Home / Romansa / Aku Ingin Kau Jadi Milikku / Bab 5 - Jalan Yang Dipilih

Share

Bab 5 - Jalan Yang Dipilih

Author: Faw faw
last update Last Updated: 2025-10-21 14:41:19

Di dalam lift kaca yang perlahan turun dari lantai 30 Newton Group, keheningan mengambang seperti kabut yang menebal di antara dua pria yang berdiri berdampingan.

  Edward, pria paruh baya dengan rambut putih keperakan dan jas abu-abu armani yang jatuh rapi tanpa kerutan, menyilangkan tangan di dada. Matanya tajam menatap ke depan, tapi pikirannya entah di mana. Di sampingnya, Matthew berdiri tegak. Tangannya dimasukkan ke saku celana, sementara matanya lelah menatap lantai lift yang memantulkan bayangan.

  “Bagaimana kabar Ace?” suara Edward akhirnya pecah. Dalam, berat, nyaris seperti perintah yang disamarkan dalam nada tanya.

  Matthew menghela napas sebelum menjawab. “Masih sama, Ayah.”

  Edward menoleh sedikit. Alisnya terangkat. “Maksudmu?”

  “Masih sibuk dengan hal-hal yang tidak jelas. Tapi kurasa itu bukan kabar baru.”

  Lift terus turun. Di dinding logam yang memantulkan cahaya lampu, bayangan Edward tampak seperti patung yang diukir dari marmer dingin.

  “Padahal dia punya segalanya,” gumam Edward. “Bakat, karisma, naluri. Dia bisa memimpin divisi periklanan jauh lebih baik dari siapa pun yang kita miliki sekarang. Tapi dia memilih lari.”

  Matthew menoleh cepat. “Ayah tidak bisa memaksa orang bertumbuh dengan cara yang tidak mereka pilih.”

  “Tidak ada pilihan,” potong Edward tajam. “Ini bukan soal ingin atau tidak. Ini kewajiban. Dia putra Shirohige.”

  “Tapi dia juga manusia, Ayah,” ujar Matthew, nada suaranya mulai terdengar getir. “Bukan pion yang bisa dipindah seenaknya di papan bisnis Ayah.”

  Edward mendesis pelan, tapi sorot matanya tak berubah. “Apa kau membelanya sekarang?”

  Matthew menahan diri untuk tidak mendesah. Sudah terlalu sering ia menjadi penengah dalam perang sunyi antara adik dan ayahnya. Tapi kali ini rasanya berbeda. Ada kegelisahan yang belum selesai sejak percakapannya dengan Ace kemarin.

  “Dia membangun sesuatu, Ayah,” kata Matthew, akhirnya. “Bisnis kecil. Belum besar, tapi itu miliknya. Hasil tangannya sendiri. Dia hanya takut memberitahu Ayah.”

  “Takut?” Edward menyipitkan mata. “Takut pada siapa? Aku ini ayahnya.”

  “Justru karena itu,” sahut Matthew, pelan tapi tegas. “Karena Ayah selalu menghancurkan hal-hal yang tidak sesuai dengan standar Ayah. Dia tidak mau karyanya dijadikan bahan olok-olok hanya karena tidak seperti visi Ayah.”

  Pintu lift terbuka di lantai 10. Tak ada yang masuk. Keheningan kembali menyesaki ruang sempit itu.

  “Selama dia menghindari tanggung jawab, selama itu pula dia akan gagal,” ujar Edward, seperti mengulang sesuatu yang telah lama ia yakini. “Aku tidak butuh alasan. Aku butuh kehadirannya. Di kantor. Memimpin divisi periklanan.”

  Matthew mengatup rahangnya. “Dan kalau dia masih menolak?”

  Edward tidak menjawab. Tapi sorot matanya menjawab segalanya—dingin, mutlak, dan tak mengenal kompromi.

  Beberapa detik kemudian, ia bersuara, lebih pelan. "Ace itu seperti langit musim panas—liar, tak terduga, dan terlalu terang untuk ditatap langsung. Tapi bahkan langit musim panas pun bisa berubah menjadi badai.”

  Matthew mengangguk pelan. Kata-kata itu terasa asing keluar dari mulut sang ayah. Lembut, tapi menyimpan luka.

  “Aku tahu dia punya potensi,” lanjut Edward. “Itulah kenapa aku tak bisa membiarkannya terus terbang tanpa arah. Kalau dia jatuh, siapa yang akan menampungnya? Dunia luar tidak seperti keluarga. Tidak ada belas kasihan.”

  Lift mencapai lantai dasar. Pintu terbuka perlahan. Udara malam menyambut dengan keheningan yang tak kalah dingin.

  Mereka melangkah keluar bersama, langkah mereka bergema di lobi marmer yang sunyi. Di depan pintu mobil hitam yang menunggu, Edward berhenti. Ia menatap Matthew dalam-dalam.

  “Jika Ace ingin sukses dengan caranya, buktikan. Tapi jangan minta aku menunggu atau memahami. Dunia bisnis tidak sabar pada yang ragu. Dia harus datang ke kantor. Entah dengan kehendaknya, atau karena dia sadar itu satu-satunya cara agar dia bisa berdiri sejajar denganku.”

  Matthew tak menjawab. Tapi dalam hati, ia tahu ini baru permulaan. Perang diam antara ayah dan adik itu belum akan berakhir dalam waktu dekat.

  Namun malam ini, untuk pertama kalinya, ia melihat retakan kecil di dinding baja bernama Edward Newton—dan dari celah itu, mengintip bayangan seorang ayah yang sebenarnya hanya ingin putranya berhasil... meski dengan cara yang keliru.

  ***

  Dentuman tinju menghantam samsak dengan ritme teratur—bam, bam, bam—seperti jantung mesin yang sedang membara. Setiap pukulan yang dilepaskan Ace bukan sekadar latihan. Itu luapan amarah, kegelisahan, dan tekanan yang tak pernah ia ungkapkan. Suara hantaman menggema dalam ruang latihan yang ia rancang sendiri di balik sebuah bar—sebuah tempat yang tak diketahui siapa pun, apalagi sang ayah.

  Cahaya lampu sorot yang temaram memantulkan keringat dari tubuhnya yang berotot. Setiap otot menegang, setiap gerakan presisi. Di sini, tak ada senyum nakal, tak ada gombalan usil. Hanya pria dengan luka-luka yang disembunyikan dalam diam.

  “Kalau kau memukul manusia sekeras itu,” suara dari sudut ruangan memecah keheningan, “otaknya bisa pindah ke lutut.”

  Ace berhenti. Napasnya masih memburu saat ia menoleh dan menemukan Donnie—teman yang ikut mengelola bisnis bar miliknya—bersandar santai di dinding, botol air di tangan, senyum di bibir.

  “Kau datang hanya untuk berkomentar seperti itu?” tanya Ace, menyeka keringat dengan handuk.

  Donnie terkekeh, melangkah mendekat. "Kau harusnya jadi atlet. Dunia olahraga bisa jadi milikmu. Tapi kau malah sibuk mengurus pemasaran bar dan bikin konten promo kreatif di sosial media.”

  Ace mengambil botol itu, meneguk cepat. “Kalau aku jadi atlet, lalu siapa yang mengelola bisnis bar kita?”

  Donnie menepuk pundaknya. “Tapi serius, Ace. Bisnis kita tumbuh cepat. Pendapatan minggu ini naik tiga puluh persen. Sistem reservasi digital yang kau buat benar-benar ngebut.”

  Ace tersenyum tipis, bangga tersembunyi di balik matanya. “Itu hanya soal algoritma. Bar ini punya potensi. Orang datang ke sini bukan cuma buat mabuk, tapi merasa... diterima.”

  Mereka keluar dari ruang latihan menuju area utama bar. Tempat itu seperti potret dari jiwa Ace sendiri. Liar, bebas, dan sedikit rusak. Dindingnya dipenuhi poster-poster band rock klasik, lampu neon menyala samar, dan aroma alkohol bercampur asap rokok menyelimuti udara.

  Donnie menuangkan dua gelas whiskey. “Untuk bisnis yang tidak diketahui ayah dan kakakmu.”

  Ace menerima gelas itu, menatap isinya sejenak sebelum meneguk. “Untuk kebebasan yang harus dibayar mahal.”

  Namun sebelum obrolan mereka meluncur lebih dalam, suara kaca pecah menggelegar dari sudut bar.

  "Praaang!!"

  Semua kepala menoleh serempak. Dua pria bertubuh besar tengah saling dorong. Salah satu dari mereka menghantam meja hingga terjungkal, botol-botol pecah, dan pengunjung lain terseret dalam kekacauan.

  “Dasar keparat! Kau pikir kau siapa?!”

  Musik berhenti mendadak. Ketegangan mengental seperti kabut tebal. Beberapa orang mundur, yang lain mulai merekam.

  Donnie berdiri tergesa. “Gawat! Mereka bisa menghancurkan properti kita. Apa kita hubungi polisi saja?”

  Ace hanya meletakkan gelasnya perlahan, lalu berdiri. Wajahnya datar, tapi sorot matanya berubah—dingin dan penuh kendali.

  “Tidak perlu,” katanya tenang. “Biar aku yang urus.”

  “Jangan nekat! Badan mereka sebesar lemari es!”

  Namun Ace sudah berjalan. Langkahnya lambat, tapi mantap. Semua mata mengikuti pergerakannya. Sorot matanya tajam seperti pisau. Tatapan orang yang tahu apa yang ia lakukan.

  “Sudah,” katanya keras tapi tenang. “cukup!”

  Salah satu pria menoleh. “Kau siapa, hah? Bos di sini? Jangan sok ngatur!”

  Ace melangkah lebih dekat, tak tergoyahkan. “Ini bukan tempat untuk adu otot. Kalau mau ribut, silahkan keluar."

  Pria itu tertawa mengejek, lalu melayangkan pukulan. Tapi Ace lebih cepat. Ia menunduk, berputar, dan menghantam rahang pria itu dengan uppercut bersih. Dentuman keras. Tubuh besar itu jatuh menghantam meja hingga hancur.

  Temannya menerjang dari belakang. Tapi Ace memutar tubuh, menyapu kaki lawan, dan membantingnya ke lantai. Sekejap, pria itu terkunci, tak bisa bergerak.

  Dalam hitungan detik, semuanya selesai.

  Hening. Semua mata terbelalak.

  Salah seorang pengunjung wanita berbisik kagum pada teman di sebelahnya, “Siapa dia? Keren sekali!"

  Donnie melongo, lalu tertawa, setengah kagum setengah khawatir.

  Sementara Ace berdiri, mengatur napas, lalu menoleh ke bartender. “Tutup bar setengah jam. Bersihkan kekacauan ini. Dan beri minuman gratis untuk semua orang malam ini. Anggap saja kompensasi.”

  Sorak-sorai menggema.

  Tapi di balik keramaian itu, Ace kembali duduk. Sorot matanya tidak puas. Bahkan setelah semua pujian dan kekaguman, ada kekosongan yang tetap bertahan. Luka lama yang tak pernah sembuh—ekspektasi seorang ayah yang tidak pernah melihat siapa dirinya sesungguhnya.

  Bar ini mungkin kecil, tapi di sini Ace adalah raja.

  Raja tanpa mahkota. Raja yang memilih jalannya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 149

    Sesampainya di kamar kecil—yang ukurannya sama sekali tidak kecil—Ace menutup pintu dan mengurung dirinya bersama Felisha di dalam sana. Tak ada kata-kata, hanya rangkaian tindakan yang cepat dan tanpa ragu. Dalam satu gerakan sigap, ia mengangkat tubuh Felisha dan mendudukkannya di atas marmer wastafel yang panjang dan dingin. Felisha terperanjat. “Apa yang kau—” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tangan Ace sudah lebih dulu mengangkat ujung gaunnya hingga kedua pahanya terbuka. Sentuhan kulit pria itu membuat Felisha bergidik sebelum ia sadar dan kembali menegurnya. “Kau mau apa?! Turunkan aku!” ucapnya tegas, mendorong bahu Ace dengan kedua tangannya. Namun pria itu sama sekali tak bergeser. Rasanya seperti mendorong tembok kokoh yang tak mungkin runtuh. Ace hanya diam, menatap mata Felisha yang penuh kebingungan. Ibu jarinya perlahan mengusap bekas luka di lutut gadis itu. “Hanya ingin membersihkan lukamu,” ujarnya akhirnya. Suaranya tenang, dalam—seolah kegelis

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 148 - Merah Yang Menggoda

    Sesampainya di kamar kecil—yang ukurannya sama sekali tidak kecil—Ace menutup pintu dan mengurung dirinya bersama Felisha di dalam sana. Tak ada kata-kata, hanya rangkaian tindakan yang cepat dan tanpa ragu. Dalam satu gerakan sigap, ia mengangkat tubuh Felisha dan mendudukkannya di atas marmer wastafel yang panjang dan dingin. Felisha terperanjat. “Apa yang kau—” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tangan Ace sudah lebih dulu mengangkat ujung gaunnya hingga kedua pahanya terbuka. Sentuhan kulit pria itu membuat Felisha bergidik sebelum ia sadar dan kembali menegurnya. “Kau mau apa?! Turunkan aku!” ucapnya tegas, mendorong bahu Ace dengan kedua tangannya. Namun pria itu sama sekali tak bergeser. Rasanya seperti mendorong tembok kokoh yang tak mungkin runtuh. Ace hanya diam, menatap mata Felisha yang penuh kebingungan. Ibu jarinya perlahan mengusap bekas luka di lutut gadis itu. “Hanya ingin membersihkan lukamu,” ujarnya akhirnya. Suaranya tenang, dalam—seolah kegelisa

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 147 - Lilitan

    Ponsel Felisha yang ikut terempas ke lantai masih berdering tanpa henti. Namun gadis itu tak mampu menjawabnya—bahaya sudah berdiri tepat di hadapannya. Dengan kaki gemetar, ia beringsut mundur, berusaha menjauh dari Guan yang menutup pintu dengan wajah murka, jelas berniat menyiksanya lagi.“Berikan kartunya!” gertak Guan berang. Suaranya menggelegar, menyerupai auman singa yang siap menerkam.Refleks, Felisha mendekap tas ke dadanya. Melihat itu, Guan bergerak cepat—terlalu cepat—merebut tas tersebut dari pelukannya.Uang Felisha memang tak banyak lagi. Ia bahkan belum sempat melakukan transaksi dengan pembeli mantel milik Bonita. Namun setidaknya, di dalam tas itu masih tersisa beberapa lembar uang untuk bertahan hidup hingga bulan depan. Ia tak bisa membiarkan Guan merampasnya juga.“Kembalikan! Biar aku saja yang ambil uangnya nanti!” teriak Felisha panik sambil berusaha merebut tas itu sekuat tenaga.Namun Guan tak memberinya kesempatan. Ia menarik tas itu dengan kasar hingga tu

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 146 - Gaun Merah

    Hari kedua pengerjaan proyek yang tertunda hampir setahun itu akhirnya berjalan lancar, meskipun sosok Vin-ketua tim sebenarnya-masih belum hadir dan sama sekali tidak mengetahui perkembangan pekerjaan tersebut. Menjelang jam istirahat, seluruh anggota tim tampak bekerja serius, mengikuti arahan yang sebelumnya diberikan Ace dari ruangannya sendiri. Itu adalah permintaan Felisha; ia tidak ingin orang-orang curiga jika Ace terlihat terlalu sering berada di ruangan Vin.Alhasil, setiap kali ada bagian yang perlu dipastikan, Haruto lah yang bolak-balik mengonfirmasi ke ruangan Ace. Dan setiap kali kembali, ekspresinya selalu sama-sumringah seperti baru bertemu idolanya."Padahal Tuan Ace sedang rapat dengan kepala tim kreatif lain," ucap Haruto sambil menahan tawa girang. "Tapi beliau tetap tidak menunda sesi konseling denganku. Ah, Tuan Ace itu... benar-benar seorang panutan! Sepertinya aku harus pasang posternya di kamarku nanti!""Tuan Ace bakal geli kalau tahu itu," sahut Eric asal,

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 145 - Yang Tertinggal

    Tubuh Felisha sontak menegang, terkejut karena ciuman mendadak itu. Ia bisa merasakan luapan hasrat yang selama ini Ace pendam—kerinduan yang begitu dalam, seolah telah menumpuk lama di dadanya. Namun di saat bersamaan, rasa khawatir menyambar benaknya. Bagaimana jika ada yang melihat? Rekan kerjanya bisa kembali kapan saja.Dengan panik, Felisha mendorong dada Ace hingga ciuman itu terlepas.Raut Ace seketika berubah beringas, napasnya memburu, matanya masih penuh keinginan. Ia hendak kembali mencium Felisha, namun gadis itu cepat-cepat menutup bibir Ace dengan kedua telapak tangannya.“Apa yang kau lakukan? Kalau ada yang lihat lagi, bagaimana?!” desis Felisha, napasnya tersengal.Ace menggenggam tangan Felisha perlahan, menurunkannya dari bibirnya. Dahinya berkerut kesal.“Mereka tidak akan kembali secepat itu,” ucapnya mantap.“Tetap saja… kita harus berhati-hati,” tutur Felisha pelan.Ace menghembuskan napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan tatapan kosong. Raut k

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 144 - Panggil Namaku

    Meskipun Felisha memang sempat marah pada Ace karena peringatan yang diberikan oleh penggemar berat pria itu, ia tahu bahwa kejadian tadi bukan sepenuhnya kesalahan Ace. Ia harus mengakui, ancaman dari wanita gila tersebut memang memengaruhi suasana hatinya terhadap Ace.Namun ia bingung, bagaimana Ace bisa tahu ia sempat marah? Felisha justru yakin sebelumnya bahwa Ace-lah yang kecewa padanya.“Aku tidak marah, kok,” ucapnya jujur.Ace menaikkan sebelah alis, jelas tidak percaya.“Lalu kenapa kemarin kau tidak mengabariku setelah pulang dari apartemenku?”Sekarang giliran Felisha yang menaikkan alis, heran. “Kupikir justru kau yang marah. Kau pergi begitu saja saat aku mandi.”“Kau tidak membaca surat yang kutinggalkan?”Felisha mendesah pendek. “Menurutmu, surat itu cukup untuk meyakinkanku bahwa semuanya baik-baik saja? Aku tidak berani menghubungimu. Kupikir kau kecewa karena aku mengacaukan malam itu gara-gara salah minum!”Mendengar itu, tawa Ace hampir pecah, tapi ia segera men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status