saja meninggal. Ayahku sibuk dengan selingkuhannya, dan sama sekali tidak memperhatikanku.Sebuah

  • Aku Adalah Nyonya Bos Mafia Sejati   Bab 8

    Jeremy memberi isyarat.Sebuah proyektor besar digulirkan dan diarahkan ke dinding luar katedral.Sebuah gambar berkedip-kedip di batu putih itu.Itu adalah rekaman kamera pengawas dari kolam renang, tiga belas tahun yang lalu.Di layar, Vicky yang berusia lima belas tahun sedang berjuang di kolam dalam.Andrea yang berusia dua belas tahun berdiri di tepian dengan mengenakan gaun merah, memegang pelampung.Tapi, dia tidak melemparkannya.Sebaliknya, saat Vicky mengulurkan tangan putus asa ke arahnya, dia justru mundur dengan panik. Karena takut mendapat masalah, dia bahkan menendang pelampung itu lebih jauh dari tepi.Vicky tenggelam, perjuangannya semakin lemah.Tepat saat itu, ada sosok kecil bergegas masuk dari sisi kanan layar.Itu adalah aku yang berusia dua belas tahun.Aku terjun ke kolam tanpa ragu sedetik pun, menggunakan seluruh kekuatanku untuk menarik tubuh Vicky yang jauh lebih berat dariku.Namun, aku terlalu kecil. Saat berhasil mendorongnya sampai ke tepi, aku kehabisan

  • Aku Adalah Nyonya Bos Mafia Sejati   Bab 7

    Dunia seolah menjadi sunyi, gema tembakan itu masih menggantung di udara.Vicky mencengkeram tangannya yang mati rasa, menatap tak percaya pada serpihan senjatanya di tanah."Siapa itu?!" teriaknya sambil melihat sekeliling dengan panik. "Siapa yang menembak?!"Satu-satunya jawaban adalah suara langkah kaki serempak.Ratusan pria berjas hitam keluar dari mobil-mobil lapis baja.Mereka bersenjata lengkap, membawa senjata dengan standar militer, wajah mereka tersembunyi di balik topeng, hanya memperlihatkan mata yang dingin dan keras.Di tengah kekuatan yang mengerikan seperti itu, sebuah mobil mewah Royal Sein meluncur pelan dan berhenti.Pintu pun terbuka.Seorang pria melangkah keluar.Dia tinggi dan kurus, mengenakan jas hitam edisi khusus. Dia bergerak dengan keanggunan mematikan yang memancarkan otoritas mutlak. Kacamata hitam menutupi bagian atas wajahnya, tetapi bibir tipis dan garis rahangnya yang kuat memancarkan kekuatan yang mencekik.Saat Vicky melihatnya, wajahnya langsung

  • Aku Adalah Nyonya Bos Mafia Sejati   Bab 6

    Pintu katedral yang berat itu tak mau bergerak.Lalu, sebuah suara memecah keheningan di belakangku."Irene."Aku menoleh. Matahari pagi menyinari berlian di gaunku, membuatnya tampak seperti ribuan matahari kecil yang berkilauan.Saat Vicky melihatku, dia membeku, rahangnya ternganga.Matanya menatapku lekat-lekat, menelusuri garis gaunku hingga ke berlian yang menyilaukan itu."Ya Tuhan," gumamnya. "Irene ... kau terlihat ....""Kami mencarimu ke mana-mana, Irene." Suara Andrea yang manis namun mengandung kepalsuan, menusuk telinga. "Kami sudah mengirimkan ultimatum. Kau bukannya membalas, justru tiba-tiba muncul di sini dengan gaun pengantin? Apa kau mencoba memaksa Vicky untuk menikahimu?"Aku menatapnya dengan wajah sedingin es. "Kau terlalu banyak berpikir, Andrea. Aku memang akan menikah. Hanya saja bukan dengannya."Vicky akhirnya tersadar. Dia menarik napas dalam-dalam, tatapan arogan itu kembali ke wajahnya."Karena kita semua sudah di sini, ini menghemat waktu. Pulanglah, Ir

  • Aku Adalah Nyonya Bos Mafia Sejati   Bab 5

    Aku kembali ke apartemenku. Hal pertama yang kulakukan adalah berjalan menuju meja rias.Sebuah cincin berlian biru dua belas karat tergeletak di sana.Itu cincin pertunangan dari Vicky sepuluh tahun yang lalu.Aku mengambilnya dan ... tanpa ragu, melemparkannya ke perapian.Api menjilati lingkaran platinumnya, tetapi berlian itu tetap terdiam di sana, berkilauan.Sebuah simbol sempurna untuk cintaku. Dingin, keras, dan mati rasa."Nona, Anda sudah kembali."Pelayanku yang bernama Aris masuk. Dia melihat wajahku dan langsung mengerti."Adakan pertemuan semua tetua keluarga," kataku sambil menoleh kepadanya. "Malam ini, jam delapan. Darurat.""Baik, Nona. Oh iya, Nona ...." Dia sempat ragu-ragu. "Pihak dari Kota Sirkola menelepon lagi. Tentang lamaran pernikahan itu. Ini sudah ketiga kalinya tahun ini."Keluarga misterius di Kota Sirkola.Selama dua tahun, mereka terus meminta aliansi. Aku selalu menolak karena sudah dibutakan oleh Vicky."Katakan pada mereka, aku menerimanya."Mata Ari

  • Aku Adalah Nyonya Bos Mafia Sejati   Bab 4

    Rasa muak di sorot mata Vicky terasa lebih menyakitkan daripada senjata apa pun.Tepat saat itu, Andrea yang sedari tadi "gemetar" dalam pelukan Vicky, menatapku dengan matanya yang basah oleh air mata."Irene, kakakku, kumohon berhenti .…" katanya dengan suara lemah dan mulai terisak. "Aku tahu kau membenciku, tapi kau nggak bisa menyangkal kebenaran …. Aku yang menyelamatkan nyawa Vicky. Sepanjang hidup kita, aku sudah membiarkanmu memiliki segalanya, pakaian, pujian, perhiasan. Tapi, bukan dia. Aku nggak akan menyerahkan Vicky."Saat berbicara, dia melepaskan diri dari Vicky dan berjalan ke arahku, meraih tanganku seolah hendak memohon."Kalau kau pikir ini salahku, pukul saja aku! Silakan!"Saat dia mendekat, sorot matanya berubah, menjadi dingin dan kejam.Di tempat yang tidak bisa dilihat Vicky, jari-jarinya mencengkeram lenganku dengan kuat.Rasa sakit menusukku. Aku mencoba menarik diri, tetapi dia tiba-tiba melemparkan tubuhnya ke belakang, membenturkan tubuhnya dengan keras k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status