LOGINBai Yuer tidak menunggu jawaban siapa pun. Ia langsung melangkah keluar dari aula, melewati halaman sekte yang masih dipenuhi murid yang berbisik-bisik.
Tidak satu pun berani menghentikannya. Semuanya bisa melihat dengan jelas kemarahan di wajahnya dan hawa panas samar dari racun yang masih bergejolak di tubuhnya.
Setiap langkah terasa berat. Setiap napas terasa panas. Tapi ia terus maju. Menuju tempat di mana para pendosa sekte dibuang. Ke tebing Lembah Neraka Batu.
Angin malam di puncak gunung terasa tajam dan dingin. Tebing itu menjulang seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa pun yang mendekat.
Begitu mencapai tepi jurang, Bai Yuer berhenti.
Napasnya terputus-putus, wajahnya pucat, tapi matanya tetap tajam.Ia melihat ke bawah.
Tempat itu… tempat yang selama ini hanya ia dengar dalam cerita menakutkan para murid… kini terbentang tepat di hadapannya.
Lembah Neraka Batu.
Jurang dalam dengan kabut panas memantul dari dasar. Dan di sisi tebing, tepat di bagian yang dipakai penjaga sebagai lokasi pembuangan, ada jejak darah yang masih segar.
Dan beberapa batu di sekitar sana… hangus, seolah terbakar energi kuat sesaat sebelum padam.
Bai Yuer menatapnya dengan mata melebar.
“…Ling Xuan…”
Tubuhnya bergerak sendiri. Ia mendekat, berlutut, menyentuh darah yang sudah mulai mengering itu. Tangannya gemetar.
“Ling Xuan… kau benar-benar dibuang dari sini…?”
Tidak ada angin yang menjawab. Hanya kabut panas dari lembah yang naik perlahan, seperti mengejek.
Bai Yuer menggigit bibir sampai berdarah.
Pandangannya kabur oleh air mata yang mengalir begitu saja.“LING XUAN!!”
Teriakannya menggema panjang di dinding-dinding batu.
Namun, tidak ada jawaban. Bahkan, tidak ada tanda kehidupan dari bawah sana. Hanya keheningan yang menusuk.
Racun dalam tubuhnya, yang tadi ditekan oleh para tetua, mulai bergetar lagi. Hawa panas naik ke dadanya, memaksa napasnya menjadi pendek dan menyakitkan.
Tapi Bai Yuer tidak peduli. Ia memeluk dirinya sendiri, menahan rasa sakit sambil menatap jurang yang seakan menelan harapannya.
“Kenapa… kenapa kalian melakukan ini padanya?”
Suaranya pecah, bergetar, tidak stabil. “Padahal dia tidak bersalah.”Ia jatuh sepenuhnya berlutut. Kedua tangan menutupi wajah, bahunya bergetar hebat.
Emosi campur aduk. Marah, menyesal, takut, dan patah hati, membuat racun Gairah Naga Merah kembali meronta di dalam tubuhnya.
Tubuhnya mulai panas lagi. Keringat dingin muncul di pelipis. Pandangan berputar.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, putri Kepala Sekte Batu, Bai Yuer, yang selalu kuat dan sempurna, menangis histeris di tepi jurang, tanpa memedulikan siapa pun yang melihat.
Angin malam berhembus. Kabut lembah naik pelan. Namun, ada bayangan Ling Xuan di antara kabut panas itu.
Sekadar jejak… bahwa seseorang telah dilemparkan ke dasar lembah. Dan seolah alam pun ikut berduka, batu-batu di sekitarnya retak perlahan oleh hawa panas tubuh Bai Yuer yang tak stabil.
“Ling Xuan…” bisiknya terakhir kali, sebelum racun melonjak dan membuatnya terhuyung. Tubuhnya goyah. Ia pun tersandung dan jatuh ke jurang.
____
Sementara itu, setelah menyalurkan panas Batu Api Langit ke seluruh tubuhnya, Ling Xuan merasa seolah seluruh kekuatannya menghilang. Tidak ada energi tersisa untuk berdiri tegak. Tidak ada tenaga untuk bergerak.
Ia terhuyung dan akhirnya membiarkan tubuhnya kembali terlentang di atas batu hangus yang masih hangat.
“Hah… hah…”
Setiap napas terasa berat. Langit sempit di atas sana berwarna hitam kebiruan. Kabut panas berputar seperti tirai tipis, memantulkan cahaya merah dari batu-batu di sekeliling.
Ling Xuan menatap ke atas, membiarkan kelopak matanya setengah tertutup. Kesadarannya bergetar, seolah kapan saja bisa kembali tenggelam.
“Ternyata… aku masih bisa tidur dalam keadaan begini…” Ia mengembuskan napas pelan. Dan pada saat itu—
Suara angin mendesing kecil terdengar dari atas.
"Hmm?”
Kesadarannya yang hampir tenggelam tersentak kembali. Ia memicingkan mata, mencoba fokus menembus kabut di atasnya.
Ada sesuatu yang jatuh dari jurang. Siluet panjang, rambut yang berkibar, baju putih yang berkecah di udara.
“M—mustahil…”
Ling Xuan ingin bangkit. Tubuhnya menolak. Tidak ada tenaga.
Hanya satu kata keluar dari bibirnya.
“Yuer…?”
Sosok itu...
Bai Yuer jatuh semakin cepat. Dan sebelum Ling Xuan sempat melakukan apa-apa—
BRUGH!!
Tubuh Bai Yuer jatuh tepat di atas dirinya, menghantam dada dan bahunya dengan keras.
Udara di paru-paru Ling Xuan terhempas keluar.
“Ugkh!”
Sakit. Sangat sakit. Tulang rusuknya seperti diguncang. Luka di punggungnya terbuka lagi.
Tubuh yang sudah remuk terasa semakin hancur.Tapi Ling Xuan tidak mengeluh. Karena di dadanya,
Bai Yuer pun tidak bergerak.“…Yuer…?”
Ling Xuan menggenggam bahu Bai Yuer dengan tangan gemetar.
“Yuer… Yuer! Bangun…!”
Tidak ada respons.
Sebuah kecemasan tajam menghantam dadanya—
lebih dalam dari rasa sakit fisik mana pun yang ia rasakan hari itu.“Kenapa kau turun… kenapa kau jatuh… kenapa kau bisa ada di sini…? Ayahmu tidak mungkin ikut menghukummu, kan?”
Ia berbicara seperti orang yang kehilangan akal. Napasnya bergetar. Dan saat ia memeluk Bai Yuer sedikit agar gadis itu tidak tergelincir ke bawah, sesuatu terjadi.
Hawa panas meledak pelan dari dada Bai Yuer.
Panas yang berbeda dari racun. Panas yang lembut dan harmonis.Ling Xuan terbelalak.
“Apa ini?”
Energi Yin Bai Yuer mengalir melalui titik kontak tubuh mereka. Bahu Ling Xuan, dada Ling Xuan,
dan masuk ke dalam tubuh Ling Xuan yang patah-patah, seolah ditarik oleh kekuatan yang tidak terlihat.Batu Api Langit bereaksi. Simbol retak di dada Ling Xuan menyala merah keemasan.
“Ugh—!”
Ling Xuan menggeliat. Tubuhnya gemetar hebat.
Ia merasakan aliran energi besar yang mendadak masuk.Suara dentuman halus terdengar dari dalam tubuhnya, seperti bebatuan retak yang digabungkan kembali.
Energinya yang hancur, jalur Qi yang putus, otot yang sobek, mulai bergerak.
“Tidak mungkin… energi Yuer… memicu Batu Api Langit…?”
Panas dari Batu Api Langit mulai naik mengikuti jalur energi Yin dari Bai Yuer.
Ketika Bai Yuer jatuh menimpa Ling Xuan, energi Yin dari tubuhnya yang kacau karena racun Gairah Naga Merah, mengalir keluar tanpa kendali. Energi Yin itu secara alami tertarik pada Batu Api Langit yang baru terbangun di dalam tubuh Ling Xuan.
Yin murni dari akar roh Bai Yuer menjadi katalis yang sangat cocok untuk unsur Yang murni Batu Api Langit. Begitu keduanya bersentuhan, terjadilah resonansi spontan yang menyalakan kembali aliran energi dalam diri Ling Xuan.
Resonansi ini membuat Batu Api Langit memancarkan panas lembut yang menstabilkan racun dalam tubuh Bai Yuer, sementara energi Yin gadis itu memperbaiki jalur Qi Ling Xuan yang rusak. Meski keduanya tidak sadar, kontak fisik mereka menciptakan keseimbangan Yin–Yang alami, membuat Ling Xuan pulih lebih cepat, dan racun Bai Yuer tidak meledak.
BLAAAAAAR!!Ledakan dahsyat di langit-langit ruang bawah tanah itu terdengar seperti auman dewa perang yang membelah langit. Bongkahan batu obsidian seberat puluhan ton berjatuhan, hancur menjadi debu sebelum sempat menyentuh lantai akibat tekanan energi yang sangat masif.Bersamaan dengan reruntuhan itu, sebuah pilar cahaya berwarna emas murni melesat turun layaknya pedang raksasa yang menembus jantung kegelapan. Cahaya itu begitu terang dan membara, menyapu bersih sisa-sisa Domain Bayangan Maut milik Huan Ming dalam hitungan detik. Udara yang tadinya dipenuhi racun korosif seketika terasa hangat dan bergejolak oleh aura Yang ekstrem.Pedang bayangan Huan Ming yang tinggal beberapa inci dari leher Ling Xuan tertahan paksa di udara. Seolah menabrak dinding baja yang tak kasat mata, pedang beracun itu bergetar hebat sebelum akhirnya hancur berkeping-keping."Siapa yang berani menyentuh menantuku?!"Sebuah suara bariton yang mengguncang gendang telinga bergema di seluruh ruangan.
Pintu besi raksasa yang memisahkan lorong bawah tanah dengan ruang penyiksaan inti Penjara Batu Sunyi hancur berkeping-keping. Potongan logam seberat ratusan jin terlempar ke dalam ruangan bagai daun kering yang tersapu badai, menghantam pilar-pilar batu hingga runtuh.Dari balik tabir debu dan kegelapan, Ling Xuan melangkah masuk.Ruangan melingkar yang diterangi obor berapi hijau itu seketika dibanjiri oleh tekanan gravitasi yang luar biasa menindas. Ketiga Utusan Sekte Jiwa yang tadinya melayang di udara langsung mundur ke sudut paling gelap, jubah abu-abu mereka bergetar meredam tekanan tersebut. Mereka tidak berniat turun tangan; bagi mereka, ini adalah tontonan yang sempurna untuk menguji seberapa berguna anjing peliharaan mereka, Huan Ming.Mata Ling Xuan menyapu ruangan dengan dingin, sebelum akhirnya terpaku pada titik pusat formasi darah.Di sana, berlutut dengan tubuh dipenuhi luka, adalah kedua orang tuanya. Paku-paku berkarat dari Rantai Penyedot Qi menembus tulang be
Badai salju yang biasanya melolong ganas di wilayah utara mendadak terdiam.Bukan karena angin telah mereda, melainkan karena hukum alam di sekitar Penjara Batu Sunyi telah dibengkokkan secara paksa. Kepingan-kepingan salju yang seharusnya jatuh ke bumi kini melayang kaku di udara, seolah waktu itu sendiri membeku dalam radius beberapa li dari benteng raksasa tersebut.Di tempat gerbang utara benteng yang tadinya menjulang gagah setinggi puluhan tombak, kini hanya tersisa kawah menganga dan kepulan debu pekat. Pintu besi berlapis nikel spiritual setebal dua meter, yang diklaim mampu menahan serangan mematikan dari kultivator tingkat Ranah Batu Roh sekalipun, telah remuk dan terpelintir layaknya kertas usang.Di tengah kepulan debu obsidian yang berterbangan, terdengar langkah kaki yang lambat namun berirama. Setiap langkah itu mendarat, daratan berguncang pelan.Sosok Ling Xuan perlahan menembus tabir debu. Wajahnya sepucat kertas, dengan sisa darah kering di sudut bibirnya akibat
Jauh di ujung utara daratan, tersembunyi di balik badai salju abadi dan kabut beracun, berdirilah sebuah benteng raksasa yang seolah dipahat dari tulang-belulang bumi. Penjara Batu Sunyi. Nama itu adalah sebuah ironi yang sangat kejam, sebab tempat itu tidak pernah benar-benar sunyi. Sepanjang siang dan malam, lolongan penderitaan dari para kultivator yang meridiannya dihancurkan atau jiwanya disiksa terus bergema, memantul di antara dinding-dinding batu obsidian yang dingin dan lembap. Di tempat inilah, keputusasaan bukan sekadar luapan perasaan, melainkan udara nyata yang dihirup setiap detik.Di ruangan terdalam penjara tersebut, yang diterangi oleh obor-obor berapi hijau redup, udara terasa seribu kali lebih menindas. Ruangan itu berbentuk melingkar, dengan lantai yang dipenuhi alur ukiran formasi darah yang terus berdenyut memancarkan hawa kematian.Di atas sebuah kursi batu yang dipahat menyerupai tumpukan tengkorak, duduklah seorang pria paruh baya dengan jubah hitam yang disul
Di dalam gua yang remang oleh pendar kristal api, suhu mendadak melonjak drastis. Udara bergetar, terdistorsi oleh gelombang panas yang tak kasat mata. Ling Xuan duduk bersila, mengatupkan rahangnya kuat-kuat hingga urat-urat di lehernya menonjol. Di belakangnya, ilusi Mahkota Jiwa berputar lambat, memancarkan tekanan spiritual yang menahan agar gelombang panas itu tidak menyentuh ranjang batu tempat Bai Yuer dan putra mereka, Ling Ziyu, terlelap."Kau benar-benar gila, Xuan'er," suara Mu Qinghe terdengar lirih dari dalam gelang kayu, dipenuhi campuran antara teguran dan rasa bangga yang pedih. "Mencabut artefak yang sudah menyatu dengan fondasi Dantian-mu sama saja dengan merobek jantung kultivasimu sendiri."Ling Xuan tidak menjawab. Fokusnya sepenuhnya tertuju ke dalam tubuhnya. Di pusat Dantiannya, sebuah pusaran energi berputar ganas mengelilingi sebuah batu merah menyala, Batu Api Langit. Artefak purba itulah yang selama ini menjadi sumber kekuatan destruktifnya, yang membangk
Lembah Nadi Bumi yang selama tujuh bulan ini bergejolak ganas, malam itu mendadak hening. Debu-debu batu yang biasanya melayang tak tentu arah akibat anomali gravitasi kini mengendap tenang di atas tanah yang retak. Di tengah kawah sisa terobosan kultivasinya, Ling Xuan berdiri mematung layaknya sebuah monumen dewa perang.Aura dari Ranah Batu Surga masih berdenyut samar di balik kulitnya. Setiap hela napasnya seolah beresonansi dengan detak jantung bumi di bawah kakinya. Matanya yang sedingin es menatap lurus menembus kegelapan malam, menuju ufuk utara. Ke arah Penjara Batu Sunyi.Namun, sebelum niat membunuhnya sempat mengembun menjadi tindakan, keheningan lembah itu terkoyak.Bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh sebuah jeritan tertahan dari arah gua persembunyian yang dijaga ketat oleh formasi ilusi tingkat tinggi.Ling Xuan tersentak. Niat membunuh yang selama tujuh bulan ia asah dengan darah dan penderitaan tiba-tiba runtuh tak bersisa. Hanya dalam satu kedipan mata, sos
Malam mulai merambat di Sekte Pohon.Ling Xuan tengah membersihkan cangkulnya ketika suara langkah ringan tiba-tiba terdengar di belakangnya.“Taa~daaa!”Ia tidak berbalik.“Jika kau datang hanya untuk menghina bau ini. . .,” ucapnya tenang, “aku sudah terbiasa.”Su Yan mendengus. “Sungguh mengecew
Ling Xuan kembali aktif.Gerakannya konsisten, teratur, dan efektif. Namun, setiap kali cangkulnya bersentuhan dengan tanah, terdapat jeda kecil yang tidak pernah ada sebelumnya. Seolah tubuhnya menantikan sesuatu yang tidak kunjung tiba.Ia tidak memikirkan hal itu lebih lanjut.Pada hari ketujuh
Ling Xuan berhenti di depan lapak, masih menimbang ampas ramuan di tangannya.Ada getaran halus di dadanya. Ia menoleh setengah.Keramaian pasar mengalir seperti biasa. Murid lalu-lalang, pedagang berseru, kain jubah berdesir. Tidak ada wajah yang menatapnya kembali.Kosong...Su Yan menyadarinya.
Ling Xuan sudah melangkah satu kaki keluar dari rumah kayu ketika sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang, muncul lebih dulu.Belum sempat ia benar-benar melewati ambang pintu, sebuah kepala menyembul dari balik tiang rumah.Rambut terikat setengah. Mata jernih. Senyum… setengah jadi.Su Yan.Keduan







