Se connecterAqilah menggeliat kegelian saat tengkuk dan belakang telinganya diciumi oleh Bian. Tak hanya bagian itu saja, dadanya tak luput dari serangan tangan mesum sang suami."Mas, udah ah. Aku masih ngantuk." Aqilah bicara dengan mata tertutup saking ngantuknya. Bergerak menyingkirkan tangan Bian yang hinggap di dada karena dia masih ingin lanjut tidur mumpung hari minggu."Sekali lagi yuk," bujuk Bian. Tangannya kembali lagi hinggap pada bulatan kenyal favoritnya. Sedang bibirnya, terus saja aktif memberikan kecupan basah di sekitar leher untuk membangkitkan kembali gairah sang istri."Barusan kan udah, Mas. Aku masih capek.""Baru satu kali masa udah capek."Aqilah yang ngantuk sampai terkekeh mendengar sahutan suaminya. "Satu kali habis subuh tadi. Yang semalam gak kamu hitung." Dasar laki, batinnya, gak ada bosen-bosennya. Mau tidur nyenyak aja masih digangguin."Emang semalam berapa kali?""Ya mana aku tahu," sahut Aqilah setelah menguap. "Aku gak ngitung. Yang pasti lebih dari dua kali
Hari ini hari pertama Aqilah kembali bekerja setelah 5 hari cuti. Pagi-pagi, Sita sudah menyodorkan setumpuk berkas yang harus dicek dan ditandatangani. Membuat Aqilah yang belum apa-apa sudah membuang nafas lelah. Inilah alasan dia malas cuti, kerjaan jadi numpuk.Biar segera rampung, segera dia meraih berkas pada tumpukan paling atas lalu mengeceknya."Meeting dengan Mr. Kim kamu reschedule jadi kapan, Sit?" tanya Aqilah tanpa melihat Sita."Em....itu. Saya lupa belum ngasih tahu Bu Aqilah. Meetingnya tidak di reschedule.""Maksud kamu?" Aqilah mengalihkan pandangan dari berkas menuju Sita."Kemarin Pak Rangga yang gantiin Bu Aqilah.""Apa! Rangga!" pekik Aqilah sambil berdiri."Gimana bisa tiba-tiba digantiin Rangga. Dan kamu, kenapa kamu gak ngasih tahu saya?""Sa-saya," Sita gugup kalau Aqilah sudah mode suara nada tinggi seperti ini. "Saya lupa, Bu. Dan kenapa diganti Pak Rangga, itu perintah langsung dari Pak Harun." Wanita itu meremat blusnya."Papa udah keterlaluan kali ini."
Bian mengangkat tubuh Aqilah ke atas ranjang. Menarikkan selimut agar istrinya yang masih polos itu tidak kedinginan. Aqilah yang duduk, memegangi selimut hingga sebatas dada."Astaga Qill, sampai benjol gini."Aqilah meringis pelan saat Bian menyentuh jidatnya yang benjol. "Sakit gak?""Enggak, tapi banget," sahut Aqilah kesal. Sudah jelas sampai benjol, masa iya gak sakit. Ya sakitlah, gitu aja nanya.Bian beranjak dari atas ranjang. Kembali menuju koper untuk mengambil pakaian. Matanya menyipit saat melihat sebuah kantong plastik yang entah apa isinya. Saat dia buka.Mulut Bian menganga lebar. Kedua tangannya memegang benda yang menggelikan."Qill, ini apa?" Dia menoleh ke arah Aqilah. Sebelah tangannya memegang stringg, sedang sebelah lagi, gaun yang entah seperti apa modelnya, kurang bahan dan seperti sobek dimana-mana.Wajah Aqilah merah padam. Dia tak menjawab, hanya menunduk malu.Tawa Bian tiba-tiba meledak. "Ka-kamu beli kayak gini buat nyenengin aku, Qill?" tanyanya dengan
"Aahhh...." Aqilah mendesah saat lidah Bian mengeksplor dadanya. Rasanya sungguh luar biasa, nikmat sekali, meski di bawah sana, dia masih merasakan sedikit perih. Dia mencengkeram erat punggung Bian saat pria itu meningkatkan tempo. Keringat membanjiri tubuh keduanya.Kuku jari Aqilah sampai melukai punggung Bian, namun rasa nikmat yang menjalar di sekujur tubuh membuat Bian tak merasakan sakit sedikitpun. Yang dia rasakan hanya sesuatu yang terasa mendesak, minta di keluarkan. Dia makin mempercepat tempo, sampai akhir, mendapatkan puncak hampir bersamaan dengan Aqilah.Dengan nafas yang masih tersengal, Bian menggulirkan tubuhnya ke sebelah Aqilah. Dia menoleh ke samping, mendapati istrinya masih memejamkan mata sambil mengatur nafas.CupSebuah kecupan singkat di bibir membuat Aqilah membuka mata. Dia mendapati Bian tengah menatapnya sambil tersenyum. Pria itu menyeka keringat yang membasahi keningnya, lalu mendaratkan kecupan di sana. Lama, sampai dia memejamkan mata, menikmati ke
Malam ini, selepas acara resepsi, Aqilah dan Bian akan menghabiskan malam di salah satu suite room yang ada di hotel tempat resepsi. Itu sudah termasuk paket resepsi, jadi bukan mereka yang minta. Saat memasuki kamar yang di maksud, vibes malam pertamanya terasa kental sekali. Selain wangi bunga yang semerbak, tercium juga wangi lilin aroma terapi.Ranjang king size dengan sprei putih dihiasi dengan kelopak bunga, menjadi sesuatu yang paling menarik perhatian. Meski dulu di rumah Aqilah juga di hias, tapi hiasan hotel kali ini, jauh lebih indah. Selain itu, debaran di hati juga berbeda. Jika dulu biasa saja karena fikiran tentang malam pertama sangat jauh sekali, ibarat dari bumi ke planet pluto, beda dengan sekarang. Belum apa-apa, tubuh Aqilah sudah merinding disko. Padahal mau diajak malam pertama loh, bukan uji nyali.Disaat fikiran masih tegang, Aqilah dibuat terkejut saat tubuhnya terasa melayang."Aaaa.." pekiknya sambil melihat kebawah. Ternyata Bian mengangkat tubuhnya ala br
Aqilah meremat jemari, menunduk sambil menggigit bibir bawah. Nyesel tadi masuk jebakan Bian untuk memilih dare. "Bisa ganti gak?" tanyanya pelan."Kenapa?" Bian mengangkat dagu Aqilah, membuat wanita yang pipinya bersemu merah tersebut menatapnya."Em....""Gak mau?"Aqilah diam saja, tak bilang iya ataupun tidak. Membuat Bian menghela nafas, lalu tersenyum."Tidur yuk, udah malem." Kalimat tersebut membuat Aqilah kaget. Padahal dia fikir Bian akan menggunakan modus lain kalau sampai dia menolak. Atau lebih tepatnya, sedikit memaksa. Tapi ternyata, suaminya itu malah merapikan bantal lalu menepuk-nepuk perlahan."Sini, rebahan disini. Jangan terlalu minggir. Kasihan lantainya kalau kejatuhan kamu, berat.""Ish, nyebelin banget sih," Aqilah mendelik kesal diledeki seperti itu. Sedang Bian, malah cengengesan, seperti puas melihatnya kesal.Aqilah merebahkan tubuhnya di tempat yang disiapkan Bian barusan. Matanya masih menatap Bian ragu-ragu. Mungkinkah pria itu marah karena merasa perm
Aleya menatap layar ponselnya dengan perasaan gamang. Hari ini, belum ada satu pesan pun masuk dari Harun. Sudah satu minggu pria itu tidak pulang, dengan alasan sedang ada pekerjaan di luar kota. Dulu, dia akan percaya seratus persen, bahkan saat Harun tidak mengirim kabar sekalipun, dia hanya aka
Gibran terkejut saat Aleya meletakkan amplop coklat di atas etalase tokonya. Pria tersebut mengernyit sambil mengamati amplop yang bentuknya mirip surat lamaran kerja."Apa ini, Al ?""Surat lamaran kerja.""Siapa yang mau kerja di sini, tetangga kamu?" tanya Gibran sambil membuka amplop tersebut.
Aleya terkejut mendapati sebuah lengan melingkar di pinggangnya saat dia baru terbangun. Hampir saja dia berteriak jika tak segera menyadari jika pria yang memeluknya adalah Harun. Kapan pria itu pulang? Dan bagaimana Harun tahu jika dia sudah pulang ke rumah? Kemarin dia pulang dari rumah Mama Rie
Cukup lama Aleya mengingat-ingat wajah pria itu, sampai akhirnya, dia menyunggingkan senyum saat sebuah nama berhasil dia ingat. "Gibran! Kamu Gibran kan?"Laki-laki yang duduk dibalik kemudi itu langsung tersenyum, senang karena Aleya masih mengingatnya setelah 8 tahun lebih mereka tak pernah bert







