登入Suara palu hakim jatuh.Nyaring sekaligus khidmat.“Terdakwa Fara terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pembunuhan berencana dengan cara yang sangat kejam dan dalam keadaan yang sangat memberatkan. Oleh karena itu, pengadilan menjatuhkan pidana mati serta pencabutan hak politik seumur hidup.”Saat mendengar kata “pidana mati”, seluruh tubuh Fara seolah disambar petir.Tubuhnya bergetar hebat.Cairan hangat merembes ke celananya, meninggalkan noda basah yang terus melebar.Dia terkulai di kursi terdakwa sambil menjerit histeris seperti orang yang kehilangan akal.“Aku nggak mau mati!”“Kak... selamatkan aku! Tolong aku!”“Aku ini Fara, Kak! Adik kesayanganmu.”“Kakak! Kakak!”Hans yang duduk di kursi terdakwa di sampingnya tetap tak bergeming.Bahkan dia tak menoleh sedikit pun ke arahnya.“Terdakwa Hans terbukti bersalah karena kelalaiannya yang menyebabkan kematian orang lain, disertai keadaan serius berupa pembiaran. Dijatuhi pidana penjara selama lima belas tahu
Suara borgol terdengar begitu nyaring.Klik.Klik.Klik.Tiga pasang borgol.Tiga orang tersangka.Hans, Fara dan Rey resmi ditahan atas dugaan pembunuhan berencana serta pembiaran yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang.Lampu di ruang interogasi menyala begitu terang.Terlalu terang hingga membuat mata sulit terbuka.Hans duduk di kursi besi.Borgol di kedua tangannya terhubung pada cincin besi di atas meja, membuatnya tak bisa bergerak.Seorang penyidik menyodorkan selembar foto ke hadapannya.Itu adalah foto keluarga kami.Foto ketika keluarga kami masih utuh, sebelum ayah dan ibu meninggal.Di dalam foto itu, aku berdiri di samping Hans sambil tersenyum lebar hingga mataku menyipit.Kedua tanganku memeluk erat lengannya.Saat itu, Fara belum menjadi bagian dari keluarga kami.Saat itu juga, Hans masih mengusap kepalaku sambil berkata…[Salsa, jangan takut, ada Kakak di sini.]Hans menatap foto itu.Air matanya jatuh satu per satu, menghantam permukaan meja.Dia mulai menampar
Raungan yang keluar dari mulut Hans tak lagi terdengar seperti suara manusia.Dia menerjang ke arah Fara, lalu mencekik leher gadis itu sekuat tenaga.“Kenapa!”“Kenapa kamu tutup katup oksigennya!”“Kenapa kamu juga ambil tabung oksigen cadangannya!”Wajah Fara seketika memucat.Matanya terbelalak, sementara kedua kakinya menggantung di udara, menendang tanpa henti.Kuku-kukunya mencakar wajah Hans hingga meninggalkan beberapa guratan berdarah.“Ka-kamu...”“Ka-kamu sendiri… yang mengizinkannya…”Wajahnya memerah karena kehabisan napas. Dengan susah payah, dia mengucapkan kata demi kata.“April Mop... kamu bilang boleh... kamu bilang… kita kerjai dia sedikit... biar dia kapok…”Tangan Hans mendadak mengendur.Benar.Malam sebelum keberangkatan, Fara memang datang menghampirinya sambil bermanja.Dia berkata…[Kak, besok April Mop. Ayo kita kerjai Kak Salsa lagi.]Katanya, cukup matikan oksigen Salsa sebentar, hanya beberapa detik. Sekadar menakut-nakutinya.Saat itu, Hans sedang membac
Seorang penyidik dari unit kriminal melempar perlengkapan selam itu dengan keras ke atas meja baja antikarat.Brak!Suara benturan logam menggema di kamar jenazah, begitu nyaring hingga membuat ngilu.“Hans, lihat ini.”Penyidik itu menunjuk katup utama tabung oksigenku.Katup tersebut diputar hingga tertutup rapat.“Setelah dilakukan pemeriksaan forensik, kami memastikan katup ini ditutup secara paksa oleh seseorang.”“Pada kenop pembuka-tutup katup, kami berhasil mengangkat satu set sidik jari yang utuh.”Dia berhenti sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Fara yang meringkuk di sudut dinding.“Hasil pencocokan menunjukkan sidik jari itu identik dengan ibu jari dan telunjuk tangan kanan Fara.”Kepala Hans seolah disambar petir.Dia menoleh mendadak dan menatap Fara tanpa berkedip.Tubuh gadis itu langsung bergetar hebat.“Bukan aku! Kak, dengarkan dulu penjelasanku.”“Aku cuma... cuma ingin mengerjai Kak Salsa. Aku nggak tahu kalau akhirnya akan seperti ini..”“Masih ada lagi
Rumah Sakit Autopsi berada di sisi timur kota.Bahkan Hans sendiri tak tahu bagaimana dia bisa mengemudi hingga tiba di sana.Sepanjang perjalanan, dia menerobos empat lampu merah dan nyaris menabrak sebuah bus.Di kursi belakang, Fara hanya duduk membisu.Dia terus menggigit kuku jarinya.Ruang penyimpanan jenazah di bawah tanah terasa begitu dingin, seolah hawa di dalamnya mampu membekukan tulang.Lampu-lampu neon putih berdengung pelan, menyinari wajah setiap orang hingga tampak pucat.Hans melangkah masuk sambil berpegangan pada dinding.Kedua kakinya gemetar.Setiap langkah terasa seperti menginjak kapas.Di ruangan, sebuah kantong jenazah hitam terbaring di atas meja autopsi.Seorang dokter forensik berdiri di sampingnya dengan ekspresi datar.“Keluarga korban sudah datang?”Hans mengangguk pelan.Bibirnya sudah memucat.Tanpa banyak bicara, dokter forensik mengulurkan tangan dan membuka ritsleting kantong jenazah itu.Aku melihat wajahku sendiri.Setelah terendam air laut selama
Hans seperti orang gila.Dia membongkar setiap sudut kapal pesiar.Dapur.Ruang mesin.Gudang penyimpanan.Bahkan bagian bawah sekoci pun dia bongkar habis-habisan.Namun…Tak ada.Di mana pun, tak ada jejakku.Urat-urat di dahinya menonjol, sementara napasnya memburu.“Nggak mungkin… nggak mungkin!”Dia terus mengulangi kata-kata itu, seolah sedang menghipnotis dirinya sendiri. Fara bersandar di ambang pintu kabin dengan kedua tangan terlipat di depan dada.Ekspresinya begitu tenang hingga terasa mengerikan.“Kak, jangan panik.”“Kak Salsa pasti menyewa speedboat yang kebetulan lewat, lalu pulang lebih dulu ke daratan.”“Coba Kakak pikir. Memangnya ada hal yang nggak mungkin dia lakukan?”“Waktu kalian bertengkar terakhir kali, dia juga diam-diam menyewa helikopter buat pulang, ‘kan?”Hans menghentikan pencariannya.Dia berdiri terpaku di tengah geladak.Air hujan mengalir membasahi wajahnya.Dia sedang berpikir.Berusaha mati-matian meyakinkan dirinya sendiri.[Benar. Salsa memang o







