Mag-log inBLAAAAAAR!!Ledakan dahsyat di langit-langit ruang bawah tanah itu terdengar seperti auman dewa perang yang membelah langit. Bongkahan batu obsidian seberat puluhan ton berjatuhan, hancur menjadi debu sebelum sempat menyentuh lantai akibat tekanan energi yang sangat masif.Bersamaan dengan reruntuhan itu, sebuah pilar cahaya berwarna emas murni melesat turun layaknya pedang raksasa yang menembus jantung kegelapan. Cahaya itu begitu terang dan membara, menyapu bersih sisa-sisa Domain Bayangan Maut milik Huan Ming dalam hitungan detik. Udara yang tadinya dipenuhi racun korosif seketika terasa hangat dan bergejolak oleh aura Yang ekstrem.Pedang bayangan Huan Ming yang tinggal beberapa inci dari leher Ling Xuan tertahan paksa di udara. Seolah menabrak dinding baja yang tak kasat mata, pedang beracun itu bergetar hebat sebelum akhirnya hancur berkeping-keping."Siapa yang berani menyentuh menantuku?!"Sebuah suara bariton yang mengguncang gendang telinga bergema di seluruh ruangan.
Pintu besi raksasa yang memisahkan lorong bawah tanah dengan ruang penyiksaan inti Penjara Batu Sunyi hancur berkeping-keping. Potongan logam seberat ratusan jin terlempar ke dalam ruangan bagai daun kering yang tersapu badai, menghantam pilar-pilar batu hingga runtuh.Dari balik tabir debu dan kegelapan, Ling Xuan melangkah masuk.Ruangan melingkar yang diterangi obor berapi hijau itu seketika dibanjiri oleh tekanan gravitasi yang luar biasa menindas. Ketiga Utusan Sekte Jiwa yang tadinya melayang di udara langsung mundur ke sudut paling gelap, jubah abu-abu mereka bergetar meredam tekanan tersebut. Mereka tidak berniat turun tangan; bagi mereka, ini adalah tontonan yang sempurna untuk menguji seberapa berguna anjing peliharaan mereka, Huan Ming.Mata Ling Xuan menyapu ruangan dengan dingin, sebelum akhirnya terpaku pada titik pusat formasi darah.Di sana, berlutut dengan tubuh dipenuhi luka, adalah kedua orang tuanya. Paku-paku berkarat dari Rantai Penyedot Qi menembus tulang be
Badai salju yang biasanya melolong ganas di wilayah utara mendadak terdiam.Bukan karena angin telah mereda, melainkan karena hukum alam di sekitar Penjara Batu Sunyi telah dibengkokkan secara paksa. Kepingan-kepingan salju yang seharusnya jatuh ke bumi kini melayang kaku di udara, seolah waktu itu sendiri membeku dalam radius beberapa li dari benteng raksasa tersebut.Di tempat gerbang utara benteng yang tadinya menjulang gagah setinggi puluhan tombak, kini hanya tersisa kawah menganga dan kepulan debu pekat. Pintu besi berlapis nikel spiritual setebal dua meter, yang diklaim mampu menahan serangan mematikan dari kultivator tingkat Ranah Batu Roh sekalipun, telah remuk dan terpelintir layaknya kertas usang.Di tengah kepulan debu obsidian yang berterbangan, terdengar langkah kaki yang lambat namun berirama. Setiap langkah itu mendarat, daratan berguncang pelan.Sosok Ling Xuan perlahan menembus tabir debu. Wajahnya sepucat kertas, dengan sisa darah kering di sudut bibirnya akibat
Jauh di ujung utara daratan, tersembunyi di balik badai salju abadi dan kabut beracun, berdirilah sebuah benteng raksasa yang seolah dipahat dari tulang-belulang bumi. Penjara Batu Sunyi. Nama itu adalah sebuah ironi yang sangat kejam, sebab tempat itu tidak pernah benar-benar sunyi. Sepanjang siang dan malam, lolongan penderitaan dari para kultivator yang meridiannya dihancurkan atau jiwanya disiksa terus bergema, memantul di antara dinding-dinding batu obsidian yang dingin dan lembap. Di tempat inilah, keputusasaan bukan sekadar luapan perasaan, melainkan udara nyata yang dihirup setiap detik.Di ruangan terdalam penjara tersebut, yang diterangi oleh obor-obor berapi hijau redup, udara terasa seribu kali lebih menindas. Ruangan itu berbentuk melingkar, dengan lantai yang dipenuhi alur ukiran formasi darah yang terus berdenyut memancarkan hawa kematian.Di atas sebuah kursi batu yang dipahat menyerupai tumpukan tengkorak, duduklah seorang pria paruh baya dengan jubah hitam yang disul
Di dalam gua yang remang oleh pendar kristal api, suhu mendadak melonjak drastis. Udara bergetar, terdistorsi oleh gelombang panas yang tak kasat mata. Ling Xuan duduk bersila, mengatupkan rahangnya kuat-kuat hingga urat-urat di lehernya menonjol. Di belakangnya, ilusi Mahkota Jiwa berputar lambat, memancarkan tekanan spiritual yang menahan agar gelombang panas itu tidak menyentuh ranjang batu tempat Bai Yuer dan putra mereka, Ling Ziyu, terlelap."Kau benar-benar gila, Xuan'er," suara Mu Qinghe terdengar lirih dari dalam gelang kayu, dipenuhi campuran antara teguran dan rasa bangga yang pedih. "Mencabut artefak yang sudah menyatu dengan fondasi Dantian-mu sama saja dengan merobek jantung kultivasimu sendiri."Ling Xuan tidak menjawab. Fokusnya sepenuhnya tertuju ke dalam tubuhnya. Di pusat Dantiannya, sebuah pusaran energi berputar ganas mengelilingi sebuah batu merah menyala, Batu Api Langit. Artefak purba itulah yang selama ini menjadi sumber kekuatan destruktifnya, yang membangk
Lembah Nadi Bumi yang selama tujuh bulan ini bergejolak ganas, malam itu mendadak hening. Debu-debu batu yang biasanya melayang tak tentu arah akibat anomali gravitasi kini mengendap tenang di atas tanah yang retak. Di tengah kawah sisa terobosan kultivasinya, Ling Xuan berdiri mematung layaknya sebuah monumen dewa perang.Aura dari Ranah Batu Surga masih berdenyut samar di balik kulitnya. Setiap hela napasnya seolah beresonansi dengan detak jantung bumi di bawah kakinya. Matanya yang sedingin es menatap lurus menembus kegelapan malam, menuju ufuk utara. Ke arah Penjara Batu Sunyi.Namun, sebelum niat membunuhnya sempat mengembun menjadi tindakan, keheningan lembah itu terkoyak.Bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh sebuah jeritan tertahan dari arah gua persembunyian yang dijaga ketat oleh formasi ilusi tingkat tinggi.Ling Xuan tersentak. Niat membunuh yang selama tujuh bulan ia asah dengan darah dan penderitaan tiba-tiba runtuh tak bersisa. Hanya dalam satu kedipan mata, sos
Pandangan mereka langsung tertuju pada Lava Maw.“Beast singa magma…” gumam salah satunya. “Masih ada yang tersisa?”Yang lain menyipitkan mata. Tatapannya bergeser ke Ling Xuan di punggung beast.“Dan seorang manusia?” katanya dingin. “Berani sekali.”Lava Maw menggeram pelan. Api di surainya berd
Ling Xuan akhirnya menyerah.Benteng pertahanan yang ia bangun, runtuh begitu saja di hadapan Bai Yuer.Dengan satu gerakan cepat, ia menarik pinggang Bai Yuer ke arahnya. Tubuh mereka saling mendekap. Jarak yang tersisa lenyap.Ciuman itu tidak lagi ragu. Tidak lagi ditahan. Penuh emosi yang terpe
Akar di tanah kembali bergerak.Jalur di depan Ling Xuan bercabang tanpa pola jelas. Pohon-pohon tampak sama, arah mata angin mengabur. Bahkan suara langkah sendiri terasa ditelan oleh hutan.Penjaga wilayah itu berhenti di tepi jalur.“Mulai dari sini,” katanya tenang, “hutan akan menentukan apaka
Ling Xuan berdiri di atas punggung batu hitam yang menjulur dari lereng terjal.Di kejauhan, garis pegunungan membentuk siluet sekte yang pernah ia sebut rumah. Sekte Batu. Tenang. Tertib. Seolah tidak pernah mengusirnya ke Lembah Neraka.Angin malam mengibaskan jubahnya. Bau tanah basah dan logam







