Beranda / Romansa / Aku Ingin Kau Jadi Milikku / Bab 4 - Coretan Kapur

Share

Bab 4 - Coretan Kapur

Penulis: Faw faw
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-30 15:04:16

Sebelumnya, pagi masih tenang di Kafe Lenorè. Di pojok dekat kaca, dua pelanggan duduk diam, masing-masing larut dalam layar laptop dan dunia mereka sendiri. Suara musik jazz instrumental mengalun pelan, menyatu dengan desis mesin espresso dan aroma kopi yang memenuhi udara.

  Di balik konter, Felisha dan Viola berdiri berdampingan. Uap dari susu panas memenuhi udara saat Viola menuangnya ke dalam pitcher logam.

  “Jadi.... kau benar-benar mau melamar ke Newton Group?” tanya Viola, mencoba terdengar santai, meski ada nada kagum di suaranya.

  Felisha mengangguk pelan. “Aku tahu itu perusahaan besar, nyaris tak masuk akal. Tapi aku tak bisa berada di sini selamanya. Rasanya seperti kakiku diam, tapi hatiku ingin lari.”

  Viola tersenyum dan menepuk lembut tangan sahabatnya. “Kau pantas untuk lebih, Fel. Desain-desainmu itu bukan cuma bagus, tapi juga hidup.”

  Felisha tertawa kecil, menunduk. “Aku cuma main kapur dan corat-coret. Bukan sesuatu yang bisa dibilang ‘desain’.”

  Sebelum Viola sempat membantah lagi, derap tumit terdengar dari lorong belakang. Seorang perempuan paruh baya muncul—berwibawa, dengan blazer putih gading dan tatapan yang tajam namun hangat. Monnica, pemilik sekaligus manajer kafe.

  “Felisha,” panggilnya langsung. “Aku butuh bantuanmu.”

  Felisha berdiri tegak. “Ada yang bisa aku kerjakan?”

  Monnica menunjuk ke arah papan tulis besar yang biasanya mereka letakkan di luar kafe. “Kita butuh desain baru hari ini. Promosi menu seasonal. Sesuatu yang bisa menghentikan langkah orang di trotoar.”

  Viola langsung melirik Felisha, ekspresinya jelas mengatakan, 'Inilah saatmu.'

  Monnica pun tersenyum tipis. “Sejak awal, kau yang paling berbakat soal ini, Felisha. Aku percaya pada seleramu.”

  Felisha terpaku sesaat. “Baik, akan kukerjakan. "

  “Kau punya waktu tiga puluh menit.”

  Clipboard diselipkan ke lengannya, dan tanpa banyak kata, Felisha langsung bergerak. Ia menuju ruang belakang, mengambil papan tulis besar dan meletakkannya di meja panjang dekat jendela dapur—sudut kecil tempat ia biasa berkarya diam-diam.

  Ia membuka kotak kapurnya. Beberapa batang sudah hampir habis. Tapi ia tak peduli. Ia mengambil satu yang ujungnya tumpul, yaitu warna lavender.

  Lalu jari-jarinya mulai menari.

  Garis pertama ditarik dengan hati-hati. Lalu lengkungan. Warna lain menyusul—kuning keemasan, biru muda, putih kapur. Tangannya bergerak mengikuti irama yang hanya bisa ia dengar sendiri. Ia menggambar gelas latte dengan busa hati di ujungnya, lalu menulis dengan gaya tulisan tangan unik, “Brew Your Mood with Us.”

  Tak ada sketsa. Tak ada ragu. Hanya naluri.

  Dan di tengah proses itu, senyum perlahan tumbuh di bibirnya. Bahunya yang semula tegang mulai mengendur. Matanya menyala dengan sesuatu yang sudah lama tak muncul, yakni rasa hidup.

  Saat jari-jarinya bermain di atas papan kapur, dunia di luar menghilang. Tak ada pelanggan. Tak ada lamaran kerja. Tak ada keraguan.

  Hanya dia, kapur, dan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

  Begitu selesai, Felisha meletakkan papan itu sebentar di dekat toilet, sementara ia kembali ke dapur untuk merapikan kapur warna tadi.

  Kemudian Vin muncul. Ia berjalan ke arah toilet, tapi pikirannya berada jauh di tempat lain. Ia memikirkan proyek-proyek yang mandek, tim yang semakin compang-camping, dan atasannya yang hilang bak kabut.

  Namun langkahnya melambat.

  Ada sesuatu di sudut kiri yang menarik pandangannya.

  Papan kapur besar, berdiri sendirian, seolah memanggil.

  Vin pun berhenti.

  Ia memiringkan kepala sedikit, mengamati. Tak butuh waktu lama baginya untuk mengenali kualitas dalam setiap garisnya. Gaya tulisan itu bukan sekadar estetika—itu bercerita. Warna-warnanya berani tapi tidak norak. Komposisinya punya kepercayaan diri yang jujur, bukan dibuat-buat.

  Ia mendekat dan menyentuh papan itu pelan, ujung jarinya menyusuri tepian garis. Rasanya seperti menemukan sesuatu yang langka—bukan karena sempurna, tapi karena jujur.

  Siapa yang membuat ini...? pria paruh baya itu membatin.

  Saat pertanyaan itu mengendap di benaknya, dari pintu samping dapur muncullah Felisha—membawa nampan berisi cangkir-cangkir kosong dan kotak kapur warna.

  Langkahnya terhenti.

  Mata mereka bertemu.

  Vin menatapnya seperti seseorang yang baru saja menemukan jalan keluar dari kabut.

  ***

  "Sudah sepuluh menit lebih," gerutu Theo sambil melirik jam tangannya yang murah tapi penuh kenangan. "Jangan-jangan Vin pingsan di toilet karena kebanyakan sarapan roti isi sosis."

  Ace tidak menjawab. Duduk menyandar santai di sofa pojok kafe, pandangannya sibuk tertuju pada layar ponsel. Jari-jarinya lincah mengetik balasan pesan dari Selena, yang entah bagaimana bisa membuat senyum tipis muncul di wajahnya.

  Theo memperhatikan itu dengan ekor mata, lalu mendecak keras.

  "Apa kau bisa berhenti tersenyum seperti orang gila?" sindirnya dengan nada tinggi. "Vin hilang entah ke mana, kau malah pacaran. Kita ke sini bukan buat kencan digital."

  Ace masih tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel. "Santai, Theo. Dunia tidak akan runtuh hanya karena Vista ke toilet lebih lama dari biasanya."

  "Dunia kita mungkin tidak, tapi deadline kita bisa."

  Baru saja Theo hendak melanjutkan ceramahnya, Vin muncul dari arah toilet. Langkahnya tergesa. Matanya berbinar-jauh berbeda dengan ekspresi malas yang biasa ia bawa.

  "Hei! Kalian tidak akan percaya dengan apa yang baru saja kutemukan!" katanya penuh semangat, langsung menghampiri Ace dan Theo.

  Ace mengangkat wajah sebentar, lalu ponselnya bergetar lagi. Ia melihat layar-panggilan masuk dari Selena.

  "Sebentar," katanya datar sebelum menekan tombol hijau dan berdiri sambil menepuk bahu Theo. "Kalian lanjut saja. Ini penting."

  Vin menghentikan langkahnya, kecewa. "Ace-sebentar, aku mau bilang sesuatu. Ini soal kandidat tim kreatif. Kau harus dengar."

  Tapi Ace sudah menjauh, menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Selena. Ada apa?"

  Theo melotot tak percaya. "Serius? Lagi-lagi Selena? Apa di otaknya cuma ada perempuan?"

  "Ya begitulah dia," gumam Vin pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

  Tak lama kemudian, Ace kembali menghampiri mereka. Tapi kali ini raut wajahnya berubah. Serius. Tegang.

  "Aku harus pergi sekarang. Ada urusan darurat. Kalian balik ke kantor naik taksi saja," katanya singkat sambil meraih jaket.

  Theo berdiri setengah bangkit. "Apa-apaan ini, Ace? Kita belum bicara soal-"

  "Lain kali, Theo. Maaf," potong Ace cepat. Ia tak menunggu jawaban, langsung melangkah keluar kafe, meninggalkan kedua temannya.

  Pintu kaca menutup perlahan. Hening.

  Theo mendengus keras dan menjatuhkan tubuhnya kembali ke kursi. "Aku muak dengan gaya hidup ala drama televisi dia. Selalu ada urusan darurat, tapi tak pernah ada komitmen kerja."

  Vin menghela napas panjang, mencoba mengatur ulang semangatnya yang tadi melonjak.

  "Yah... kalau begitu, aku ceritakan padamu saja."

  "Ada apa?" kata Theo lemas. "Mungkin cerita bagus bisa membuatku lupa bahwa kita punya atasan yang lebih sering hilang daripada hadir."

  Vin mencondongkan tubuh ke depan, menatap Theo dengan sorot serius.

  "Aku barusan melihat desain papan promosi kafe ini. Sumpah, Theo. Itu karya tangan dingin. Punya karakter, punya emosi. Bukan desain instan dari template online."

  Theo menaikkan alis, sedikit penasaran. "Lalu?"

  "Lalu aku memintanya mengantarkan surat lamaran ke kantor kita. Minggu ini kita harus mewawancarainya," lanjut Vin sambil mengarahkan pandangan ke meja barista. "Itu dia orangnya. Yang berdiri di sana. Namanya Felisha."

  Theo menoleh ke arah yang ditunjuk. Di balik mesin espresso, gadis berambut pirang itu terlihat serius meracik kopi, sesekali tersenyum kecil pada pelanggan.

  "Dia?" tanya Theo ragu. "Seorang pelayan kafe? Kau mau rekrut dia jadi tim kreatif perusahaan kita?"

  Vin mengangguk mantap. "Ya. Karena bakat tidak mengenal tempat. Dan orang ini... aku yakin sekali, dia punya insting visual yang lebih tajam dari separuh orang yang kita wawancarai kemarin."

  Theo terdiam sejenak. Masih belum sepenuhnya yakin, tapi rasa penasaran mulai mengusik.

 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Sherly Monicamey
sebenarnya sifat si ace ini disebabkan karena ayahnya yg selingkuh. sengaja dia
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 149

    Sesampainya di kamar kecil—yang ukurannya sama sekali tidak kecil—Ace menutup pintu dan mengurung dirinya bersama Felisha di dalam sana. Tak ada kata-kata, hanya rangkaian tindakan yang cepat dan tanpa ragu. Dalam satu gerakan sigap, ia mengangkat tubuh Felisha dan mendudukkannya di atas marmer wastafel yang panjang dan dingin. Felisha terperanjat. “Apa yang kau—” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tangan Ace sudah lebih dulu mengangkat ujung gaunnya hingga kedua pahanya terbuka. Sentuhan kulit pria itu membuat Felisha bergidik sebelum ia sadar dan kembali menegurnya. “Kau mau apa?! Turunkan aku!” ucapnya tegas, mendorong bahu Ace dengan kedua tangannya. Namun pria itu sama sekali tak bergeser. Rasanya seperti mendorong tembok kokoh yang tak mungkin runtuh. Ace hanya diam, menatap mata Felisha yang penuh kebingungan. Ibu jarinya perlahan mengusap bekas luka di lutut gadis itu. “Hanya ingin membersihkan lukamu,” ujarnya akhirnya. Suaranya tenang, dalam—seolah kegelis

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 148 - Merah Yang Menggoda

    Sesampainya di kamar kecil—yang ukurannya sama sekali tidak kecil—Ace menutup pintu dan mengurung dirinya bersama Felisha di dalam sana. Tak ada kata-kata, hanya rangkaian tindakan yang cepat dan tanpa ragu. Dalam satu gerakan sigap, ia mengangkat tubuh Felisha dan mendudukkannya di atas marmer wastafel yang panjang dan dingin. Felisha terperanjat. “Apa yang kau—” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tangan Ace sudah lebih dulu mengangkat ujung gaunnya hingga kedua pahanya terbuka. Sentuhan kulit pria itu membuat Felisha bergidik sebelum ia sadar dan kembali menegurnya. “Kau mau apa?! Turunkan aku!” ucapnya tegas, mendorong bahu Ace dengan kedua tangannya. Namun pria itu sama sekali tak bergeser. Rasanya seperti mendorong tembok kokoh yang tak mungkin runtuh. Ace hanya diam, menatap mata Felisha yang penuh kebingungan. Ibu jarinya perlahan mengusap bekas luka di lutut gadis itu. “Hanya ingin membersihkan lukamu,” ujarnya akhirnya. Suaranya tenang, dalam—seolah kegelisa

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 147 - Lilitan

    Ponsel Felisha yang ikut terempas ke lantai masih berdering tanpa henti. Namun gadis itu tak mampu menjawabnya—bahaya sudah berdiri tepat di hadapannya. Dengan kaki gemetar, ia beringsut mundur, berusaha menjauh dari Guan yang menutup pintu dengan wajah murka, jelas berniat menyiksanya lagi.“Berikan kartunya!” gertak Guan berang. Suaranya menggelegar, menyerupai auman singa yang siap menerkam.Refleks, Felisha mendekap tas ke dadanya. Melihat itu, Guan bergerak cepat—terlalu cepat—merebut tas tersebut dari pelukannya.Uang Felisha memang tak banyak lagi. Ia bahkan belum sempat melakukan transaksi dengan pembeli mantel milik Bonita. Namun setidaknya, di dalam tas itu masih tersisa beberapa lembar uang untuk bertahan hidup hingga bulan depan. Ia tak bisa membiarkan Guan merampasnya juga.“Kembalikan! Biar aku saja yang ambil uangnya nanti!” teriak Felisha panik sambil berusaha merebut tas itu sekuat tenaga.Namun Guan tak memberinya kesempatan. Ia menarik tas itu dengan kasar hingga tu

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 146 - Gaun Merah

    Hari kedua pengerjaan proyek yang tertunda hampir setahun itu akhirnya berjalan lancar, meskipun sosok Vin-ketua tim sebenarnya-masih belum hadir dan sama sekali tidak mengetahui perkembangan pekerjaan tersebut. Menjelang jam istirahat, seluruh anggota tim tampak bekerja serius, mengikuti arahan yang sebelumnya diberikan Ace dari ruangannya sendiri. Itu adalah permintaan Felisha; ia tidak ingin orang-orang curiga jika Ace terlihat terlalu sering berada di ruangan Vin.Alhasil, setiap kali ada bagian yang perlu dipastikan, Haruto lah yang bolak-balik mengonfirmasi ke ruangan Ace. Dan setiap kali kembali, ekspresinya selalu sama-sumringah seperti baru bertemu idolanya."Padahal Tuan Ace sedang rapat dengan kepala tim kreatif lain," ucap Haruto sambil menahan tawa girang. "Tapi beliau tetap tidak menunda sesi konseling denganku. Ah, Tuan Ace itu... benar-benar seorang panutan! Sepertinya aku harus pasang posternya di kamarku nanti!""Tuan Ace bakal geli kalau tahu itu," sahut Eric asal,

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 145 - Yang Tertinggal

    Tubuh Felisha sontak menegang, terkejut karena ciuman mendadak itu. Ia bisa merasakan luapan hasrat yang selama ini Ace pendam—kerinduan yang begitu dalam, seolah telah menumpuk lama di dadanya. Namun di saat bersamaan, rasa khawatir menyambar benaknya. Bagaimana jika ada yang melihat? Rekan kerjanya bisa kembali kapan saja.Dengan panik, Felisha mendorong dada Ace hingga ciuman itu terlepas.Raut Ace seketika berubah beringas, napasnya memburu, matanya masih penuh keinginan. Ia hendak kembali mencium Felisha, namun gadis itu cepat-cepat menutup bibir Ace dengan kedua telapak tangannya.“Apa yang kau lakukan? Kalau ada yang lihat lagi, bagaimana?!” desis Felisha, napasnya tersengal.Ace menggenggam tangan Felisha perlahan, menurunkannya dari bibirnya. Dahinya berkerut kesal.“Mereka tidak akan kembali secepat itu,” ucapnya mantap.“Tetap saja… kita harus berhati-hati,” tutur Felisha pelan.Ace menghembuskan napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan tatapan kosong. Raut k

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 144 - Panggil Namaku

    Meskipun Felisha memang sempat marah pada Ace karena peringatan yang diberikan oleh penggemar berat pria itu, ia tahu bahwa kejadian tadi bukan sepenuhnya kesalahan Ace. Ia harus mengakui, ancaman dari wanita gila tersebut memang memengaruhi suasana hatinya terhadap Ace.Namun ia bingung, bagaimana Ace bisa tahu ia sempat marah? Felisha justru yakin sebelumnya bahwa Ace-lah yang kecewa padanya.“Aku tidak marah, kok,” ucapnya jujur.Ace menaikkan sebelah alis, jelas tidak percaya.“Lalu kenapa kemarin kau tidak mengabariku setelah pulang dari apartemenku?”Sekarang giliran Felisha yang menaikkan alis, heran. “Kupikir justru kau yang marah. Kau pergi begitu saja saat aku mandi.”“Kau tidak membaca surat yang kutinggalkan?”Felisha mendesah pendek. “Menurutmu, surat itu cukup untuk meyakinkanku bahwa semuanya baik-baik saja? Aku tidak berani menghubungimu. Kupikir kau kecewa karena aku mengacaukan malam itu gara-gara salah minum!”Mendengar itu, tawa Ace hampir pecah, tapi ia segera men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status