Share

3.

Penulis: Rempeyek garing
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-16 04:08:51

Kabut panas di dasar Lembah Neraka Batu berputar perlahan seperti napas raksasa. Di antara batu-batu merah yang retak, tubuh Ling Xuan tergeletak.

Darah mengalir dari pelipisnya, menguap sebelum sempat membasahi tanah. Tubuhnya seolah dibakar dari dalam karena kekosongan.

Rantai segel para tetua telah menghancurkan jalur Qi-nya. Tak ada energi yang tersisa, tak ada panas dari Api Dalam Batu yang dulu menjadi jiwanya. Yang tinggal hanyalah tubuh manusia biasa, rapuh, hancur, dan terbakar oleh udara beracun lembah.

Setiap tarikan napas terasa seperti menelan pisau.

Setiap detak jantung, seperti pukulan palu di dalam dada.

“Ini… akhirnya, ya…”

Ia mencoba menggerakkan tangan, tapi ototnya tak lagi menuruti perintah. Tubuhnya kaku, dingin, sementara dunia di sekelilingnya merah dan berputar.

Rasa sakit mulai pudar, berganti dengan kekosongan aneh, tanda nyawa mulai menjauh.

Matanya setengah terpejam. Di tepi pandangan, ia melihat cahaya samar dari langit sempit di atas sana. Ia sempat berpikir, mungkin ini cara langit menertawakannya.

Tapi tepat ketika kesadarannya nyaris putus, sesuatu berubah.

Ada sensasi hangat di bawah punggungnya.

Awalnya halus, seperti bara yang akan padam.

Namun dalam hitungan detik, hangat itu berubah menjadi denyut ke detakan yang teratur, seperti jantung yang hidup.

Tanah di bawah tubuhnya bergetar pelan. Batu tempat ia terbaring mulai bersinar dari dalam berwarna merah keemasan. Retakan kecil menyebar di permukaannya, memancarkan cahaya yang menembus kabut panas lembah.

Ling Xuan mengerutkan kening. Ia ingin bangun, tapi tak mampu. Denyut itu semakin kuat, menembus kulit punggungnya, mengalir ke dalam tubuh yang nyaris mati.

Hangatnya bukan sekadar panas. Dan saat itu, di antara kabut dan bara, suara lirih seperti bisikan muncul dari batu itu. Langsung di dalam dadanya.

“Masih ada bara yang belum padam.”

Cahaya merah keemasan menyelimuti tubuhnya perlahan. Di dada Ling Xuan, segel batu retak yang ditinggalkan para tetua mulai bergetar…

dan setitik api kecil menyala di jantungnya. Meskipun lemah, tapi ia benar-benar merasa hidup kembali.

Kabut panas masih berputar ketika Ling Xuan akhirnya menarik napas panjang. Bukan napas kuat seperti dulu, tapi napas pendek yang memaksa paru-parunya bekerja lagi.

Ia menggeliat, mencoba mengangkat tubuhnya.

Nyeri langsung menembak seluruh bagian tubuh, membuatnya mengerang pelan.

“Agh… tubuhku… kenapa… seperti ini…”

Ia menatap kedua tangannya. Dulu, tangan itu bisa menghancurkan batu besar dengan satu pukulan. Kini, bahkan untuk mengepalkan jari pun ia harus menahan sakit.

Ling Xuan menyentuh dada, tepat di tempat segel para tetua ditempelkan. Simbol batu retak itu masih ada, tapi kini warnanya berubah. Bukan lagi hitam kelam, melainkan merah keemasan yang berdenyut samar, seirama dengan jantungnya.

"Jadi... aku masih hidup?”

Ia tertawa kecil. Seperti orang yang tidak yakin apakah ia harus menangis atau bersyukur. Ia mencoba menarik energi sekitar ke dalam tubuh, seperti dulu ketika memulai latihan dasar. Namun, tidak ada yang masuk.

Tubuhnya menolak. Jalur Qi-nya benar-benar kosong, seolah dihancurkan total lalu dibangun ulang dalam keadaan remuk.

“Aku kembali ke tahap paling dasar.” Ia menunduk. “Pemurnian Tubuh, lapisan pertama… bahkan itu pun belum.”

Bagi kebanyakan murid, itu adalah tahap yang butuh bertahun-tahun. Dan untuk orang sekelas dirinya… ini adalah penghinaan terbesar.

Ia menarik napas lagi. Tapi kali ini, sesuatu terasa berbeda. Ada panas kecil yang mengalir dari punggungnya, dari batu yang tadi menyelamatkannya. Panas itu mengalir masuk ke tubuhnya perlahan, seperti aliran air hangat.

Ling Xuan menutup mata. Ia mulai fokus, mengenali sensasi itu.

“Aku tau, ini bukan panas dari Api Dalam Batu.”

Api Dalam Batu punya karakter berat, kasar, dan membakar seperti batu yang dilempar ke api.

Tapi panas ini… lebih halus. Dan terasa seperti… bukan milik manusia.

'Mungkinkah...'

“Batu Api Langit!"

Dalam dunia para kultivator Sekte Batu, kekuatan seseorang diukur lewat Sembilan Ranah Jalur Batu dan Api. Setiap ranah mencerminkan bagaimana tubuh, energi, dan jiwa seseorang ditempa oleh kekuatan bumi dan panas yang mengalir di dalam diri mereka.

Berikut adalah gambaran umum yang dikenal oleh seluruh sekte:

1. Ranah Pemurnian Tubuh

Ranah paling dasar.

Tubuh dibersihkan dari racun, diperkuat, dan dipaksa menahan panas dasar dari latihan.

Murid biasa menghabiskan seumur hidup di level ini.

2. Ranah Penyatuan Qi

Saat seseorang berhasil menyatukan napas, pikiran, dan energi menjadi satu arus, ia memasuki ranah kedua.

Di tahap ini, panas tubuh dapat mempengaruhi udara sekitar dan bisa disalurkan ke senjata.

3. Ranah Batu Dalam

Pada ranah ini, energi di dalam tubuh dipadatkan menjadi Batu Inti, sumber kekuatan sejati para kultivator Sekte Batu.

Mereka yang mencapai ranah ini bisa membakar musuh hanya dengan berada di dekatnya.

4. Ranah Batu Api

Jika Batu Inti berhasil digabungkan dengan Api Spiritual, inti itu berubah menjadi Batu Api.

Panasnya menyatu dengan tubuh, membuat setiap luka memperkuat diri mereka, bukan melemahkan.

5. Ranah Batu Langit

Pada tahap ini, tubuh dan jiwa mulai selaras dengan energi bumi dan langit.

Kultivator dapat menyerap panas alam untuk memulihkan diri, bahkan racun dan luka berat tak lagi mempan.

6. Ranah Batu Roh

Di sinilah Batu Api mulai menunjukkan kesadarannya sendiri.

Kultivator mampu berbicara dengan energi alam, memanggil roh api, dan membentuk serangan tanpa kontak fisik.

7. Ranah Batu Jiwa

Batu inti menyatu dengan jiwa.

Tekanan mental kultivator bisa menghancurkan konsentrasi musuh, bahkan melumpuhkan mereka tanpa menyentuh.

8. Ranah Batu Surga

Hanya sedikit yang pernah mencapai level ini.

Energi bumi dan langit sepenuhnya patuh pada penggunanya.

Satu gerakan bisa mengubah lanskap, satu serangan bisa menjadi bencana kecil.

9. Ranah Batu Dewa

Puncak Jalur Batu dan Api.

Batu inti berubah menjadi “Batu Dewa”, sumber energi murni yang membuat seseorang berdiri di antara manusia dan dewa.

Panas tubuh dapat membakar apa pun, sementara energi penyembuhannya dapat memperbaiki hal-hal yang seharusnya mustahil.

---

Di antara semua ranah ini, ada satu pengecualian yang hanya tercatat dalam legenda:

Api Surga Batu, kekuatan unik yang lahir jika Batu Inti seseorang bereaksi dengan energi “langit”.

Pemuda itu menatap batu merah keemasan di bawahnya. Cahayanya belum padam sepenuhnya, tapi kini lebih tenang, seperti sedang menunggu.

Ling Xuan menarik energi panas itu sekali lagi.

Dan tubuhnya bereaksi.

“Agh!”

Rasa panas menyebar ke seluruh tubuhnya, otot dan tulang terasa dipaksa hidup kembali. Di dalam dadanya, setitik api kecil yang tadi menyala…

berkobar sedikit lebih besar.

Ling Xuan terjatuh terduduk, terengah, tapi kali ini ia tersenyum kecil.

"Aku... benar-benar harus mulai dari awal lagi.”

Ia mengepalkan tangan perlahan menatap batu merah keemasan itu. Rasa sakit terus menjalar, tapi ia tetap bertekad.

“Tidak apa. Kalau langit menutup pintu untukku… maka aku akan membuat jalanku sendiri.”

Ling Xuan berdiri dengan susah payah. Lemah dan penuh luka.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
makin seru
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Aku Bangkit dari Lembah Neraka   57. Dikucilkan

    Keheningan di alun-alun tidak langsung pecah.Para murid perlahan kembali ke kegiatan masing-masing, seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah ujian rutin. Namun jarak yang terbentuk di sekitar Ling Xuan tidak ikut memudar. Justru sebaliknya, ia menjadi jelas.Sekte Pohon tidak membutuhkan pengumuman untuk mengambil sikap. Pada hari itu, Ling Xuan ditempatkan terpisah.Ia tidak diusir, dan tidak pernah dinyatakan bersalah. Tidak ada nama hitam, tidak ada teguran. Di atas kertas, Ling Xuan tetap murid Sekte Pohon.Namun jalur yang ia lalui berbeda.Tempat tinggalnya berada di tepi wilayah murid, dekat kebun obat lama yang jarang disentuh. Jadwal kultivasinya tidak pernah bentrok dengan murid inti. Ketika ia datang ke aula pembelajaran, bangku di sekitarnya selalu kosong, seolah ada kesepakatan diam yang tak pernah dibicarakan.Bukan permusuhan. Lebih tepatnya… dikucilkan.Ling Xuan merasakannya dengan jelas. Ini bukan pertama kalinya.Dulu, di Sekte Batu, ia pernah berdiri di tengah k

  • Aku Bangkit dari Lembah Neraka   56. Masuk Sekte Pohon

    Di lembah pemulihan bagian dalam Sekte Pohon, Ling Rou terbaring tenang di atas ranjang kayu roh.Napasnya mengalun pelan seiring cahaya hijau lembut yang berdenyut di dadanya, sementara Ling Yue duduk di sisinya tanpa bergerak, menggenggam tangan adiknya seolah takut jika dilepas sedikit saja kehidupan itu akan kembali menjauh.Kabut tipis menyelimuti lembah, menahan suara dunia luar, dan jauh di balik pepohonan roh yang berbisik pelan, Ling Xuan telah melangkah ke wilayah murid Sekte Pohon, meninggalkan adiknya dalam perlindungan alam demi menghadapi jalannya sendiri yang kini jauh lebih sunyi dan tajam.Gerbang Sekte Pohon terbuka tanpa suara. Dua batang pohon raksasa berdiri berhadap-hadapan, akarnya menembus tanah seperti urat nadi dunia. Di antara keduanya, kabut hijau tipis mengalir perlahan, membawa aroma tanah basah dan daun tua.Ling Xuan melangkah masuk.Tidak ada terompet penyambutan. Tidak ada sorak murid. Bahkan tidak ada tatapan penasaran yang terang-terangan.Yang ada

  • Aku Bangkit dari Lembah Neraka   55. Tingkah anak muda

    Namun sudah terlambat.Tekanan lenyap, dan mereka semua terhempas mati. Langit kembali cerah.Proyeksi bayangan runtuh menjadi serpihan hitam yang menguap.Hutan terdiam.Mu Qinghe berdiri perlahan.Ia menatap dua murid muda di hadapannya, dengan ekspresi seseorang yang baru saja menyaksikan sejarah lahir.“…Langit benar-benar gila,” gumamnya.Ia tertawa kecil, kelelahan bercampur kekaguman.“Aku pikir aku hanya menyelamatkan satu nyawa.”Ia menatap Ling Xuan dan Bai Yuer.“Ternyata… aku membangunkan takdir.”Cahaya di sekitar Ling Xuan dan Bai Yuer perlahan meredup.Mereka saling menatap.Untuk sesaat, dunia terasa sunyi.Akar-akar yang retak perlahan menutup. Tunas-tunas hijau tumbuh di tanah yang hangus, seolah luka alam dipaksa untuk sembuh lebih cepat dari seharusnya.Ling Xuan berdiri terdiam.Tubuhnya sudah pulih jauh lebih baik, namun dadanya terasa kosong. Seolah sesuatu yang hangat tadi… masih tertinggal, namun tidak lagi menyelimuti.Di hadapannya, Bai Yuer berdiri membelak

  • Aku Bangkit dari Lembah Neraka   54. Melihat keadaan sang murid

    Akar hijau kembali menjalar di dalam klinik, membentuk kubah pelindung. Lapisan qi kehidupan menyatu rapat, memisahkan ruangan dari dunia luar, menahan setiap gangguan, suara, dan aura berbahaya.Mu Qinghe berdiri di sisi ranjang Ling Rou, menatap wajah gadis itu yang kini telah memiliki rona hidup.Ia mengangkat tangan, menekan ringan kening Ling Rou. Cahaya hijau lembut meresap, membuat napas gadis itu semakin teratur.Ling Yue menahan napas. “Kakek Tabib…”Mu Qinghe menoleh sedikit, sorot matanya tajam namun hangat.“Hanya sebentar,” katanya tenang. “Tunggulah di sini. Jangan keluar dari perisai ini apa pun yang terjadi.”Ia melangkah mundur satu langkah, lalu menatap ke arah luar, seolah bisa menembus dinding dan jarak.“Kakek tua ini,” lanjutnya pelan, namun ada tekanan yang tak bisa disembunyikan, “akan memeriksa keadaan muridnya.”Sebelum Ling Yue sempat berkata apa-apa, tubuh Mu Qinghe memudar. Ia menyatu dengan aliran kehidupan, berpindah melalui akar, tanah, dan nadi dunia.

  • Aku Bangkit dari Lembah Neraka   53. Penyembuhan Ling Rou

    Akar hijau berkilau menembus lantai klinik seperti urat nadi raksasa. Cahaya kehidupan menyebar, menekan bau obat pahit dan darah yang memenuhi ruangan.Mu Qinghe tidak membuang waktu.Begitu kakinya menyentuh lantai, ia sudah berada di sisi ranjang Ling Rou.“Meridian jantung runtuh. Qi menipis. Racun obat sudah menyatu dengan darah,” gumamnya cepat. Tangannya bergerak tanpa jeda, menekan beberapa titik akupuntur di dada dan perut Ling Rou. Cahaya hijau menyala di ujung jarinya, masuk ke tubuh gadis itu seperti aliran hangat.Ling Rou tersentak. Napasnya tersendat.Mu Qinghe tidak berhenti. Ia mengangkat kedua tangan, membentuk segel hidup. Akar-akar di lantai bergerak, menjalar ke arah ranjang, lalu berhenti beberapa jengkal dari tubuh Ling Rou, berdenyut seirama dengan jantungnya.“Bangunlah!” bisiknya, bukan sebagai perintah, melainkan dorongan lembut. “Jangan lepaskan hidupmu.”Qi kehidupan membanjiri ruangan.Di sudut, Bai Yuer yang sejak tadi menunggu terpaku. Matanya membelala

  • Aku Bangkit dari Lembah Neraka   52. Menjadi murid Tabib Agung

    Ling Xuan tidak ragu sedikit pun.“Apa pun,” ucapnya tegas. “Selama adikku tetap hidup.”Mu Qinghe tersenyum kecil.“Aku tidak butuh harta,” katanya. “Tidak butuh sumpah kosong. Dan aku tidak kekurangan murid.”Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.“Justru karena itu,” lanjutnya pelan, “aku sangat memilih.”Ling Xuan menegang. “Maksud Senior…?”Mu Qinghe menatap tajam ke dalam matanya.“Ilmu yang kupelajari,” katanya tenang, “bukan sekadar teknik penyembuhan. Ia adalah jalur hidup. Jalur yang menuntut kesabaran, pengendalian diri, dan belas kasih yang tidak palsu.”Udara terasa berat.Lava Maw menahan napas.“Jika aku menyelamatkan adikmu,” lanjut Mu Qinghe, suaranya tegas, “kau harus menjadi muridku.”Kata-kata itu jatuh perlahan… namun beratnya seperti gunung.Ling Xuan terdiam.Menjadi murid Tabib Agung Sekte Pohon. Bukan kehormatan biasa. Itu adalah ikatan. Jalan hidup baru. Jalur kultivasi yang tidak bisa ditinggalkan sesuka hati.Api itu… jalannya sekarang. Batu Api di dalam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status