Compartir

Takdir

Autor: Mumtaza wafa
last update Fecha de publicación: 2026-10-15 23:39:18

“Jantungnya sempat berhenti dua kali? Maksud Dokter apa? Anak saya masih hidup, kan?!”

Raungan suara Hadi Raharjo terdengar sampai ke ujung lorong rumah sakit, disusul tangisan sang istri yang langsung pecah dan histeris. Wanita paruh baya itu ambruk ke lantai keramik yang dingin, sebelum dua ajudan wanita bergegas menahan tubuhnya agar tidak terhempas lebih parah. Ratapan seorang ibu yang hancur berkeping-keping itu terdengar telinga Nakara, membuat pemuda itu mematung di samping bangku tunggu
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Yang Terbaik

    “Jangan sentuh saya! Jangan bawa anak saya!”Zalina menjerit dengan sisa tenaga yang ia miliki saat dua perawat mulai mendekat ke sisi ranjang. Tubuhnya beringsut mundur, tangannya meraba dan mencengkeram erat pakaian Naradhiya, memohon perlindungan dari kenyataan pahit yang hendak merenggut harapannya. Keringat dingin membasahi pelipisnya yang pucat, berbaur dengan lelehan air mata yang tak henti-hentinya mengalir.“Bu Zalina, tarik napas pelan-pelan ya, Bu,” bujuk Dokter Sarah dengan suara selembut mungkin. Tangannya terulur menahan bahu Zalina yang berguncang hebat. “Kami bantu Ibu supaya rasa sakitnya hilang. Pendarahannya harus segera ditangani.”“Nggak mau! Mas Nara, tolongin aku, suruh mereka keluar!” seru Zalina parau, pandangannya beralih menatap suaminya dengan tatapan hancur berkeping-keping. “Kita pulang aja, Mas. Aku janji bakal tidur terus, aku nggak akan jalan-jalan lagi, tolong jangan biarkan mereka ambil anak kita.”Naradhiya memejamkan mata rapat-rapat, dadanya sesak

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Kehilangan

    “Pendarahannya semakin banyak, Pak Naradhiya. Kita nggak bisa tunda lagi.”Dokter Sarah menjelaskan dengan begitu tenang, namun tidak dengan Naradhiya. Pria itu berdiri di depan meja konsultasi ruang dokter kandungan. Kemeja kerjanya yang masih kusut menempel di tubuhnya yang dingin oleh keringat. Ia bahkan tidak ingat bagaimana caranya membelah kemacetan kota dari kantor menuju rumah sakit tadi, yang tersisa di kepalanya hanyalah kepanikan buta.“Maksud Dokter, anak saya?” Naradhiya tidak mampu meneruskan ucapannya. Dokter Sarah menghela napas panjang, lalu menyodorkan lembaran hasil USG terbaru yang baru saja dicetak setengah jam lalu. Garis hitam-putih di atas kertas licin itu tampak buram, namun lingkaran kecil di tengahnya terlihat dikelilingi bercak cairan gelap yang meluas.“Kantung kehamilannya sudah terlepas sebagian dari dinding rahim,” tutur Dokter Sarah dengan tatapan simpati. “Detak jantung janin tetap tidak terdeteksi. Tubuh Bu Zalina sedang berusaha meluruhkan jaringan

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Mengalahkan

    “Apa yang mereka katakan?” tanya Naradhiya begitu bertemu dengan Devan esok paginya.Penampilan tidak begitu rapi karena dari rumah sakit langsung ke kantor. Naradhiya tidak memiliki banyak waktu untuk mampir ke rumah lebih dulu. Ia menatap Devan dan Nesya bergantian, meminta penjelasan tentang apa yang dilayani Devan di sambungan telepon semalam.“Aku sudah mencabut semua penyelidikan tentang Arash. Lagipula, anak itu sedang dirawat di rumah sakit karena kecelakaan,” imbuh Naradhiya membuat kedua temannya terkejut.“Kecelakaan?” Devan mengerutkan keningnya.Naradhiya menganggukkan kepalanya. “Kecelakaan tunggal, menabrak pembatas jalan.”“Lalu kenapa mereka masih mengincar kamu, Na?” Kali ini Nesya ikut mengangkat suara.Naradhiya menatap wanita itu, meski masih merasa kesal dengan pertemuan Nesya dan mamanya, juga aduan gadis itu tentang kasus yang sedang ia hadapi, tapi di kantor ini mereka rekan kerja. Ia melupakan sejenak masalah mereka.“Aku nggak tahu.”Naradhiya menarik kursi

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Perjanjian

    “Za, kamu hampir kehilangan nyawa, dan sekarang anak kita lagi dipertaruhkan di dalam perutmu. Menurut kamu pantas Mas mikirin cemburu saat ini?”Senyum Zalina perlahan menghilang, tatapan Naradhiya itu tidak lagi hangat seperti beberapa menit lalu. Ada lelah yang di matanya.Zalina menelan ludah, tautan tangan mereka terasa berbeda. “Mas, aku cuma bercanda biar suasana nggak tegang.”“Mas nggak lagi pengen diajak bercanda soal orang itu, Za,” sahut Naradhiya dingin. Ia tidak melepaskan tangan Zalina, justru menggenggamnya semakin erat, seolah ingin menegaskan batas yang tidak boleh dilanggar. “Terserah kalau kamu mau anggap dia korban. Tapi buat Mas, dia tetap orang yang bikin hidup kamu berantakan. Mas nggak bisa pura-pura kasihan sama dia di saat Mas sendiri harus putar otak biar kamu dan anak kita tetap selamat malam ini.”Nakara dan Widya saling lirik, menyadari hawa dingin yang mendadak kembali menyergap bilik VIP tersebut. Nakara buru-buru menunduk, tidak berani bersuara sediki

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Nggak Lagi Cemburu?

    “Ka? Ada apa?” tanya Zalina ketika melihat wajah adiknya yang puas datang bersama suaminya.Nakara tersenyum kaku, lalu menggeleng pelan. “Nggak ada apa-apa, Kak.”Zalina memicingkan matanya, menatap Naradhiya dan Nakara bergantian. “Kalian sedang menyembunyikan sesuatu?”Tidak ada yang menjawab, sampai akhirnya Widya ikut menoleh. Ia menatap anak bungsunya, tidak biasanya murung seperti ini. Walaupun tidak dapat uang jajan seminggu, Nakara tidak pernah terlihat seperti itu.“Ka, sesuatu terjadi?”Nyatanya firasat orang tua lebih kuat dari apapun. Nakara menunduk, melangkah mendekati Widya lalu bersimpuh di dekat kaki ibunya.“Bu, maafin Naka.”Widya mengerutkan keningnya, tampak heran dengan sikap anaknya yang tiba-tiba berubah. “Ada apa? Kamu nggak menghamili anak gadis orang kan?”“Ibu!” Bukan hanya Nakara, tapi Zalina dan Naradhiya ikut berseru.“Habisnya kamu tiba-tiba sujud begitu kayak abis bikin aib sekampung,” gerutu Widya pelan, meski masih ada rasa cemas yang sama sekali ti

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Takdir

    “Jantungnya sempat berhenti dua kali? Maksud Dokter apa? Anak saya masih hidup, kan?!”Raungan suara Hadi Raharjo terdengar sampai ke ujung lorong rumah sakit, disusul tangisan sang istri yang langsung pecah dan histeris. Wanita paruh baya itu ambruk ke lantai keramik yang dingin, sebelum dua ajudan wanita bergegas menahan tubuhnya agar tidak terhempas lebih parah. Ratapan seorang ibu yang hancur berkeping-keping itu terdengar telinga Nakara, membuat pemuda itu mematung di samping bangku tunggu.Sempat berhenti dua kali.Ucapan dokter jaga itu berputar bagai dengungan lebah di dalam kepala Nakara. Seandainya sore tadi ia tidak mengamuk di kafe, seandainya kepalan tangannya tidak mendarat telak di rahang Arash, apakah pemuda itu akan memacu motornya sebuas itu menembus jalan layang? Rasa bersalah mengoyak batin Nakara, membuatnya mual dan kesulitan meraup oksigen.“Lakukan operasi sekarang juga!” bentak Hadi dengan urat-urat pelipis yang menonjol tegang. Matanya merah menyala menatap

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status