Partager

Bab 16

Auteur: Gusmandora
last update Date de publication: 2026-07-29 05:24:56

Paginya masih kutunggu, Reza belum juga pulang. Aku akhirnya memutuskan untuk mandi dan bersiap berangkat kerja. Aku keluar kamar lagi sudah siap dengan pakaian kerja sambil menjinjing tas. Kulirik pintu kamar Reza, masih tertutup. Aku beralih ke dapur, mengisi tumbler dengan air hangat.

"Sudah mau berangkat?" Aku terperanjat saat suara muncul dari belakang, suara Reza.

"Abang baru pulang?" Tanyaku, memindai wajahnya yang kusut, kemejanya sudah keluar, lengan kemeja sudah digulung sampai si
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 36

    Entah kapan aku mulai tertidur,mungkin saat aku bercerita tentang hidupku tadi, tapi sampai mana aku bercerita aku lupa. Aku malah tidak sadar sudah terlelap nyenyak bersandar pada bahu Reza dengan sangat nyaman, laki-laki itu telah menyelimutiku dan memberikanku sandaran semalaman, Aku terbangun saat suara pemberitahuan dari maskapai bahwa pesawat sebentar lagi akan landing di bandar udara internasional Zurich." Udah sampai ya?" Reza mengangguk antusias,"Lihat ke jendela." Ucapnya pelan, menunjuk dengan telunjuk tangannya. Aku menoleh ke jendela, dan langsung berdecak kagum melihat view sunrise yang luar biasa indah, dari balik kaca pesawat aku bisa melihat matahari baru ingin menyembul malu-malu dibalik awan fajar, membentuk gradasi warna yang sangat indah, beberapa sulur cahayanya mencoba menembus awan hingga membentuk celah-celah panjang seperti jembatan ke syurga dan itu terlihat indah sekali. Aku tau sekarang mengapa ayah angkat ku sangat mencintai pekerjaannya dulu seb

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 35

    "Sakit?" Galih dengan sangat hati-hati mengoleskan salep luka bakar dipunggungku. Aku mengangguk dan meringis menahan pedih, ini benar-benar nyeri. "Tahan, sedikit lagi." Galih hati-hati meniup pelan punggungku. Setelah itu dia berdiri, meletakkan salep di atas meja belajar dan membuka pintu. "Mau kemana?" Tanyaku ikut berdiri. Galih menoleh frustasi, dia menghela nafas kasar dan menahan kedua bahuku dengan tangannya ,"Apa saja yang dilakukan wanita gila itu padamu?" Aku menggeleng, melihat gelagat Galih yang tidak biasa seperti ini aku khawatir dia benar-benar bisa menghabisi wanita Medusa itu, aku tidak mau tangan Galih jadi kotor, dia masih kelas dua SMA, masa depannya masih sangat cerah, dia pernah bercerita ingin jadi dokter yang hebat. Sejak kedatanganku dirumah ini, Galih lah yang paling baik denganku, dia berperan sebagai kakak laki-laki yang sempurna, dia rela memberikan kamarnya untukku dan dia pindah ke kamar belakang, dia yang selalu membelikanku coklat setiap

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 34

    Aku akui masakan Reza memang luar biasa enak, rasanya sangat pas di lidah. Aku sudah mencicipi nasi gorengnya, tumis cah kangkungnya, dan sekarang spaghetti yang nagih dan lumer dimulut. Mbak Rima dan suaminya bahkan request minta dimasakin lagi. "Enak banget jadi Donna, punya suami pinter masak." Mbak Rima tersenyum. "Pasti tiap hari dimasakin." Tambah Kak Vino menyusul. "Oh tentu dong. "Jawabku tertawa diikuti Reza yang ikut tertawa. Mama masuk saat kami semua tertawa,"Eh kenapa nih pada tertawa?" "Ngebahas Donna yang punya suami pinter masak." "Anak nya siapa dulu, anak mama dong." Ucap mama jumawa." Nanti kalau Reza sama Donna udah punya anak, anaknya pasti pinter masak juga." "Kita tungguin aja." Mbak Rima merangkulku bahagia. *** Masih ada waktu sekitar dua jam lagi sebelum pesawat kami ke Zurich berangkat, aku mulai bersiap-siap. Ini perjalanan panjangku yang pertama di pesawat, kami akan terbang sekitar 13 jam lebih dan akan tiba di Zurich besok pagi. Karen

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 33

    "Semuanya rumit, Reza datang ke mbak sebelum hari pernikahan kalian, dia minta pendapat, dia benar-benar bingung saat itu, di sisi lain dia sayang ke mama, dia tidak pernah mengecewakan mama, namun dia juga sepertinya tidak mau mengkhianati Fanny, dan saat ketemu kamu, dia tau kamu wanita baik, dia takut menyakiti kamu."Ucap Mbak Rima."Akhirnya dia tetap memilih menikah sama kamu, awalnya mbak khawatir, tapi melihat kalian sekarang mbak bisa bernafas lega, terus gimana Reza sama kamu?" "Ya..? Gimana apanya mbak?" Jawabku bingung. "Reza,, sebenarnya udah lama mbak mau ngobrolin masalah ini sama kamu, tapi belum ada sempat. Reza ke kamu gimana?" Jujur saja, aku kaget langsung ditodong pertanyaan seperti ini, namun untuk berterus terang mengenai urusan rumah tanggaku , tentu saja aku belum siap." Baik kok mbak." Putusku akhirnya. Belum saatnya untuk menceritakan semua kebenaran walaupun mbak Rima ternyata lebih dulu tau hubungan Reza dan Fanny seperti apa. "Syukurlah, mbak sempat

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 32

    Aku menghela nafas lega saat pesawat mulai stabil mengangkasa, meninggalkan bandara Soetta dan membuat rumah dan gedung menjadi kotak-kotak kecil dibawah sana. "Kalau dilihat dari atas, ternyata harta benda itu enggak ada artinya ya."Gumamku. Reza ikut melihat arah mataku yang memperhatikan rumah-rumah dan gedung-gedung yang semakin mengecil,"Iya, semua jadi tampak kecil." Tambah Reza. "Semua jadi tidak berarti, apa yang kita usahakan mati-matian ternyata hanya sekecil itu dilihat dari atas." Aku menjentikkan ujung jari. Andai saja perasaan bisa juga mengecil seperti itu jika dibawa terbang, namun saat aku menoleh ke laki-laki di sampingku ini kenapa malah perasaanku padanya makin membuncah, aku jadi ingin memilikinya seutuhnya, hanya aku tidak ada yang lain. Perjalanan kami masih panjang, setelah nanti transit di Changi Airport, kami langsung melaju ke Bandar Udara Internasional Zurich. Bagas nanti akan menunggu disana. Kami semua tidak menginap di hotel, disana Bagas bahkan s

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 31

    Hari ini Fanny sudah diperbolehkan pulang, Reza tadi meneleponku kalau Fanny langsung dibawa kerumah tantenya karena keberangkatan kami ke Zurich tinggal beberapa hari lagi. "Maaf mbak belum bisa jenguk." Suaraku meminta maaf di telpon. Jujur, walaupun hanya tinggal beberapa hari dengan kami, aku tau Fanny orang yang baik. "Iya, enggak apa-apa Donna, lancar-lancar perjalanan nya ke Zurich nanti ya ." Suara Fanny masih lemah terdengar dibalik telpon. "Makasih mbk, mbak juga jaga kesehatan ya." Ucapku tulus. Aku mematikan telpon dan memberikan ponsel ke Reza. Reza menerima ponselnya dan melihat koperku sudah tersusun rapi disudut kamar,"Wuihh, semangat betul ya, tinggal berangkat nih." "Ya iyalah, Yang Abang belum tuh." Ucapku ke Reza sambil menyusun syal yang akan kubawa. Andai saja pernikahan kami normal seperti pernikahan pada umumnya, mungkin moment ini menjadi moment Honeymoon bagiku. Bahagia sekali rasanya bisa dicintai oleh suami, tidur dalam satu selimut sambil ber

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status