Beranda / Romansa / Aku Ingin Kau Jadi Milikku / Bab 8 - Antara Hutang dan Obsesi

Share

Bab 8 - Antara Hutang dan Obsesi

Penulis: Faw faw
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-03 21:53:18

Ace menggeleng pelan, menyadari dirinya terlalu lama terjebak dalam lamunan. Namun saat kembali mengarahkan pandang, Felisha sudah jauh berjalan, menuruni trotoar dan bersiap menyeberangi jalan raya. Langkahnya cepat, berayun seirama dengan semilir angin pagi.

Tanpa pikir panjang, Ace segera menyalakan mesin mobil. Tadinya ia berniat menjemput Kathy—wanita yang entah kenapa, kini terasa seperti bagian dari hidup yang membosankan dan hambar. Namun dorongan aneh dari dalam dirinya membuat ia memutar arah. Ia tak bisa membiarkan Felisha pergi begitu saja.

Mobil hitamnya melaju perlahan, menyusul Felisha yang baru saja menyeberang. Ia menghentikan mobil tepat di depannya, lalu menurunkan kaca jendela sisi penumpang.

“Halo,” sapa Ace dengan senyum kecil. Suaranya rendah, berusaha terdengar hangat. “Kita ketemu lagi, nih.”

Felisha langsung menghentikan langkah. Matanya menyipit, menatap curiga. Suara itu—wajah itu—ia kenal betul. Mustahil ia bisa melupakannya.

“Kenapa kau mengikutiku?” tanyanya dingin, tajam.

Ace terdiam sejenak, terkejut dengan nada bicara Felisha. Ia mengangkat tangan, mencoba mencairkan suasana.

“Bukan begitu. Aku hanya... kebetulan melihatmu berjalan sendirian. Kupikir, mungkin kau butuh tumpangan. Seperti waktu itu.”

Felisha memutar bola matanya. Seketika, memori menjijikkan kembali menyeruak—saat ia tak sengaja melihat Ace mencium Kathy penuh nafsu di parkiran apartemen. Geli, muak, dan sebal bercampur jadi satu. Ia melangkah mundur, menjauh dari mobil.

“Maaf. Aku lebih memilih berjalan kaki daripada duduk di mobilmu,” tukasnya tajam. Tanpa menunggu reaksi, ia langsung menaiki bus kota yang baru saja berhenti.

Ace terdiam, mematung di balik kemudi. Ia menoleh pelan, menatap bus yang kini bergerak menjauh, membawa Felisha bersamanya.

“Galak juga, ya,.” gumamnya sambil tersenyum pahit. Meski ditolak mentah-mentah, ada sesuatu dalam diri Felisha yang membuatnya tak bisa berhenti memikirkannya. Reaksi, ucapan, sikapnya—semuanya terasa jujur, tanpa kepura-puraan.

Pada akhirnya mobil Ace kembali melaju, membuntuti bus dari kejauhan. Ia sendiri tak mengerti mengapa begitu peduli. Bus itu berhenti di sebrang kafe. Felisha turun dan masuk melalui pintu samping. Ace menunggu sebentar, lalu memutuskan untuk ikut masuk.

Pagi itu suasana kafe cukup ramai. Aroma kopi dan roti panggang langsung menyergap hidung. Namun baru beberapa langkah masuk, Ace langsung disambut suara tajam yang tak asing.

“Mau apa lagi kau ke sini?!” bentak Felisha dari balik meja barista. Wajahnya merah, antara marah dan kaget.

Viola, rekan kerjanya, sontak menoleh dengan ekspresi cemas, khawatir bos mereka mendengar keributan itu.

Sementara itu, Ace hanya tersenyum canggung. “Tentu saja untuk ngopi. Atau kau mau menemaniku?”

Felisha mendengus. “Kalau begitu, minum kopimu sendiri. Dan tolong, jangan pernah muncul lagi di hadapanku.”

Ace mengangkat alis, pura-pura tersinggung. “Kau tidak merasa sedikit kasar hari ini? Aku jadi sedih, loh.”

Merasa sudah terlalu muak, Felisha menatap tajam ke arah Viola. “Kau saja yang urus dia. Aku mau ke dapur.”

Ia bersiap pergi, namun Ace menahan, mencoba bersikap lebih tenang.

“Apa kau takut aku menagih hutang traktiran waktu itu? Tenang saja, aku belum berniat menagihnya.”

Sialnya, kata "hutang" yang terlontar dari mulut Ace justru memicu kepanikan lain dalam benak Felisha. Ingatannya langsung tertuju pada Rosie—dan tagihan yang belum bisa ia lunasi. Susah payah Felisha melupakannya, tapi Ace malah membangkitkan rasa takut itu.

Tatapan Felisha kian tajam. Ia mengeluarkan sejumlah uang yang seharusnya cukup untuk membayar taksi dan mungkin lebih. Dengan gerakan tegas, uang itu diletakkan di meja kasir.

“Sekarang hutangku lunas. Kau bisa beli kopi dengan itu. Tapi setelah ini, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!”

Tanpa memberi kesempatan bicara, Felisha membalikkan badan dan menghilang di balik pintu dapur. Viola yang menyaksikan semuanya dari balik meja hanya bisa terpaku, wajahnya cemas dan bingung.

Ace menghela napas panjang. “Dia memang segalak itu, atau memang aku yang salah?”

Viola mencoba tersenyum, meski canggung. “Mungkin ini hari terberatnya.”

“Padahal ini masih pagi. Jangan-jangan dia lagi datang bulan?”

Viola menunduk, menahan tawa yang tak keluar. Ia tetap berusaha profesional. “Hm... bisa jadi. Kita tak pernah tahu apa yang sedang dipikul seseorang.”

Ace menarik kursi dekat meja bartender, lalu duduk di atasnya. Tatapannya kosong, namun senyumnya perlahan muncul. “Siapa sih namanya? Aku penasaran.”

Perlahan Viola berhenti mengelap meja, dan menatap Ace tajam. “Maaf. Aku tidak bisa memberitahumu.”

“Kenapa?” tanya Ace, bingung.

“Tidak semua orang nyaman jika identitasnya diungkap kepada orang asing,” jawab Viola pelan. “Bahkan sebuah nama pun bisa menjadi bagian dari harga diri seseorang.”

Ace kembali menatap ke arah pintu dapur. Saat itu juga, ia menyadari—Felisha berbeda. Sangat berbeda. Ia bukan tipe perempuan yang akan mendekatinya dengan senyum manja atau suara menggoda seperti yang biasa mengelilinginya.

Diam-diam Viola memperhatikan ekspresi Ace, lalu tersenyum simpul. “Mungkin, lebih baik kau saja yang tanyakan langsung. Kalau berkenan, dia pasti akan memberitahukan namanya sendiri.”

Ace mengangguk pelan. Ia menatap lembaran uang yang tadi disodorkan Felisha dengan kasar.

“Tapi... bolehkah aku tahu alamatnya?”

Viola menarik napas dalam. Namun sebelum salah paham muncul, Ace buru-buru menjelaskan.

“Tenang saja. Aku tidak akan mendatanginya. Aku hanya ingin mengembalikan uang ini lewat kurir. Bagaimanapun juga, tidak keren menerima tagihan hutang seperti ini.”

Viola terkekeh, lalu menatap Ace serius. “Dari pada merasa tidak keren, bukankah lebih baik disimpan saja sebagai kenang-kenangan?”

Kata-kata Viola, membuat Ace terdiam sejenak. Sesederhana apa pun, menusuk ke dalam pikirannya.

Ia memandangi lembaran uang itu sekali lagi—kemudian tersenyum kecil. Geli, namun juga tergerak. Dilipatnya uang itu pelan dan disimpannya ke dalam dompet.

Setelah menyelesaikan urusannya di Kafe Lenorè, Ace berjalan menuju mobilnya dengan langkah santai bersama kenang-kenangan dari Felisha

Namun, sebelum sempat membuka pintu mobil, pikirannya terusik. Ia menatap kembali uang itu dalam-dalam, lalu mendecak kesal.

“Ah, sial. Kalau uang ini kusimpan, berarti aku tidak punya alasan lagi untuk menemui si Nona Tembem,” gumamnya, menggaruk kepala.

Ia menimbang-nimbang sejenak.

“Tidak. Sebaiknya kukembalikan saja lewat wanita tadi.”

Ace segera berbalik. Langkahnya cepat, tekadnya bulat untuk kembali ke dalam kafe. Tapi belum sempat mencapai pintu, semuanya berubah.

BRUK!

Sesuatu yang tebal dan gelap membungkus kepalanya dari belakang. Ia terperangah. Kedua tangan kuat mencengkeram tubuhnya dari depan, menahan segala upaya perlawanan.

“Apa-apaan ini?!” pikirnya panik. Tapi suaranya tak bisa keluar, napasnya tercekat.

Apa ini penculikan?

Pertanyaan-pertanyaan berkelebat di kepala Ace.

Siapa yang melakukannya? Apakah ini terkait ayahnya? Apakah ia akan disandera demi menebus kekayaan keluarga?

Tubuhnya terguncang dalam perjalanan yang tak jelas arah. Dunia terasa sempit, napasnya memburu.

Hingga akhirnya—kain penutup itu disingkap.

Cahaya lampu putih menyilaukan matanya. Begitu pandangannya pulih, ia mendapati dirinya sudah berada di ruang kerjanya sendiri. Di Newgate Group.

Dan di hadapannya, dua pria berdiri dengan ekspresi bangga seperti anak kecil habis mengerjai seseorang. Theo dan Vin.

“Apa-apaan kalian ini?!” bentak Ace, berdiri dengan mata melotot. “Minta dihajar, ya?!”

“Tenang, tenang!” kata Theo, mengangkat tangan seolah baru selesai melakukan hal heroik. “Jangan buang energimu sebelum rapat penting besok!”

Vin ikut bersuara dengan wajah kalem yang tidak meyakinkan.

“Sebagai kepala divisi periklanan, kau harus stabil. Tarik napas dalam-dalam, lalu keluarkan perlahan... lewat mana saja.”

Ace menatap mereka seperti menatap dua alien. Ia memijat dahinya, seolah menahan ledakan emosi.

“Sepertinya kalian memang harus dihajar. Belakangan ini aku terlalu lembut pada kalian!” serunya, lalu memasang kuda-kuda. Tinju terkepal, sorot mata siap menebas.

Wajah Theo langsung memucat. Ia bersembunyi di balik tubuh lebar Vin.

“Bagaimana ini, Vin?! Dia serius!”

Vin menahan napas, mencoba tetap tenang walau kakinya gemetar.

“Dengar, Ace! Kompetisi tahunan akan segera dimulai! Kita harus bersiap—rekut anggota baru, dan bangun strategi!”

“Iya! Kalau kita menang, divisi kita bakal naik daun! Ada bonus besar juga!" tambah Theo cepat, mencoba mengalihkan amarah.

Ace terdiam. Napasnya berat. Ia menunduk sejenak.

“Sudah mau dimulai, ya?” tanyanya, dengan suara menurun.

Theo dan Vin saling lirik, lalu mengangguk cepat. Seperti melihat titik terang dalam badai.

“Makanya, Ace. Ayo bersiap! Besok, kita semua harus kumpul di ruang rapat. Ayahmu juga akan hadir sekadar untuk mengawasi.”

“Peduli setan dengan rapat itu!”

Mendadak Ace meledak lagi. Suaranya menggema seperti bom. Theo dan Vin serempak melompat karena kaget.

Tapi Ace tak melanjutkan amarahnya. Ia memilih berjalan menuju pintu. Bagaimanapun juga, ia tak bisa memburu jantung kedua temannya. Namun saat mencoba membuka pintu, rupanya terkunci.

Ace memutar gagang berkali-kali, tetap tak terbuka. Matanya menyala seperti bara.

“Theo...” desisnya penuh ancaman.

Theo menyeringai seperti kuda. “Maaf, Ace. Demi kebaikan bersama.”

Vin yang menyadari situasi kian memburuk buru-buru menghampiri, mencoba mengalihkan emosi Ace. Ia menyodorkan sebuah map berisi berkas desain.

“Tunggu. Lihat ini dulu, Ace. Ini desain kandidat baru. Kalau dia diterima, dia bisa jadi aset berharga untuk perusahaan.”

Ace memalingkan wajah, enggan melihat. Tapi Vin belum menyerah.

“Namanya Felisha. Dia salah satu staf dari kafe yang kita kunjungi kemarin. Meskipun begitu, bakatnya luar biasa!”

Mendengar kalimat tersebut, seketika Ace berhenti. Tatapannya berubah. Penasaran mengusik pikirannya. “Felisha...?”

Direbutnya map itu dari tangan Vin. Matanya langsung tertuju pada foto yang menempel di halaman pertama. Di situ, terpampang wajah yang belakangan ini selalu memenuhi benaknya.

Si tembem judes.

Ace menatap fotonya dalam diam. Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Dia sudah diwawancarai?” tanyanya, tanpa mengalihkan pandangan dari foto Felisha. Hasil desainnya bahkan belum dilirik sedikit pun.

Theo dan Vin saling pandang, bingung dengan perubahan ekspresi Ace yang begitu drastis.

“Belum. Rencananya besok, sebelum rapat,” jawab Vin, pelan.

Ace menutup map itu dengan satu tepukan. Senyumnya menyeringai nakal, matanya berkilat.

“Kalau begitu, biar aku yang mewawancarainya langsung.”

Sontak Theo dan Vin terbelalak.

“APA?!” sahut mereka bersamaan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 183

    “Berengsek!” Guan mengumpat kasar sambil melempar batu ke arah padang ilalang di pinggir jalan. Batu itu melayang jauh, menghilang di antara rumput liar yang bergoyang diterpa angin. Setelah menerima peringatan keras dari Rashed, ia dan Yuki menepikan mobil dan berhenti sejenak. Kini, Guan berdiri sambil menghisap rokok dengan kasar, seolah setiap tarikan napasnya adalah pelampiasan amarah. Luka di sudut bibirnya masih terasa perih—pengingat yang menyakitkan atas kelemahannya. Dan rasa itu hanya membuat kebenciannya terhadap Felisha semakin membara. “Kau tidak apa-apa?” tanya Yuki hati-hati. Ia masih bersandar di pintu van, memperhatikan Guan dengan ragu. “Tidak apa-apa bagaimana?!” bentak Guan, emosinya meledak tanpa kendali. Yuki sudah menduga reaksi itu. Ia hanya menghela napas panjang, mencoba tetap tenang. “Sekarang kau sudah tahu, kan, seberapa berbahayanya Tuan Rashed? Aku saja tidak berani menatap matanya,” ucapnya pelan, nyaris seperti berbisik. “Dia seperti psikopat,

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 182 - Menuju Hari Besar

    “Berengsek!”Guan mengumpat kasar sambil melempar batu ke arah padang ilalang di pinggir jalan. Batu itu melayang jauh, menghilang di antara rumput liar yang bergoyang diterpa angin.Setelah menerima peringatan keras dari Rashed, ia dan Yuki menepikan mobil dan berhenti sejenak. Kini, Guan berdiri sambil menghisap rokok dengan kasar, seolah setiap tarikan napasnya adalah pelampiasan amarah.Luka di sudut bibirnya masih terasa perih—pengingat yang menyakitkan atas kelemahannya. Dan rasa itu hanya membuat kebenciannya terhadap Felisha semakin membara.“Kau tidak apa-apa?” tanya Yuki hati-hati. Ia masih bersandar di pintu van, memperhatikan Guan dengan ragu.“Tidak apa-apa bagaimana?!” bentak Guan, emosinya meledak tanpa kendali.Yuki sudah menduga reaksi itu. Ia hanya menghela napas panjang, mencoba tetap tenang.“Sekarang kau sudah tahu, kan, seberapa berbahayanya Tuan Rashed? Aku saja tidak berani menatap matanya,” ucapnya pelan, nyaris seperti berbisik.“Dia seperti psikopat,” balas

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 181 - Pria Yang Akan Menikah

    Hari itu Ace tiba di kantor agak siang. Namun ia tidak langsung menuju ruangannya. Langkahnya justru berbelok ke tempat yang sangat jarang—bahkan hampir tak pernah—ia datangi: ruang kerja Edward.Resepsionis yang berjaga di samping pintu tampak terkejut melihat kedatangannya. Ia buru-buru berdiri dari kursinya, seolah memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah kesalahan.“Tuan Newton ada di dalam?” tanya Ace singkat, tanpa menoleh. Wajahnya datar, tatapannya lurus pada pintu besar dan kokoh di hadapannya—seperti seseorang yang hendak menghadapi musuh lamanya.Resepsionis itu mengangguk kaku, matanya masih membelalak.“I-iya, Tuan. Tapi beliau sedang bersama Tuan Matthew,” jawabnya gugup.Ace mendengus pelan tanpa mengubah ekspresinya.“Bagus. Sekalian lengkap.”Tanpa menunggu izin lebih lanjut, ia melangkah maju dan langsung memutar gagang pintu.“Tapi, Tuan—”Belum sempat resepsionis itu menyelesaikan kalimatnya, Ace sudah masuk begitu saja.Di dalam, Edward yang semula berbicara

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 180 - Prioritas

    Usai meluapkan gairah di pagi hari, Ace kembali mengenakan pakaian yang ia pakai semalam. Begitu pula dengan Felisha, yang bersiap mengenakan pakaian untuk pergi ke kantor. "Mulai hari ini, tidak usah kerja dulu," kata Ace, mencegah Felisha yang baru hendak mengancingkan kemejanya. Ia melangkah mendekat, lalu memeluk gadis itu mesra dari belakang. "Kau pasti lelah. Istirahat saja." Namun, Felisha merasa itu bukan keputusan yang tepat. "Aku memang tidak ingin menunda untuk menikah denganmu," ucapnya ragu. "Tapi bukan dengan menghilang tanpa kabar. Setidaknya aku harus meminta izin kepada Tuan Vin untuk resign." "Apa gunanya aku kalau kau masih harus repot seperti itu? Biar aku saja yang bilang padanya." "Tapi Tuan Vin itu atasanku." "Tidak boleh. Hari ini kau istirahat dulu," ujar Ace bersikeras, meskipun senyumannya tetap lembut dan menawan. Felisha tak bisa berkata apa-apa lagi. Bibirnya manyun, menggerutu dalam diam. "Ini," kata Ace kemudian, menyerahkan sebuah kartu debit ke

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 179 - Gairah Di Pagi Hari

    Untuk yang kesekian kalinya, Ace menghentakkan tubuh Felisha di atas kasur yang masih basah. Waktu seakan berhenti, dan dunia terasa hanya milik mereka berdua. Tidak ada lagi keraguan untuk meluapkan hasrat yang selama ini tertahan.Felisha, dengan desahan merdunya, hanya bisa pasrah menerima buasnya gairah Ace terhadapnya. Matanya terpejam, menahan nikmat yang terus menyerang. Saat ia membuka mata, pria itu tengah menatapnya dengan sorot mata menggoda. Rasa malu langsung menyeruak, membuat Felisha buru-buru memalingkan wajahnya.“Kau sangat cantik, Felisha. Aku mencintaimu,” ucap Ace, mendekatkan wajahnya untuk mencium pipi Felisha.Felisha merangkul bahu bidang pria itu, menancapkan kukunya di sana ketika Ace mempercepat dorongan pinggulnya.“Ace…” desahnya tak tahan. Ia tak tahu harus berkata apa di tengah kenikmatan luar biasa yang menyerangnya.“Iya… begitu. Panggil namaku,” balas Ace lirih di telinga Felisha.“Ace… aku mau… rasanya aku mau pipis lagi. Tolong pelan-pelan…”“Kelua

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 178 - Jejak Yang Hilang

    Pagi-pagi sekali, Guan sudah dibuat terganggu oleh panggilan masuk dari Yuki. Kepalanya terasa pusing saat ia berusaha meraih ponsel dan menjawab panggilan tersebut. Belum sempat ia mengumpat, kabar yang disampaikan pria di seberang sana langsung membuatnya ternganga.“Apa katamu…? Secepatnya??”Setelah panggilan itu berakhir, Guan masih terpaku di atas kasur, menatap kosong ke depan. Ia belum sepenuhnya sadar, sampai akhirnya pintu kamar terbuka dan istrinya masuk, menegurnya.“Ada apa? Siapa yang meneleponmu sampai membuatmu terbangun sepagi ini?”Hening sejenak. Guan mengusap wajahnya, berusaha mengusir sisa kantuk yang masih membelit.“Bos besar ingin perempuan itu dibawa secepatnya,” katanya akhirnya, suaranya masih berat.Rosie langsung mendelik. Ia mendekat, lalu duduk di samping Guan di tepi kasur, bibirnya perlahan membentuk senyum lebar.“Benarkah? Lalu tunggu apa lagi? Cepat seret dia ke sana!”Guan terkekeh pelan, menatap Rosie dengan ekspresi campuran antara geli dan penu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status