تسجيل الدخولAku berdiri, kulihat sekelilingku, para tamu masih dengan kegiatan mereka masing-masing. Setelah ku pikir-pikir rasanya tidak pantas berdebat dengan Reza membahas masalah perasaan ku ditengah euforia pesta pernikahan Bagas. Tepat saat aku ingin melangkah pergi, mama memanggilku, dia melambaikan tangan mengajak foto bersama. Aku mengabaikan Reza yang masih duduk di kursi, namun dia akhirnya berjalan mengikutiku untuk foto bersama keluarga. Setelah sesi foto, acara masih berlangsung, Bagas tengah mengobrol dengan rekan -rekannya, mama juga terlihat asyik mengobrol dengan keluarga besan, mbak Rima sibuk dengan suami dan anak-anaknya. Setelah mengambil minum, aku memutuskan untuk menjauh dari halaman belakang, aku berjalan perlahan menyusuri teras samping rumah Bagas dan mulai berfikir kalau rumah ini terlalu luas untuk diisi oleh Bagas dan istrinya. Aku berjalan terus dan berbelok ke ruangan yang cukup besar, sepertinya perpustakaan. Dugaan ku benar, ruangan ini adalah perpustaka
Pagi-pagi sekali aku dan mbak Rima sudah sibuk, pertama kami mendandani mama lalu bergantian aku dan mbak Rima saling dandan, sebenarnya Bagas sudah menyediakan jasa MUA, namun mama agak kurang cocok, kami mau dandan minimalis ala wanita Indonesia ujar mama. "Mbak, kebaya ku pas gak sih?" Tanyaku ke mbak Rima sambil memutar tubuhku didepan cermin. Aku mengenakan kebaya bewarna hijau sage dan menata rambut dengan sanggul modern. Mbak Rima merapikan hiasanku lalu bersama sama mama kami berjalan menuju halaman belakang tempat akad nikah berlangsung. Reza sudah menungguku di luar, dia langsung menatap penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kepala. Matanya tidak berkedip membuatku risih diperhatikan seperti itu. "Kenapa, aneh ya?" Tanyaku. Reza menggeleng,"Enggak, kamu cantik banget hari ini." Aku sekali lagi melihat penampilanku sendiri, biasa saja, make-up ku sama seperti aku sering berangkat ke kantor, palingan hanya sanggul dikepala yang membuat penampilanku sedikit terli
Sekali lagi Reza menggenggam tanganku saat pesawat mulai menukik turun untuk landing, jantungku seperti turun ke perut dan agak sedikit lega saat roda pesawat mulai berjalan diatas landasan pacu. "Zurich, I'am coming...." Ucapku gembira. Reza tertawa kecil dan mengelus rambutku pelan,"Nanti abang tunjukkan tempat tempat indah di Zurich." Janjinya. Aku mengangguk tak kalah antusias, ini pertama kalinya aku ke luar negeri jadi tidak heran kalau aku terlihat agak sedikit norak. Aku bahkan sudah mengambil iPhone ku untuk mendokumentasikan setiap hal yang ada disini. Musim dingin di Swiss kali ini benar-benar ekstrim, hidungku sudah memerah duluan ketika menginjakkan kaki disana, untungnya aku sudah mempersiapkan diri dari jauh hari. Aku mengenakan sweater rajut yang ku lapisi lagi dengan jaket tebal. Bagas sudah menunggu kami, dia membawa dua mobil, satu mobil dikemudikan oleh calon istrinya dan satu lagi dikemudikan oleh dirinya sendiri dan kami langsung dibawa menuju kediaman
Entah kapan aku mulai tertidur,mungkin saat aku bercerita tentang hidupku tadi, tapi sampai mana aku bercerita aku lupa. Aku malah tidak sadar sudah terlelap nyenyak bersandar pada bahu Reza dengan sangat nyaman, laki-laki itu telah menyelimutiku dan memberikanku sandaran semalaman, Aku terbangun saat suara pemberitahuan dari maskapai bahwa pesawat sebentar lagi akan landing di bandar udara internasional Zurich." Udah sampai ya?" Reza mengangguk antusias,"Lihat ke jendela." Ucapnya pelan, menunjuk dengan telunjuk tangannya. Aku menoleh ke jendela, dan langsung berdecak kagum melihat view sunrise yang luar biasa indah, dari balik kaca pesawat aku bisa melihat matahari baru ingin menyembul malu-malu dibalik awan fajar, membentuk gradasi warna yang sangat indah, beberapa sulur cahayanya mencoba menembus awan hingga membentuk celah-celah panjang seperti jembatan ke syurga dan itu terlihat indah sekali. Aku tau sekarang mengapa ayah angkat ku sangat mencintai pekerjaannya dulu seb
"Sakit?" Galih dengan sangat hati-hati mengoleskan salep luka bakar dipunggungku. Aku mengangguk dan meringis menahan pedih, ini benar-benar nyeri. "Tahan, sedikit lagi." Galih hati-hati meniup pelan punggungku. Setelah itu dia berdiri, meletakkan salep di atas meja belajar dan membuka pintu. "Mau kemana?" Tanyaku ikut berdiri. Galih menoleh frustasi, dia menghela nafas kasar dan menahan kedua bahuku dengan tangannya ,"Apa saja yang dilakukan wanita gila itu padamu?" Aku menggeleng, melihat gelagat Galih yang tidak biasa seperti ini aku khawatir dia benar-benar bisa menghabisi wanita Medusa itu, aku tidak mau tangan Galih jadi kotor, dia masih kelas dua SMA, masa depannya masih sangat cerah, dia pernah bercerita ingin jadi dokter yang hebat. Sejak kedatanganku dirumah ini, Galih lah yang paling baik denganku, dia berperan sebagai kakak laki-laki yang sempurna, dia rela memberikan kamarnya untukku dan dia pindah ke kamar belakang, dia yang selalu membelikanku coklat setiap
Aku akui masakan Reza memang luar biasa enak, rasanya sangat pas di lidah. Aku sudah mencicipi nasi gorengnya, tumis cah kangkungnya, dan sekarang spaghetti yang nagih dan lumer dimulut. Mbak Rima dan suaminya bahkan request minta dimasakin lagi. "Enak banget jadi Donna, punya suami pinter masak." Mbak Rima tersenyum. "Pasti tiap hari dimasakin." Tambah Kak Vino menyusul. "Oh tentu dong. "Jawabku tertawa diikuti Reza yang ikut tertawa. Mama masuk saat kami semua tertawa,"Eh kenapa nih pada tertawa?" "Ngebahas Donna yang punya suami pinter masak." "Anak nya siapa dulu, anak mama dong." Ucap mama jumawa." Nanti kalau Reza sama Donna udah punya anak, anaknya pasti pinter masak juga." "Kita tungguin aja." Mbak Rima merangkulku bahagia. *** Masih ada waktu sekitar dua jam lagi sebelum pesawat kami ke Zurich berangkat, aku mulai bersiap-siap. Ini perjalanan panjangku yang pertama di pesawat, kami akan terbang sekitar 13 jam lebih dan akan tiba di Zurich besok pagi. Karen







