Beranda / Romansa / Aku (Bukan) Gadis Pemuas / BAB 5 || KEBUSUKAN KELUARGA?

Share

BAB 5 || KEBUSUKAN KELUARGA?

Penulis: s_uci17
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-10 16:48:09

"Saya tahu kita semua disini masih dalam kondisi berduka. Namun, wasiat ini sudah menjadi amanat dari Tuan Pradipta, sebelum beliau berpulang. Jadi, saya harus membacakannya pagi ini." Suara Bram memecah keheningan ruangan keluarga yang telah diisi oleh Devanka, Helena, Jeff, dan Kirania.

Selaku orang kepercayaan mendiang Pradipta, Arsenio ikut mendampingi pembacaan surat wasiat malam ini. Mata pria itu tidak putus memperhatikan Kirania.

Gadis itu tampak rapuh dan rentan. Wajah dan matanya yang sembab, bukan hanya menggambarkan gurat kesedihan yang sangat dalam. Tapi juga tampak tertekan.

"Baik, bisa saya mulai?" Tanya Bram, menatap semua anggota keluarga.

"Ya, silahkan," kata Arsenio datar.

Bram menarik napas dalam-dalam, membuka dokumen yang ada di tangannya, dan mulai membacakannya.

"Surat wasiat. Telah bertanda tangan di bawah ini, nama Pradipta Maheswara. Menyatakan dengan sadar dan tanpa paksaan, membuat surat pernyataan wasiat waris. Bahwa saya adalah pemilik harta kekayaan sebagai berikut: seluruh saham perusahaan Maheswara Group. Dengan ini menyatakan bahwa, setelah saya meninggal dunia, maka …."

Bram berhenti sejenak, menatap semua anggota keluarga yang hadir dengan ekspresi serius. Ia lantas menarik napas dalam-dalam, sebelum akhirnya melanjutkan pembacaan surat wasiat waris tersebut.

"Putri saya, Kirania Aurora Lettania akan mendapatkan 90 persen saham perusahaan Maheswara Group. Dan sisanya sebesar 10 persen, saya wariskan kepada istri saya, Devanka Rosalia dan juga putri tiri saya, Helena Sofia." Bram membacakan dengan suara lantang.

Kirania bergeming, namun ekspresi wajahnya tidak menunjukkan reaksi yang cukup berarti. Dibandingkan harta, Kirania lebih menginginkan Pradipta disini, sehingga bukan senyum yang muncul di wajahnya sekarang, melainkan tetes air mata.

"Dengan demikian surat—"

"Tunggu!" Suara Helena menginterupsi. "Ini gak salah? Bagian aku dan Mama cuma 10 persen?"

"Helena!" tegur Devanka.

"Enggak, Ma, maksud aku ... Jeff gak dapat bagian?" tanya Helena pada Bram.

Bram baru akan menjawab, saat suara dingin Jeff sudah lebih dulu menginterupsi.

"Aku tidak butuh warisan, Helena. Uang dan asetku sudah banyak," ucap Jeff, sambil meneguk wine di tangannya.

"Iya banyak. Tapi satupun aset kamu gak ada yang atas nama aku, kan?" sindir Helena dengan nada ketus.

Jeff mendengus, tak lagi menggubris. Ia terus meneguk wine di tangannya, dengan mata yang tak sedikitpun lepas memandang Kirania.

"Bisa saya lanjutkan?" tanya Bram, yang dibalas anggukan oleh Devanka. "Dengan demikian surat wasiat ini saya buat dengan akal sehat dan tanpa paksaan dari pihak manapun, serta dapat dipatuhi oleh semua ahli waris keluarga saya." Bram mengakhiri pembacaan surat wasiat, lalu menatap semua anggota keluarga.

"Sebelum saya menyudahi pertemuan pagi ini, saya ingin menyampaikan satu pesan terakhir dari mendiang Tuan Pradipta," Bram mengganti map di tangannya dengan map lain yang ada di atas meja.

"Mengingat usia Nona Kirania masih 18 tahun dan belum memungkinkan untuk memegang kendali perusahaan, Tuan Pradipta berpesan agar untuk sementara waktu, sampai Nona Kirania lulus kuliah, Maheswara Group akan dikelola oleh Nyonya Devanka Rosalia, selaku istri dari mendiang Tuan Pradipta. Dengan catatan bahwa pernyataan ini juga disetujui oleh Nona Kirania selaku ahli waris utama dari Maheswara Group."

Suasana di dalam ruangan keluarga itu berubah semakin intens ketika semua pasang mata langsung tertuju kepada Kirania.

"Apakah Nona Kirania menerima keputusan mendiang?" tanya Bram, menatap Kirania.

Kirania tidak langsung menyahut. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa, apakah ia harus menerima keputusan Papanya tanpa syarat ataukah mengekspresikan ketidaksetujuannya.

Pandangan Kirania berpindah pada Devanka. Wanita paruh baya itu tersenyum hangat ke arahnya, namun ada sesuatu yang tidak beres di dalam senyuman itu. Sesuatu yang tidak Kirania mengerti apa itu. Kirania tidak bisa membaca ekspresi ibu tirinya itu, membuatnya semakin tidak yakin dengan keputusannya.

"Tidak ada unsur paksaan di sini, Kira. Kalau kamu merasa keberatan, tidak masalah. Keputusan mutlak ada di tangan kamu," ucap Devanka menenangkan keraguan Kirania.

"Kira sebenarnya belum siap untuk memegang perusahaan, karena Kira belum begitu paham bagaimana cara mengelolanya," gumam Kirania pelan.

"Jika Papa sudah mempercayakan perusahaan untuk dikelola sementara waktu oleh Tante Devanka, maka itu mungkin itu lah yang terbaik," ucap Kirania, memandang ibu tirinya itu.

Devanka tersenyum hangat dan menggenggam lembut tangan Kirania. "Tante janji akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini, sampai nanti kamu siap untuk memimpinnya."

Bram menyodorkan dokumen persetujuan alih kekuasaan sementara itu kepada Kirania, untuk ditandatangani.

"Silahkan, Nona. Anda boleh membacanya terlebih dahulu."

Tatapan Kirania lalu tertuju ke arah Arsenio. Pria itu tersenyum lembut ke arahnya, tapi entah kenapa ia merasa ada yang berbeda dari senyuman itu.

Kirania membaca dokumen itu sekilas, lalu tangannya meraih pulpen di atas meja dan mulai membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut.

Tanpa Kirania tahu bahwa satu tanda tangan yang ia bubuhkan akan menjadi awal dari sebuah konspirasi besar yang akan mengubah hidupnya untuk selamanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku (Bukan) Gadis Pemuas   BAB 7 || TERTANGKAP BASAH

    "Dressnya kependekan," komentar Arsenio yang sedang menggulung lengan jaket miliknya yang kebesaran di tubuh mungil Kirania. "Kan Kira gak tahu kalau bakalan pergi naik motor," sahut Kirania dengan wajah cemberutnya. Siapa yang menyangka jika empat ban mobilnya kempes semua. Sekarang ia berakhir menumpang dengan Arsenio yang kebetulan sedang membawa motor, karena pria itu takut kena macet. "Lain kali jangan dipakai lagi," ucap Arsenio, nada suaranya terdengar semakin datar saja. "Kalau lagi naik motor?" tanya Kirania polos. "Mau naik motor, naik mobil, tetap jangan dipakai lagi," balas Arsenio, sambil memasangkan helm ke kepala Kirania. "Kenapa emangnya?" tanya Kirania, kali ini dengan nada suara heran. Arsenio menghela napas panjang, lantas memandang gadis di hadapannya itu yang semakin terlihat manis saja dalam balutan jaket kebesaran serta helm pink di kepala. Tangannya terulur, mencubit gemas pipi chubby Kirania. "Ayo naik," ucap Arsenio, sambil memasang he

  • Aku (Bukan) Gadis Pemuas   BAB 6 || SAYA SAYANG, BUKAN KARENA NAFSU

    Setelah tujuh hari mengurung diri di penthouse, pasca meninggalnya Pradipta. Hari ini Kirania menyetujui ajakan teman-temannya untuk jalan-jalan ke luar. "Selamat siang!" sapa Devanka dengan senyum cerahnya seperti biasa. "Wah ... lihatlah betapa cantiknya Kirania kita siang ini." Kirania yang baru saja menuruni tangga, hanya memberikan senyuman tipis sebagai balasan. Matanya lalu tanpa sengaja melirik ke arah meja makan, membuat pandangannya bertemu dengan Jeff. Pria itu memang punya kebiasaan akan pulang untuk makan siang. "Tante senang, akhirnya kamu udah mau jalan-jalan ke luar." Devanka mengusap puncak kepala Kirania lembut. "Ayo duduk, Sayang. Kita makan siang bareng dulu." Langkah Kirania menjadi grogi, saat mata elang Jeff tidak lepas menatapnya. Entah kenapa ia merasa tatapan Jeff begitu tajam, seperti tengah menelanjanginya. "Kak Helena mana, Tante?" tanya Kirania. Sebenarnya hanya basa-basi untuk meredam rasa gugup akibat tatapan penuh intimidasi Jeff. "Lagi sia

  • Aku (Bukan) Gadis Pemuas   BAB 5 || KEBUSUKAN KELUARGA?

    "Saya tahu kita semua disini masih dalam kondisi berduka. Namun, wasiat ini sudah menjadi amanat dari Tuan Pradipta, sebelum beliau berpulang. Jadi, saya harus membacakannya pagi ini." Suara Bram memecah keheningan ruangan keluarga yang telah diisi oleh Devanka, Helena, Jeff, dan Kirania. Selaku orang kepercayaan mendiang Pradipta, Arsenio ikut mendampingi pembacaan surat wasiat malam ini. Mata pria itu tidak putus memperhatikan Kirania. Gadis itu tampak rapuh dan rentan. Wajah dan matanya yang sembab, bukan hanya menggambarkan gurat kesedihan yang sangat dalam. Tapi juga tampak tertekan. "Baik, bisa saya mulai?" Tanya Bram, menatap semua anggota keluarga."Ya, silahkan," kata Arsenio datar. Bram menarik napas dalam-dalam, membuka dokumen yang ada di tangannya, dan mulai membacakannya."Surat wasiat. Telah bertanda tangan di bawah ini, nama Pradipta Maheswara. Menyatakan dengan sadar dan tanpa paksaan, membuat surat pernyataan wasiat waris. Bahwa saya adalah pemilik harta kekayaan

  • Aku (Bukan) Gadis Pemuas   BAB 4 || SHE IS MINE!

    "Tahanlah sebentar," ucap Arsenio, meniup perlahan luka di telapak tangan Kirania. Kirania hanya diam dan membiarkan Arsenio merawat luka di telapak tangan kanannya yang tadi menggenggam beling. Diam-diam matanya tidak putus memperhatikan pria itu, membuat ingatannya terlempar pada kejadian beberapa menit yang lalu—momen intim mereka. "Apa gerangan yang sedang Tuan Putri pikirkan, hm?" tanya Arsenio, dengan nada menggoda sambil melanjutkan membalut tangan Kirania dengan perban. "Hm? Mikirin apa?" ulang Arsenio, matanya menatap lurus ke mata Kirania. "Mikirin cara bunuh diri lagi?" Kirania cepat-cepat menggeleng. "E-enggak. Kira gak mikirin apa-apa," gumamnya pelan. Ia hendak menarik tangannya, tapi Arsenio menahannya dengan genggaman kuat, namun tetap terasa lembut dan tidak menyakitinya. Ia menundukkan kepala—menghindari mata Arsenio yang tak kunjung putus menatapnya intens. "Berjanjilah pada saya, bahwa kamu tidak akan melakukan hal nekad seperti ini lagi," ucap Arsen

  • Aku (Bukan) Gadis Pemuas   BAB 3 || JANJI ARSENIO

    Arsenio menangkap tangan Kirania dan menahannya kuat. "Lepas! Saya mohon jangan nekad, Non." Alih-alih melepaskannya, Kirania justru menggenggam beling itu lebih kuat sehingga semakin melukai tangan gadis itu. "Saya mohon jangan seperti ini, Non. Lepaskan belingnya, ini akan melukaimu." Sorot mata Arsenio yang sarat akan kekhawatiran juga permohonan, bertemu dengan sorot mata Kirania yang memancarkan kesedihan, rasa lelah, maupun keputusasaan yang mendalam. Air mata gadis itu berurai deras. "Semua keluarga Kira udah gak ada, Om. Semuanya ninggalin, Kira. Mama, lalu Papa. Gak ada lagi yang tersisa bagi Kira di dunia ini. Jadi untuk apa lagi Kira hidup? Lebih baik Kira pergi bersama mereka. Kira mau ketemu Papa," bisik Kirania parau, suaranya hampir tidak terdengar, tenggelam dalam tangisnya. Arsenio menggeleng tegas. "Tidak. Tuan Pradipta pasti tidak akan suka jika Non Kira menemuinya dengan cara seperti ini." "Biarkan Kira mati! Kira gak mau hidup kayak gini, Om. Gak mau

  • Aku (Bukan) Gadis Pemuas   BAB 2 || PERTOLONGAN ARSENIO

    "Brengsek! Berani-beraninya kau menyentuh Nona Kira! Biadab!" maki Arsenio yang tengah memukuli Jeff dengan membabi buta. Serangan telak yang tidak terelakkan oleh Jeff yang berada di bawah kukungan tubuh besar Arsenio. “Aku sudah curiga sedari tadi ketika melihatmu masuk ke dalam kamar Nona Kira, tapi aku menahan diriku untuk tidak menerobos masuk.” Arsenio baru menghentikan pukulannya setelah wajah Jeff babak belur. Ia bangkit dari atas tubuh Jeff yang terkapar tidak berdaya, napasnya memburu hebat. Ia lantas berbalik ke arah Kirania yang menangis sesegukan di atas ranjang, menarik selimut dan menutupi tubuh Kirania yang sudah setengah telanjang itu. "Om ...." isak Kirania, seakan mengadu pada pria berusia 40 tahunan itu. "Tenanglah, Non. Semua akan baik-baik saja." Arsenio melepaskan ikatan pada tangan Kirania dengan lembut, agar tidak menyakiti gadis itu. Setelah ikatan pada tangan Kirania terlepas, Arsenio kemudian melilitkan selimut di tubuh gadis itu. Saat ia hendak men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status