Short
Aku Mati Karena Sebuah Lelucon April Mop

Aku Mati Karena Sebuah Lelucon April Mop

By:  FaisalCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setiap tanggal 1 April, tepat di Hari April Mop, kakakku selalu bersekongkol dengan adik perempuanku untuk mengerjaiku. Tahun lalu, mereka mengunciku di dalam ruang pendingin. Akibatnya, aku mengidap asma yang sangat parah. Tahun ini, kakak tiba-tiba meminta maaf. Katanya, sebagai bentuk permintaan maaf, dia akan mengajakku cave diving. Aku menyelam dengan penuh harapan. Namun ketika mencapai kedalaman sekitar dua puluh meter, sesak napas yang mematikan tiba-tiba menyerang. Tanpa kusadari, adikku diam-diam telah menutup katup oksigenku. Tawa puasnya langsung terdengar dari alat komunikasi bawah air. “Kak Hans, lihat, ‘kan? Aku bilang apa? Kak Salsa pasti bakal tertipu!” “Memang kamu paling pintar. Bisa-bisanya kepikiran cara seperti ini buat ngerjain kakakmu. Dasar usil!” timpal Hans lembut penuh kasih sayang. Wajahku perlahan berubah ungu kebiruan karena kehabisan napas. Aku mati-matian berusaha membuka katup oksigen cadangan. Namun adikku justru berenang mendekat, lalu menepis tanganku. “Kak, lihat tuh! Kak Salsa jago banget aktingnya. Baru juga beberapa detik sudah pura-pura nggak kuat,” katanya manja melalui alat komunikasi. Suara Hans terdengar dingin. “Tahan sebentar lagi. Kamu memang terlalu dimanja. Baru segitu saja sudah nggak kuat.” “Dasar memalukan! Kamu nggak ada apa-apanya dibanding Fara.” Aku menatap sosok kakakku dengan penuh keputusasaan. Kak... Apa kakak sudah lupa? Karena lelucon kalian tahun lalu… Paru-paruku telah mengalami kerusakan permanen. Napasku semakin berat. Pandanganku perlahan menggelap. Tubuhku akhirnya tenggelam ke dasar laut yang sunyi dan gelap. Kak... Lelucon kali ini... Sama sekali tidak lucu. Karena... Aku benar-benar akan pergi… Untuk selamanya.

View More

Chapter 1

Bab 1

Adik angkatku, Fara, memang gemar berbuat jahil.

Namun, hanya aku yang terluka.

Tahun lalu, dia bersekongkol dengan kakakku, Hans, mengunciku di ruang pendingin.

Akibatnya, aku menderita asma yang sangat parah.

Tahun ini, kakakku tiba-tiba meminta maaf.

Katanya, dia ingin mengajakku cave diving sebagai permintaan maaf.

Fara ikut bersama kami.

Tatapannya seolah menyimpan niat buruk terhadapku.

Jantungku berdegup kencang.

Aku buru-buru menceburkan diri ke laut dan berenang menjauh.

Namun, saat mencapai kedalaman sekitar dua puluh meter, sesak napas yang mematikan tiba-tiba menyerang.

Katup oksigenku...

Diam-diam ditutup oleh Fara.

Tawa puasnya langsung terdengar melalui alat komunikasi bawah air.

“Kak Hans, lihat, ‘kan? Aku bilang apa? Kak Salsa pasti bakal tertipu!”

“Memang kamu yang paling pintar. Bisa-bisanya kepikiran cara seperti ini buat ngerjain kakakmu. Dasar usil!” timpal Hans lembut, penuh kasih sayang.

Sementara wajahku perlahan berubah ungu kebiruan karena kehabisan napas.

Aku mati-matian berusaha membuka katup oksigen cadangan.

Namun Fara justru berenang mendekat, lalu menepis tanganku.

“Kak, lihat! Kak Salsa jago banget aktingnya. Baru juga beberapa detik saja sudah pura-pura nggak kuat,” katanya manja melalui alat komunikasi.

Suara Hans terdengar dingin.

“Tahan sebentar lagi. Kamu memang terlalu dimanja. Baru segitu saja sudah nggak kuat.”

“Dasar memalukan! Kamu nggak ada apa-apanya dibanding Fara.”

Aku menatap sosok kakakku dengan penuh keputusasaan.

Kak...

Apa kakak sudah lupa?

Karena lelucon kalian tahun lalu…

Paru-paruku mengalami kerusakan permanen.

Napasku terasa semakin berat.

Pandanganku perlahan menggelap.

Tubuhku pun tenggelam ke dasar gua laut yang sunyi dan gelap.

Kak...

Lelucon kali ini...

Sama sekali tidak lucu.

Karena...

Aku benar-benar akan pergi…

Untuk selamanya.

...

Air laut begitu dingin.

Rasa dinginnya menembus kulit, menyusup hingga ke sela-sela tulang.

Bahkan lebih menyakitkan daripada saat aku dikurung di ruang pendingin tahun lalu.

Jiwaku melayang perlahan.

Kulihat jasadku yang sudah membiru terbaring tak berdaya di endapan lumpur dasar gua.

Fara berenang mendekat.

Saat sirip selamnya mengayuh, lumpur dan pasir langsung teraduk, yang kemudian langsung menutupi wajahku.

Dia mengangkat kakinya, lalu menendang keras pakaian selamku.

“Kak, cepat lihat! Kali ini Kak Salsa benar-benar jago akting. Sampai nggak bergerak sama sekali.”

Tawa puasnya terdengar melalui alat komunikasi.

Tak lama kemudian, suara Hans menyusul.

Dingin.

Penuh ketidaksabaran.

“Salsa, sudah cukup.”

“Becandanya sekali saja. Nggak usah terus pura-pura.”

“Cepat bangun. Jangan buang waktu semua orang.”

Aku menatap kakakku.

Hans…

Kakak kandungku sendiri.

Saat ini, dia sedang menggenggam tangan Fara dengan hati-hati, seolah takut adik angkat kami itu hanyut terbawa arus laut.

Sedikit pun dia tak melirik ke arahku.

Dia mengira aku masih marah karena katup oksigenku sengaja ditutup.

Instruktur selam kami, Rey, ikut berenang mendekat.

Dia mengarahkan lampu sorot berkekuatan tinggi tepat ke mataku.

“Nona Salsa, berhenti pura-pura.”

“Monitor detak jantungmu sudah putus sejak tadi. Kamu sengaja melepas sensornya?”

“Kalau aktingmu sebagus ini, sekalian saja jadi aktris terbaik.”

Fara tertawa semakin puas.

“Dia cuma mau cari perhatian Kak Hans saja. Siapa suruh nggak sepintar aku kalau soal bermanja-manja.”

Aku melayang di atas mereka.

Ingin berteriak sekuat tenaga.

Aku tidak berpura-pura…

Aku...

Benar-benar sudah mati.

Paru-paruku memang sudah lama rusak.

Semua bermula pada Hari April Mop tahun lalu.

Fara mengunciku di ruang pendingin.

Katanya, itu hanya lelucon.

Hans berdiri di luar sambil melihat jam.

“Salsa, kalau kamu bisa bertahan sepuluh menit, aku belikan kalung yang selama ini kamu inginkan.”

Aku terus berteriak meminta tolong.

Memukul-mukul pintu sekuat tenaga.

Saat asmaku kambuh, rasanya paru-paruku seperti disayat pisau.

Baru setelah aku ambruk di lantai yang dingin, mereka membuka pintu dengan santai.

Sejak kejadian itu, dokter mengdiagnosis sistem pernapasanku mengalami kerusakan permanen.

Waktu itu, Hans mengaku bersalah.

Katanya, tahun ini dia akan mengajakku cave diving sebagai rehabilitasi sekaligus bentuk permintaan maaf.

Dan aku… percaya!

Dengan penuh harapan, aku mengenakan pakaian selam.

Namun saat mencapai kedalaman dua puluh meter...

Kematian kembali menjemputku.

“Salsa! Kuulangi sekali lagi. Bangun sekarang juga!”

Melihatku tetap tak bergerak, amarah Hans memuncak.

Dia melepaskan tangan Fara, lalu berenang cepat menghampiri jasadku.

Tangan yang seharusnya melindungiku...

Justru mencengkeram selang oksigenku dengan kasar.

Kemudian…

Plak!

Dia menampar jasadku sekuat tenaga.

Meski terhalang masker selam dan air laut, bunyi tamparan itu tetap terdengar tumpul.

Kepalaku terpelanting ke samping.

Masker selamku bergeser.

Air laut yang dingin seketika memenuhi hidung dan mulutku.

Namun...

Aku sudah tak bisa lagi merasakan bagaimana rasanya tersedak.

Jasadku seperti kantong kain yang kehilangan isinya.

Terombang-ambing mengikuti hempasan tangannya, lalu kembali terkulai di dasar lumpur.

“Kak... sepertinya Kak Salsa benaran marah.”

Fara berpura-pura cemas sambil menarik lengan Hans.

“Gimana kalau kita pergi dulu saja? Biar dia sendirian di sini sampai emosinya reda.”

“Pasti dia cuma mau memaksamu membelikannya tas edisi terbatas yang baru keluar.”

Hans mendengus dingin.

Sorot matanya dipenuhi rasa muak.

“Masih saja dia pakai trik murahan seperti itu. Aku sudah muak melihatnya.”

“Dari kecil sampai sekarang, setiap kali keinginannya nggak dituruti, dia selalu pura-pura sakit, pura-pura mati.”

“Fara, cuma kamu yang tetap baik. Di saat seperti ini pun kamu masih membelanya.”

Dia mengusap lembut kepala Fara.

Sorot matanya begitu lembut.

Kelembutan yang tak pernah sekalipun dia berikan kepadaku.

Kemudian…

Dia mengeluarkan pisau selam dari pinggangnya.

Jantungku seolah bergetar hebat.

Meski detak jantungku telah lama padam.

Apa yang ingin dia lakukan?

Tanpa ragu, Hans memotong tali pengaman yang menghubungkan jasadku dengan rombongan penyelam.

Sret!

Suara putusnya tali nilon menggema di dalam gua yang gelap.

“Kalau memang mau tetap di sini…”

“Ya sudah. Tinggal saja sepuasmu.”

“Kalau sudah sadar nanti, berenang sendiri ke atas.”

Melalui alat komunikasi, dia memberi instruksi kepada seluruh tim.

“Salsa keluar dari rombongan untuk merenung. Semuanya, ikut aku. Kita lanjut menyelam ke bagian palung.”

Dia kembali menggenggam tangan Fara.

Lalu berenang menuju kegelapan yang lebih dalam.

Tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Aku menunduk menatap jasadku sendiri.

Tanpa tali pengaman.

Di dalam gua laut yang gelap gulita ini...

Aku telah menjadi satu-satunya persembahan bagi lautan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status