Share

Tuntutan Praja

Author: Mumtaza wafa
last update publish date: 2026-10-10 22:47:14

“Saya menghentikan kasusnya,” kata Naradhiya akhirnya pada Pak Yusi.

Setelan satu Minggu pembicaraannya dengan Zalina, akhirnya Naradhiya memutuskan untuk berhenti mencari tahu tentang keluarga Arash. Meski faktanya ia sudah tahu siapa dalang utama kecelakaan itu. Mengalah bukan karena dirinya kalah, melainkan demi ratusan karyawan yang bernaung di perusahaannya, juga demi Zalina.

Pak Yusi menatap Naradhiya tidak percaya, sempat ragu apakah benar Naradhiya akhirnya mengalah, atau lelaki di depa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Rumah Sakit Lagi

    “Shit!”Naradhiya hampir saja melempar ponselnya. Tanpa menoleh kembali pada kedua temannya, ia bergegas menuju rumah sakit yang sempat disebutkan oleh adik iparnya di sambungan telepon tadi.Beberapa hari ini memang Zalina terlihat kurang sehat. Mungkin kepikiran dengan masalah Naradhiya dan semua yang menimpanya. Padahal, dokter melarangnya stres karena mereka sedang melakukan program hamil.“Maafkan aku, Za.”***Naradhiya sampai di rumah sakit yang dituju setengah jam kemudian setelah bertempur dengan kemacetan ibu kota yang padat. Ia berlari menuju IGD, Nakara memang mengatakan kalau Zalina ada di ruangan itu.“Zalina!” seru Naradhiya mencari keberadaan istrinya sampai membuat beberapa pengunjung menoleh padanya heran.“Mas Nara?” Kepala Nakara menyembul dari balik tirai. Gegas, Naradhiya melangkah ke sana, menyibak tirai hijau dan melihat istrinya yang terbaring lemas dengan mata terpejam. Ia mendekat, mengelus kepala Zalina lembut dan mencium keningnya lama.“Kata Bi Sumi, tib

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Yang Disembunyikan Nesya

    “Na, kamu sudah makan ….”“Apa yang kamu rencanakan, Nes?”Naradhiya tidak menunggu Nesya melanjutkan ucapannya dan langsung menodong wanita itu dengan pertanyaan yang membuat Nesya dan Devan menatapnya heran.“Apa maksud kamu, Na?” tanya Nesya dengan kening berkerut.Lelaki itu baru saja tiba di kantor dan tiba-tiba saja menodongnya dengan pertanyaan yan dirinya saja tidak paham apa maksudnya. Wajah Naradhiya tampak menegang, tanda kalau lelaki itu sedang marah.“Jangan pura-pura bodoh, Nes. Kamu bertemu dengan mamaku dan mengadukan apa yang terjadi di kantor kita padahal itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan mereka, dan kamu membawa-bawa nama Zalina sampai mereka menyalahkan istriku,” jawab Naradhiya dengan seringaian tipis. “Jujur sama aku, Nes. Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan?”Naradhiya bisa melihat raut canggung dan gugup di wajah Nesya. Wanita itu meremas sendok di tangannya, dan menggigit bibir bawahnya, gestur yang cukup Naradhiya hafal kalau wanita itu seda

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Tuntutan Praja

    “Saya menghentikan kasusnya,” kata Naradhiya akhirnya pada Pak Yusi.Setelan satu Minggu pembicaraannya dengan Zalina, akhirnya Naradhiya memutuskan untuk berhenti mencari tahu tentang keluarga Arash. Meski faktanya ia sudah tahu siapa dalang utama kecelakaan itu. Mengalah bukan karena dirinya kalah, melainkan demi ratusan karyawan yang bernaung di perusahaannya, juga demi Zalina.Pak Yusi menatap Naradhiya tidak percaya, sempat ragu apakah benar Naradhiya akhirnya mengalah, atau lelaki di depannya ini sedang merencanakan sesuatu.“Pak Nara ….”“Bukannya ini yang Anda inginkan, Pak?”Helaan napas lolos begitu saja dari mulut Pak Yusi, ia merasa lega kliennya akhirnya mundur, tapi ia juga merasa iba melihat perjuangan Naradhiya yang akhirnya harus berhenti di tengah jalan, bahkan ketika istrinya belum mendapatkan keadilan. Tapi memang tidak ada cara aman lain selain mengakhiri kasus ini.“Saya ikut prihatin atas apa yang menimpa Anda, Pak Nara. Tapi bukan keinginan saya agar Anda mundu

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Demi Kamu

    “Maafkan aku, Za. Maafkan aku,” ucap Naradhiya dengan suara pecah. Setitik air mata akhirnya lolos dari pelupuk mata pria itu, jatuh ke pundak Zalina. “Maaf karena aku meragukan kamu. Maaf karena Mas selalu bikin kamu merasa sendirian.” Zalina membenamkan wajahnya di dada bidang Naradhiya, tangannya perlahan melingkari pinggang sang suami, meremas kemeja pria itu seraya meluapkan seluruh ketakutan yang sejak siang menghimpit jiwanya. “Jangan mati, Mas.” Zalina memohon di sela tangisnya. “Aku mohon, jangan tinggalkan aku sendirian.” Naradhiya memejamkan mata rapat-rapat, mencium pelipis istrinya. “Mas nggak akan ke mana-mana, Za. Mas janji.” “Aku mohon hentikan semuanya, Mas. Demi kamu, perusahaanmu, dan demi kita.” Zalina mengurai pelukannya sembari menatap Naradhiya memohon. Naradhiya tidak langsung menjawab. Masih sulit rasanya melepas pelakunya begitu saja meski ada rasa bimbang di hatinya. Sejujurnya, dari kecelakaan ini ia juga mendapatkan keuntungan, apalagi setelah Zalina h

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Untuk Apa?

    “Mas, aku ….”“Jawab aku, Za. Dari mana kamu tahu?”Zalina menelan ludahnya susah payah, menatap suaminya ragu sampai akhirnya ia menghela napas panjang. “Aku lihat di atas meja kerja kamu, Mas,” jawab Zalina akhirnya.Naradhiya tidak langsung menjawab, ia menatap Zalina dalam diam sampai akhirnya teringat sesuatu. Ia jadi menyesal karena meninggalkan beberapa berkas miliknya yang berserakan di atas meja kerjanya. Kebiasaan Zalina, selalu membersihkan ruangannya kalau dirinya sedang pergi bekerja.“Kamu lihat apa, Za?” tanya Naradhiya, kali ini lebih mengintimidasi istrinya.Sejujurnya Naradhiya terlalu takut kalau Zalina terlibat di dalam rencananya. Ia tidak mau membahayakan istrinya, apalagi kalau sudah berurusan dengan Hadi Raharjo.“Aku cuma lihat nama Hadi Raharjo dan … Arash.” Zalina sedikit terbata ketika mengucapkan nama pemuda itu.Hening.Entah karena mood-nya yang sedang tidak bagus atau efek kelelahan dengan pekerjaan dan kasus yang tidak kunjung kelar karena dihambat, Na

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Berhenti, Mas!

    “Jangan sentuh dia, Pa!” sentak Arash seraya menepis cengkeraman tangan ayahnya sekuat tenaga.Napas Arash memburu, dadanya naik-turun menahan marah, juga rasa perih di sudut bibirnya yang mulai mengeluarkan darah. Matanya memerah, menatap pria berjas rapi di hadapannya bukan lagi sebagai seorang ayah, melainkan monster bertopeng manusia yang sanggup melindas siapa saja demi kursi kuasa.“Mbak Zalina nggak tahu apa-apa!” lanjut Arash menatap nyalang Hadi. “Dia korban di sini! Hidupnya hampir tamat gara-gara kebodohanku dan ketamakan Papa!”Hadi tidak terpancing. Ia melangkah santai menuju meja kerjanya, menarik selembar tisu basah dari kotak kayu berukir, lalu mengelap bekas noda darah di jarinya seolah darah anaknya sendiri seperti najis yang harus segera dibersihkan. Setelahnya, a meremas tisu itu dan melemparnya ke tempat sampah di sudut ruangan.“Justru karena dia korban, dia berbahaya,” tukas Hadi datar. “Perempuan itu mulai mengingat hal-hal yang harusnya terkubur bersama mobiln

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status