Share

Bab 3

Author: Faisal
Sinar matahari yang menyilaukan terasa menusuk mata.

Satu per satu anggota tim penyelam muncul ke permukaan laut, lalu naik kembali ke atas kapal pesiar.

Begitu menginjakkan kaki di geladak, hal pertama yang dilakukan Hans adalah menyapu seluruh area dengan tatapan tajam.

Namun...

Sosokku tak terlihat di mana pun.

Raut wajahnya langsung menggelap.

“Di mana Salsa?” tanyanya pada salah seorang awak kapal.

Awak kapal itu sempat tertegun sejenak sebelum menjawab dengan jujur.

“Mas Hans, Non Salsa belum kembali. Dari tadi kami nggak lihat ada orang yang muncul ke permukaan.”

Tangan Hans langsung mengepal erat.

“Nggak mungkin.”

“Dengan sifatnya, kalau sedikit saja diperlakukan nggak adil, dia pasti langsung pulang mengadu.”

Fara berjalan menghampiri sambil mengeringkan rambutnya.

“Kak, jangan-jangan Kak Salsa lagi sembunyi di ruang bawah kapal, main petak umpet sama kita.”

“Dia sengaja bikin Kak Hans panik mencarinya. Nanti begitu ketemu, dia pura-pura nangis supaya Kak Hans menghiburnya.”

Hans merasa perkataan itu masuk akal.

Dia mencibir dingin.

“Sembunyi?”

“Baiklah. Aku ingin lihat, sampai kapan dia bisa terus bersembunyi.”

Dia memanggil kapten kapal dengan nada dingin.

“Kunci semua pintu kabin,” perintahnya.

“Matikan AC di ruang bawah kapal. Jangan beri dia setetes air pun.”

“Karena dia suka bersembunyi, biarkan saja dia sesak di dalam sana.”

Fara lalu menyodorkan secangkir kopi hangat dengan senyum yang tampak lembut dan polos.

“Udah Kak, jangan marah lagi. Kak Salsa memang agak keras kepala. Gimanapun juga, dia ‘kan putri kandung Keluarga Saputra.”

Kalimat seperti itulah yang paling mudah membangkitkan rasa muak Hans terhadapku.

Keluarga Saputra memiliki kekayaan dan kekuasaan yang luar biasa, tapi Hans adalah orang yang sangat angkuh dan menjunjung harga dirinya.

Yang paling dia benci adalah orang-orang yang mengandalkan status untuk menekan orang lain.

Sekalipun orang itu adalah adik kandungnya sendiri.

“Putri kandung Keluarga Saputra?”

Hans menerima cangkir kopi itu.

Sorot matanya dipenuhi hawa dingin.

“Di mataku, dia bahkan nggak sebanding dengan satu jarimu.”

Setelah itu, dia berjalan menuju ruang kemudi dan mengambil mikrofon siaran yang terhubung ke seluruh bagian kapal.

“Salsa.”

“Aku tahu kamu ada di kapal ini.”

“Dengar baik-baik. Aku nggak punya waktu untuk permainan kekanak-kanakan seperti ini.”

“Keluar sekarang juga ke geladak!”

“Berlutut di depan Fara dan minta maaf atas semua sikap egoismu di dalam gua.”

“Kalau kamu masih ingin kembali ke Keluarga Saputra, ini satu-satunya kesempatan untukmu.”

“Aku hitung sampai tiga. Kalau kamu tetap nggak keluar…”

“Malam ini akan kutinggalkan kamu sendirian mengapung di tengah laut.”

Suara siaran itu bergema di atas permukaan laut.

Sekawanan burung laut pun kaget beterbangan.

Namun...

Tak ada jawaban.

Yang terdengar hanya deburan ombak yang terus menghantam lambung kapal.

Kesabaran Hans akhirnya benar-benar habis.

Dia membanting mikrofon itu ke atas panel kendali.

“Oke! Berani juga rupanya.”

Tepat saat itu…

Segumpal awan hitam pekat perlahan menyelimuti langit.

Angin bertiup semakin kencang.

Ombak yang semula tenang mendadak mengamuk.

Rey berjalan menghampiri dengan wajah penuh kecemasan.

“Mas Hans, badai akan datang. Kalau kita berhenti di tengah laut seperti ini, risikonya terlalu berbahaya. Bagaimana kalau kita kembali ke pelabuhan dulu?”

Hans menggertakkan giginya.

Tatapannya tetap terpaku pada pintu menuju ruang bawah kapal.

“Kembali.”

“Sekarang.”

“Aku nggak percaya setelah sampai di pelabuhan nanti dia masih bisa terus bersembunyi.”

Kapal pesiar itu melaju dengan tenaga penuh, terguncang hebat di tengah amukan angin dan ombak.

Hans duduk sendiri di haluan.

Membiarkan hujan mengguyur tubuhnya tanpa bergeming sedikit pun.

Seolah dia sedang menunggu.

Menunggu sampai aku tak sanggup lagi menahan guncangan, lalu membuka pintu kabin dan memohon ampun kepadanya.

Namun…

Tepat pada saat itu.

Sebuah kapal patroli polisi laut berwarna hitam menerobos keluar dari kabut hujan.

Lampu merah dan birunya terus berkedip, membelah gelapnya badai.

“Perhatian kapal pesiar di depan!”

“Segera matikan mesin dan hentikan kapal!”

“Bersiap untuk menjalani pemeriksaan!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Mati Karena Sebuah Lelucon April Mop   Bab 10

    Suara palu hakim jatuh.Nyaring sekaligus khidmat.“Terdakwa Fara terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pembunuhan berencana dengan cara yang sangat kejam dan dalam keadaan yang sangat memberatkan. Oleh karena itu, pengadilan menjatuhkan pidana mati serta pencabutan hak politik seumur hidup.”Saat mendengar kata “pidana mati”, seluruh tubuh Fara seolah disambar petir.Tubuhnya bergetar hebat.Cairan hangat merembes ke celananya, meninggalkan noda basah yang terus melebar.Dia terkulai di kursi terdakwa sambil menjerit histeris seperti orang yang kehilangan akal.“Aku nggak mau mati!”“Kak... selamatkan aku! Tolong aku!”“Aku ini Fara, Kak! Adik kesayanganmu.”“Kakak! Kakak!”Hans yang duduk di kursi terdakwa di sampingnya tetap tak bergeming.Bahkan dia tak menoleh sedikit pun ke arahnya.“Terdakwa Hans terbukti bersalah karena kelalaiannya yang menyebabkan kematian orang lain, disertai keadaan serius berupa pembiaran. Dijatuhi pidana penjara selama lima belas tahu

  • Aku Mati Karena Sebuah Lelucon April Mop   Bab 9

    Suara borgol terdengar begitu nyaring.Klik.Klik.Klik.Tiga pasang borgol.Tiga orang tersangka.Hans, Fara dan Rey resmi ditahan atas dugaan pembunuhan berencana serta pembiaran yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang.Lampu di ruang interogasi menyala begitu terang.Terlalu terang hingga membuat mata sulit terbuka.Hans duduk di kursi besi.Borgol di kedua tangannya terhubung pada cincin besi di atas meja, membuatnya tak bisa bergerak.Seorang penyidik menyodorkan selembar foto ke hadapannya.Itu adalah foto keluarga kami.Foto ketika keluarga kami masih utuh, sebelum ayah dan ibu meninggal.Di dalam foto itu, aku berdiri di samping Hans sambil tersenyum lebar hingga mataku menyipit.Kedua tanganku memeluk erat lengannya.Saat itu, Fara belum menjadi bagian dari keluarga kami.Saat itu juga, Hans masih mengusap kepalaku sambil berkata…[Salsa, jangan takut, ada Kakak di sini.]Hans menatap foto itu.Air matanya jatuh satu per satu, menghantam permukaan meja.Dia mulai menampar

  • Aku Mati Karena Sebuah Lelucon April Mop   Bab 8

    Raungan yang keluar dari mulut Hans tak lagi terdengar seperti suara manusia.Dia menerjang ke arah Fara, lalu mencekik leher gadis itu sekuat tenaga.“Kenapa!”“Kenapa kamu tutup katup oksigennya!”“Kenapa kamu juga ambil tabung oksigen cadangannya!”Wajah Fara seketika memucat.Matanya terbelalak, sementara kedua kakinya menggantung di udara, menendang tanpa henti.Kuku-kukunya mencakar wajah Hans hingga meninggalkan beberapa guratan berdarah.“Ka-kamu...”“Ka-kamu sendiri… yang mengizinkannya…”Wajahnya memerah karena kehabisan napas. Dengan susah payah, dia mengucapkan kata demi kata.“April Mop... kamu bilang boleh... kamu bilang… kita kerjai dia sedikit... biar dia kapok…”Tangan Hans mendadak mengendur.Benar.Malam sebelum keberangkatan, Fara memang datang menghampirinya sambil bermanja.Dia berkata…[Kak, besok April Mop. Ayo kita kerjai Kak Salsa lagi.]Katanya, cukup matikan oksigen Salsa sebentar, hanya beberapa detik. Sekadar menakut-nakutinya.Saat itu, Hans sedang membac

  • Aku Mati Karena Sebuah Lelucon April Mop   Bab 7

    Seorang penyidik dari unit kriminal melempar perlengkapan selam itu dengan keras ke atas meja baja antikarat.Brak!Suara benturan logam menggema di kamar jenazah, begitu nyaring hingga membuat ngilu.“Hans, lihat ini.”Penyidik itu menunjuk katup utama tabung oksigenku.Katup tersebut diputar hingga tertutup rapat.“Setelah dilakukan pemeriksaan forensik, kami memastikan katup ini ditutup secara paksa oleh seseorang.”“Pada kenop pembuka-tutup katup, kami berhasil mengangkat satu set sidik jari yang utuh.”Dia berhenti sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Fara yang meringkuk di sudut dinding.“Hasil pencocokan menunjukkan sidik jari itu identik dengan ibu jari dan telunjuk tangan kanan Fara.”Kepala Hans seolah disambar petir.Dia menoleh mendadak dan menatap Fara tanpa berkedip.Tubuh gadis itu langsung bergetar hebat.“Bukan aku! Kak, dengarkan dulu penjelasanku.”“Aku cuma... cuma ingin mengerjai Kak Salsa. Aku nggak tahu kalau akhirnya akan seperti ini..”“Masih ada lagi

  • Aku Mati Karena Sebuah Lelucon April Mop   Bab 6

    Rumah Sakit Autopsi berada di sisi timur kota.Bahkan Hans sendiri tak tahu bagaimana dia bisa mengemudi hingga tiba di sana.Sepanjang perjalanan, dia menerobos empat lampu merah dan nyaris menabrak sebuah bus.Di kursi belakang, Fara hanya duduk membisu.Dia terus menggigit kuku jarinya.Ruang penyimpanan jenazah di bawah tanah terasa begitu dingin, seolah hawa di dalamnya mampu membekukan tulang.Lampu-lampu neon putih berdengung pelan, menyinari wajah setiap orang hingga tampak pucat.Hans melangkah masuk sambil berpegangan pada dinding.Kedua kakinya gemetar.Setiap langkah terasa seperti menginjak kapas.Di ruangan, sebuah kantong jenazah hitam terbaring di atas meja autopsi.Seorang dokter forensik berdiri di sampingnya dengan ekspresi datar.“Keluarga korban sudah datang?”Hans mengangguk pelan.Bibirnya sudah memucat.Tanpa banyak bicara, dokter forensik mengulurkan tangan dan membuka ritsleting kantong jenazah itu.Aku melihat wajahku sendiri.Setelah terendam air laut selama

  • Aku Mati Karena Sebuah Lelucon April Mop   Bab 5

    Hans seperti orang gila.Dia membongkar setiap sudut kapal pesiar.Dapur.Ruang mesin.Gudang penyimpanan.Bahkan bagian bawah sekoci pun dia bongkar habis-habisan.Namun…Tak ada.Di mana pun, tak ada jejakku.Urat-urat di dahinya menonjol, sementara napasnya memburu.“Nggak mungkin… nggak mungkin!”Dia terus mengulangi kata-kata itu, seolah sedang menghipnotis dirinya sendiri. Fara bersandar di ambang pintu kabin dengan kedua tangan terlipat di depan dada.Ekspresinya begitu tenang hingga terasa mengerikan.“Kak, jangan panik.”“Kak Salsa pasti menyewa speedboat yang kebetulan lewat, lalu pulang lebih dulu ke daratan.”“Coba Kakak pikir. Memangnya ada hal yang nggak mungkin dia lakukan?”“Waktu kalian bertengkar terakhir kali, dia juga diam-diam menyewa helikopter buat pulang, ‘kan?”Hans menghentikan pencariannya.Dia berdiri terpaku di tengah geladak.Air hujan mengalir membasahi wajahnya.Dia sedang berpikir.Berusaha mati-matian meyakinkan dirinya sendiri.[Benar. Salsa memang o

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status