Masuk“Hati-hati, Mass.”Zalina mengantar Naradhiya sampai ke depan pintu, setelah mobil lelaki itu sudah tidak terlihat lagi, barulah ia masuk ke dalam rumah. Bi Sumi sudah berada di laundry area, sedangkan ia melangkah masuk ke dalam ruang kerja suaminya untuk membersihkannya.Sesuatu yang dulu sering ia lakukan ketika Naradhiya pergi ke kantor dan dirinya tidak bekerja. Beberapa berkas berserakan di atas meja, Zalina menghela napas panjang lalu mengumpulkannya dan menjadikan satu. Namun, kening Zalina berkerut ketika melihat satu lembar kertas yang berbeda.“Apa ini?” Zalina meraih kertas itu lalu membacanya dengan seksama.Kasus kecelakaannya Ny.Zalina.Zalina meremas kertas itu, ia memang sudah tahu kalau ada tersangka lain yang menabraknya, tapi tulisan di kertas itu membuat tangannya bergetar. Terduga salah satu tersangka adalah anak dari anggota DPR Hadi Raharjo. Lalu ingatannya kembali pada saat mereka ke rumah sakit. “Hadi Raharjo?” gumam Zalina sendiri.Lalu Zalina mencari kert
“Lama nggak ketemu.”Naradhiya menyalami lelaki di depannya. Namanya Fahrezi, teman lama Naradhiya yang pernah bekerja dengan Hadi Raharjo. Ia sengaja bertemu dengan lelaki ini di tempat yang menurutnya aman agar tidak terlihat oleh orang-orang suruhan Hadi Raharjo.“Duduk, Rez. Aku ada kepentingan denganmu,” kata Naradhiya memulai.Dari ekspresi Fahrezi yang tidak terkejut sama sekali, Naradhiya bisa menebak kalau temannya itu sudah tahu tujuannya mengajak bertemu. Fahrezi menyandarkan punggungnya ke kursi, ia mengetuk pelan permukaan meja sebelum akhirnya tersenyum tipis.“Soal Hadi Raharjo, kan?” tebaknya santai, seolah pertanyaan itu sudah lama ia siapkan jawabannya.Naradhiya tidak terkejut mendengar tebakan itu, tapi tetap saja ada sesuatu yang membuat dadanya sedikit berdegup lebih cepat. “Kamu masih sekontak sama orang dalam?”“Nggak langsung,” jawab Fahrezi, nadanya lebih hati-hati sekarang. “Tapi aku masih dengar kabar-kabar dari orang-orang yang dulu pernah kerja bareng aku
"Kamu masih inget saya, kan?"Suara di seberang telepon terdiam sejenak sebelum tawa pelan terdengar, tawa yang penuh arti, seolah sudah menduga panggilan ini akan datang cepat atau lambat."Nara." Suara itu akhirnya menyahut, santai. "Sudah berapa tahun kita nggak kontak? Tiba-tiba nelpon, pasti ada udang di balik batu.""Saya butuh bantuan," jawab Naradhiya langsung, tidak ingin membuang waktu dengan basa-basi yang tidak perlu. "Soal keluarga Hadi Raharjo.”Hening sesaat. Cukup lama hingga Naradhiya hampir mengira sambungan terputus, sebelum akhirnya suara di seberang kembali terdengar, kali ini jauh lebih serius."Kamu tau risikonya tanya soal itu ke saya?""Saya tau," jawab Naradhiya tegas. "Tapi saya juga tau, cuma kamu yang bisa kasih saya jawaban yang selama ini saya cari."Lagi-lagi orang di sambungan telepon tidak langsung menyahut, tapi kali ini terasa berbeda, seperti seseorang sedang menimbang-nimbang seberapa jauh ia rela terlibat dalam urusan yang sudah lama ia tinggalka
“Saya sudah memperingatkan Anda, Pak Nara. Mereka nggak akan tinggal diam kalau ada yang mengusik keluarga mereka. Dan … yang saya tahu mereka sengaja membersihkan nama anaknya karena ingin menjadi penerus di kabinet dan partai.”Naradhiya menahan napas sejenak, tidak heran kalau hukum di negeri ini memang bisa dibeli dengan jabatan. Tapi ia tidak menyangka kalau sampai menghancurkan pekerjaannya. Nasib ratusan karyawan di tangannya, keadilan Zalina juga. “Pak Nara, saya cuma menyarankan agar sebaiknya Bapak berhenti sampai di sini. Yang penting Ibu Zalina aman, Pak. Kita nggak tahu apa yang akan mereka lakukan kalau Bapak meneruskan kasusnya,” imbuh Pak Yusi menasehati.Naradhiya masih belum menjawab. Pikirannya kalut, beban di pundaknya begitu berat. Zalina begitu penting, tapi banyak karyawan yang bergantung pada perusahaan yang kini diambang kerugian karena beberapa klien tiba-tiba mundur dengan alasan yang menurutnya tidak masuk akal.“Pak, Anda nggak bisa membantu saya?”Pak Yu
Pertanyaan Devan membuat suasana menjadi tegang dalam sekejap. Naradhiya melirik cepat ke arah Zalina, berharap istrinya tidak menangkap nada serius di balik pertanyaan sahabatnya itu.“Maksudnya gimana, Van?" Naradhiya mencoba menetralkan suasana, matanya memberi isyarat agar Devan tidak melanjutkan topik itu di depan Zalina. “Duduk dulu, kita lagi makan siang."Devan menangkap sinyal itu, tapi jelas sekali ia tidak bisa menyembunyikan ekspresinya yang masih panik. "Nggak, Na. Ini udah keterlaluan. Barusan aku dapet telepon dari dua klien lagi yang minta putus kontrak. Alasannya sama, nemuin masalah administrasi yang katanya bisa bikin proyek mereka kena masalah kalau lanjut sama kita.”"Masalah apa?" Zalina ikut bersuara, keningnya berkerut mendengar masalah yang terdengar begitu serius.Devan melirik Zalina sekilas, lalu kembali menatap Naradhiya, seolah meminta izin apakah boleh bicara lebih terbuka. Naradhiya menghela napas berat, merasa dirinya terjepit di antara dua pilihan yan
“Bukan urusanku?”Naradhiya bergumam sendiri, hampir saja ia melempar ponselnya. Jelas ini urusannya, urusan istrinya. Ia membela istrinya, bisa-bisanya orang itu mengatakan ini bukan urusannya.“Mas, ada apa?”Pertanyaan Zalina membuat Naradhiya mengerjap pelan lalu menoleh pada wanita yang menatapnya dengan kening berkerut. Naradhiya menggeleng pelan, meletakkan kembali ponselnya dengan layar menghadap ke bawah. Ia tidak ingin Zalina khawatir dengan apa yang sedang dihadapinya.“Beneran nggak apa-apa, Mas?” Zalina mencondongkan tubuh, tangannya terulur menyentuh lengan suaminya. “Dari tadi wajah Mas kayak nahan sesuatu.”“Cuma pesan spam, Sayang.” Naradhiya memaksakan senyum, berusaha membuat suaranya terdengar sewajar mungkin meski jantungnya masih berdegup kencang. “Akhir-akhir ini banyak banget yang kirim penawaran aneh-aneh ke nomor kantor.”Zalina menatapnya lama, tidak sepenuhnya percaya, tapi memilih untuk tidak memaksa. Ia sudah belajar, sejak sadar dari koma, bahwa Naradhiy







