Beranda / Romansa / Aku Ingin Kau Jadi Milikku / Bab 7 - Si Cantik Berambut Pirang

Share

Bab 7 - Si Cantik Berambut Pirang

Penulis: Faw faw
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-21 14:48:37

Pagi itu, matahari belum naik, tapi langit sudah tinggi. Di belakang sebuah bangunan bergaya industrial—sebuah bar yang belum buka untuk umum—terdengar derak besi dan helaan napas berat.

Suara itu berasal dari seorang pria yang tengah melakukan bench press. Barbel seberat dua puluh kilogram naik-turun dengan ritme mantap di atas dadanya. Ia melakukannya tanpa suara berlebihan, tanpa pamer. Setiap gerakan tampak seperti rutinitas yang mendarah daging, bukan demi siapa pun—hanya untuk dirinya sendiri.

Itulah Ace.

Tubuhnya atletis, tegap dan berotot, dengan garis lengan yang menonjol saat ia mengangkat beban. Keringat mengalir perlahan di pelipis, meluncur ke sepanjang rahang tegas yang terpantul kilau cahaya pagi. Kaos hitam tipis melekat pada kulitnya, memperlihatkan otot dada dan perut yang terbentuk sempurna oleh disiplin bertahun-tahun. Namun bukan hanya fisiknya yang mencuri perhatian. Ekspresi wajahnya—tenang, fokus, dan sedikit dingin—menyiratkan dominasi. Sosok yang tidak perlu berusaha keras untuk menjadi pusat perhatian.

Dari balik pintu besi, terdengar suara derit. Seseorang masuk, disertai langkah tergesa.

“Kau di sini?” suara itu terdengar setengah bingung, setengah lega.

Ace hanya menoleh sedikit tanpa menghentikan gerakannya. “Pagi, Don.”

Sosok yang masuk adalah Donnie. Rambutnya masih berantakan, celana training belum sempat disetrika, dan wajahnya belum sepenuhnya terbangun.

“Sial, kukira ada maling masuk diam-diam,” gumam Donnie sambil mendekat. “Sejak kapan kau ada di sini?”

Ace menyelesaikan set terakhirnya sebelum meletakkan barbel kembali ke rak. Ia duduk tegak, mengambil handuk, dan mengusap keringat dari tengkuk hingga ke dada. “Baru satu jam lalu. Aku malas balik ke apartemen setelah mengantar Kathy pulang dari pesta.”

Donnie menaikkan alisnya, heran. “Kathy? Tunggu… yang rambut coklat itu?”

Ace hanya mengangkat bahu kecil disertai senyum menyudut. “Yup.”

Donnie mendecak. “Astaga. Baru kemarin kau bersama Selena, sekarang sudah jalan sama Kathy?”

Tanpa perlu menjawab, Ace bangkit berdiri. Tubuhnya menjulang dengan gerakan santai tapi penuh kendali. Ia membuka botol air minum dan meneguknya perlahan.

Donnie tertawa pendek. “Kau benar-benar tidak ada remnya. Tapi hati-hati, Ace. Kalau Selena tahu, bisa-bisa ribut.”

Ace menyampirkan handuk ke bahunya, lalu mengambil jaket kulit yang tergeletak di kursi dekat rak beban. Ia mengeluarkan ponselnya, menatap layar dengan tenang.

“Kalau wanita mau mendekati pria sepertiku, mereka harus siap ambil risiko."

Donnie menggeleng pelan, separuh kagum, separuh frustrasi. Ia melirik jam dinding. “Aku mau buka bar. Anak-anak sebentar lagi datang. Kau mau langsung cabut?”

" Mau jemput Kathy," sahut Ace menyeringai tipis. “Katanya mau lari pagi di taman. Aku tak bisa menolak ajakan cewek dengan kaki jenjang itu.”

Donnie mengangkat tangan, memberi tanda ‘terserah’. “Tentu saja. Begitulah dirimu. Selamat berkencan, Romeo.”

Ace hanya tertawa pendek, lalu melangkah keluar dari ruangan dengan tenang. Cahaya pagi menyambutnya, membingkai siluet tubuhnya yang tinggi dan tegap. Dalam diamnya, Ace adalah badai yang tenang—pria yang tahu apa yang ia mau, dan tak pernah minta maaf atas siapa dirinya.

***

Sekitar setengah jam kemudian, mobil Ace berhenti di depan sebuah gedung apartemen mewah di kawasan elit kota. Gedung itu menjulang seperti istana modern dengan kaca-kaca besar yang memantulkan sinar matahari pagi. Ace mematikan mesin mobil, tapi tidak langsung turun. Ia menyalakan sebatang rokok dan bersandar di pintu mobil, menatap ke langit sambil menikmati embusan angin pagi yang menyegarkan.

Tepat saat itu, matanya menangkap sosok perempuan yang berjalan keluar dari gedung di sebelah. Apartemen itu jauh lebih sederhana, hampir kontras dibanding tempat Kathy tinggal. Tapi perhatian Ace langsung teralihkan.

Felisha.

Gadis berambut pirang itu mengenakan blazer abu-abu muda dan celana bahan hitam. Sepatunya tampak usang, tapi bersih. Ia membawa tas jinjing kecil dan terlihat tergesa, namun tidak murung. Justru ada senyuman kecil menghiasi wajahnya saat ia berhenti sejenak menatap anak-anak yang sedang bermain engklek di sisi trotoar.

Angin bertiup lembut, menggerakkan helaian rambut yang menyapu pipi bulatnya. Cahaya matahari pagi mengenai wajahnya dari samping, membuat kulit putih pucatnya tampak bersinar halus seperti porselen. Tapi bukan hanya keindahan fisiknya yang paling menonjol di momen itu.

Senyumannya juga.

Senyum hangat yang tulus, seperti sinar matahari setelah hujan panjang. Ketika salah satu anak mengajak Felisha ikut bermain, tanpa ragu gadis itu meletakkan tasnya dan melompati kotak-kotak kapur dengan tawa ringan. Anak-anak tertawa gembira, dan Felisha ikut larut dalam tawa itu.

Ace berdiri terpaku. Rokok di tangannya masih menyala tapi terlupakan. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak memikirkan Kathy. Tidak juga Selena. Bahkan bukan tentang bar, pekerjaan, atau pelarian dari tanggung jawab.

“Huh…” gumamnya pelan. “Dia… bukan cuma cantik.”

Ada sesuatu yang membekas. Bukan ketertarikan biasa. Sebuah rasa penasaran yang dalam — siapa sebenarnya Nona Tembem itu? Ace ingin tahu namanya.

Itu adalah gadis dengan senyum paling tulus yang pernah ia lihat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 183

    “Berengsek!” Guan mengumpat kasar sambil melempar batu ke arah padang ilalang di pinggir jalan. Batu itu melayang jauh, menghilang di antara rumput liar yang bergoyang diterpa angin. Setelah menerima peringatan keras dari Rashed, ia dan Yuki menepikan mobil dan berhenti sejenak. Kini, Guan berdiri sambil menghisap rokok dengan kasar, seolah setiap tarikan napasnya adalah pelampiasan amarah. Luka di sudut bibirnya masih terasa perih—pengingat yang menyakitkan atas kelemahannya. Dan rasa itu hanya membuat kebenciannya terhadap Felisha semakin membara. “Kau tidak apa-apa?” tanya Yuki hati-hati. Ia masih bersandar di pintu van, memperhatikan Guan dengan ragu. “Tidak apa-apa bagaimana?!” bentak Guan, emosinya meledak tanpa kendali. Yuki sudah menduga reaksi itu. Ia hanya menghela napas panjang, mencoba tetap tenang. “Sekarang kau sudah tahu, kan, seberapa berbahayanya Tuan Rashed? Aku saja tidak berani menatap matanya,” ucapnya pelan, nyaris seperti berbisik. “Dia seperti psikopat,

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 182 - Menuju Hari Besar

    “Berengsek!”Guan mengumpat kasar sambil melempar batu ke arah padang ilalang di pinggir jalan. Batu itu melayang jauh, menghilang di antara rumput liar yang bergoyang diterpa angin.Setelah menerima peringatan keras dari Rashed, ia dan Yuki menepikan mobil dan berhenti sejenak. Kini, Guan berdiri sambil menghisap rokok dengan kasar, seolah setiap tarikan napasnya adalah pelampiasan amarah.Luka di sudut bibirnya masih terasa perih—pengingat yang menyakitkan atas kelemahannya. Dan rasa itu hanya membuat kebenciannya terhadap Felisha semakin membara.“Kau tidak apa-apa?” tanya Yuki hati-hati. Ia masih bersandar di pintu van, memperhatikan Guan dengan ragu.“Tidak apa-apa bagaimana?!” bentak Guan, emosinya meledak tanpa kendali.Yuki sudah menduga reaksi itu. Ia hanya menghela napas panjang, mencoba tetap tenang.“Sekarang kau sudah tahu, kan, seberapa berbahayanya Tuan Rashed? Aku saja tidak berani menatap matanya,” ucapnya pelan, nyaris seperti berbisik.“Dia seperti psikopat,” balas

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 181 - Pria Yang Akan Menikah

    Hari itu Ace tiba di kantor agak siang. Namun ia tidak langsung menuju ruangannya. Langkahnya justru berbelok ke tempat yang sangat jarang—bahkan hampir tak pernah—ia datangi: ruang kerja Edward.Resepsionis yang berjaga di samping pintu tampak terkejut melihat kedatangannya. Ia buru-buru berdiri dari kursinya, seolah memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah kesalahan.“Tuan Newton ada di dalam?” tanya Ace singkat, tanpa menoleh. Wajahnya datar, tatapannya lurus pada pintu besar dan kokoh di hadapannya—seperti seseorang yang hendak menghadapi musuh lamanya.Resepsionis itu mengangguk kaku, matanya masih membelalak.“I-iya, Tuan. Tapi beliau sedang bersama Tuan Matthew,” jawabnya gugup.Ace mendengus pelan tanpa mengubah ekspresinya.“Bagus. Sekalian lengkap.”Tanpa menunggu izin lebih lanjut, ia melangkah maju dan langsung memutar gagang pintu.“Tapi, Tuan—”Belum sempat resepsionis itu menyelesaikan kalimatnya, Ace sudah masuk begitu saja.Di dalam, Edward yang semula berbicara

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 180 - Prioritas

    Usai meluapkan gairah di pagi hari, Ace kembali mengenakan pakaian yang ia pakai semalam. Begitu pula dengan Felisha, yang bersiap mengenakan pakaian untuk pergi ke kantor. "Mulai hari ini, tidak usah kerja dulu," kata Ace, mencegah Felisha yang baru hendak mengancingkan kemejanya. Ia melangkah mendekat, lalu memeluk gadis itu mesra dari belakang. "Kau pasti lelah. Istirahat saja." Namun, Felisha merasa itu bukan keputusan yang tepat. "Aku memang tidak ingin menunda untuk menikah denganmu," ucapnya ragu. "Tapi bukan dengan menghilang tanpa kabar. Setidaknya aku harus meminta izin kepada Tuan Vin untuk resign." "Apa gunanya aku kalau kau masih harus repot seperti itu? Biar aku saja yang bilang padanya." "Tapi Tuan Vin itu atasanku." "Tidak boleh. Hari ini kau istirahat dulu," ujar Ace bersikeras, meskipun senyumannya tetap lembut dan menawan. Felisha tak bisa berkata apa-apa lagi. Bibirnya manyun, menggerutu dalam diam. "Ini," kata Ace kemudian, menyerahkan sebuah kartu debit ke

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 179 - Gairah Di Pagi Hari

    Untuk yang kesekian kalinya, Ace menghentakkan tubuh Felisha di atas kasur yang masih basah. Waktu seakan berhenti, dan dunia terasa hanya milik mereka berdua. Tidak ada lagi keraguan untuk meluapkan hasrat yang selama ini tertahan.Felisha, dengan desahan merdunya, hanya bisa pasrah menerima buasnya gairah Ace terhadapnya. Matanya terpejam, menahan nikmat yang terus menyerang. Saat ia membuka mata, pria itu tengah menatapnya dengan sorot mata menggoda. Rasa malu langsung menyeruak, membuat Felisha buru-buru memalingkan wajahnya.“Kau sangat cantik, Felisha. Aku mencintaimu,” ucap Ace, mendekatkan wajahnya untuk mencium pipi Felisha.Felisha merangkul bahu bidang pria itu, menancapkan kukunya di sana ketika Ace mempercepat dorongan pinggulnya.“Ace…” desahnya tak tahan. Ia tak tahu harus berkata apa di tengah kenikmatan luar biasa yang menyerangnya.“Iya… begitu. Panggil namaku,” balas Ace lirih di telinga Felisha.“Ace… aku mau… rasanya aku mau pipis lagi. Tolong pelan-pelan…”“Kelua

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 178 - Jejak Yang Hilang

    Pagi-pagi sekali, Guan sudah dibuat terganggu oleh panggilan masuk dari Yuki. Kepalanya terasa pusing saat ia berusaha meraih ponsel dan menjawab panggilan tersebut. Belum sempat ia mengumpat, kabar yang disampaikan pria di seberang sana langsung membuatnya ternganga.“Apa katamu…? Secepatnya??”Setelah panggilan itu berakhir, Guan masih terpaku di atas kasur, menatap kosong ke depan. Ia belum sepenuhnya sadar, sampai akhirnya pintu kamar terbuka dan istrinya masuk, menegurnya.“Ada apa? Siapa yang meneleponmu sampai membuatmu terbangun sepagi ini?”Hening sejenak. Guan mengusap wajahnya, berusaha mengusir sisa kantuk yang masih membelit.“Bos besar ingin perempuan itu dibawa secepatnya,” katanya akhirnya, suaranya masih berat.Rosie langsung mendelik. Ia mendekat, lalu duduk di samping Guan di tepi kasur, bibirnya perlahan membentuk senyum lebar.“Benarkah? Lalu tunggu apa lagi? Cepat seret dia ke sana!”Guan terkekeh pelan, menatap Rosie dengan ekspresi campuran antara geli dan penu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status