MasukSetelah puas berbelanja, wajahku masih merah. Entahlah. Mungkin pramutamu itu memang sudah biasa menangani klien seperti Alexey. Suami-suami bangsawan kaya yang membelikan istri atau kekasihnya baju-baju tidur memalukan. Kami kini sedang makan di sebuah restoran mahal di pusat kota Santo Peterkov.
"Kau marah?" tanya Alexey. Ya. Sedari tadi aku tidak bicara. Aku malas menjawab. "Kau tidak suka bajunya?"
"Baju itu ... memalukan! Kau cuma ingin mengerjaiku saja, iya kan?" protesku. Masih teringat rasanya menempel di tubuhku, pakaian-pakaian transparan yang kurang bahan itu.
Alexey terkekeh di bawah rambut pirangnya. "Tapi kau cantik sekali. Itu semua cocok denganmu. Aku tidak sabar melihatmu memakainya nanti malam."
Se
Malam harinya aku telah berdandan dengan rapi. Aku akan makan bersama dengan calon istriku. Sesampainya aku di meja makan, ia telah duduk santun dalam balutan gaun sederhananya. Bukan yang warna hijau zamrud, tapi warna pastel yang nyaris pudar karena kebanyakan dicuci. Anya Levitski begitu rendah hati. Namun kecantikannya yang menyihir berhasil mengungguli pernak-pernik dan perkakas di ruang makan.Kuberusaha menekan segala kegugupanku.Aku memandanginya, tapi Anya Levitski juga sepertinya lekat melihatku dalam-dalam. Wajahnya itu seakan terpesona kepadaku. Apa jangan-jangan akhirnya ia menyadari ketampananku ini ya? Akhirnya. Pastilah begitu. Mungkin sekarang dia baru sadar bahwa calon suaminya itu ganteng mampus."Kau baik-baik saja?" tanyaku sesaat setelah aku duduk."A-Aku?" Ia gugup."Kau seperti kesulitan bernafas."Aku juga kok.Ia menggeleng. "Oh ... aku tak apa."Sedetik kemudian, pelayan berbondong membawakan makanan
"Baiklah ... saya ... menerima lamaran Anda, Your Grace."Seakan ia telah meneguhkan hatinya, Anya Levitski memandangku dengan tegar. Sepasang mata hijaunya menyala. Sedangkan aku ... tubuhku nyaris runtuh gemetar. Aku tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Aku tak percaya akan diriku sendiri yang telah melamar seorang wanita di dalam kereta kuda. Begitu singkat dan tiba-tiba. Ia pun ... menerima lamaranku meski begitu alot.Jantungku bergetar. Tubuh ini begitu mendamba ingin memeluknya begitu erat. Ingin sekali kurengkuh tubuh kecil berbalut gaun zamrud itu. Namun kutahan diriku sekuat tenaga untuk memendam rasa senang ini.Aku dan dia akan menikah.Napas yang nyaris memburu kuredam sekuat tenaga.
Anya Levitski terbengong dan kaget. Oh tentu saja! Kalau aku jadi dia pun pasti sama! Aku saja kaget! Apalagi dia!AAAAAA! Ibu aku malu sekali! Kenapa aku harus ceplas-ceplos di masa-masa begini?! Kenapa mulut bodohku selalu meracau seperti orang mabuk! Kenapa mulut ini tidak mau berbakti kepada otak?! AAAA! Aku malu sekali wahai Ayah dan Ibu di surga. Hiks. Aku ingin sekali lompat dari kereta kuda ini dan langsung mati saja."M-Menikah?!" Ia berseru.Ah. Sial. Semuanya telah terjadi. Dan gengsiku besar sekali. Sudahlah. Pasrah saja, Alexey. Cobalah teruskan aktingmu yang sok keren ini. Buatlah seakan-akan kau telah merencanakan ini sejak lama."Aku mengundangmu ... bukan hanya karena akan membeli aset dan membebaskan dirimu dari utang. Tapi ... karena aku ingat namamu, Anya Levitski."Ia sepertinya kaget.Sekali lagi aku bertanya."Kau tidak ingat padaku?"Namun ia menggeleng pelan.Mungkin ini saatnya aku berterus tera
Bunda Suci telah memberiku tanda-tanda, dan aku mengabaikannya. Tanda di malam itu, di pesta debutante dimana aku menemukan sakit hatiku yang pertama. Sofia Romanov ... iblis itu akan terus mengikutiku hingga ke liang kubur. Dia akan melakukan segalanya untuk membuatku celaka. Tapi ... kali ini aku tak akan menyingkirkan apa yang telah Bunda Suci berikan kepadaku.Tanda-tanda. Ini adalah kehendak-Nya.Aku ingat malam itu di penginapan Rob. Setelah kumelihat siluet perempuan misterius itu, Anya Levitski, aku berdoa sungguh-sungguh kepada Bunda Suci. Aku bersumpah kepadanya, jika aku bertemu dengan Anya Levitski sekali lagi, maka jadilah ini kesempatanku yang kedua, kesempatanku untuk mengulang hidup sekali lagi.Aku tidak akan menolak takdir ini. Aku akan mengusahakannya.
"Maaf? Maksud Anda?""Setelah semuanya kubeli dan kulunasi, apa yang akan kau lakukan?""Sa-saya ... mungkin akan bekerja di desa dan membeli rumah kecil."Aku lengang beberapa saat. Sedikit kekagetan, kekaguman, dan ketidakpercayaan bercampur jadi satu. Perempuan bangsawan begini ... dia mau melakukan itu? Maksudku, ayolah, perempuan bangsawan mana yang mau kerja di desa kecil pelosok di rumah kecil?!"Apa kau sudah menikah? Apa ada laki-laki yang dekat denganmu?"Kini Anya Levitski dengan wajah putih cantiknya yang asing tertunduk.Ia mengulum bibirnya dan melirih. "Tidak, my lord,"Jantungku bertambah debarannya. Mengapa? Mengapa aku malah sesenang ini dengan kemalangannya?Mulutku hendak terbuka. Aku ingin mengatakan sesuatu yang lain, sesuatu yang mengikuti hasratku selama ini. Sesuatu yang mengganjaliku sejak aku pertama bertemu dengannya di pesta debutante dua belas tahun lalu."My lord, Vadim di sini."Igo
Kutarik tali kekang kuda hingga mengikik.Kemudian aku berusaha mati-matian menyembunyikan kegugupan ini. Tapi memang aku dasarnya tolol saja. Tadinya aku ingin berkata, 'Hai apa kabar?'. Namun yang keluar dari mulut adalah sesuatu yang lain."Igor! Siapa ini?!" Igor malah jadi sasaran semburanku pagi-pagi."My lord, beliau adalah Lady Levitski.""Levitski?"Aku memastikan sekali lagi. Kali ini aku betul-betul mengucapkan namanya. Dan ia berada di hadapanku! Jantungku kian tidak beres. Dia tak kunjung tenang. Dadaku berdebar tidak karuan saat sadar bahwa ini semua bukanlah mimpi."Sergei! Ambil alih! Berikan mereka makan dan latihan satu jam lagi!""Baik my lord! Hiya!" Sergei memyahut cekatan. Pasukan berkudaku mengikuti pria itu masuk ke pelataran kastil. Kaki-kaki kuda mereka bergemuruh. Seakan gempa sekecil itu pun bisa membuat wanita kecil nan menggemaskan ini runtuh.Ia terlihat takut pada laju kuda-kuda pasukanku.







