MasukFelisha menarik napas dalam sebelum melangkah keluar dari apartemen.Sejak tadi, ia berputar-putar terus di depan cermin, memperhatikan penampilannya sendiri dengan penuh antusias. Ia mengenakan gaun santai berwarna kuning dengan kerah putih yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari untuk dipakai ke bandara.Sederhana, nyaman, tetapi tetap membuatnya terlihat anggun.Bahkan sekarang, saat semuanya sudah siap, Felisha masih sempat berdiri di depan cermin besar dekat pintu masuk untuk memastikan penampilannya baik-baik saja.Ace yang sedang menarik koper mereka hanya bisa menggeleng gemas melihat tingkah istrinya.“Kau sudah cantik,” katanya sambil tersenyum kecil. Nada suaranya terdengar seperti pujian bercampur godaan.“Aku tahu itu,” jawab Felisha tanpa malu-malu.Ace langsung mendengus pelan menahan tawa.“Aku cuma masih tidak percaya akhirnya bisa keluar dari sangkar ini,” lanjut Felisha dengan senyum lebar yang sulit disembunyikan.“Sangkar, ya?” ulang Ace sambil mengangguk pelan.Enta
Pagi itu, Felisha sedang duduk di dalam studionya sambil ditemani Romeo dan Lucky yang tiduran santai di dekat kakinya.Di tangannya, sebuah vas bunga dari tanah liat tengah ia cat dengan hati-hati menggunakan warna-warna lembut. Gerakannya pelan dan teliti, seolah seluruh pikirannya tenggelam dalam kegiatan itu.Felisha tampak begitu tenang menikmati pekerjaannya.Senyuman kecil di wajahnya memperlihatkan betapa ia benar-benar menyukai apa yang sedang ia lakukan.Di saat yang sama, Ace baru saja hendak memasuki studio tersebut. Namun langkahnya terhenti sejenak di ambang pintu. Tatapannya tertuju penuh pada istrinya.Untuk beberapa detik, Ace hanya diam memperhatikan Felisha yang terlihat begitu serius dengan dunianya sendiri. Wanita itu tampak sangat cantik di matanya—terutama sekarang, saat perutnya mulai terlihat semakin membesar.Entah kenapa, pemandangan sederhana itu terasa begitu menenangkan bagi Ace.Senyum kagum perlahan terbit di bibirnya.Namun akhirnya, pria itu tetap har
Beberapa hari sebelumnya, tepat setelah rencana penculikan Felisha di apartemen gagal, Rosie dan Daniel langsung melarikan diri dari tempat itu. Mereka berlari tanpa arah menyusuri jalan raya, berharap bisa menghindar sejauh mungkin sebelum Rashed menemukan mereka. Rosie terus memaksa Daniel untuk bertahan meski kondisi pria itu mengenaskan. Salah satu tangannya patah, wajahnya babak belur, dan napasnya sudah tersengal sejak tadi. Namun ketakutan membuat mereka terus bergerak. Setelah merasa cukup jauh dari apartemen Ace, keduanya akhirnya berhenti di pinggir jalan untuk menenangkan napas. Daniel membungkuk sambil menahan rasa sakit di lengannya. Sementara Rosie menoleh ke belakang berulang kali dengan wajah pucat, takut seseorang tiba-tiba muncul mengejar mereka. Namun, dari arah yang tak terduga, sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti tepat di depan mereka. Rosie dan Daniel belum sempat bereaksi ketika pintu tengah mobil itu bergeser terbuka. Seorang pria berbadan ti
Tiga hari telah berlalu sejak Ace kembali membuat laporan kepada polisi untuk menangkap Rosie. Namun hasilnya tetap sama. Setiap kali Ace meminta kepastian, jawaban yang ia terima selalu terdengar mengecewakan. “Kami masih melakukan penyelidikan terkait Nyonya Rosie dan putranya.” Kalimat itu terus diulang hingga kesabaran Ace semakin menipis. Pada akhirnya, pria itu mulai menganggap pihak kepolisian tidak becus menangani masalah tersebut. Emosinya terus terbelah antara menuntut keadilan untuk Felisha dan menyelesaikan pekerjaannya yang juga tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Sejak kejadian itu, pengawasan di apartemen menjadi jauh lebih ketat. Setiap kali Ace harus pergi ke kantor karena urusan mendadak, beberapa pengawal langsung ditempatkan di depan unit apartemen mereka. Felisha kembali dilarang keluar sendirian, bahkan sekadar membukakan pintu untuk orang asing pun tidak diperbolehkan lagi. Tanpa sadar, Felisha mulai merasa seperti burung yang dikurung di dalam san
Suasana apartemen mendadak membeku saat Rashed muncul.Baik Daniel maupun Rosie sama-sama diliputi kebingungan. Mereka tidak mengenal pria itu. Mereka hanya pernah tahu nama Rashed, tetapi belum pernah melihat wajahnya secara langsung.Namun Felisha malah sebaliknya. Ia tak tahu nama pria itu, tapi paham betapa berbahayanya dia.Mungkin ia tidak mengenal Rashed sedalam Ace mengenalnya, bahkan tidak benar-benar mengetahui latar belakangnya. Tapi Felisha pernah melihat sendiri seperti apa pria itu ketika berada di atas ring.Dan sekarang, ketakutannya terbukti.Dengan gerakan yang nyaris terlihat mudah, Rashed memutar tangan Daniel yang masih mencengkeram pergelangan Felisha.Krek!"Aaaargghhh!"Jeritan Daniel langsung memenuhi ruangan. Pergelangan tangannya tertekuk ke arah yang tidak wajar. Suara tulang yang patah membuat tubuh Felisha ikut bergidik ngeri."Daniel!" pekik Rosie panik.Wanita itu buru-buru bangkit lalu menghampiri Rashed. Dengan penuh kepanikan, ia memukul pundak pria
Selang beberapa menit, Rosie duduk kaku di ruang tamu apartemen Ace. Matanya diam-diam mengitari seluruh ruangan dengan saksama.Apartemen itu begitu mewah.Langit-langit tinggi, interior elegan, furnitur mahal, hingga aroma ruangan yang bersih dan nyaman—semuanya terasa sangat jauh berbeda dari rumahnya yang sempit dan usang.“Beruntung sekali anak sialan ini bisa dapat suami kaya,” batinnya penuh iri.Dadanya terasa panas melihat kehidupan Felisha sekarang. Namun Rosie berusaha keras menyembunyikan semuanya di balik wajah penuh penyesalan yang sedang ia perankan.Ia harus bertahan sedikit lebih lama.Sampai waktunya tiba untuk memanggil Daniel masuk… lalu membungkam Felisha.“Kau sendirian?” tanya Rosie pelan. Nadanya dibuat selembut mungkin, seolah takut meninggikan suara sedikit saja bisa membuat Felisha kembali mengusirnya.Felisha yang sejak tadi duduk berjaga di seberang sofa menjawab tanpa benar-benar rileks.“Justru karena suamiku tidak di rumah, aku membiarkan Bibi masuk,” k
Felisha duduk perlahan. Suaranya pelan tapi tegas. “Kita dulu tidak pernah dekat. Bahkan hampir tak pernah bicara. Tapi kau tiba-tiba membantuku. Memberikan pekerjaan di kafe ini. Aku hanya ingin tahu, kenapa kau melakukan itu?” Kenshin menatapnya lama. Lalu tersenyum tipis, seperti menyimpan r
Keesokan harinya, pikiran Felisha masih dihantui oleh perkataan Rosie yang ia dengar kemarin. Kata-kata penuh racun itu terus terngiang di kepalanya, seakan memerangkapnya dalam pusaran kebohongan yang tak bisa ia abaikan. Sepanjang hari ini, pikirannya tak pernah benar-benar hadir di tempat kerja.
Selena mematut dirinya sekali lagi di cermin besar di ruang tamunya. Gaun berwarna lavender lembut membalut tubuh rampingnya, rambut yang ditata bergelombang elegan dibiarkan terurai, serta riasan tipis yang mempertegas kecantikannya malam ini. Ia tampak memesona—seperti seorang putri yang siap ber
Seekor anak kucing abu-abu dengan corak abstrak tengah lahap mengunyah makanan di pinggir trotoar dekat gedung apartemen tua. Bulunya sedikit kusut, tubuhnya kurus, dan langkahnya sempat terseok sebelum akhirnya menemukan makanan yang kini disantapnya dengan penuh semangat. Di sisinya, seorang







