Share

65

last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-25 22:37:54

"Pah.”

Harun membuka mata mendengar panggilan Aqilah. Remaja itu berdiri tak jauh darinya dengan secangkir teh camomile di tangan.

“Biar Papa cepat tidur.” Aqilah meletakkan cangkir berisi teh di atas meja. Duduk di sebelah papanya lalu memeluknya.

“Makasih, sayang,” Harun mengecup puncak kepala Aqilah.

“Aqilah, Aqilah masih marah sama nenek?” Dia tahu, Aqilah marah dan kecewa saat tahu neneknya menginginkan cucu laki-laki.

“Nenek sayang Aqilah, sama seperti dia sayang Keyla. Tidak ada bedanya.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   season 2

    "Siapa dia tadi, Qill?" tanya Bian saat keduanya sudah ada di dalam mobil."Bukan siapa-siapa, gak penting." Aqilah menghela nafas berat, menyandarkan punggungnya di sandaran jok. Moodnya mendadak buruk gara-gara Jimmy."Mantan kamu?" Sepertinya Bian masih penasaran."Aku gak pernah pacaran, mana mungkin tiba-tiba punya mantan.""Lalu, siapa?""Mas! Bukan siapa-siapa, gak penting." Aqilah tampak kesal dengan pertanyaan Bian yang masih seputar tadi."Ya sudah kalau gak mau cerita." Bian menghidupkan mesin mobil, setelah itu meninggalkan bandara.Sepanjang perjalanan, tak ada obrolan apapun diantara mereka. Bahkan Bian yang hendak mengajak Aqilah mampir makan, urung karena melihat mood wanita itu yang berantakan.Sesampainya di rumah, Bian langsung menuju dapur. Rasa laparnya tak lagi bisa ditahan."Mas mau ngapain?" Aqilah heran melihat Bian yang pulang-pulang bukannya istirahat atau nyantai, tapi langsung ke dapur."Masak. Kita belum makan apa-apa sejak pagi, kamu pasti lapar juga kan

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   season 2

    Aqilah menggeliat kegelian saat tengkuk dan belakang telinganya diciumi oleh Bian. Tak hanya bagian itu saja, dadanya tak luput dari serangan tangan mesum sang suami."Mas, udah ah. Aku masih ngantuk." Aqilah bicara dengan mata tertutup saking ngantuknya. Bergerak menyingkirkan tangan Bian yang hinggap di dada karena dia masih ingin lanjut tidur mumpung hari minggu."Sekali lagi yuk," bujuk Bian. Tangannya kembali lagi hinggap pada bulatan kenyal favoritnya. Sedang bibirnya, terus saja aktif memberikan kecupan basah di sekitar leher untuk membangkitkan kembali gairah sang istri."Barusan kan udah, Mas. Aku masih capek.""Baru satu kali masa udah capek."Aqilah yang ngantuk sampai terkekeh mendengar sahutan suaminya. "Satu kali habis subuh tadi. Yang semalam gak kamu hitung." Dasar laki, batinnya, gak ada bosen-bosennya. Mau tidur nyenyak aja masih digangguin."Emang semalam berapa kali?""Ya mana aku tahu," sahut Aqilah setelah menguap. "Aku gak ngitung. Yang pasti lebih dari dua kali

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   season 2

    Hari ini hari pertama Aqilah kembali bekerja setelah 5 hari cuti. Pagi-pagi, Sita sudah menyodorkan setumpuk berkas yang harus dicek dan ditandatangani. Membuat Aqilah yang belum apa-apa sudah membuang nafas lelah. Inilah alasan dia malas cuti, kerjaan jadi numpuk.Biar segera rampung, segera dia meraih berkas pada tumpukan paling atas lalu mengeceknya."Meeting dengan Mr. Kim kamu reschedule jadi kapan, Sit?" tanya Aqilah tanpa melihat Sita."Em....itu. Saya lupa belum ngasih tahu Bu Aqilah. Meetingnya tidak di reschedule.""Maksud kamu?" Aqilah mengalihkan pandangan dari berkas menuju Sita."Kemarin Pak Rangga yang gantiin Bu Aqilah.""Apa! Rangga!" pekik Aqilah sambil berdiri."Gimana bisa tiba-tiba digantiin Rangga. Dan kamu, kenapa kamu gak ngasih tahu saya?""Sa-saya," Sita gugup kalau Aqilah sudah mode suara nada tinggi seperti ini. "Saya lupa, Bu. Dan kenapa diganti Pak Rangga, itu perintah langsung dari Pak Harun." Wanita itu meremat blusnya."Papa udah keterlaluan kali ini."

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   season 2

    Bian mengangkat tubuh Aqilah ke atas ranjang. Menarikkan selimut agar istrinya yang masih polos itu tidak kedinginan. Aqilah yang duduk, memegangi selimut hingga sebatas dada."Astaga Qill, sampai benjol gini."Aqilah meringis pelan saat Bian menyentuh jidatnya yang benjol. "Sakit gak?""Enggak, tapi banget," sahut Aqilah kesal. Sudah jelas sampai benjol, masa iya gak sakit. Ya sakitlah, gitu aja nanya.Bian beranjak dari atas ranjang. Kembali menuju koper untuk mengambil pakaian. Matanya menyipit saat melihat sebuah kantong plastik yang entah apa isinya. Saat dia buka.Mulut Bian menganga lebar. Kedua tangannya memegang benda yang menggelikan."Qill, ini apa?" Dia menoleh ke arah Aqilah. Sebelah tangannya memegang stringg, sedang sebelah lagi, gaun yang entah seperti apa modelnya, kurang bahan dan seperti sobek dimana-mana.Wajah Aqilah merah padam. Dia tak menjawab, hanya menunduk malu.Tawa Bian tiba-tiba meledak. "Ka-kamu beli kayak gini buat nyenengin aku, Qill?" tanyanya dengan

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   season 2

    "Aahhh...." Aqilah mendesah saat lidah Bian mengeksplor dadanya. Rasanya sungguh luar biasa, nikmat sekali, meski di bawah sana, dia masih merasakan sedikit perih. Dia mencengkeram erat punggung Bian saat pria itu meningkatkan tempo. Keringat membanjiri tubuh keduanya.Kuku jari Aqilah sampai melukai punggung Bian, namun rasa nikmat yang menjalar di sekujur tubuh membuat Bian tak merasakan sakit sedikitpun. Yang dia rasakan hanya sesuatu yang terasa mendesak, minta di keluarkan. Dia makin mempercepat tempo, sampai akhir, mendapatkan puncak hampir bersamaan dengan Aqilah.Dengan nafas yang masih tersengal, Bian menggulirkan tubuhnya ke sebelah Aqilah. Dia menoleh ke samping, mendapati istrinya masih memejamkan mata sambil mengatur nafas.CupSebuah kecupan singkat di bibir membuat Aqilah membuka mata. Dia mendapati Bian tengah menatapnya sambil tersenyum. Pria itu menyeka keringat yang membasahi keningnya, lalu mendaratkan kecupan di sana. Lama, sampai dia memejamkan mata, menikmati ke

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   season 2

    Malam ini, selepas acara resepsi, Aqilah dan Bian akan menghabiskan malam di salah satu suite room yang ada di hotel tempat resepsi. Itu sudah termasuk paket resepsi, jadi bukan mereka yang minta. Saat memasuki kamar yang di maksud, vibes malam pertamanya terasa kental sekali. Selain wangi bunga yang semerbak, tercium juga wangi lilin aroma terapi.Ranjang king size dengan sprei putih dihiasi dengan kelopak bunga, menjadi sesuatu yang paling menarik perhatian. Meski dulu di rumah Aqilah juga di hias, tapi hiasan hotel kali ini, jauh lebih indah. Selain itu, debaran di hati juga berbeda. Jika dulu biasa saja karena fikiran tentang malam pertama sangat jauh sekali, ibarat dari bumi ke planet pluto, beda dengan sekarang. Belum apa-apa, tubuh Aqilah sudah merinding disko. Padahal mau diajak malam pertama loh, bukan uji nyali.Disaat fikiran masih tegang, Aqilah dibuat terkejut saat tubuhnya terasa melayang."Aaaa.." pekiknya sambil melihat kebawah. Ternyata Bian mengangkat tubuhnya ala br

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   55

    Aqilah mendecih, mendengar perkataan papanya barusan. Jika memang papanya setia, ada banyak cara untuk mendapatkan anak laki-laki. Salah satunya dengan cara adopsi."Nanti akan tiba masanya, kamu akan faham. Saat ini, yang harus kamu tahu, papa sayang sama Aqilah. Papa tidak membedakan kamu dengan

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   54

    Deburan ombak dan kicauan burung terdengar mendominasi. Seorang pria dengan putrinya, duduk di hamparan pasir putih yang luas. Sepi, pantai ini memang tidak terbuka umum. Privat beach, salah satu fasilitas hotel tempat mereka menginap. Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara diantara mereka berd

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   53

    "Apa kabar, Mbak?" Kalimat Aleya itu menjadi pembuka obrolannya dengan Aisyah.Rasa canggung, malu, bersalah, dan masih banyak lagi yang rasa yang membuat dia terlalu malu untuk menatap Aisyah.Dia bukan pelakor. Sudah berkali-kali kalimat itu dia tekankan pada diri sendiri, namun tetap saja, rasa

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   52

    "Papaa!"Aleya dan Harun terbangun karena pekikan Keyla. Keduanya segera beranjak, mendekati Keyla yang terduduk diatas ranjang."Papa." Anak berusia 9 tahun itu beringsut, memeluk erat Harun yang duduk di tepi ranjang."Kamu mimpi buruk?" tanya Aleya yang juga duduk ditepi ranjang.Keyla menggelen

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status