MasukMalam merayap turun di kota Singapura. Di tepi jalan yang lengang, sebuah mobil hitam mewah terparkir rapi di bawah bayang pohon cemara. Di dalamnya, Ace duduk di kursi pengemudi, lengan kirinya melingkari bahu Selena, wanita yang ia ajak kencan di kafe tadi—tempat Felisha bekerja. Sementara tangan kanannya mengatur volume musik yang mengalun pelan. Lagu klasik Jepang yang syahdu berganti dengan musik jazz Prancis yang melankolis, menciptakan suasana hangat dan intim dalam kabin mobil.
Selena menyandarkan kepalanya di bahu Ace, senyum kecil menghiasi bibirnya. Wangi parfumnya berpadu dengan aroma kulit jok mobil dan hujan malam, menciptakan atmosfer yang tak mudah dilupakan. Mereka berciuman, ringan tapi penuh rasa. “Jadi, kau benar-benar sudah lepas dari Elsa?” tanya Selena pelan, menatap wajah Ace dari bawah, sorot matanya jujur dan sedikit waspada. Ace menarik napas panjang. Ada kegetiran dalam senyumnya. “Dia memutuskan hubungan pagi tadi." Selena mengerutkan kening, lalu mengangkat dagu Ace dengan sentuhan lembut jemarinya. “Tapi kau tidak terlihat sedih.” “Karena Elsa tidak pernah benar-benar mencintaiku. Dia mencintai versi diriku yang dia pikir akan cocok jadi pewaris Ayah. “Dan kau terlalu keras kepala untuk menjadi siapa pun selain dirimu sendiri," sahut Selena, tersenyum miring. Ace terkekeh kecil. “Tepat sekali. Aku lebih rela gagal karena jadi diriku.” Selena menatap Ace dalam, lalu mengecup pipinya penuh ketulusan. “Kalau begitu, biar aku yang mencintaimu tanpa perintah. Tanpa paksaan.” Namun sebelum Ace sempat membalas, suara ketukan pelan di kaca mobil mengoyak keheningan. Ia menoleh, dan wajahnya berubah kaku saat melihat sosok yang berdiri di luar. “Matthew?” gumamnya, tak percaya. Selena ikut melirik ke arah pria itu. “Siapa?” “Kakakku,” jawab Ace singkat. “Dia sampai datang ke sini. Sepertinya ada urusan penting.” Selena tak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan, lalu membuka pintu. “Tidak apa-apa,” ujarnya lembut. “Aku akan pulang sendiri. Kau bicara saja dengan kakakmu.” Ace menggenggam tangannya sejenak, menatapnya dalam. “Maaf. Aku akan menghubungi lagi nanti.” Selena tersenyum, meskipun sorot matanya sedikit meredup. Ia keluar dari mobil, membiarkan angin malam menyapu rambut panjangnya. Sebuah taksi melintas, dan ia melambaikan tangan. Ace menghela napas, menutup pintu, dan menyusul Matthew yang kini duduk di bangku taman. Ia duduk tanpa suara di samping kakaknya. Matthew menyulut rokok, mengisap dalam-dalam, lalu menghembuskan asap ke udara dingin. “Aku tak bermaksud mengganggu malam romantismu,” katanya tanpa menoleh. “Tapi ini penting.” Ace menyandarkan tubuhnya, menatap langit gelap di atas. “Kau tahu aku benci didikte, Matt.” Matthew mengembuskan napas kasar, separuh tawa, separuh frustrasi. “Kau serius mau hidup seperti ini terus?” “Seperti ini apanya?” “Melarikan diri. Dari Ayah, dari tanggung jawab. Kau benci dia, tapi tak pernah mencoba membuktikan dirimu lebih baik.” Ace menoleh lambat. “Aku tidak lari. Aku sedang membangun. Diam-diam. Jauh dari pengawasan dan kontrol.” Matthew menatap adiknya lama, lalu menggeleng pelan. “Ayah marah besar siang tadi. Kau bolos rapat penting.” “Aku sengaja. Biar dia sadar, aku bukan boneka yang bisa digerakkan sesuai kemauannya.” “Kalau dia coret kau dari warisan, kau akan tetap tertawa seperti itu?” “Peduli setan,” sahut Ace. “Yang aku inginkan dari Ayah bukan uang. Tapi penyesalan. Tapi itu takkan pernah kudapat.” Matthew terdiam sejenak. “Karena kau selalu mencari alasan untuk membenci.” Mata Ace mengeras. “Aku tidak butuh alasan. Aku melihat sendiri saat dia berselingkuh, sementara Ibu menunggu keajaiban yang tidak pernah datang. Di rumah sakit. Sendirian.” Keheningan turun di antara mereka. Bahkan angin pun seolah berhenti. Matthew membuang rokok ke tanah dan menginjaknya. “Ayah memang brengsek. Tapi Ibu tidak pernah ingin kau tumbuh jadi seperti ini. Penuh kemarahan.” Ace memejamkan mata. Bahunya menurun perlahan. “Yang kuinginkan hanyalah kebebasan," gumamnya pelan. “Bebas tanpa arah bukan kebebasan, Ace. Itu pelarian.” “Aku tidak butuh pemahamanmu. Aku hanya butuh sedikit waktu. Bisnis yang aku bangun mulai bergerak. Dan aku takkan membiarkan Ayah mengacaukannya, seperti sebelumnya.” Matthew menghela napas panjang. Lelah. “Terserah. Tapi besok, kau harus datang ke kantor. Jangan buat semuanya jatuh ke pundakku terus.” Ace tersenyum tipis. “Kalau suasana hatiku bagus.” Merasa sudah cukup bicara, Matthew pun berdiri, menepuk bahu adiknya. “Jangan sampai aku kehilangan adikku hanya karena dia terlalu sibuk membenci Ayah.” Tanpa menunggu jawaban, Matthew melangkah pergi, langkahnya berat tapi mantap. Ace tetap duduk. Menatap langit yang gelap. Hanya satu bintang terlihat—redup, tapi bersinar lebih terang dari yang lain. *** Pukul sembilan malam, Felisha tiba di depan apartemennya. Langkahnya gontai, jaket tipisnya tak cukup melindungi dari angin malam yang mulai menggigit. Tangannya gemetar ringan—campuran antara lelah dan dingin setelah dua shift penuh di kafe kecil tempatnya bekerja. Dengan sisa tenaga, ia menekan sandi pintu apartemen mungil yang selama ini menjadi satu-satunya tempat ia merasa aman. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu. Di dalam, seorang wanita tua duduk tegak di sofa, tangannya bersedekap di dada. Matanya tajam, menusuk, seperti pisau yang hendak mengiris lapisan luka lama. Felisha membeku. Napasnya tercekat. Jantungnya berdetak tak karuan. Bukan karena takut, tapi karena emosi lain yang lebih rumit. Amarah, cemas, dan trauma masa kecil yang belum benar-benar sembuh. “Bibi Rosie?” suaranya lirih, nyaris tak terdengar. “Apa yang kau lakukan di sini?” Rosie Zhao, kakak kandung mendiang ayahnya, menegakkan punggung, seolah ingin memastikan bahwa ia tetap memegang kendali. Wajahnya sudah dipahat usia, namun aura arogansi yang dulu menghantui Felisha masih ada—utuh, tak berubah sedikit pun. “Aku pikir kau akan menyambutku dengan teh hangat, bukan interogasi,” ucap Rosie tajam, tanpa basa-basi. Felisha menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan ketegangan yang mulai memenuhi dadanya. “Aku memang pernah memberitahumu kode akses apartemenku, karena waktu itu kau bilang ingin mengantarkan barang-barang lama Ayah. Tapi, Bibi… bukan berarti kau bisa masuk ke sini tanpa izin.” Alis Rosie terangkat tinggi. “Kenapa aku harus minta izin untuk masuk ke rumah keponakanku sendiri? Hanya karena kau jadi yatim piatu, bukan berarti kau bisa berpura-pura tidak punya keluarga. Aku masih hidup, dan kedatanganku malam ini bukan untuk bersantai.” Felisha menarik napas panjang, menaruh tas kerja di atas meja komputer, lalu berdiri tegak. “Jadi, ada apa, Bibi? Kenapa kau datang ke sini malam-malam begini?” Rosie merogoh tas tangan tuanya, mengeluarkan selembar kertas kusut, lalu meletakkannya di meja dengan gerakan penuh tekanan. “Baca ini.” Felisha maju, menunduk, dan menyisir angka-angka yang tercetak di kertas itu. Matanya menyipit, dahinya berkerut. “I... ini apa?” “Utang ayahmu,” jawab Rosie cepat, nadanya seperti cambuk yang memukul balik. Felisha tersentak. “Apa?! Ayah meminjam uang sebanyak ini untuk apa?” Rosie menyilangkan kaki, ekspresinya mencemooh. “Tentu saja untuk berjudi! Kau pikir dia bangkrut karena nasib buruk? Adikku itu bukan pebisnis. Dia penjudi yang gagal. Dan aku, dengan bodohnya, mencoba menyelamatkannya. Sekarang aku yang harus menanggung akibatnya.” Felisha menggeleng, mencoba mengusir fakta itu dari pikirannya. “Tidak. Tidak mungkin! Ayah tidak pernah membutuhkan sesuatu sampai harus berhutang.” Rosie mencondongkan tubuh, matanya menancap seperti paku ke dalam mata Felisha. “Itulah faktanya. Dan sekarang kau yang harus melunasi. Jangan kira hanya karena dia mati, utangnya juga ikut dikubur bersamanya.” Felisha mundur selangkah. Kakinya seolah kehilangan kekuatan. “Aku kerja di kafe kecil, Bibi. Gajiku bahkan tak cukup untuk menutup tagihan listrik bulan ini.” “Itu bukan urusanku,” jawab Rosie tegas. Ia berdiri, merapikan syal bulu palsunya. “Kalau aku tidak dapat uang itu dalam dua bulan, tanah perkebunan yang menjadi satu-satunya sisa warisan keluargaku akan ditarik bank. Aku tak akan membiarkan kesalahan adikku menghancurkan segalanya.” Felisha menatap wajah keriput di hadapannya. “Jadi, ini tentang menyelamatkan tanah itu?” Rosie sudah melangkah menuju pintu. “Kau punya dua bulan. Lebih cepat lebih baik.” “Bibi.....” Tapi pintu telah dibanting, suaranya menggema dalam keheningan apartemen. Felisha berdiri mematung, seolah tubuhnya tak mampu bergerak. Lalu lututnya goyah. Ia terjatuh perlahan ke lantai, tangannya masih menggenggam kertas itu. Matanya mulai basah, namun air mata belum jatuh. Ia terlalu lelah untuk menangis. Terlalu terbiasa menahan. Di dalam kertas itu, angka-angka tertulis rapi, dingin, seperti vonis yang tak bisa ditawar. Seratus ribu dolar! Dan di keesokan harinya, pagi datang dengan langit kelabu. Felisha tiba lebih awal di kafe, menyembunyikan mata sembabnya di balik concealer tipis. Ia tersenyum pada pelanggan seperti biasa, seolah tidak ada sesuatu pun yang berubah. Tapi hatinya, pikirannya, dunia kecilnya—telah retak semalam. Saat jeda istirahat, Viola duduk di sampingnya sambil mengunyah donat. “Fel,” katanya, antusias. “Lihat ini.” Ia menyerahkan selembar brosur yang dilipat dua. Felisha menerimanya dengan lemah. “Apa ini?” “Lowongan kerja. Newton Group buka posisi untuk desainer grafis. Gajinya bisa tiga kali lipat dari yang kita dapat di sini.” Felisha membuka brosur itu perlahan. Logo Newton Group terpampang besar di bagian atas. “Newton.…” gumamnya, seperti mengucapkan nama sebuah takdir yang tidak ia sadari sedang mendekat. Viola tersenyum, menepuk pundaknya. “Kau punya bakat, Fel. Semua desain poster kita yang kau buat selalu dipuji bos. Kau cuma belum berani melangkah.” Felisha menatap brosur itu lama, seolah sedang menimbang seluruh hidupnya. Jalan keluar yang ditawarkan Viola terasa seperti jembatan gantung—menakutkan, tapi satu-satunya jalan.“Berengsek!” Guan mengumpat kasar sambil melempar batu ke arah padang ilalang di pinggir jalan. Batu itu melayang jauh, menghilang di antara rumput liar yang bergoyang diterpa angin. Setelah menerima peringatan keras dari Rashed, ia dan Yuki menepikan mobil dan berhenti sejenak. Kini, Guan berdiri sambil menghisap rokok dengan kasar, seolah setiap tarikan napasnya adalah pelampiasan amarah. Luka di sudut bibirnya masih terasa perih—pengingat yang menyakitkan atas kelemahannya. Dan rasa itu hanya membuat kebenciannya terhadap Felisha semakin membara. “Kau tidak apa-apa?” tanya Yuki hati-hati. Ia masih bersandar di pintu van, memperhatikan Guan dengan ragu. “Tidak apa-apa bagaimana?!” bentak Guan, emosinya meledak tanpa kendali. Yuki sudah menduga reaksi itu. Ia hanya menghela napas panjang, mencoba tetap tenang. “Sekarang kau sudah tahu, kan, seberapa berbahayanya Tuan Rashed? Aku saja tidak berani menatap matanya,” ucapnya pelan, nyaris seperti berbisik. “Dia seperti psikopat,
“Berengsek!”Guan mengumpat kasar sambil melempar batu ke arah padang ilalang di pinggir jalan. Batu itu melayang jauh, menghilang di antara rumput liar yang bergoyang diterpa angin.Setelah menerima peringatan keras dari Rashed, ia dan Yuki menepikan mobil dan berhenti sejenak. Kini, Guan berdiri sambil menghisap rokok dengan kasar, seolah setiap tarikan napasnya adalah pelampiasan amarah.Luka di sudut bibirnya masih terasa perih—pengingat yang menyakitkan atas kelemahannya. Dan rasa itu hanya membuat kebenciannya terhadap Felisha semakin membara.“Kau tidak apa-apa?” tanya Yuki hati-hati. Ia masih bersandar di pintu van, memperhatikan Guan dengan ragu.“Tidak apa-apa bagaimana?!” bentak Guan, emosinya meledak tanpa kendali.Yuki sudah menduga reaksi itu. Ia hanya menghela napas panjang, mencoba tetap tenang.“Sekarang kau sudah tahu, kan, seberapa berbahayanya Tuan Rashed? Aku saja tidak berani menatap matanya,” ucapnya pelan, nyaris seperti berbisik.“Dia seperti psikopat,” balas
Hari itu Ace tiba di kantor agak siang. Namun ia tidak langsung menuju ruangannya. Langkahnya justru berbelok ke tempat yang sangat jarang—bahkan hampir tak pernah—ia datangi: ruang kerja Edward.Resepsionis yang berjaga di samping pintu tampak terkejut melihat kedatangannya. Ia buru-buru berdiri dari kursinya, seolah memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah kesalahan.“Tuan Newton ada di dalam?” tanya Ace singkat, tanpa menoleh. Wajahnya datar, tatapannya lurus pada pintu besar dan kokoh di hadapannya—seperti seseorang yang hendak menghadapi musuh lamanya.Resepsionis itu mengangguk kaku, matanya masih membelalak.“I-iya, Tuan. Tapi beliau sedang bersama Tuan Matthew,” jawabnya gugup.Ace mendengus pelan tanpa mengubah ekspresinya.“Bagus. Sekalian lengkap.”Tanpa menunggu izin lebih lanjut, ia melangkah maju dan langsung memutar gagang pintu.“Tapi, Tuan—”Belum sempat resepsionis itu menyelesaikan kalimatnya, Ace sudah masuk begitu saja.Di dalam, Edward yang semula berbicara
Usai meluapkan gairah di pagi hari, Ace kembali mengenakan pakaian yang ia pakai semalam. Begitu pula dengan Felisha, yang bersiap mengenakan pakaian untuk pergi ke kantor. "Mulai hari ini, tidak usah kerja dulu," kata Ace, mencegah Felisha yang baru hendak mengancingkan kemejanya. Ia melangkah mendekat, lalu memeluk gadis itu mesra dari belakang. "Kau pasti lelah. Istirahat saja." Namun, Felisha merasa itu bukan keputusan yang tepat. "Aku memang tidak ingin menunda untuk menikah denganmu," ucapnya ragu. "Tapi bukan dengan menghilang tanpa kabar. Setidaknya aku harus meminta izin kepada Tuan Vin untuk resign." "Apa gunanya aku kalau kau masih harus repot seperti itu? Biar aku saja yang bilang padanya." "Tapi Tuan Vin itu atasanku." "Tidak boleh. Hari ini kau istirahat dulu," ujar Ace bersikeras, meskipun senyumannya tetap lembut dan menawan. Felisha tak bisa berkata apa-apa lagi. Bibirnya manyun, menggerutu dalam diam. "Ini," kata Ace kemudian, menyerahkan sebuah kartu debit ke
Untuk yang kesekian kalinya, Ace menghentakkan tubuh Felisha di atas kasur yang masih basah. Waktu seakan berhenti, dan dunia terasa hanya milik mereka berdua. Tidak ada lagi keraguan untuk meluapkan hasrat yang selama ini tertahan.Felisha, dengan desahan merdunya, hanya bisa pasrah menerima buasnya gairah Ace terhadapnya. Matanya terpejam, menahan nikmat yang terus menyerang. Saat ia membuka mata, pria itu tengah menatapnya dengan sorot mata menggoda. Rasa malu langsung menyeruak, membuat Felisha buru-buru memalingkan wajahnya.“Kau sangat cantik, Felisha. Aku mencintaimu,” ucap Ace, mendekatkan wajahnya untuk mencium pipi Felisha.Felisha merangkul bahu bidang pria itu, menancapkan kukunya di sana ketika Ace mempercepat dorongan pinggulnya.“Ace…” desahnya tak tahan. Ia tak tahu harus berkata apa di tengah kenikmatan luar biasa yang menyerangnya.“Iya… begitu. Panggil namaku,” balas Ace lirih di telinga Felisha.“Ace… aku mau… rasanya aku mau pipis lagi. Tolong pelan-pelan…”“Kelua
Pagi-pagi sekali, Guan sudah dibuat terganggu oleh panggilan masuk dari Yuki. Kepalanya terasa pusing saat ia berusaha meraih ponsel dan menjawab panggilan tersebut. Belum sempat ia mengumpat, kabar yang disampaikan pria di seberang sana langsung membuatnya ternganga.“Apa katamu…? Secepatnya??”Setelah panggilan itu berakhir, Guan masih terpaku di atas kasur, menatap kosong ke depan. Ia belum sepenuhnya sadar, sampai akhirnya pintu kamar terbuka dan istrinya masuk, menegurnya.“Ada apa? Siapa yang meneleponmu sampai membuatmu terbangun sepagi ini?”Hening sejenak. Guan mengusap wajahnya, berusaha mengusir sisa kantuk yang masih membelit.“Bos besar ingin perempuan itu dibawa secepatnya,” katanya akhirnya, suaranya masih berat.Rosie langsung mendelik. Ia mendekat, lalu duduk di samping Guan di tepi kasur, bibirnya perlahan membentuk senyum lebar.“Benarkah? Lalu tunggu apa lagi? Cepat seret dia ke sana!”Guan terkekeh pelan, menatap Rosie dengan ekspresi campuran antara geli dan penu







