MasukBai Yuer mengerjap beberapa kali, napasnya tersendat saat akhirnya mengenali posisi dirinya. Ia menindih Ling Xuan, tubuh mereka saling menekan, napas mereka hampir bertemu. Tatapan mereka terkunci beberapa detik.
Hening memenuhi udara. Hanya terdengar suara napas berat mereka dalam diam.
“Ling Xuan…?” ucap Bai Yuer seperti bisikan patah, setengah gemetar. Ia menegakkan kedua tangannya yang berada di sisi wajah Ling Xuan dengan bertumpu ke tanah tandus di lembah itu.
Ling Xuan sedikit menegang, karena rasa sakit di dadanya yang masih menusuk. Namun ia tetap memaksakan senyum kecil yang tipis.
“Kau seperti bidadari yang jatuh dari langit,” gumamnya pelan dan serak. Ia berusaha mengalihkan rasa sakit dengan bercanda atau mungkin sekadar memastikan bahwa Bai Yuer benar-benar sadar.
Bai Yuer langsung terbelalak. Wajahnya memerah sampai telinga. Dengan panik ia mendorong tubuhnya sendiri untuk bangun. Namun begitu ia bergerak, rasa panas dari racun yang sempat mereda kembali melonjak tipis. Ia terhuyung, hampir jatuh lagi.
Ling Xuan dengan refleks menarik lengannya, membuat Bai Yuer kembali jatuh tersengkur ke dadanya.
“Sepertinya, racunmu belum sepenuhnya stabil,” ujar lelaki itu. Ia menggertakkan gigi menahan rasa sakit.
Tubuh Bai Yuer bergetar halus, napasnya panas namun tidak lagi sepanik sebelumnya. Gadis itu menunduk, rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah Ling Xuan, membuat jarak di antara mereka semakin sempit.
“Aku… maaf…” bisik Bai Yuer, suaranya melemah karena racun dan rasa malu yang bertabrakan. “Tubuhku… tidak mau menurut.”
Ling Xuan menghela napas pelan, meski dadanya perih. “Tidak perlu minta maaf. Kita berdua tidak sedang berada dalam kondisi terbaik.”
Energi Yin dari tubuh Bai Yuer kembali berdenyut tipis, mengalir tanpa kendali ke tubuh Ling Xuan. Lelaki itu menggigil kecil, Qi-nya yang rusak mulai diperbaki lagi. Panas Batu Api Langit merespons, seperti bara yang ditiup angin lembut.
Bai Yuer tampaknya merasakannya juga. Napasnya terhenti sejenak, lalu ia mengangkat kepalanya perlahan, cukup untuk menatap wajah Ling Xuan dari jarak hanya beberapa jari. “Apa yang… terjadi?”
Ling Xuan mengatur napas sebelum menjawab.
“Energi Yin-mu yang kacau karena racun, ditarik oleh Batu Api Langit di tubuhku. Itu menstabilkan racunmu… dan memperbaiki jalur Qi-ku yang hancur.”Lelaki itu menatap ke mata Bai Yuer dengan serius.
“Jika kau menjauh sekarang… racunmu akan kembali menggila.”Bai Yuer terdiam. Ia melihat ke bawah, menyadari betapa dekatnya tubuh mereka. Wajahnya kembali memerah, tetapi kali ini ia tidak mencoba menjauh. Bibirnya bergetar kecil, namun ia mengangguk, menerima kenyataan bahwa kedekatan tubuh mereka saat ini bukan pilihan, melainkan kebutuhan.
Ling Xuan merasakan tubuh gadis itu perlahan mengendur, tidak lagi tegang oleh rasa malu ataupun racun yang melonjak.
Ia menatap langit sempit di atas lembah sambil berkata pelan. "Tenang saja… Aku tidak akan salah paham.”
Bai Yuer mengembuskan napas lemah. “Bukan itu ....” Ia menelan ludah, menatap Ling Xuan dengan mata basah. “Aku hanya… takut kehilanganmu lagi.”
Kata-kata itu membuat Ling Xuan tersentak kecil. Dari sekian banyak orang di Sekte Batu, hanya dia yang benar-benar peduli padanya.
"Kau... datang ke sini hanya untuk menyusulku?" ujar Ling Xuan terheran-heran.
Bai Yuer menggigit bibirnya, lalu mengangguk pelan, jujur, tanpa ragu.
“Ya…."
Napasnya bergetar ketika ia melanjutkan, “Tapi saat aku melihat darahmu di tepi jurang… racun ini kembali menggila, hingga aku kehilangan arah.”
Ling Xuan mengerjap, tak tahu harus ikut cemas atau justru tertawa. “Jadi, kau jatuh… gara-gara mencariku?”
Bai Yuer menunduk, pipinya merah sampai leher.
“Iya.”Ling Xuan menghela napas pendek. Meskipun tubuhnya masih remuk, ia tak bisa menahan diri untuk sedikit menggoda. “Kau sampai membahayakan dirimu seperti ini… jangan-jangan kau menyukaiku?”
Dada Bai Yuer langsung naik turun cepat. Wajahnya memanas seketika, dan ia menatap Ling Xuan dengan mata membesar, seolah ketahuan melakukan kejahatan.
Tatapan itu bertahan lama, begitu dekat sehingga Ling Xuan bisa merasakan panas napasnya menyentuh kulit pipinya.
Hening turun antara mereka. Lembah yang biasanya penuh desis kabut panas seakan ikut terdiam.
Masih berada di posisi yang sama, Bai Yuer di atas tubuh Ling Xuan, kedua tangannya bertumpu di sisi kepala lelaki itu. Ia membuka bibirnya perlahan.
“Kamu bilang… energiku bisa membuatmu pulih lebih cepat, kan?”
Ling Xuan menelan ludah. “Ya….”
Bai Yuer mendekat sedikit. Sedikit lagi. Hingga jarak mereka tinggal hitungan napas. Mata gadis itu tampak berani.
“Kalau begitu…”
Napasnya menyentuh bibir Ling Xuan dan suaranya turun menjadi bisikan.
“Aku ingin mencobanya… apakah benar ini bisa membantumu?"
Sebelum Ling Xuan sempat memproses perkataan itu, Bai Yuer menutup jarak di antara mereka. Ia mencium lembut bibir Ling Xuan. Hangat, dalam, dan mengejutkan.
Sentuhan bibirnya membuat tubuh Ling Xuan seolah terbangun sepenuhnya. Resonansi Yin–Yang yang sebelumnya hanya berupa denyut hangat, mendadak berubah menjadi gelombang energi yang nyata dan kuat.
Batu Api Langit di dadanya menyala memercikan aliran panas lembut ke seluruh meridiannya yang retak. Tubuh Ling Xuan menegang sejenak, ia benar-benar merasakan energi mengalir.
Dari bibir Bai Yuer, energi Yin murni merambat turun, menyusuri jalur Qi yang hancur, mendorongnya untuk terbentuk kembali. Batu Api Langit merespons dengan memuntahkan energi Yang lembut, menyambut aliran Yin itu, lalu menyatukan keduanya menjadi kekuatan baru.
Retakan-retakan Qi di dalam tubuhnya menyatu seperti tanah kering yang tersiram hujan.
Ling Xuan terkejut, matanya terbuka sedikit ketika energi itu memusat di perut bawahnya, memadat, lalu, ledakan kecil cahaya merah keemasan menyebar dari tubuhnya.
Batu di bawah mereka bergetar. Kabut panas di sekitar seakan tersedot sebentar, lalu berputar mengikuti denyut energi Ling Xuan.
Sementara Bai Yuer masih menciumnya, ia merasakan tubuh lelaki itu memanas. Panas yang stabil dan menenangkan dari kultivasi.
Perlahan, Bai Yuer membuka mata, terkejut oleh cahaya tipis yang mengelilingi tubuh Ling Xuan.
“Ling Xuan…?” napasnya tercekat.
Ling Xuan menahan napas, merasa sesuatu yang lama hilang kini kembali ia genggam.
Ia… benar-benar telah menembus batas pertama jalur kultivasi.
Ranah Pemurnian Tubuh — Lapisan 1.
Dengan cara yang bahkan kitab kuno sekalipun tidak pernah tercatat.
Ling Xuan memejamkan mata, merasakan energi baru itu mengalir stabil. Ketika akhirnya ia menarik napas panjang, bibirnya terangkat samar.
“Aku kembali menembus ranah pertama,” ucapnya pelan, nyaris tak percaya.
Bai Yuer menatapnya dengan wajah merah, napas bergetar, dan tangan yang masih menggenggam pakaiannya.
“Syukurlah, sepertinya memang benar-benar membantu,” ujarnya sangat lirih.
Ling Xuan membuka mata, menatapnya dengan campuran syok dan kagum.
“Energi dalam tubuhku merespons keras setiap sentuhanmu. Jika kau benar-benar ingin mencobanya lagi, jangan salahkan aku tidak akan lagi menahan diri.”
Hanya dalam hitungan hari, berita tentang runtuhnya kewarasan Zhou Han dan meledaknya perang saudara di Sekte Batu mengguncang seluruh penjuru benua.Namun, yang membuat dunia benar-benar menahan napas bukanlah kejatuhan Sekte Batu itu sendiri. Melainkan siapa yang berada di baliknya.Perlahan-lahan, para tokoh kuat mulai menyadari sebuah anomali yang janggal: Seseorang di Yanbara mampu memicu kehancuran sebuah sekte raksasa dari dalam tanpa mengirimkan satu pun prajurit. Menghancurkan musuh dengan pedang adalah hal biasa. Namun, menumbangkan sebuah faksi dengan ketakutan dan manipulasi? Itu memicu kewaspadaan tingkat tinggi.Reaksi dunia persilatan mulai bergeser secara bertahap:Sekte-sekte kecil mulai gelisah dan memperketat penjagaan mereka, khawatir percikan konflik besar ini akan segera menyambar wilayah mereka. Sementara itu, sekte-sekte besar tidak serta-merta menunjukkan rasa takut. Sebaliknya, mereka mulai curiga. Mereka secara diam-diam mengirim utusan dan mata-mata ting
Di ruang VIP nomor tiga, Zhou Han menarik kembali Aura Batu-nya secepat kilat. Wajahnya yang semula keras karena angkuh, kini memucat pasi. Napasnya tertahan saat ia melihat Utusan Bayangan di lantai bawah muntah darah dan kehilangan kemampuan regenerasinya.Namun, bukan hancurnya sang pembunuh abadi itu yang membuat Zhou Han gemetar.Pada detik ketika formasi Yanbara menjatuhkan tekanan jiwanya, Zhou Han, sebagai kultivator batu roh, ia merasakan sebuah residu energi yang menyusup di udara. Energi itu sangat tipis, nyaris tak kasat mata, namun bagi Zhou Han, rasanya seperti disiram air es di tengah musim dingin.Itu adalah perpaduan energi yang sangat mustahil: Kekerasan elemen batu yang berakar pada keabadian elemen kayu."Tidak mungkin..." gumam Zhou Han, melangkah mundur hingga punggungnya menabrak dinding ruangan. Matanya membelalak penuh kengerian menatap ke arah balkon teratas. "Penguasa Yanbara ini... dia bukan sekadar monster yang kuat. Dia memahami hukum formasi dengan
Di balik tirai sutranya, Ling Xuan memandangi lantai bawah dengan tatapan kalkulatif. Otaknya yang sedingin es dengan cepat membedah situasi.Ia sadar betul akan satu hal: selama musuh bermain "bersih" dan tidak melanggar aturan Yanbara, sistem pertahanan rumah lelang tidak punya alasan untuk mengeksekusi mereka. Jika Ling Xuan menyerang lebih dulu hanya karena kesal, ia akan terlihat panik, gegabah, dan membenarkan kecurigaan mereka."Jika mereka tidak mau melanggar hukum," gumam Ling Xuan pelan, matanya berkilat tajam. "Maka aku yang akan memancing ego dan keserakahan mereka hingga mereka sendiri yang menghancurkan hukum itu."Keesokan harinya, Ling Xuan memanggil Hou Yan secara rahasia."Tuan," Hou Yan menunduk hormat. "Uang dari pembeli anonim itu sudah memenuhi satu brankas utuh kita. Apa langkah kita selanjutnya? Mereka masih terus memonopoli lelang.""Sebarkan undangan VIP khusus ke seluruh penjuru dunia persilatan. Tiga hari lagi, kita akan mengadakan Lelang Puncak," perin
Di sisi lain dunia persilatan, Pemimpin Sekte Bayangan membuktikan mengapa organisasinya menjadi mimpi buruk yang paling ditakuti. Ia bukanlah orang bodoh yang mengandalkan amarah dan otot semata layaknya Zhou Han.Ia tahu bahwa Yanbara saat ini adalah sebuah jebakan berduri. Mengirim pasukan besar untuk membumihanguskan tempat itu sama saja dengan menggigit umpan secara membabi buta. Sebagai gantinya, ia memilih pendekatan yang jauh lebih mengerikan: Keheningan mutlak.Malam itu, Lelang Bawah Tanah Yanbara riuh rendah seperti biasa. Asap tembakau, aroma anggur murahan, dan keringat para kultivator liar memenuhi udara. Namun, di antara lautan manusia itu, sebuah kelompok kecil elit telah menyusup masuk bak hantu.Di barisan kursi VIP lantai bawah, duduk seorang pria paruh baya berpakaian sutra emas. Ia adalah Sang Pembeli Anonim. Di sebelahnya, seorang pria berkacamata tipis berdiri dengan postur sempurna, Sang Penjamin VIP Palsu, seorang ahli manipulasi yang identitas bodongnya be
Menyebar rumor belumlah cukup. Bagi Ling Xuan, ketakutan sejati harus dibangun dari kehancuran dari dalam. Ia pun menaikkan taruhan permainannya ke tingkat yang jauh lebih mematikan.Di bawah kendalinya, Rumah Lelang Yanbara mulai memunculkan barang-barang yang membuat seluruh dunia persilatan gempar. Di atas panggung terang itu, Hou Yan melelang pusaka-pusaka yang seharusnya mustahil berada di pasar gelap.Mulai dari gulungan teknik elemen batu tingkat tinggi milik para leluhur Sekte Batu, artefak pusaka berlambang kepemimpinan lama, hingga yang paling gila pecahan cetak biru dari formasi pertahanan inti Sekte Batu itu sendiri.Semua orang tahu, ini bukan lagi sekadar ladang bisnis. Ini adalah sebuah penghinaan terbuka. Sebuah tamparan keras tepat di wajah Sekte Batu.Dampak dari pelelangan itu langsung terasa. Di markas Sekte Batu, faksi lama yang masih menjunjung tinggi tradisi mulai resah dan saling berbisik."Bagaimana mungkin benda-benda suci sekte kita bisa bocor ke Yanbar
Beberapa malam setelah terobosan luar biasa yang meretakkan Ranah Batu Jiwa, Ling Xuan mulai didatangi sebuah mimpi. Namun, bagi seorang kultivator di tingkatannya, mimpi bukanlah sekadar bunga tidur yang menguap saat fajar tiba.Di dalam alam bawah sadarnya, ia mendapati dirinya berdiri tegak di bawah naungan Pohon Kehidupan. Pohon raksasa itu tidak hancur atau hangus seperti terakhir kali ia meninggalkannya. Daun-daunnya rimbun dan berkilau memancarkan cahaya hijau zamrud yang abadi.Tepat di bawah dahan terendah pohon tersebut, sesosok pria tua berdiri membelakanginya. Itu adalah sang Tabib Agung, Mu Qinghe.Sang guru tidak berbicara panjang lebar. Ia bahkan tidak menoleh. Ia hanya perlahan mengangkat satu tangannya, lalu menunjuk lurus ke arah tanah di bawah kaki mereka.Mata Ling Xuan mengikuti arah telunjuk tersebut. Di sana, ia melihat sebuah visualisasi yang menggetarkan nalar.Sebuah jaringan akar merambat turun ke bawah. Akar itu tidak hanya menembus lapisan tanah liat







