Beranda / Rumah Tangga / Aku Madu Kembaranku / Bab 3 Talak dan Pernikahan

Share

Bab 3 Talak dan Pernikahan

Penulis: Nanitamam
last update Tanggal publikasi: 2023-06-22 13:18:42

 Tania membantu Rania bangun dari sujudnya setelah melihat Paman Burhan. Wajahnya merah menandakan jika dia sedang marah besar. Mereka yakin, Paman Burhan pasti sudah salah paham terhadap Tania. 

   Rania menyeka air matanya lalu menghampiri pamannya tersebut. Dia mencium punggung tangan Paman Burhan lalu memeluknya erat. Tania mengambil barang bawaan Paman Burhan dan menaruhnya di dapur.

   "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa bersujud dikaki kakakmu?" tanya Paman Burhan setelah Rania mengajaknya duduk di sofa.

   "Paman salah paham. Semua bukan karena kak Tania. Tapi karena …. " Rania menyeka air matanya yang kembali turun. 

  Tania kembali dari dapur dengan membawa air untuk Paman Burhan. Dia sengaja duduk disamping Rania yang sedang menangis. Paman Burhan melihat wajah bingung begitu tercetak jelas dari raut Tania. 

  Dia meneguk habis air yang disuguhkan Tania. Setelah merasa emosinya reda, Paman Burhan kembali bertanya pada Tania dan Rania secara bergantian. Kali ini Tania yang menceritakan maksud kedatangan Rania. 

   "Ya Allah. Malang sekali nasib kamu, Rania," ucap Paman Burhan sendu. "Lalu apa keputusan kamu sekarang, Tania?" Paman Burhan menengok ke arah Tania yang juga terlihat sedih. 

   "Tania bingung Paman. Bagaimana mungkin Tania menikah dengan adik ipar Tania sendiri? Lagipula Tania yakin, Malik pasti tidak akan setuju dengan ide Rania," jawab Tania. 

   Kring! Kring! 

  Ponsel Rania berdering disaat suasana hening. Ternyata Malik menelpon Rania, mencari keberadaannya yang hilang tiba-tiba. Rania menghela napas panjang lalu menjawab telepon Malik. 

  Terdengar nada cemas dan frustasi Malik dari sebrang telepon. Rania meminta Malik agar segera menyusulnya ke desa sekarang juga. Tania memijit keningnya yang terasa berdenyut pusing. Dia begitu dilema mendengar permintaan adiknya tersebut. 

   "Jadi Tania harus bagaimana Paman?" tanya Tania meminta masukan dari Paman Burhan. 

  "Kamu harus menolong Rania! Kamu tahu dia sedang sakit. Paman takut, kondisi Rania semakin drop jika terus memikirkan masalah pernikahan dan mertuanya," saran Paman Burhan. 

   "Lalu bagaimana jika Malik menolak?" tanya Tania lagi. 

   "Masalah Malik biar aku yang urus. Asalkan kakak setuju. Itu sudah cukup bagiku." Rania membaringkan kepalanya dipangkuan Tania. 

   "Aku lelah, Kak. Biarkan aku sejenak tidur dipangkuanmu," pinta Rania. 

  Hati Tania mencelos sakit mendegar ucapan adiknya. Kenapa takdir begitu kejam padanya? Rania memiliki mertua yang kejam dan sekarang Allah juga mengujinya dengan penyakit yang berbahaya.

  Rania tertidur diatas paha Tania. Tangan kakaknya yang lembut membuatnya begitu merasa aman dan nyaman. Rania pun tertidur dipangkuan kakak kembarnya. Setelah Satu jam lebih menunggu, akhirnya Malik datang dengan wajah cemas dan panik. 

   "Mas Malik!" panggil Rania pelan saat melihat Malik sudah berada didepan matanya.

  Malik langsung merengkuh Rania Kedalam pelukannya. "Kenapa kamu pergi meninggalkan rumah sakit begitu saja? Kamu tahu, Mas begitu panik saat melihat ruangan kosong dan ceceran darah di lantai." 

   "Maaf Mas, sudah membuat kamu cemas," jawab Rania. "Mas ada hal yang ingin aku minta padamu." 

  "Sebaiknya aku pergi ke belakang dulu." Pamit Tania. Tidak ingin mengganggu pasangan suami istri itu bicara serius. Meskipun dalam hatinya, Tania juga penasaran dengan keputusan Malik nanti.

   "Apa itu sayang?" tanya Malik dengan nada bicara yang begitu lembut begitu Tania sudah meninggalkan mereka.

   "Mas mau 'kan menikah dengan Kak Tania? Aku tidak rela Mas menikah dengan wanita lain," ujar Rania. Membuat Malik langsung syok.

  "Kenapa kamu tiba-tiba meminta hal yang tidak masuk akal itu?" Malik balik bertanya dengan nada sedikit geram.

   Rania memberitahu Malik, jika Bu Fatma meminta Rania pergi meninggalkanya. Dia sudah mencarikan wanita lain sebagai pengganti dirinya. Malik semakin terkejut mendengar semua ucapan Rania. Tubuhnya seketika merosot ke belakang sofa sambil mengusap kasar wajahnya.

   Malik  tidak menyangka jika ibunya tega melakukan hal tersebut padanya. Ditambah lagi kondisi Rania yang tengah sakit dan harus menjalani operasi secepat mungkin. Malik terduduk di sofa dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

   "Kita bisa melewati ini bersama. Aku tidak mungkin menikah dengan wanita lain. Aku sangat mencintai kamu, sayang," ucap Malik. 

   "Aku tahu Mas. Tapi hanya ini satu-satunya cara untuk mempertahankan rumah tangga kita. Wajah kak Tania sangat mirip denganku. Aku yakin, mama tidak akan mencurigainya," terang Rania berusaha meyakinkan suaminya. 

   "Tapi tetap saja aku tidak bisa melakukannya. Bagaimana mungkin aku menikah dengan Tania? Bertemu saja kami baru dua kali," tolak Malik. 

  "Mas, aku tahu hidupku tidak akan lama lagi. Walaupun demikian, aku tidak rela jika kamu menikah dengan wanita lain. Aku yakin, Kak Tania adalah wanita yang tepat untuk menjadi istrimu. Dia wanita sehat dan bisa memberimu keturunan." 

   Rania bersujud dibawah kaki Malik, meminta sang suami untuk mau menerima permintaannya. Mali semakin tertekan dengan keadaan yang diluar dugaannya. Rumah tangga mereka yang selama ini bahagia, harus mengalami hal yang begitu menyedihkan.

   Tania dan Paman Burhan ikut meneteskan airmata melihat kesungguhan Rania. Tania baru sadar jika tubuh adiknya begitu kurus. Tangannya mengepal kuat, Tania berjanji dalam hati akan membalas semua perbuatan Bu Fatma. 

   "Beri aku waktu untuk berpikir." Malik menghela napas, dia pergi keluar untuk menenangkan diri sejenak.

  Setengah jam kemudian. MMalik kembali masuk dan menemui Rania yang sedang menunggu keputusannya. Paman Burhan dan Tania juga sudah duduk mendampingi Rania. Malik menatap wajah Rani dan Tania satu persatu. Mereka memang berwajah mirip tapi tetap saja rasanya jauh berbeda.

  Jantung Malik bahagia saat melihat wajah Rania. Namun, dia merasa biasa saja saat melihat wajah Tania. Paman Burhan menepuk bahu Malik yang begitu tegang. 

  "Bagaimana Malik? Apa sudah kamu pikirkan baik-baik? Kamu tahu kan apa syaratnya sebelum pernikahan terjadi? Kamu harus menalak Rania lebih dulu," jelas Paman Burhan.

     "Sudah Paman. Saya menerima permintaan Rania untuk menikah dengan Tania. Tapi dengan catatan, kami akan bercerai setelah Tania berhasil hamil dan Rani sembuh," tawar Malik memberi sarat. Rania dan Tania sama-sama melongo mendengar sarat yang Malik ajukan. 

  "Aku setuju dengan saratnya," jawab Tania tegas. Dia hanya ingin menyelamatkan pernikahan adiknya. 

  "Tapi Kak …." Rania jelas keberatan. Bukan itu yang ada dalam pikirannya. Dia tidak ingin ada yang terluka suatu hari nanti.

  "Kakak yakin kamu pasti sembuh. Kakak akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia." 

  "Baiklah jika kalian sudah sepakat. Tapi kamu tahu kan Malik. Syarat yang harus kamu lakukan sebelum pernikahan itu bisa di laksanakan. Kamu harus memberi talak Rania," jelas Paman Burhna.

   "Rania Binti Larasati binti almarhum Zulvikar hari ini kamu saya talak satu," ucap Malik dengan nada suara berat dan mata berkaca-kaca. Rania menangis dipelukan Tania.

  Setelah berunding cukup lama. Akhirnya mereka sepakat melangsungkan pernikahan sore itu juga. Rania membantu Tania bersiap dengan sedikit memberi riasan. Sementara Paman Burhan menghubungi salah satu anggota keluarga mereka yang berprofesi sebagai penghulu.

  Rania mendandani Tania dengan sangat cantik. Sebisa mungkin menahan airmatanya untuk tidak jatuh. Sedangkan Tania terus menghela napas panjang dan berat. Pengorbanannya tidak seberapa dibanding beban yang Rania pikul.

  "Saya terima nikah dan kawinnya Tania Mahewari binti almarhum Zulvikar dengan mas kawin tersebut tunai." Malik membaca kabul dengan sekali helaan napas. 

  "Bagaimana saksi sah?" tanya Penghulu kepada saksi.

  "Sah," jawab para saksi kompak. 

   Rania melepaskan cincin nikah dari jarinya lalu menyerahkannya pada Malik. Tanpa bicara Malik bisa menebak isi pikiran istrinya itu. Tania menahan tangisnya agar tidak turun. Dia sangat yakin, jika hati Rania pasti sedang menangis pilu. 

  Malik meminta Tania mengulurkan tangan. Tangan Tania gemetar saat menerima cincin pernikahan milik adiknya. Matanya menatap sendu Rania, Rania menganggukkan kepala seraya mengulas senyum padanya.

  "Tania, kamu boleh mencium tangan pria yang sudah sah menjadi suami kamu," pinta pak penghulu. 

  Tania mengangkat tangan Malik dengan ragu-ragu kemudian menciummya. Bola mata Malik terus melihat kearah Rania penuh permohonan. Rania tersenyum pada Malik menandakan bahwa dirinya baik-baik saja. 

  Sungguh pemandangan dramatis bagi Paman Burhan. Dia harus menjadi wali nikah kedua kalinya untuk kedua keponakannya namun dengan lelaki yang sama. Setelah acara pernikahan selesai mereka mengadakan acara syukuran.

  "Kak, mulai hari ini aku titipkan Malik padamu," pinta Rania.

  "Maksudnya?" 

   "Aku akan tinggal bersama paman disini. Kakak harus pulang bersama Malik agar ibu mertuaku tidak curiga. Suasana desa sangat cocok untukku menenangkan diri." 

  "Tapi kamu harus menjalani operasi," potong Malik mengingatkan.

  "Beri aku waktu untuk berpikir Mas. Aku ingin menenangkan hati dan pikiranku dulu," tawar Rania. 

  Ketiganya duduk dengan wajah muram dan sedih. Mereka larut dalam perasaan dan pikiran yang berkecamuk. Sebagai seorang wanita normal, hati Rania tetap saja tergores melihat suaminya menikah lagi walaupun semua atas permintaannya. 

  Malamnya Malik dan Tania sudah bersiap untuk kembali ke kota. Tania terus memeluk erat Rania. Keduanya saling terisak dibalik tubuh yang mereka peluk. Paman Burhan memberi sedikit wejangan pada Malik agar bisa memperlakukan Tania sebagaimana mestinya. Malik merengkuh Rania kedalam pelukannya sebelum pergi.

   "Aku tunggu di mobil," ucap Tania. Paham jika Malik dan Rania butuh waktu berdua sebentar.

  "Jaga diri kamu baik! Telepon Mas setiap hari," ucap Malik pada Rania.

  "Iya Mas, aku tahu," jawab Rania. Suaranya berat dan bergetar.

  Malik melambaikan tangan sebelum masuk kedalam mobil. Rania dan Paman Burhan melambaikan tangan pada Malik. Tubuh Rania merosot kebelakang setelah mobil melaju pergi. 

  "Ya Allah, Rania." Paman Burhan berteriak panik karena tubuh Rania jatuh ke tanah

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 28. Pindah

    Bu Fatma memutus sambungan telepon dengan napas berburu dan mata menyala. "Aku tidak akan membiarkan penipu itu menikmati uangku! Semua hartaku harus kembali!" serunya histeris, menyapu pandangan ke sekeliling kamar yang kini terasa dingin.Malik menggelengkan kepala, ketidakpercayaan merayapi raut wajahnya. "Mas, menurut kamu apa Mama akan berubah setelah kejadian ini?" bisik Tania lirih seraya menyentuh lengan suaminya.Malik menghela napas panjang, menatap Tania dengan tatapan ragu. "Dia bukan tipe orang yang seperti itu, Sayang," balas Malik pelan. "Keangkuhannya sudah terlalu mengakar.""Setidaknya dia tahu jika wanita yang ingin dia jadikan menantu ternyata hanya mengincar hartanya saja," sahut Paman Burhan yang menyusul ke ambang pintu kamar bersama Rania.Tania terdiam beberapa saat, mencari kemungkinan apa yang akan dilakukan ibu mertuanya itu. Pikiran Tania melayang pada kerumitan watak manusia. Kenapa ada orang yang menilai latar belakang begitu penting demi status sosial

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 27. Murka

    Pintu depan membanting keras, menyisakan gema yang dingin di tengah ruang makan yang mendadak hening. Bu Fatma membeku di ambang pintu, napasnya memburu. Wajah yang beberapa menit lalu dipenuhi kesombongan, kini pucat pasi dan diliputi kehancuran.Para tamu keluarga besar mulai saling berbisik gemuruh. Tatapan yang tadinya mengagumi kemewahan acara, kini berganti menjadi tatapan sinis dan penuh cemooh yang tertuju lurus kepada Bu Fatma.“Jadi ini calon menantu idaman yang diagung-agungkan itu?” bisik salah seorang kerabat cukup keras, disusul gelengan kepala dari tamu lainnya.Bu Fatma membalikkan badan dengan tubuh gemetar. Matanya yang merah menatap proyektor yang masih menyala, lalu beralih pada Tania yang berdiri tenang di samping Paman Burhan. Senyum tipis Tania terasa bagai sembilu bagi Bu Fatma.“Rania... kamu... kamu sengaja mempermalukan Mama di depan semua orang?!” suara Bu Fatma melengking, berusaha mengalihkan rasa malunya dengan kemarahan.Malik melangkah maju, berdiri te

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 26. Terbongkarnya kejahatan Mely

    Malam yang dinanti tiba. Acara makan malam yang telah dirancang dengan begitu matang akhirnya digelar. Sejak sore, Bu Fatma tak henti-hentinya mengawasi persiapan, menata hidangan, dan memberi perintah pada para pekerja agar semuanya sempurna. Ia seolah lupa bahwa kemarin ia berpura-pura jatuh.Sementara itu, Tania hanya mengamati dari kejauhan. Ia memastikan semua berjalan sesuai rencananya. Tanpa sepengetahuan Bu Fatma, ia telah meminta para pekerja untuk menyiapkan proyektor dan papan putih di ruang makan.“Rania ..., apa maksudnya semua ini?” tanya Bu Fatma, matanya menatap tajam ke arah Tania, curiga dengan keberadaan proyektor dan papan putih itu.“Oh, itu sengaja aku pasang untuk menonton drama, Ma. Biar acara makan malam kita lebih seru dan ada tontonan yang menghibur,” jawab Tania dengan nada meyakinkan, menyembunyikan maksud sebenarnya.Bu Fatma mendengus, namun ide Tania terdengar cukup menarik. Ia pun memutuskan untuk menyetujuinya.“Oke, kali ini Mama setuju! Tapi, awas s

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 25. Rencana Tania

    “Mas, boleh tidak besok malam kita mengadakan makan malam dan mengundang seluruh keluarga?” tanya Tania tiba-tiba, memecah keheningan kamar.Malik, yang tengah bersandar di ranjang sambil menggenggam iPad, sontak menoleh. Raut wajahnya menunjukkan kebingungan atas permintaan Tania yang tak terduga.“Apa kamu sedang bercanda?"“Astaga, aku serius kali ini. Lagipula, acara ini kan untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga,” kata Tania, berusaha meyakinkan suaminya.Malik terdiam, tampak menimbang-nimbang permintaan Tania. Melihat itu, Tania tak mau menyerah. Ia beranjak dari tempatnya, mendekati Malik dan duduk di tepi ranjang.“Ini juga keinginan bayi kita,” ucap Tania, terpaksa berbohong demi melancarkan rencananya. “Boleh ya, Mas?”“Ya sudah, nanti aku bicara dengan Mama dulu,” jawab Malik akhirnya, luluh dengan bujuk rayu istrinya.Senyum bahagia merekah di bibir Tania, membuat Malik ikut merasakan kebahagiaan yang sama. Ia pun bangkit, bersiap menuju kamar Bu Fatma untuk men

  • Aku Madu Kembaranku   Jika aku pergi, hiduplah bahagia

    Tania melangkah tergesa melewati gerbang, jejak kakinya seolah tak sabar menginjak tanah pekarangan rumah Paman David. “Assalamulaikum, Paman, Rania,” sapanya, suaranya sedikit bergetar, “Aku punya berita untuk kalian.”Paman Burhan dan Rania, yang semula bersantai di bangku panjang halaman, sontak menoleh. Raut wajah mereka menyiratkan keheranan. Kedatangan Tania menjelang senja, seorang diri, bukanlah pemandangan yang biasa.Rania bangkit dengan terhuyung, wajahnya sepucat kapas, tubuhnya tampak kurus dan rapuh, seolah embusan angin saja bisa merobohkannya. Paman Bruhan segera menyongsong, memapah bahu keponakannya itu, dan menuntunnya mendekat ke arah Tania.“Kalian tetap di sana saja! Jangan mendekatiku,” seru Tania, nadanya tegas namun ada gurat cemas di matanya.“Sebaiknya kita bicara di dalam,” putus Paman Burhan sembari menuntun Rania perlahan. Tania mengangguk patuh, melangkah mengikuti, menyelaraskan langkahnya dengan Rania yang tertatih. Semakin dekat ia melihat kembarann

  • Aku Madu Kembaranku   Sebuah rencana

    BAB 1“Mas.”Suara langkah kaki yang menuruni anak tangga memecah keheningan, menarik perhatian Malik. Raut wajah pria itu seketika menegang, sarat akan kekhawatiran. Tanpa membuang waktu, Malik bergegas mendekat, diikuti Tania yang setia melangkah di sisinya, tangannya tak lepas dari genggaman hangat sang suami.“Ada apa, Mel? Apa Mama butuh sesuatu,” tanya Malik, nadanya dipenuhi cemas, namun genggaman tangannya pada Tania justru semakin mengerat, seolah memberi kekuatan dan jaminan.Mely tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke mata. “Tante sudah tidak apa-apa, kok. Dia sedang istirahat sekarang di kamarnya. Aku izin pulang lebih dulu ya, Mas. Ada hal penting yang tidak bisa kutunda.”Malik mengangguk, ekspresinya sedikit melembut. “Iya, silakan saja, Mel. Kamu tidak perlu repot-repot datang lagi. Di sini sudah ada saya dan Rania yang akan menjaga Mama.”Sejenak, Mely terdiam. Tatapannya berubah tajam, menghunjam lurus ke arah Tania yang berdiri di sebelah Malik. Sebuah tatapan

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 7. Jangan sentuh suamiku!

    Malik melemparkan ponselnya ke meja. Dia tidak habis pikir mamanya masih saja mendekatkan dia dengan mely. Padahal sudah Malik yegaskan sejak dulu, jika dia tidak ada perasaan apapun Mely. Tania juga ikut kesal setelah membaca pesan Bu Fatma. Ibu macam apa yang ingin merusak rumah tangga anaknya

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 6. Tania hamil

    Saking syoknya, Bu Fatma sampai mundur kebelakang beberapa langkah. Darmi serta Bi Asih saling berpandangan satu sama lain. Mereka merasa bingung dengan ekspresi Bu Fatma. Wajahnya bukan menunjukan bahagia mendengar menantunya hamil. Akan tetapi, malah terlihat seperti orang yang bingung. Darmi

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 5 Nafkah bathin

    Setiap hari ada saja tingkah Tania yang membuat Bu Fatma sakit kepala. Bu Fatma merasa aneh dengan perubahan sikap menantunya tersebut. Rania yang biasanya penurut dan tidak berani membantah, sekarang berubah drastis. Pagi-pagi sekali Tania sudah siap dengan alat pel dan embernya. Bukan Tania na

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 4 Mulai bertukar posisi

    Kamu kenapa Rania?" tanya Paman Burhan pada Rania yang baru saja siuman. Rania memijit kepalanya yang masih terasa pusing. "Mungkin aku kelelahan Paman," jawab Rania menutupi perasaannya. "Tabahkan dan kuatkan hatimu! Semua terjadi atas permintaan kamu. Paman tahu, dilubuk hati paling dalam k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status