مشاركة

Aku Mati Karena Sebuah Lelucon April Mop
Aku Mati Karena Sebuah Lelucon April Mop
مؤلف: Faisal

Bab 1

مؤلف: Faisal
Adik angkatku, Fara, memang gemar berbuat jahil.

Namun, hanya aku yang terluka.

Tahun lalu, dia bersekongkol dengan kakakku, Hans, mengunciku di ruang pendingin.

Akibatnya, aku menderita asma yang sangat parah.

Tahun ini, kakakku tiba-tiba meminta maaf.

Katanya, dia ingin mengajakku cave diving sebagai permintaan maaf.

Fara ikut bersama kami.

Tatapannya seolah menyimpan niat buruk terhadapku.

Jantungku berdegup kencang.

Aku buru-buru menceburkan diri ke laut dan berenang menjauh.

Namun, saat mencapai kedalaman sekitar dua puluh meter, sesak napas yang mematikan tiba-tiba menyerang.

Katup oksigenku...

Diam-diam ditutup oleh Fara.

Tawa puasnya langsung terdengar melalui alat komunikasi bawah air.

“Kak Hans, lihat, ‘kan? Aku bilang apa? Kak Salsa pasti bakal tertipu!”

“Memang kamu yang paling pintar. Bisa-bisanya kepikiran cara seperti ini buat ngerjain kakakmu. Dasar usil!” timpal Hans lembut, penuh kasih sayang.

Sementara wajahku perlahan berubah ungu kebiruan karena kehabisan napas.

Aku mati-matian berusaha membuka katup oksigen cadangan.

Namun Fara justru berenang mendekat, lalu menepis tanganku.

“Kak, lihat! Kak Salsa jago banget aktingnya. Baru juga beberapa detik saja sudah pura-pura nggak kuat,” katanya manja melalui alat komunikasi.

Suara Hans terdengar dingin.

“Tahan sebentar lagi. Kamu memang terlalu dimanja. Baru segitu saja sudah nggak kuat.”

“Dasar memalukan! Kamu nggak ada apa-apanya dibanding Fara.”

Aku menatap sosok kakakku dengan penuh keputusasaan.

Kak...

Apa kakak sudah lupa?

Karena lelucon kalian tahun lalu…

Paru-paruku mengalami kerusakan permanen.

Napasku terasa semakin berat.

Pandanganku perlahan menggelap.

Tubuhku pun tenggelam ke dasar gua laut yang sunyi dan gelap.

Kak...

Lelucon kali ini...

Sama sekali tidak lucu.

Karena...

Aku benar-benar akan pergi…

Untuk selamanya.

...

Air laut begitu dingin.

Rasa dinginnya menembus kulit, menyusup hingga ke sela-sela tulang.

Bahkan lebih menyakitkan daripada saat aku dikurung di ruang pendingin tahun lalu.

Jiwaku melayang perlahan.

Kulihat jasadku yang sudah membiru terbaring tak berdaya di endapan lumpur dasar gua.

Fara berenang mendekat.

Saat sirip selamnya mengayuh, lumpur dan pasir langsung teraduk, yang kemudian langsung menutupi wajahku.

Dia mengangkat kakinya, lalu menendang keras pakaian selamku.

“Kak, cepat lihat! Kali ini Kak Salsa benar-benar jago akting. Sampai nggak bergerak sama sekali.”

Tawa puasnya terdengar melalui alat komunikasi.

Tak lama kemudian, suara Hans menyusul.

Dingin.

Penuh ketidaksabaran.

“Salsa, sudah cukup.”

“Becandanya sekali saja. Nggak usah terus pura-pura.”

“Cepat bangun. Jangan buang waktu semua orang.”

Aku menatap kakakku.

Hans…

Kakak kandungku sendiri.

Saat ini, dia sedang menggenggam tangan Fara dengan hati-hati, seolah takut adik angkat kami itu hanyut terbawa arus laut.

Sedikit pun dia tak melirik ke arahku.

Dia mengira aku masih marah karena katup oksigenku sengaja ditutup.

Instruktur selam kami, Rey, ikut berenang mendekat.

Dia mengarahkan lampu sorot berkekuatan tinggi tepat ke mataku.

“Nona Salsa, berhenti pura-pura.”

“Monitor detak jantungmu sudah putus sejak tadi. Kamu sengaja melepas sensornya?”

“Kalau aktingmu sebagus ini, sekalian saja jadi aktris terbaik.”

Fara tertawa semakin puas.

“Dia cuma mau cari perhatian Kak Hans saja. Siapa suruh nggak sepintar aku kalau soal bermanja-manja.”

Aku melayang di atas mereka.

Ingin berteriak sekuat tenaga.

Aku tidak berpura-pura…

Aku...

Benar-benar sudah mati.

Paru-paruku memang sudah lama rusak.

Semua bermula pada Hari April Mop tahun lalu.

Fara mengunciku di ruang pendingin.

Katanya, itu hanya lelucon.

Hans berdiri di luar sambil melihat jam.

“Salsa, kalau kamu bisa bertahan sepuluh menit, aku belikan kalung yang selama ini kamu inginkan.”

Aku terus berteriak meminta tolong.

Memukul-mukul pintu sekuat tenaga.

Saat asmaku kambuh, rasanya paru-paruku seperti disayat pisau.

Baru setelah aku ambruk di lantai yang dingin, mereka membuka pintu dengan santai.

Sejak kejadian itu, dokter mengdiagnosis sistem pernapasanku mengalami kerusakan permanen.

Waktu itu, Hans mengaku bersalah.

Katanya, tahun ini dia akan mengajakku cave diving sebagai rehabilitasi sekaligus bentuk permintaan maaf.

Dan aku… percaya!

Dengan penuh harapan, aku mengenakan pakaian selam.

Namun saat mencapai kedalaman dua puluh meter...

Kematian kembali menjemputku.

“Salsa! Kuulangi sekali lagi. Bangun sekarang juga!”

Melihatku tetap tak bergerak, amarah Hans memuncak.

Dia melepaskan tangan Fara, lalu berenang cepat menghampiri jasadku.

Tangan yang seharusnya melindungiku...

Justru mencengkeram selang oksigenku dengan kasar.

Kemudian…

Plak!

Dia menampar jasadku sekuat tenaga.

Meski terhalang masker selam dan air laut, bunyi tamparan itu tetap terdengar tumpul.

Kepalaku terpelanting ke samping.

Masker selamku bergeser.

Air laut yang dingin seketika memenuhi hidung dan mulutku.

Namun...

Aku sudah tak bisa lagi merasakan bagaimana rasanya tersedak.

Jasadku seperti kantong kain yang kehilangan isinya.

Terombang-ambing mengikuti hempasan tangannya, lalu kembali terkulai di dasar lumpur.

“Kak... sepertinya Kak Salsa benaran marah.”

Fara berpura-pura cemas sambil menarik lengan Hans.

“Gimana kalau kita pergi dulu saja? Biar dia sendirian di sini sampai emosinya reda.”

“Pasti dia cuma mau memaksamu membelikannya tas edisi terbatas yang baru keluar.”

Hans mendengus dingin.

Sorot matanya dipenuhi rasa muak.

“Masih saja dia pakai trik murahan seperti itu. Aku sudah muak melihatnya.”

“Dari kecil sampai sekarang, setiap kali keinginannya nggak dituruti, dia selalu pura-pura sakit, pura-pura mati.”

“Fara, cuma kamu yang tetap baik. Di saat seperti ini pun kamu masih membelanya.”

Dia mengusap lembut kepala Fara.

Sorot matanya begitu lembut.

Kelembutan yang tak pernah sekalipun dia berikan kepadaku.

Kemudian…

Dia mengeluarkan pisau selam dari pinggangnya.

Jantungku seolah bergetar hebat.

Meski detak jantungku telah lama padam.

Apa yang ingin dia lakukan?

Tanpa ragu, Hans memotong tali pengaman yang menghubungkan jasadku dengan rombongan penyelam.

Sret!

Suara putusnya tali nilon menggema di dalam gua yang gelap.

“Kalau memang mau tetap di sini…”

“Ya sudah. Tinggal saja sepuasmu.”

“Kalau sudah sadar nanti, berenang sendiri ke atas.”

Melalui alat komunikasi, dia memberi instruksi kepada seluruh tim.

“Salsa keluar dari rombongan untuk merenung. Semuanya, ikut aku. Kita lanjut menyelam ke bagian palung.”

Dia kembali menggenggam tangan Fara.

Lalu berenang menuju kegelapan yang lebih dalam.

Tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Aku menunduk menatap jasadku sendiri.

Tanpa tali pengaman.

Di dalam gua laut yang gelap gulita ini...

Aku telah menjadi satu-satunya persembahan bagi lautan.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Aku Mati Karena Sebuah Lelucon April Mop   Bab 10

    Suara palu hakim jatuh.Nyaring sekaligus khidmat.“Terdakwa Fara terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pembunuhan berencana dengan cara yang sangat kejam dan dalam keadaan yang sangat memberatkan. Oleh karena itu, pengadilan menjatuhkan pidana mati serta pencabutan hak politik seumur hidup.”Saat mendengar kata “pidana mati”, seluruh tubuh Fara seolah disambar petir.Tubuhnya bergetar hebat.Cairan hangat merembes ke celananya, meninggalkan noda basah yang terus melebar.Dia terkulai di kursi terdakwa sambil menjerit histeris seperti orang yang kehilangan akal.“Aku nggak mau mati!”“Kak... selamatkan aku! Tolong aku!”“Aku ini Fara, Kak! Adik kesayanganmu.”“Kakak! Kakak!”Hans yang duduk di kursi terdakwa di sampingnya tetap tak bergeming.Bahkan dia tak menoleh sedikit pun ke arahnya.“Terdakwa Hans terbukti bersalah karena kelalaiannya yang menyebabkan kematian orang lain, disertai keadaan serius berupa pembiaran. Dijatuhi pidana penjara selama lima belas tahu

  • Aku Mati Karena Sebuah Lelucon April Mop   Bab 9

    Suara borgol terdengar begitu nyaring.Klik.Klik.Klik.Tiga pasang borgol.Tiga orang tersangka.Hans, Fara dan Rey resmi ditahan atas dugaan pembunuhan berencana serta pembiaran yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang.Lampu di ruang interogasi menyala begitu terang.Terlalu terang hingga membuat mata sulit terbuka.Hans duduk di kursi besi.Borgol di kedua tangannya terhubung pada cincin besi di atas meja, membuatnya tak bisa bergerak.Seorang penyidik menyodorkan selembar foto ke hadapannya.Itu adalah foto keluarga kami.Foto ketika keluarga kami masih utuh, sebelum ayah dan ibu meninggal.Di dalam foto itu, aku berdiri di samping Hans sambil tersenyum lebar hingga mataku menyipit.Kedua tanganku memeluk erat lengannya.Saat itu, Fara belum menjadi bagian dari keluarga kami.Saat itu juga, Hans masih mengusap kepalaku sambil berkata…[Salsa, jangan takut, ada Kakak di sini.]Hans menatap foto itu.Air matanya jatuh satu per satu, menghantam permukaan meja.Dia mulai menampar

  • Aku Mati Karena Sebuah Lelucon April Mop   Bab 8

    Raungan yang keluar dari mulut Hans tak lagi terdengar seperti suara manusia.Dia menerjang ke arah Fara, lalu mencekik leher gadis itu sekuat tenaga.“Kenapa!”“Kenapa kamu tutup katup oksigennya!”“Kenapa kamu juga ambil tabung oksigen cadangannya!”Wajah Fara seketika memucat.Matanya terbelalak, sementara kedua kakinya menggantung di udara, menendang tanpa henti.Kuku-kukunya mencakar wajah Hans hingga meninggalkan beberapa guratan berdarah.“Ka-kamu...”“Ka-kamu sendiri… yang mengizinkannya…”Wajahnya memerah karena kehabisan napas. Dengan susah payah, dia mengucapkan kata demi kata.“April Mop... kamu bilang boleh... kamu bilang… kita kerjai dia sedikit... biar dia kapok…”Tangan Hans mendadak mengendur.Benar.Malam sebelum keberangkatan, Fara memang datang menghampirinya sambil bermanja.Dia berkata…[Kak, besok April Mop. Ayo kita kerjai Kak Salsa lagi.]Katanya, cukup matikan oksigen Salsa sebentar, hanya beberapa detik. Sekadar menakut-nakutinya.Saat itu, Hans sedang membac

  • Aku Mati Karena Sebuah Lelucon April Mop   Bab 7

    Seorang penyidik dari unit kriminal melempar perlengkapan selam itu dengan keras ke atas meja baja antikarat.Brak!Suara benturan logam menggema di kamar jenazah, begitu nyaring hingga membuat ngilu.“Hans, lihat ini.”Penyidik itu menunjuk katup utama tabung oksigenku.Katup tersebut diputar hingga tertutup rapat.“Setelah dilakukan pemeriksaan forensik, kami memastikan katup ini ditutup secara paksa oleh seseorang.”“Pada kenop pembuka-tutup katup, kami berhasil mengangkat satu set sidik jari yang utuh.”Dia berhenti sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Fara yang meringkuk di sudut dinding.“Hasil pencocokan menunjukkan sidik jari itu identik dengan ibu jari dan telunjuk tangan kanan Fara.”Kepala Hans seolah disambar petir.Dia menoleh mendadak dan menatap Fara tanpa berkedip.Tubuh gadis itu langsung bergetar hebat.“Bukan aku! Kak, dengarkan dulu penjelasanku.”“Aku cuma... cuma ingin mengerjai Kak Salsa. Aku nggak tahu kalau akhirnya akan seperti ini..”“Masih ada lagi

  • Aku Mati Karena Sebuah Lelucon April Mop   Bab 6

    Rumah Sakit Autopsi berada di sisi timur kota.Bahkan Hans sendiri tak tahu bagaimana dia bisa mengemudi hingga tiba di sana.Sepanjang perjalanan, dia menerobos empat lampu merah dan nyaris menabrak sebuah bus.Di kursi belakang, Fara hanya duduk membisu.Dia terus menggigit kuku jarinya.Ruang penyimpanan jenazah di bawah tanah terasa begitu dingin, seolah hawa di dalamnya mampu membekukan tulang.Lampu-lampu neon putih berdengung pelan, menyinari wajah setiap orang hingga tampak pucat.Hans melangkah masuk sambil berpegangan pada dinding.Kedua kakinya gemetar.Setiap langkah terasa seperti menginjak kapas.Di ruangan, sebuah kantong jenazah hitam terbaring di atas meja autopsi.Seorang dokter forensik berdiri di sampingnya dengan ekspresi datar.“Keluarga korban sudah datang?”Hans mengangguk pelan.Bibirnya sudah memucat.Tanpa banyak bicara, dokter forensik mengulurkan tangan dan membuka ritsleting kantong jenazah itu.Aku melihat wajahku sendiri.Setelah terendam air laut selama

  • Aku Mati Karena Sebuah Lelucon April Mop   Bab 5

    Hans seperti orang gila.Dia membongkar setiap sudut kapal pesiar.Dapur.Ruang mesin.Gudang penyimpanan.Bahkan bagian bawah sekoci pun dia bongkar habis-habisan.Namun…Tak ada.Di mana pun, tak ada jejakku.Urat-urat di dahinya menonjol, sementara napasnya memburu.“Nggak mungkin… nggak mungkin!”Dia terus mengulangi kata-kata itu, seolah sedang menghipnotis dirinya sendiri. Fara bersandar di ambang pintu kabin dengan kedua tangan terlipat di depan dada.Ekspresinya begitu tenang hingga terasa mengerikan.“Kak, jangan panik.”“Kak Salsa pasti menyewa speedboat yang kebetulan lewat, lalu pulang lebih dulu ke daratan.”“Coba Kakak pikir. Memangnya ada hal yang nggak mungkin dia lakukan?”“Waktu kalian bertengkar terakhir kali, dia juga diam-diam menyewa helikopter buat pulang, ‘kan?”Hans menghentikan pencariannya.Dia berdiri terpaku di tengah geladak.Air hujan mengalir membasahi wajahnya.Dia sedang berpikir.Berusaha mati-matian meyakinkan dirinya sendiri.[Benar. Salsa memang o

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status