ログインPagi itu, Felisha sedang duduk di dalam studionya sambil ditemani Romeo dan Lucky yang tiduran santai di dekat kakinya.Di tangannya, sebuah vas bunga dari tanah liat tengah ia cat dengan hati-hati menggunakan warna-warna lembut. Gerakannya pelan dan teliti, seolah seluruh pikirannya tenggelam dalam kegiatan itu.Felisha tampak begitu tenang menikmati pekerjaannya.Senyuman kecil di wajahnya memperlihatkan betapa ia benar-benar menyukai apa yang sedang ia lakukan.Di saat yang sama, Ace baru saja hendak memasuki studio tersebut. Namun langkahnya terhenti sejenak di ambang pintu. Tatapannya tertuju penuh pada istrinya.Untuk beberapa detik, Ace hanya diam memperhatikan Felisha yang terlihat begitu serius dengan dunianya sendiri. Wanita itu tampak sangat cantik di matanya—terutama sekarang, saat perutnya mulai terlihat semakin membesar.Entah kenapa, pemandangan sederhana itu terasa begitu menenangkan bagi Ace.Senyum kagum perlahan terbit di bibirnya.Namun akhirnya, pria itu tetap har
Beberapa hari sebelumnya, tepat setelah rencana penculikan Felisha di apartemen gagal, Rosie dan Daniel langsung melarikan diri dari tempat itu. Mereka berlari tanpa arah menyusuri jalan raya, berharap bisa menghindar sejauh mungkin sebelum Rashed menemukan mereka. Rosie terus memaksa Daniel untuk bertahan meski kondisi pria itu mengenaskan. Salah satu tangannya patah, wajahnya babak belur, dan napasnya sudah tersengal sejak tadi. Namun ketakutan membuat mereka terus bergerak. Setelah merasa cukup jauh dari apartemen Ace, keduanya akhirnya berhenti di pinggir jalan untuk menenangkan napas. Daniel membungkuk sambil menahan rasa sakit di lengannya. Sementara Rosie menoleh ke belakang berulang kali dengan wajah pucat, takut seseorang tiba-tiba muncul mengejar mereka. Namun, dari arah yang tak terduga, sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti tepat di depan mereka. Rosie dan Daniel belum sempat bereaksi ketika pintu tengah mobil itu bergeser terbuka. Seorang pria berbadan ti
Tiga hari telah berlalu sejak Ace kembali membuat laporan kepada polisi untuk menangkap Rosie. Namun hasilnya tetap sama. Setiap kali Ace meminta kepastian, jawaban yang ia terima selalu terdengar mengecewakan. “Kami masih melakukan penyelidikan terkait Nyonya Rosie dan putranya.” Kalimat itu terus diulang hingga kesabaran Ace semakin menipis. Pada akhirnya, pria itu mulai menganggap pihak kepolisian tidak becus menangani masalah tersebut. Emosinya terus terbelah antara menuntut keadilan untuk Felisha dan menyelesaikan pekerjaannya yang juga tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Sejak kejadian itu, pengawasan di apartemen menjadi jauh lebih ketat. Setiap kali Ace harus pergi ke kantor karena urusan mendadak, beberapa pengawal langsung ditempatkan di depan unit apartemen mereka. Felisha kembali dilarang keluar sendirian, bahkan sekadar membukakan pintu untuk orang asing pun tidak diperbolehkan lagi. Tanpa sadar, Felisha mulai merasa seperti burung yang dikurung di dalam san
Suasana apartemen mendadak membeku saat Rashed muncul.Baik Daniel maupun Rosie sama-sama diliputi kebingungan. Mereka tidak mengenal pria itu. Mereka hanya pernah tahu nama Rashed, tetapi belum pernah melihat wajahnya secara langsung.Namun Felisha malah sebaliknya. Ia tak tahu nama pria itu, tapi paham betapa berbahayanya dia.Mungkin ia tidak mengenal Rashed sedalam Ace mengenalnya, bahkan tidak benar-benar mengetahui latar belakangnya. Tapi Felisha pernah melihat sendiri seperti apa pria itu ketika berada di atas ring.Dan sekarang, ketakutannya terbukti.Dengan gerakan yang nyaris terlihat mudah, Rashed memutar tangan Daniel yang masih mencengkeram pergelangan Felisha.Krek!"Aaaargghhh!"Jeritan Daniel langsung memenuhi ruangan. Pergelangan tangannya tertekuk ke arah yang tidak wajar. Suara tulang yang patah membuat tubuh Felisha ikut bergidik ngeri."Daniel!" pekik Rosie panik.Wanita itu buru-buru bangkit lalu menghampiri Rashed. Dengan penuh kepanikan, ia memukul pundak pria
Selang beberapa menit, Rosie duduk kaku di ruang tamu apartemen Ace. Matanya diam-diam mengitari seluruh ruangan dengan saksama.Apartemen itu begitu mewah.Langit-langit tinggi, interior elegan, furnitur mahal, hingga aroma ruangan yang bersih dan nyaman—semuanya terasa sangat jauh berbeda dari rumahnya yang sempit dan usang.“Beruntung sekali anak sialan ini bisa dapat suami kaya,” batinnya penuh iri.Dadanya terasa panas melihat kehidupan Felisha sekarang. Namun Rosie berusaha keras menyembunyikan semuanya di balik wajah penuh penyesalan yang sedang ia perankan.Ia harus bertahan sedikit lebih lama.Sampai waktunya tiba untuk memanggil Daniel masuk… lalu membungkam Felisha.“Kau sendirian?” tanya Rosie pelan. Nadanya dibuat selembut mungkin, seolah takut meninggikan suara sedikit saja bisa membuat Felisha kembali mengusirnya.Felisha yang sejak tadi duduk berjaga di seberang sofa menjawab tanpa benar-benar rileks.“Justru karena suamiku tidak di rumah, aku membiarkan Bibi masuk,” k
“Maaf ya, Ace. Kalau tidak ada kau, entah bagaimana nasibku di tangan Tuan Edward tadi.”Theo berkata dengan wajah memelas di ruang kerja Ace. Sementara itu, Ace masih fokus memeriksa dokumen-dokumen penting yang menjadi sumber masalah hari itu—sesuatu yang bahkan tidak bisa ia tinggalkan meski besok ia harus berangkat bulan madu.Dengan cepat dan teliti, Ace mencoret beberapa bagian proposal, memperbaiki susunan kalimat, lalu mengoreksi angka anggaran yang keliru dengan mudahnya.“Cepat perbaiki ini sebelum kutandatangani,” ucap Ace datar sambil menyodorkan tumpukan berkas yang sudah penuh coretan merah.Theo buru-buru membacanya. Semakin lama matanya bergerak, semakin pucat wajahnya.“Jadi... sebanyak ini salahnya?” tanyanya tak percaya.Ace menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuh ke kursi kerjanya.“Makanya kalau kerja yang benar, jangan asal-asalan,” tegurnya dingin, meski suaranya tetap rendah dan terkendali. “Ini kerja sama bisnis dengan perusahaan besar. Kalau proposal
Felisha menarik napas dalam, lalu dengan jemari gemetar, ia membuka handuk yang menutupi pinggul Ace. Batang kejantanannya yang sudah mengeras muncul begitu saja. Felisha menahan napas, matanya terbelalak kecil.Ace terperanjat, tapi tak menghentikannya. Ketika Felisha mendekatkan wajahnya, Ace mem
Beberapa hari kemudian, konsep iklan yang disusun oleh tim Vin akhirnya rampung dan mendapat persetujuan resmi dari direktur. Semua anggota tim tampak puas-terlihat semangat dan kebanggaan terpancar di wajah mereka. Mereka yakin, proses syuting nanti akan menghasilkan iklan yang memukau.Sebagai be
Ide itu langsung disambut riang oleh Eric, Vero, dan Haruto. Suara tawa dan sorakan mereka menambah semarak suasana.Sementara itu, Ace hanya meneguk birnya perlahan dan menggeleng pelan. "Dasar..." gumamnya, setengah berbisik, menahan senyum melihat tingkah Vin yang dengan cepat terbawa suasana pe
Felisha duduk terpaku di dalam bus menuju kantor, menatap ponselnya dengan dahi berkerut. Sebuah pesan masuk beberapa menit lalu.--Selamat pagi. Semoga harimu menyenangkan.--Ia bergumam pelan, “Siapa yang mengirim pesan ini?”Tapi rasa penasaran itu tak bertahan lama. Kepalanya masih berat, tubuh







