เข้าสู่ระบบ"Buka mulutnya." Arsenio menyuapkan daging kepiting kepada Kirania yang sejak tadi hanya diam. Kirania menggeleng. "Kira gak laper," jawabnya, bergumam pelan. "Saya gak nanya kamu lapar atau enggak. Yang saya mau kamu makan," ucap Arsenio tegas dan tidak ingin dibantah. Kirania kembali ke sikap diam membisunya, membuat Arsenio lagi-lagi menghela napas berat—mencoba bersabar, tapi juga gemas dengan sikap gadis kesayangannya ini. Walau begitu ia tidak bisa bersikap lebih keras dari ini, karena itu akan semakin merusak mood Kirania yang sudah buruk. "Kamu masih marah sama saya? Hm?" tanya Arsenio lembut, seraya mengusap kepala belakang Kirania tak kalah lembutnya. Kirania diam, tidak bergeming. Untuk beberapa saat kendepan, ruangan VIP restoran itu diselimuti keheningan. Ya, Arsenio memang sengaja memesan ruangan VIP, agar tidak terganggu dengan kebisingan pengunjung restoran, dan agar lebih privasi saja. "Sebenarnya saya tidak tahu pasti, apa kesalahan yang sudah saya perbuat. Ta
Ini sudah empat jam berlalu sejak Arsenio dan Jeff diusir, keduanya masih di sini—duduk di depan ruangan rawat Kirania, tanpa pertengkaran apalagi obrolan. Sesekali Arsenio akan berdiri, dan mengintip ke dalam ruangan, lewat celah kaca persegi di pintu."Tuan?"Suara yang tiba-tiba hadir di tengah keheningan itu, membuat Arsenio dan Jeff menoleh secara bersamaan. "Siska? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Arsenio, keningnya mengernyit samar—merasa heran dengan kehadiran tiba-tiba wanita itu. "Saya tadi di telpon Non Kira, Tuan. Katanya dia minta dijemput di sini," jawab Siska, setelah sempat membungkuk singkat kepada Jeff. "Non Kira kenapa, Tuan?"Mendengarnya, Arsenio menghela napas kasar. Sepertinya gadis itu benar-benar akan menghindarinya setelah ini. "Ck." Arsenio berdecak, seraya meraup wajahnya gusar. "Kira di dalam, kau masuk saja.""Baik, Tuan." Selang sepuluh menit kemudian, Siska kembali keluar dari dalam ruangan, dengan Kirania di sampingnya. Mata Arsenio dan Jeff l
Sinar matahari pagi merangsek masuk melalui celah tirai ruang kerja Jeff. Pria itu mengerang pelan sambil memijat pangkal hidungnya. Kepalanya berdenyut hebat, pening luar biasa akibat alkohol semalam. Dengan perlahan, ia membuka matanya yang masih terasa berat. Rasa pusing yang dirasakannya tadi seketika menguap, berganti dengan keterkejutan luar biasa saat ia menyadari posisi dan kondisi sekitarnya. Ruangan kerjanya tampak berantakan, dan pakaian berserakan di lantai. Seketika kepingan memori semalam berputar liar di kepala Jeff. Dengan kaku, ia menundukkan kepala. Sosok wanita yang kini tengah tertidur pulas dengan kepala bersandar di dada bidangnya, yang semalam ia rengkuh dengan penuh gairah, wanita yang ia panggil Baby Girl, dan ia puja setengah mati—bukan lah Kirania, melainkan istrinya sendiri—Helena. Terlalu mabuk membuatnya sampai berhalusinasi. “Sialan!” maki Jeff dalam hati Tepat saat Jeff hendak menyingkirkan tubuh istrinya itu dengan kasar, Helena bergerak pelan.
Jeff duduk mematung di dalam mobil. Pandangannya menembus kaca jendela mobil yang sedikit diturunkan, menatap lurus ke arah area taman kota yang berada tak jauh dari posisinya sekarang. Dari tempatnya ini, matanya menangkap pemandangan yang membuat rahangnya mengeras hingga bergemeletuk. Kirania—gadis yang selama ini selalu terlihat takut padanya, kini justru tengah tersenyum dan tertawa lepas bersama Arsenio. Melihat betapa mudahnya Kirania tersenyum dan tertawa lepas bersama pria lain—terlebih lagi itu adalah Arsenio, lelaki yang paling ia benci—membuat darah Jeff mendidi. Selama ini, Kirania tidak pernah menunjukkan ekspresi sehangat itu padanya. Jemarinya mencengkram tepian pintu mobil, hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya menajam, penuh kebencian. Di tengah rasa panas yang menghimpit dadanya itu, kilasan memori itu berputar pelan di kepala Jeff, membawa ingatannya mundur jauh ke belasan tahun silam. Saat itu, dalam sebuah pesta mewah yang dihadiri para kaum elit so
Suasana di dalam mobil terbungkus oleh keheningan. Sepanjang perjalanan pulang, Kirania terus diam membisu. Gadis itu memilih menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap kosong pada bayang-bayang lampu kota yang berkelebat cepat di luar sana. Arsenio yang duduk di balik kemudi, beberapa kali melirik ke arah samping, mengamati garis wajah Kirania yang tampak begitu pucat dan lesu. Menyadari bahwa gadis itu belum mengisi perut sejak sore tadi, ia memutuskan untuk mengubah arah kemudi, memasuki area parkir sebuah restoran yang tidak jauh dari kawasan tersebut. Setelah mematikan mesin mobil, ia membuka pintu kemudi dan turun lebih dulu. Langkah kakinya membawanya memutar ke sisi seberang, lalu sengan perlahan membuka pintu mobil di sisi Kirania. “Turun dulu sebentar, kamu belum makan apapun sejak tadi,” ucap Arsenio lembut, mengulurkan tangannya. Kirania mengerjap perlahan, seolah baru tersadar dari lamunannya yang panjang. Ia menoleh, dan mendapati mobil sudah terparkir rapi d
“Katanya mafia kelas kakap, disetrum dikit langsung tepar. Dasar cupu!” cibir Arsenio, memandang wajah Jeff yang masih belum sadar. “Om, nggak boleh kayak gitu,” tegur Kirania. “Coba kalau Om yang kena setrum, pasti juga pingsan.” Arsenio mendengus malas. “Masalahnya nggak ada orang yang mau nyetrum saya.” Kirania menghela napas, lantas menunduk menatap wajah pucat Jeff. “Kak Jeff siuman nya lama juga ya.” “Makanya, ayo pulang.” “Terus Kak Jeff gimana, Om? Masa iya ditinggal sendiri.” “Nanti saya telepon Max suruh kesini,” tukas Arsenio tidak sabaran, kemudian meraih tangan Kirania. “Udah, ayo. Perut kamu kosong dari tadi siang.” "Tapi, Om ..." Kirania masih enggan bergeser, sebelah tangannya mencengkeram ujung lengan kemeja Arsenio. "Kan nggak enak kalau kita langsung pergi gitu aja, seenggaknya tunggu sampai anak buahnya datang atau ...." "Tidak ada nanti-nanti lagi, Princess," potong Arsenio, tidak menerima bantahan. “Tanggung jawab moralmu sudah selesai sampai disini. Dok
Arsenio menangkap tangan Kirania dan menahannya kuat. "Lepas! Saya mohon jangan nekad, Non." Alih-alih melepaskannya, Kirania justru menggenggam beling itu lebih kuat sehingga semakin melukai tangan gadis itu. "Saya mohon jangan seperti ini, Non. Lepaskan belingnya, ini akan melukaimu." Soro
Setelah tujuh hari mengurung diri di penthouse, pasca meninggalnya Pradipta. Hari ini Kirania menyetujui ajakan teman-temannya untuk jalan-jalan ke luar. "Selamat siang!" sapa Devanka dengan senyum cerahnya seperti biasa. "Wah ... lihatlah betapa cantiknya Kirania kita siang ini." Kirania yang
"Saya tahu kita semua disini masih dalam kondisi berduka. Namun, wasiat ini sudah menjadi amanat dari Tuan Pradipta, sebelum beliau berpulang. Jadi, saya harus membacakannya pagi ini." Suara Bram memecah keheningan ruangan keluarga yang telah diisi oleh Devanka, Helena, Jeff, dan Kirania. Selaku o
"Tahanlah sebentar," ucap Arsenio, meniup perlahan luka di telapak tangan Kirania. Kirania hanya diam dan membiarkan Arsenio merawat luka di telapak tangan kanannya yang tadi menggenggam beling. Diam-diam matanya tidak putus memperhatikan pria itu, membuat ingatannya terlempar pada kejadian beber







