MasukSuara para tetua terdengar jauh dan bergetar, seperti berasal dari balik tirai tebal. Tubuh Bai Yuer terasa berat, panas… tapi tidak sekacau sebelumnya. Napasnya masih pendek, tapi pikirannya perlahan kembali.
"Tekan energinya… jangan biarkan naik lagi!”
“Tetap fokus! Racunnya tidak stabil!”
Suara-suara itu membuat Bai Yuer perlahan membuka mata.
Ruangan tampak dipenuhi asap spiritual. Para tetua berdiri membentuk lingkaran di sekelilingnya.
Mereka menyalurkan energi dingin, mencoba menekan racun dalam tubuhnya.Wajah mereka semua pucat.
Salah satu tetua mengusap keringat dari dahinya.
“Ini… sangat sulit. Racun ini terlalu dalam. Kita tidak bisa menetralkannya, hanya menahannya.”“Racun… apa?” Bai Yuer bertanya dengan suara lemah.
Para tetua saling pandang. Lalu salah satu dari mereka menjawab dengan hati-hati.
“Putri… ini Gairah Naga Merah. Racun langka yang menyerang emosi dan energi inti seseorang. Jika dorongannya tidak tersalurkan, racun akan menempel dan terus menggerogoti meridian.”
Bai Yuer menatap kosong. Ingatan malam itu kembali seperti kilatan. Pasokan panas yang tak terkendali, napas yang berat, dunia yang berputar, dan—
Ling Xuan...
Napasnya tercekat. Ia mengerjap, tubuhnya tersentak pelan.
“Ling Xuan…”
Suara itu keluar begitu saja.
Para tetua terdiam.
Bai Yuer menatap mereka, kini dengan jelas.
“Di mana Ling Xuan?”Tetua paling tua menunduk sedikit. “Putri… tenanglah. Anda tidak perlu mengingat kejadian itu lagi.”
“Katakan di mana Ling Xuan?!” desis Bai Yuer. “Apa… yang kalian lakukan padanya?”
Tetua lain menjawab lirih, “Kepala sekte telah menjatuhkan hukuman padanya. Hukuman yang setimpal.”
Bai Yuer menegang. “Hukuman…?” Napasnya tersendat. “Apa maksud kalian?”
“Ling Xuan… telah dinyatakan menodai Putri Sekte.”
Tetua itu menunduk lebih dalam. “Hukuman penyegelan dan pembuangan… telah dilaksanakan.”Hening...
Ruangan seolah runtuh. Bai Yuer membeku beberapa detik. Lalu wajahnya berubah drastis.
Marah, kaget, hancur. Semuanya bercampur.
“Dibuang…?” Suaranya pecah.
Dan tiba-tiba, Bai Yuer bangkit berdiri.
Para tetua terkejut. “Putri! Racunnya belum—!”
“Diam kalian!”
Suara Bai Yuer bergema keras, membuat semua orang terdiam. Ia berjalan sempoyongan dengan penuh tekad. Keluar dari ruang pengobatan dan menuju aula utama.
Saat ia melihat ayahnya, Kepala Sekte Batu, sedang berdiri dengan ekspresi tegang, Bai Yuer langsung menghampirinya.
“Ayah… apa yang Ayah lakukan pada Ling Xuan!?”
Kepala sekte tampak kaget. “Yuer! Kau belum—”
“Cukup!”
Suara Bai Yuer pecah, matanya merah penuh amarah dan rasa sakit.
“Bagaimana bisa Ayah menyentuhnya tanpa mendengar penjelasanku!? Tanpa menungguku sadar!?”
“Yuer… kami melihatnya dengan mata kepala kami sendiri.”
“MATA?!” Bai Yuer menjerit. “Racun itu tidak akan tunduk kecuali aku—” Ia menggigit bibir, menahan gemetar, “…kecuali aku menuruti keinginan emosiku!”
Para tetua saling pandang, bingung. “Apa maksud Putri…?”
Bai Yuer menatap mereka satu per satu dengan tajam. “Gairah Naga Merah bukan racun memalukan seperti yang kalian pikirkan. Itu racun yang mengacaukan emosi terdalam. Jika dorongan emosinya tidak tersampaikan, racunnya akan terus menempel dan bisa membunuhku.”
Ia menarik napas gemetar. “Dan kalian tahu siapa satu-satunya orang yang kuinginkan saat itu?”
Tidak ada yang menjawab.
Bai Yuer mengepalkan tangan, suara melemah tapi jujur.
“Ling Xuan.”
Seketika ruangan membeku.
“Bukan karena racun…” lanjut Bai Yuer perlahan.
“Atau karena dorongan asing…” Ia menunduk sedikit,“…tapi karena aku memang sudah lama menginginkannya.”Kepala sekte terdiam seperti batu. Para tetua membeku tanpa kata.
Dan Bai Yuer, dengan napas terengah dan mata penuh air, mengucapkan kalimat paling menusuk.
“Dan kalian… kalian telah menghukumnya… tanpa menunggu aku membuka mata?”
Wajah Kepala Sekte Batu, Bai Zhenhai, pria yang ditakuti seluruh sekte, mendadak memucat. Ia menatap putrinya seolah baru saja disambar petir.
“Yuer… apa yang kau katakan barusan…?” ujarnya parau, bergetar halus, sesuatu yang tidak pernah terlihat sebelumnya.
Bai Yuer tidak menjawab. Ia hanya menatap ayahnya dengan mata merah dan penuh kekecewaan.
“Ling Xuan…” Kepala sekte mengulang perlahan,
“…adalah orang yang kau… kau inginkan?”Bai Yuer mendengus kesal. “Kalau bukan karena dia, aku sudah mati sebelum kalian menemukanku! Racun itu akan menjadi malapetaka untukku dan hanya akan tunduk pada orang yang kusukai.”
Tetua ketiga terbatuk panik. “Tapi… Putri… kami melihat kalian berdua… dalam posisi—”
“ITU KARENA RACUN DAN PERASAAN YANG KU PENDAM, BUKAN KARENA KESALAHAN LING XUAN!”
Bai Yuer membentak begitu keras sampai api di unggunan kecil di sudut ruangan ikut berkedip.
Ia menatap satu per satu wajah para tetua yang hening bagai batu. Tidak ada yang berani berkata apa pun setelah teriakannya.
Untuk sesaat, ruangan itu penuh dengan ketegangan sunyi. Lalu, Bai Yuer menarik napas tajam dan melangkah mundur.
“Aku tidak ingin mendengar alasan lagi,” katanya dengan suara rendah namun tegas. “Jika kalian benar-benar tetua sekte… kalian seharusnya tahu racun apa yang ada di tubuhku.”
Tidak ada yang menjawab.
Mata Bai Yuer menyipit, kecewa.
“Kalau kalian tidak bisa menolongku,” ia menunjuk dada sendiri, “setidaknya jangan menghancurkan orang yang berusaha menyelamatkan.”
Ia memalingkan wajah, menatap pintu besar aula yang terbuka sedikit.
Rasa panas di tubuhnya masih ada, racun masih ditekan… tapi amarahnya membuat rasa sakit itu nyaris tak terasa.
Bai Yuer melangkah ke pintu.
“Putri, Anda mau ke mana!?” salah satu tetua berseru panik.
Bai Yuer berhenti di ambang pintu, tanpa menoleh.
“Tentu saja, ke tempat di mana kalian membuang Ling Xuan.”
Hanya dalam hitungan hari, berita tentang runtuhnya kewarasan Zhou Han dan meledaknya perang saudara di Sekte Batu mengguncang seluruh penjuru benua.Namun, yang membuat dunia benar-benar menahan napas bukanlah kejatuhan Sekte Batu itu sendiri. Melainkan siapa yang berada di baliknya.Perlahan-lahan, para tokoh kuat mulai menyadari sebuah anomali yang janggal: Seseorang di Yanbara mampu memicu kehancuran sebuah sekte raksasa dari dalam tanpa mengirimkan satu pun prajurit. Menghancurkan musuh dengan pedang adalah hal biasa. Namun, menumbangkan sebuah faksi dengan ketakutan dan manipulasi? Itu memicu kewaspadaan tingkat tinggi.Reaksi dunia persilatan mulai bergeser secara bertahap:Sekte-sekte kecil mulai gelisah dan memperketat penjagaan mereka, khawatir percikan konflik besar ini akan segera menyambar wilayah mereka. Sementara itu, sekte-sekte besar tidak serta-merta menunjukkan rasa takut. Sebaliknya, mereka mulai curiga. Mereka secara diam-diam mengirim utusan dan mata-mata ting
Di ruang VIP nomor tiga, Zhou Han menarik kembali Aura Batu-nya secepat kilat. Wajahnya yang semula keras karena angkuh, kini memucat pasi. Napasnya tertahan saat ia melihat Utusan Bayangan di lantai bawah muntah darah dan kehilangan kemampuan regenerasinya.Namun, bukan hancurnya sang pembunuh abadi itu yang membuat Zhou Han gemetar.Pada detik ketika formasi Yanbara menjatuhkan tekanan jiwanya, Zhou Han, sebagai kultivator batu roh, ia merasakan sebuah residu energi yang menyusup di udara. Energi itu sangat tipis, nyaris tak kasat mata, namun bagi Zhou Han, rasanya seperti disiram air es di tengah musim dingin.Itu adalah perpaduan energi yang sangat mustahil: Kekerasan elemen batu yang berakar pada keabadian elemen kayu."Tidak mungkin..." gumam Zhou Han, melangkah mundur hingga punggungnya menabrak dinding ruangan. Matanya membelalak penuh kengerian menatap ke arah balkon teratas. "Penguasa Yanbara ini... dia bukan sekadar monster yang kuat. Dia memahami hukum formasi dengan
Di balik tirai sutranya, Ling Xuan memandangi lantai bawah dengan tatapan kalkulatif. Otaknya yang sedingin es dengan cepat membedah situasi.Ia sadar betul akan satu hal: selama musuh bermain "bersih" dan tidak melanggar aturan Yanbara, sistem pertahanan rumah lelang tidak punya alasan untuk mengeksekusi mereka. Jika Ling Xuan menyerang lebih dulu hanya karena kesal, ia akan terlihat panik, gegabah, dan membenarkan kecurigaan mereka."Jika mereka tidak mau melanggar hukum," gumam Ling Xuan pelan, matanya berkilat tajam. "Maka aku yang akan memancing ego dan keserakahan mereka hingga mereka sendiri yang menghancurkan hukum itu."Keesokan harinya, Ling Xuan memanggil Hou Yan secara rahasia."Tuan," Hou Yan menunduk hormat. "Uang dari pembeli anonim itu sudah memenuhi satu brankas utuh kita. Apa langkah kita selanjutnya? Mereka masih terus memonopoli lelang.""Sebarkan undangan VIP khusus ke seluruh penjuru dunia persilatan. Tiga hari lagi, kita akan mengadakan Lelang Puncak," perin
Di sisi lain dunia persilatan, Pemimpin Sekte Bayangan membuktikan mengapa organisasinya menjadi mimpi buruk yang paling ditakuti. Ia bukanlah orang bodoh yang mengandalkan amarah dan otot semata layaknya Zhou Han.Ia tahu bahwa Yanbara saat ini adalah sebuah jebakan berduri. Mengirim pasukan besar untuk membumihanguskan tempat itu sama saja dengan menggigit umpan secara membabi buta. Sebagai gantinya, ia memilih pendekatan yang jauh lebih mengerikan: Keheningan mutlak.Malam itu, Lelang Bawah Tanah Yanbara riuh rendah seperti biasa. Asap tembakau, aroma anggur murahan, dan keringat para kultivator liar memenuhi udara. Namun, di antara lautan manusia itu, sebuah kelompok kecil elit telah menyusup masuk bak hantu.Di barisan kursi VIP lantai bawah, duduk seorang pria paruh baya berpakaian sutra emas. Ia adalah Sang Pembeli Anonim. Di sebelahnya, seorang pria berkacamata tipis berdiri dengan postur sempurna, Sang Penjamin VIP Palsu, seorang ahli manipulasi yang identitas bodongnya be
Menyebar rumor belumlah cukup. Bagi Ling Xuan, ketakutan sejati harus dibangun dari kehancuran dari dalam. Ia pun menaikkan taruhan permainannya ke tingkat yang jauh lebih mematikan.Di bawah kendalinya, Rumah Lelang Yanbara mulai memunculkan barang-barang yang membuat seluruh dunia persilatan gempar. Di atas panggung terang itu, Hou Yan melelang pusaka-pusaka yang seharusnya mustahil berada di pasar gelap.Mulai dari gulungan teknik elemen batu tingkat tinggi milik para leluhur Sekte Batu, artefak pusaka berlambang kepemimpinan lama, hingga yang paling gila pecahan cetak biru dari formasi pertahanan inti Sekte Batu itu sendiri.Semua orang tahu, ini bukan lagi sekadar ladang bisnis. Ini adalah sebuah penghinaan terbuka. Sebuah tamparan keras tepat di wajah Sekte Batu.Dampak dari pelelangan itu langsung terasa. Di markas Sekte Batu, faksi lama yang masih menjunjung tinggi tradisi mulai resah dan saling berbisik."Bagaimana mungkin benda-benda suci sekte kita bisa bocor ke Yanbar
Beberapa malam setelah terobosan luar biasa yang meretakkan Ranah Batu Jiwa, Ling Xuan mulai didatangi sebuah mimpi. Namun, bagi seorang kultivator di tingkatannya, mimpi bukanlah sekadar bunga tidur yang menguap saat fajar tiba.Di dalam alam bawah sadarnya, ia mendapati dirinya berdiri tegak di bawah naungan Pohon Kehidupan. Pohon raksasa itu tidak hancur atau hangus seperti terakhir kali ia meninggalkannya. Daun-daunnya rimbun dan berkilau memancarkan cahaya hijau zamrud yang abadi.Tepat di bawah dahan terendah pohon tersebut, sesosok pria tua berdiri membelakanginya. Itu adalah sang Tabib Agung, Mu Qinghe.Sang guru tidak berbicara panjang lebar. Ia bahkan tidak menoleh. Ia hanya perlahan mengangkat satu tangannya, lalu menunjuk lurus ke arah tanah di bawah kaki mereka.Mata Ling Xuan mengikuti arah telunjuk tersebut. Di sana, ia melihat sebuah visualisasi yang menggetarkan nalar.Sebuah jaringan akar merambat turun ke bawah. Akar itu tidak hanya menembus lapisan tanah liat







