LOGINAkar di tanah kembali bergerak.Jalur di depan Ling Xuan bercabang tanpa pola jelas. Pohon-pohon tampak sama, arah mata angin mengabur. Bahkan suara langkah sendiri terasa ditelan oleh hutan.Penjaga wilayah itu berhenti di tepi jalur.“Mulai dari sini,” katanya tenang, “hutan akan menentukan apakah kau layak melangkah lebih jauh.”Ia tidak menunggu jawaban. Akar-akar menutup kembali di belakang mereka.Sunyi...Lava Maw mendengus pelan. “Tuan… ini bukan ilusi biasa.”Ling Xuan mengangguk. “Aku tahu.”Ia melangkah maju. Begitu langkah pertama jatuh—Whuuush…Tekanan lembut menyelimuti tubuhnya. Qi kehidupan merembes ke pori-pori kulit, mencoba menyelaraskan. Seperti air yang mengalir mencari celah.Namun tepat saat itu, Batu Api di dantiannya berdenyut.Ling Xuan menyipitkan mata.‘Menarik…’ pikirnya. ‘Ia tidak menekanku. Ia hanya mengamatiku.’Langkah kedua.Tanah di bawah kakinya tiba-tiba melunak, berubah seperti lumpur hidup. Akar tipis merayap, mencoba melilit pergelangan kakinya
Pandangan mereka langsung tertuju pada Lava Maw.“Beast singa magma…” gumam salah satunya. “Masih ada yang tersisa?”Yang lain menyipitkan mata. Tatapannya bergeser ke Ling Xuan di punggung beast.“Dan seorang manusia?” katanya dingin. “Berani sekali.”Lava Maw menggeram pelan. Api di surainya berdenyut liar.Ling Xuan melangkah turun dari punggungnya.Begitu kakinya menyentuh tanah, tekanan Batu Api di dantiannya mengalir keluar tipis. Tanah di bawahnya menghangat, namun tidak meledak. Sangat terkendali.“Aku hanya melintas,” kata Ling Xuan. Suaranya tenang, tapi dingin. “Minggir!"Salah satu tetua tertawa kecil. “Anak muda, kau pikir wilayah sekte bisa dilalui sesuka hati?”Ia mengangkat tangan.Formasi muncul di udara. Simbol-simbol qi berputar membentuk segel pengunci ruang.“Beast agung akan disegel. Kau—”Kalimat itu terputus.Karena Lava Maw melangkah maju satu langkah.BOOM!!Bukan serangan. Hanya satu pijakan.Namun formasi di udara retak.Kedua tetua itu terhuyung mundur, ma
Ling Xuan menahan napas. “Di mana, keberadaan Tabib Agung?”Tabib itu menatap wajah-wajah di hadapannya satu per satu sebelum akhirnya menghela napas panjang.“Tabib Agung bernama Mu Qinghe,” jawabnya. “Ia adalah Tetua Agung Sekte Pohon. Penguasa jalur penyembuhan tertinggi di selatan benua ini.”Nama itu jatuh berat.“Namun,” lanjut tabib tua itu, suaranya makin lirih, “sudah bertahun-tahun tak ada yang melihatnya. Bahkan Sekte Pohon sendiri tidak tahu di mana keberadaannya sekarang. Ada yang bilang ia masuk ke Hutan Roh Purba. Ada yang bilang ia menyegel dirinya di suatu tanah rahasia untuk menekan penyakit lama. Semua… hanya rumor.”Ling Yue terasa seperti disiram air es.“Jadi… kami tidak punya arah?” bisiknya.Tabib tua itu tidak menjawab langsung.Ling Xuan sudah mengepalkan tangan. Retakan merah samar kembali merayap di bawah kulitnya, qi di tubuhnya bergejolak, berat dan panas.Zhou Han.Wajah itu muncul jelas di benaknya. Senyum palsu. Obat yang dijadikan rantai.‘Meminta oba
Senyum Zhou Han benar-benar lenyap.Untuk pertama kalinya sejak ia memasuki paviliun itu, topeng ketenangan yang selalu ia kenakan retak.“Jaga ucapanmu, Bai Yuer,” katanya dingin. Nada suaranya tidak lagi lunak. Aura qi di tubuhnya mulai berputar, menyebar seperti kabut es tipis yang merayap di lantai batu. “Kau sudah terlalu jauh.”Bai Yuer menyeringai.“Terlalu jauh?” ulangnya ringan. “Aku baru mulai.”Hening sekejap.Tiba-tiba tekanan aura meledak dari tubuh Zhou Han. Cambuk yang tadi tergeletak di lantai terangkat dengan sendirinya, melayang di udara seperti ular besi yang hidup. Ujungnya bergetar, membelah udara dengan suara mendesis tajam.Beberapa murid mundur refleks.“Keluar dari paviliun!” perintah Zhou Han tanpa menoleh, suaranya penuh otoritas. “Ini bukan urusan kalian!”Tak seorang pun berani membantah.Dalam sekejap, paviliun obat menjadi arena tertutup. Formasi pelindung Zhou Han aktif, menutup pintu dan jendela dengan lapisan qi transparan.Ling Yue tersentak. “Kak Yu
Ling Xuan akhirnya menyerah.Benteng pertahanan yang ia bangun, runtuh begitu saja di hadapan Bai Yuer.Dengan satu gerakan cepat, ia menarik pinggang Bai Yuer ke arahnya. Tubuh mereka saling mendekap. Jarak yang tersisa lenyap.Ciuman itu tidak lagi ragu. Tidak lagi ditahan. Penuh emosi yang terpendam terlalu lama. Kerinduan, penyesalan, dan sesuatu yang lebih dalam. Napas mereka berpadu, dunia sekitar seolah menyempit hanya menjadi detak jantung dan kehangatan satu sama lain.Bai Yuer sempat terkejut, namun kemudian membalas, jemarinya mencengkeram jubah Ling Xuan seakan takut ia akan menghilang lagi.Beberapa saat berlalu.Terlalu singkat.Tiba-tiba, langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari kejauhan.Bai Yuer tersentak lebih dulu. Alisnya berkerut, naluri sektenya langsung siaga. Ia menarik diri setengah langkah, menoleh ke arah sumber suara.“Kenapa di dalam sekte tiba-tiba begitu gaduh?” gumamnya.Ling Xuan juga menegakkan tubuh. Auranya mengendur, namun matanya mengeras. “Mungki
Ling Xuan berdiri di atas punggung batu hitam yang menjulur dari lereng terjal.Di kejauhan, garis pegunungan membentuk siluet sekte yang pernah ia sebut rumah. Sekte Batu. Tenang. Tertib. Seolah tidak pernah mengusirnya ke Lembah Neraka.Angin malam mengibaskan jubahnya. Bau tanah basah dan logam bercampur di udara.Ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri.Retakan tipis berpendar merah samar di bawah kulit, bekas kekuatan yang tidak seharusnya ia miliki. Kekuatan yang ia peroleh… karena ia dibuang.“Zhou Han…” gumamnya pelan.Jejak aura itu masih segar di ingatannya. Tidak mungkin salah. Pola aliran qi yang jelas, dingin, dan penuh perhitungan. Ia mengenalnya dengan baik.Persahabatan mereka dulu terpecah bukan dengan teriakan, ataupun dengan pertarungan. Melainkan dengan diam.Ling Xuan mengepalkan tangan.‘Sekte Batu….' Pikiran berikutnya langsung menusuk lebih dalam. "Zhou Han, apa yang kau rencanakan dengan keluargaku!" Giginya mengerat menekan, ekspresi merah padam berapi







