ログインMatthew tampak sibuk menghubungi pihak kepolisian di Bali melalui kenalan dekatnya di sana untuk mengurus proses hukum Rashed, yang kini telah diamankan di dalam sel tahanan sementara.Kepolisian Singapura juga turut bekerja sama dalam menangani kasus tersebut sejak jasad Rosie dan Daniel ditemukan."Kami akan memproses tersangka setelah menerima seluruh berkas dan laporan dari kepolisian Singapura," ujar seorang petugas melalui sambungan telepon. "Karena tindak penculikan terjadi di wilayah hukum Indonesia, ada beberapa prosedur yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum tersangka dipindahkan ke Singapura."Matthew mendengarkan dengan saksama. Namun penjelasan itu tidak cukup menenangkan pikirannya. Sejak mengetahui seluruh tindakan kriminal yang dilakukan Rashed—mulai dari kasus pembunuhan hingga penculikan Felisha—ia tidak bisa benar-benar tenang.Rasa bersalah diam-diam menghantuinya. Bagaimanapun juga, Ace dan Felisha berangkat ke Bali untuk berbulan madu sebagai hadiah dar
Polisi segera bergerak menangkap Rashed beserta anak buahnya di yacht tersebut.Sebelumnya, saat mengetahui Felisha diculik, Ace sempat menghubungi Matthew di Singapura dalam keadaan terdesak dan meminta bantuannya. Berkat koordinasi yang cepat, pihak kepolisian berhasil menemukan lokasi yacht dan mengambil alih penanganan kasus itu.Kini, Ace berada di sebuah rumah sakit.Ia duduk di samping ranjang tempat Felisha berbaring setelah menjalani pemeriksaan medis.Wanita itu sempat pingsan akibat syok, kelelahan, dan tekanan yang dialaminya selama penculikan. Beberapa jam kemudian, ia membuka mata.Pandangan pertamanya langsung bertemu dengan wajah Ace yang terlihat lelah, cemas, sekaligus lega."Syukurlah..." desah pria itu pelan. "Akhirnya kau sadar juga."Felisha tidak langsung menjawab.Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencoba memahami situasi.Plafon putih. Aroma antiseptik. Tiang infus yang berdiri di samping ranjang.Rumah sakit. Tempat yang membosankan.Sebelum
Setelah menerima rentetan pukulan yang tak sempat dihindari, kesadaran Rashed perlahan menghilang.Tubuhnya terkulai tak bergerak. Matanya terpejam. Darah mengalir dari berbagai luka di wajahnya, sementara napasnya terdengar semakin berat.Namun jantungnya masih berdetak. Otaknya masih bekerja.Di tengah kegelapan yang menyelimuti kesadarannya, potongan-potongan masa lalu bermunculan satu per satu.Ia kembali menjadi anak laki-laki yang berdiri di hadapan ayahnya, menerima tatapan kecewa yang tak pernah berubah.Ada satu kalimat yang paling membekas dalam ingatannya."Kau tidak akan pernah bisa melampaui sepupumu. Selamanya kau hanya nomor dua!"Kalimat itu diucapkan berulang kali sepanjang hidupnya. Rashed selalu dianggap kalah dari sepupunya. Mulai dari nilai sekolah, prestasi akademik, hingga kemampuan mengelola bisnis keluarga.Apa pun yang ia lakukan, selalu ada perbandingan.Ayahnya tak pernah benar-benar puas dengan pencapaiannya sendiri. Di mata pria itu, keponakannya selalu l
Beberapa waktu sebelumnya, Ace berpacu melawan waktu mengejar yacht milik Rashed dengan speedboat yang dikendarainya.Angin laut menghantam wajahnya dengan ganas. Ombak yang bergulung tinggi membuat perahu terus berguncang, tetapi Ace sama sekali tidak memperlambat laju kendaraannya.Pikirannya hanya dipenuhi oleh Felisha.Semakin lama ia terlambat, semakin besar kemungkinan sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya.Tatapannya terkunci pada yacht di depan sana. Saat jarak keduanya tinggal beberapa meter, Ace langsung memutar kemudi mendekat hingga lambung speedboat hampir bergesekan dengan badan yacht. Tanpa ragu, ia berdiri di ujung perahu lalu melompat.Tangannya berhasil meraih pagar yacht. Namun sebelum sempat memanjat naik, sebuah sepatu menghantam punggung tangannya dengan keras."Akh!"Ace nyaris terjatuh.Seorang pengawal berdiri di atas dek sambil menatapnya dingin."Tuan Rashed tidak ingin diganggu."Ace mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya membuat pria itu seketika mer
Rashed melangkah tenang memasuki kabin pribadinya di dalam yacht tersebut, meski ia tahu Ace sedang mengejarnya.Tepat sebelum memasuki ruangan, ia berhenti sejenak dan menoleh kepada salah satu pengawal yang berjaga di koridor."Ada seorang bedebah di luar sana yang harus kalian tangani.""Baik, Tuan."Pengawal itu mengangguk mantap sebelum bergegas menuju dek kapal untuk memberi tahu rekan-rekannya.Sementara itu, Rashed membawa Felisha ke dalam kabin dan membaringkannya di atas ranjang besar berlapis kain sutra yang lembut.Namun kenyamanan ranjang itu tidak membuat Felisha terlelap lama. Wanita itu mengernyit pelan. Kelopak matanya bergerak sebelum perlahan terbuka.Begitu melihat sosok Rashed yang duduk di tepi ranjang, menatapnya dengan sorot mata dalam namun tetap tenang seperti biasa, Felisha langsung tersadar sepenuhnya.Ia buru-buru bangkit dan beringsut menjauh. Tatapannya menyapu seluruh ruangan. Dinding kayu mewah. Jendela kaca besar yang memperlihatkan hamparan laut. Da
“Di mana kau, Felisha?! Kenapa tidak mengangkat teleponku?!” Ace menggerutu frustrasi sambil terus mencoba menghubungi istrinya.Sudah berkali-kali ia menelepon. Sudah berkali-kali pula panggilan itu tidak mendapat jawaban. Setiap detik yang berlalu membuat pikirannya semakin kacau.Setelah menyisir beberapa area pantai tanpa hasil, Ace akhirnya kembali ke lokasi terakhir yang seharusnya didatangi Felisha. Ia menghampiri penjaga stan es krim yang masih sibuk melayani pelanggan.“Permisi,” ujar Ace dengan nada serius. “Apa kau ingat wanita berambut pirang yang membeli es krim di sini beberapa saat lalu?”Penjaga stan itu sempat mengangkat kepala sambil tetap menyendok es krim ke dalam cone untuk anak-anak yang sedang mengantre.“Wanita Tionghoa?”“Ya, benar!” sahut Ace cepat. “Apa kau melihat ke mana dia pergi setelah membeli es krim?”Pria itu berpikir sejenak. “Kalau tidak salah, dia berjalan ke arah sana.” Ia menunjuk ke sebuah area di belakang deretan kios dan pondok pantai. “Tapi
Guan tak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat pada Yuki, cukup dekat hingga bau alkohol samar dari tubuh pria itu tercium jelas. Matanya menyipit, menimbang-nimbang, seperti pedagang yang sedang menghitung untung rugi."Mulutmu selalu beracun," ucap Guan pelan, nyaris berbisik. "Kau bicara soal
Felisha refleks menoleh ke Ace. Ada kilat terkejut di matanya, disusul rasa bersalah yang cepat menyelinap. Ia tidak menyangka reaksi Ace akan sekeras itu.“Aku baik-baik saja,” katanya cepat, berusaha meredam ketegangan yang tiba-tiba mengeras di udara. “Waktu itu situasinya mendesak. Aku hanya in
Felisha menelan ludah ketika melihat Rosie dan Guan hanya terdiam. Ia sudah terbiasa menyaksikan keduanya meraung dalam amarah, melontarkan makian, atau bahkan melakukan kekerasan. Namun justru keheningan inilah yang terasa jauh lebih mengerikan. Gadis itu mengepalkan tangannya pada tali tas, bersi
Bonita Han baru saja keluar dari klinik kecantikan dengan wajah nyaris tanpa ekspresi. Kacamata hitam besar menutupi sebagian wajahnya, sementara langkahnya ringan namun pasti, seolah dunia di sekitarnya hanyalah latar yang tak perlu ia pedulikan. Manajernya sudah menunggu di mobil, pintu belakang







